
Josh Rainer sudah berpura-pura tidur di kasurnya. Meninggalkan aku berdua dengan Becca dalam diam.
Aku melihat jam yang tergantung di sudut kamar Josh dan menyadari saat ini sudah hampir pukul 12 siang.
Sudah dua jam berlalu dari jadwal seharusnya pertemuanku dengan orang tua Dio.
Jika saja Becca tidak datang dan memergoki kami, aku seharusnya sudah menyelesaikan pertemuanku dengan mereka.
Kini Becca masih berdiri di sampingku. Dia kelelahan karena ikut membantu menenangkan Josh dan memastikan Josh Rainer kembali tenang, tidak mengalami tantrum.
Tentu saja semuanya itu adalah bagian dari akting Josh Rainer. Dia bereaksi cepat dengan kembali berpura-pura saat tahu Becca memergoki kami berama hari ini.
“Sori, Sel. Karena aku jadinya Josh kambuh lagi,” kata Becca kelihatan bersalah.
Dia lalu berjalan menuju kursi malas yang terletak di dekat balkon di sudut kamar Josh.
Aku menutup badan Josh dengan selimut sebelum menganggapi Becca.
“Tidak apa-apa. Aku sendiri kagum dengan perkembangan Josh belakangan ini, padahal dia sempat sangat turun kondisinya,” kataku.
“Justru itu. Kabar terakhir yang aku dengar itu Josh mengalami penurunan kondisi. Makanya aku kaget saat dia kelihatan sangat sehat,” ucap Becca.
“Tapi ini bagus kan Bec? Kamu senang, Ibu Celine senang dan akupun juga senang kalau Josh segera sembuh,” kataku mencoba mengecek reaksinya.
“Eh.. Iya, tentu saja. Dan Helena tidak akan lagi menerorku tiap malam untuk meminta update perkembangan pengobatan Josh,” kata Becca sedikit gugup.
Lagi-lagi Helena.
“Becca, mengapa Helena tidak datang menjenguk Josh?”
Becca terlihat sedang meregangkan badannya di kursi malas.
“Dia ada kontrak kerja yang tidak bisa ditinggalkan. Helena itu aktris teater dan kini tengah naik daun di panggung broadway di Amerika Serikat sana. Dia tidak bisa pulang, tapi mungkin akhir bulan ini dia akan kembali.”
Jadi begitu.
Josh Rainer dan Helena ini cocok sekali.
Si pria adalah violis yang telah memenangkan banyak kompetisi internasional sedangkan si wanita adalah aktris teater terkenal di panggung broadway Amerika.
Keduanya sama-sama mencintai dunia seni.
Bedanya, Josh Rainer harus menyerah pada nasibnya untuk melanjutkan perannya menjadi CEO Tel-X, korporasi telekomunikasi bergengsi dalam negeri yang memiliki cabang bisnis yang tersebar di Asia dan Eropa.
Tidak ada ruang untuk orang biasa berhubungan dengan orang-orang luar biasa seperti mereka.
Betul begitu kan?
“Apa kita bisa berangkat sekarang?” tanyaku pada Becca.
Aku sungguh ingin cepat-cepat menyelesaikan urusanku dengan orang tua Dio.
Becca tampak menggigit bibir.
“Oh Selena, aku minta maaf. Aku tadi buru-buru masuk ke kamar Josh untuk memberitahumu bahwa ayah dan ibuku tadi pagi mendadak kembali melakukan perjalanan dinas. Maklum, saat ini DPR lagi masa public hearing,” kata Becca.
__ADS_1
Apa ini betul-betul terjadi atau siasat Becca semata?
“Becca..,” aku terdengar frustasi.
“Aku sungguh ingin menyelesaikan masalah ini. Aku capek.”
Becca kini berjalan ke arahku.
“Aku paham Selena, tapi aku tidak bisa menahan ayah dan Ibu pergi. Tapi mereka bilang, kamu bisa memberikan ceknya padaku.”
Aku mencoba berpikir jernih.
Betulkah segampang ini?
Apa ini bukan jebakan?
“Kapan mereka akan pulang?” tanyaku berhati-hati.
“Aku tidak tahu pasti, karena periode public hearing baru mulai. Sebulan kedepan pastilah mereka sedang mengunjungi beberapa daerah untuk mendengarkan aspirasi masyarakat,” jelas Becca.
Satu bulan ke depan.
Yang artinya waktu yang diberikan untukku akan selesai jika aku tidak memberikan cek itu pada Becca.
“Aku akan meninggalkan pesan untuk ibumu kalau begitu,” kataku akhirnya menyerah.
Aku memberikan cek itu kepada Becca.
Dia lalu menyimpannya di tasnya.
Aku berharap tidak ada tipu daya yang Becca lakukan padaku.
“Terima kasih sudah memberikanku pekerjaan ini, Becca. Aku bisa menyelesaikan urusan ini karena kamu,” kataku berakting dengan memeluknya.
Dia menyambut pelukanku.
“Selena, kamu sahabatku. Ini bukan masalah besar, aku senang bisa membantumu,” katanya sambil mengelus bahuku.
Semoga saja Becca benar-benar tulus mengatakannya.
Karena aku tidak jadi pergi dengannya, aku harus banyak mengorek informasi dari Becca.
“Ceritakan padaku, bagaimana kamu bisa kenal keluarga ini?” kataku tiba-tiba.
Becca tampak melamun sebentar. Dia tampak mempertimbangkan pertanyaanku.
“Aku kenal dengan Josh saat aku kuliah di Inggris. Helena yang mengenalkan kami. Dari situ, aku tahu bahwa Josh punya bisnis start-up telekomunikasi dan itu sesuai dengan studi yang aku pelajari saat itu,” jelas Becca.
Benar begitukah?
“Setelah selesai kuliah, aku sempat magang di cabang perusahaan Tel-X yang baru dibuka di Jerman selama tiga bulan. Dan disana aku dipercaya menjadi asisten wakil direktur utama yang saat itu sedang dinas di Eropa.”
Asisten wakil direktur utama?
Becca melanjutkan studi magister saat aku memulai program co-assistant sebagai dokter muda. Itu sekitar empat tahun lalu. Dia lalu kuliah di jurusan Marketing Business spesialisasi start-up selama dua tahun lamanya.
__ADS_1
Artinya, Becca kemungkinan baru menyelesaikan kuliahnya saat dua tahun lalu. Saat itu, kursi direktur utama pastilah masih dipimpin oleh ayah Josh.
Jika ayah Josh adalah direktur utama saat itu, apakah wakil direktur utama adalah Celine?
“Apakah wakil direktur utama saat itu Ibu Celine?”
“Betul sekali. Dulu dia adalah wakil direktur. Sejak suaminya meninggal kini dia menjadi komisaris Tel-X,” katanya mengonfirmasi.
“Tapi aku hanya mengurusi urusannya saat dia sedang di Eropa saja. Saat itu, Tel-X baru buka cabang di Jerman dan rencananya mau buka kantor perwakilan di Inggris. Makanya, dia butuh aku untuk tahu informasi seputar bisnis start-up di Inggris,” jelasnya.
Tebakanku benar.
Artinya, Becca sudah cukup lama mengenal orang jahat itu.
“Nah, aku hanya tahu Josh Rainer karena kami dulu berada di perusahaan yang sama saja. Tapi, kami bahkan tidak pernah bertemu lagi. Josh sibuk sekali dan dia tinggal di Amerika saat itu. Aku hanya tahu banyak tentang dia karena Helena selalu bercerita tentangnya,” jelas Becca.
“Tapi aku sangat berterima kasih dengan Josh. Kalau bukan karena dia, aku tidak bisa diterima magang di Tel-X. Helena yang meminta Josh untuk memberikan posisi untukku saat itu. Dan hal itu bukan masalah besar buat Josh selaku pewaris perusahaan,” dia melanjutkan panjang lebar.
“Meskipun kamu hanya bertemu dengannya satu kali, Josh mau memberikanmu pekerjaan dengan posisi sepenting itu?” tanyaku keheranan.
“Kan aku sudah bilang Sel, Helena lah yang memohon pada Josh. Josh sangat mencintai Helena dan dia rela melakukan apapun demi kekasihnya itu.”
Oh.
Sungguh beruntung Helena.
Ternyata Josh Rainer memang sebaik itu.
Rela melakukan apapun demi menyenangkan pujaan hatinya.
Dan entah mengapa, aku yang mendengar ini semua merasa kasihan dengan diriku sendiri.
Dulu, Dio juga sebaik itu.
Rela berkorban untukku bahkan tanpa aku memintanya.
Namun, itu semua hanya kenangan kini.
“Oh iya, Gery kemarin bilang padaku kamu merasa ada bahaya dengan pekerjaanmu saat ini. Apa mama tidak memperlakukanmu dengan baik?” Becca mulai menginvestigasiku.
Mama?
Apa maksudnya Celine?
“Mama siapa?” tanyaku tegas.
“Maksudku.. Ibu Celine, tentu saja,” katanya gelagapan. “Jadi ada apa denganmu?”
Aku mencium hal yang aneh disini.
Becca memangil Ibu Josh dengan panggilan mama?
Apa yang kamu sembunyikan sebenarnya Becca?
__ADS_1