Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
TERTANGKAP


__ADS_3

Aku masih tidak percaya dengan apa yang kudengar.


Masih terduduk di depan pintu perpustakaan, aku mencoba mengendalikan degup jantungku yang kencang tak beraturan.


Perasaan benci, marah dan tidak percaya membuncah didadaku.


Aku masih berharap apa yang kudengar dari balik pintu perpustakaan ini tidak benar.


Aku telah dimanfaatkan.


Celine memperkerjakanku karena ingin mencari tumbal yang bisa disalahkan atas pembunuhan putra mahkota perusahaan Tel-X.


Dengan begitu, dia bebas dari kecurigaan polisi.


Dan dengan begitu, dia akan memiliki seluruh harta keluarga Gurnawijaya.


Dengan menimpakan semua kesalahan padaku, dokter pribadi Josh Rainer.


Itulah mengapa Rikian tidak lagi ada disini.


Dan inilah alasan utama mengapa Diana diberhentikan.


Mereka berencana menjadikanku tersangka tunggal pembunuhan Josh Rainer.


Dengan memberikan obat syarat dengan dosis berlebih kepada Josh yang akan bekerja dua jam kemudian, saat aku diperkirakan datang.


Saat aku diperkirakan akan memberikan obat rutin Josh setiap pukul 6 sore setelah makan malam.


Bengis sekali.


Celine, aku tidak akan tinggal diam!


Aku akan melawanmu.


Namun, tetap saja rasanya sakit.


Semakin memikirkannya, hatiku semakin sakit.


Bukan Celine yang membuatku merasa sesakit ini.


Tapi Becca.


Sakit sekali memikirkan bagaimana sahabat terdekatku yang juga mantan adik iparku terlibat dari awal dalam rencana yang bertujuan menghancurkanku.


Sejak awal, Becca memberikan harapan dengan memberikanku pekerjaan ini untuk melunasi hutangku kepada ayah dan ibunya.


Nyatanya, dia sama sekali tidak berniat membantuku.


Ternyata, dia ingin menikamku dari belakang sejak awal.


Apa dia benci padaku karena menganggap aku adalah biang keladi kematian kakaknya?


Apa dengan begitu dia bisa sesukanya menjadikanku kambing hitam untuk pembunuhan yang tidak pernah aku lakukan?


Becca..


Kamu seharusnya tahu betapa hancurnya aku saat kehilangan kakakmu.


Dan kamu.. kini malah semakin menghancurkanku.


Kamu ingin aku mendekam di penjara untuk kesalahan yang tidak pernah aku niatkan.


Kamu ingin memberitahu seluruh dunia bahwa aku, Selena Ariadna adalah seorang pembunuh.


Kamu benar-benar ingin hidup yang kujalani sepenuh hati hancur berkeping-keping tak tersisa.


Aku sedih, benci dan marah sekali dikhianati sedalam ini.


Oleh orang yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri selama ini.

__ADS_1


Namun, semua kesedihan dan kesakitan ini tidak ada artinya jika aku tidak segera bergerak cepat.


Aku harus fokus pada prioritas kali ini : membawa pergi Josh Rainer dari kawanan biadap ini.


Aku bangkit dari duduk bersimpuhku dan bersiap menuju kamar Josh Rainer.


Namun, tiba-tiba saja Celine kembali bersuara.


“Tunggu,” perintahnya kepada para kawanannya dari dalam perpustakaan.


Semua yang hadir di perpustakaan itu tampak hening mengikuti perintah si bos.


Dan langkahku juga terhenti, antara ingin sesegera mungkin membawa Josh keluar dari sini ataupun mendengarkan pembicaraan terlarang mereka.


...


Akhirnya, aku memutuskan untuk tinggal dan kembali menguping pembicaraan mereka.


“Aku ingin memastikan semua bukti yang mengarah kepada Selena tersedia. Apakah semua aman?” tanya Celine dengan suara angkuhnya.


Salah seorang laki-laki dengan suara menggelegar tampak menjawab Celine.


“Semua pelayan sedang di taman belakang untuk mengurus dekorasi pesta penyambutan tuan muda Aldebaran. Sudah pasti tidak akan ada pelayan yang bisa memberikan makanan kepada Josh Rainer selain dokter itu,” lapor si laki-laki bersuara besar itu.


“Bagus, dengan begitu sejak awal polisi akan mencurigai gerak-gerik Selena seorang,” puji Celine.


Si laki-laki itu terdengar bangga setelah dipuji Celine, “Ya Nyonya, setibanya dokter itu di rumah ini, dia akan mengambil makan malam dan menyuapi Josh. Setelah  itu dia akan menyuntikan obat kepada Josh. Inilah yang kami pantau dari CCTV beberapa hari terakhir,” jelasnya.


“Oh lalu bagaimana soal CCTV?” Celine bertanya dengan nada khawatir.


“CCTV di kamar Josh Rainer sudah kami putus dan hapus datanya saat kita masuk tadi,” kata laki-laki itu.


“Dengan begitu, perbuatan kita tadi yakni meminta cap sidik jari Josh dan menidurkannya dengan obat penenang tidak akan ada jejaknya.”


Celine tampak terdiam, dia kemungkinan sedang sangat hati-hati mempertimbangkan langkahnya.


“Tidak!”


Suara Becca.


“Mama, CCTV itu tidak bisa dihapus begitu saja. Selena tahu bahwa selama ini CCTV terpasang di kamar Josh. Dia pasti akan memberikan pernyataan itu pada polisi!” pekik Becca.


Aku bisa merasakan suasana kini berubah menjadi  tegang.


“Apa? Apa kamu cerita padanya? Aku sudah bilang jangan bicara apapun tentang kita mengawasi dia!”


Kini suara Celine terdengar sangat marah.


“Tidak, aku sama sekali tidak bilang!Mama, aku juga kaget sekali saat Selena bilang dia tahu sedang diawasi. Lalu aku menutupinya dan bilang Ibu Celine takut Selena akan menggoda anaknya,” Becca terdengar ingin meyakinkan Celine.


“Menurutmu dia percaya alasan bodoh seperti itu?” pekik Celine.


“Se..sepertinya tidak di..dia..” kini Becca terdengar ketakutan.


“Bodoh! Bodoh sekali! Jangan-jangan dia sudah tahu rencana kita?”


Celine benar-benar terdengar di luar kendali.


“Selama aku bersamanya tadi, dia tidak cerita apa-apa! Mama percaya padaku, aku yakin Selena tidak mencium rencana kita. Dia terlalu sedih ditinggal mati kakakku dan tidak mungkin kepikiran hal ini!”


Becca kini terdengar frustasi saat meyakinkan Celine yang emosinya nyaris tidak bisa dikendalikan.


Beberapa detik kemudian, suasana terdengar hening. Sebelum akhirnya, Celine kembali memecah kebuntuan.


“Sejak awal aku bertemu dengannya, aku tahu wanita itu susah diurus. Dia tidak bodoh, kamu tahu itu kan?”


“Mama, aku tahu Selena memang perempuan yang cerdas.Tapi, kita tidak punya pilihan. Tidak banyak dokter yang mau meninggalkan profesinya untuk mengurus orang gila. Kita tidak bisa dapat dokter secepat itu, untung saja aku meminta ayah dan ibuku untuk meminta uang ganti rugi kematian kakakku padanya..”


Aku tidak bisa mendengar kata-kata lanjutannya.

__ADS_1


Jantungku keburu tertohok mendengar pengakuan itu barusan.


Becca lah yang ternyata mengusulkan uang ganti rugi kematian Dio kepada orangtuanya untuk aku lunasi.


Oh Tuhan.


Aku benar-benar tidak tahu ada orang sejahat ini.


Berpura-pura menjadi sahabatku untuk sekian lama namun merobek-robek kehidupanku dibelakangnya.


Dia mengusulkan kepada orangtuanya agar aku membayar Rp500 juta sebagai ganti rugi uang kematian Dio.


Dia juga yang memberikanku pekerjaan untuk bisa melunasi hutang itu.


Dan dia juga yang diam-diam ternyata memanfaatkanku untuk menjadikanku pembunuh dari rencana jahatnya.


Dan dia masih berakting seperti tidak ada sesuatu yang terjadi.


Aku telah dibohongi selama ini oleh orang yang tidak berperasaan.


Becca, aku tidak pernah bisa memaafkanmu.


Namun, aku masih tidak mengerti.


Nengapa Becca sejahat ini padaku?


Apakah benar dia menganggap aku penyebab kematian kakaknya?


Atau ada motif lain yang tidak aku tahu?


Aku sudah tidak bisa mendengar ini lagi.


Aku sudah ingin beranjak menuju kamar Josh Rainer saat mendengar suara pekikan kembali dari dalam ruang perpustakaan.


“Nyonya, saya sudah minta sekuriti untuk mengabari saya bila dokter itu datang kerumah. Tapi lihat.. malah sama sekali tidak ada sekuriti yang berjaga di depan gerbang!”


Seingatku, jendela dari kamar perpustakaan ini memang langsung mengarah ke depan gerbang.


Jelas, mereka bisa melihat bahwa tidak ada sekuriti secara langsung dari ruangan ini.


Tapi, aku pikir tidak adanya sekuriti di depan gerbang adalah bagian dari rencana mereka.


Ternyata mereka sama kagetnya denganku? Jadi sekuriti itu memang menghilang untuk membuatku mudah masuk ke rumah ini begitu saja?


Siapa yang melakukannya?


“Bagaimana jika Selena sudah datang dan melihat ada kita semua disini untuk mencelakakan Josh Rainer?” suara Becca terdengar sangat khawatir.


“TIDAAK!” teriak Celine bergema kencang.


Dan aku tidak perlu menunggu apa-apa lagi. Ini adalah sinyal bagiku untuk segera meninggalkan pintu dan membawa pergi Josh Rainer secepatnya .


Namun, aku kaget sekali


Saat aku berbalik dan berusaha mengayunkan kakiku, aku menabrak seseorang.


Laki-laki tinggi berbadan tegap dengan kulit berwarna kecoklatan berdiri menghalangi jalanku.


Mulutku menganga saat dia berusaha untuk membalikan badanku ke arah pintu dan memiting badanku dari belakang.


Dia lalu menutup mataku dengan kedua tangannya, dengan gerakan masih memiting badan.


Aku tidak bisa kemana-mana.


Aku tertangkap.


“Halo Selena, senang sekali bisa bertemu kamu lagi,” bisik laki-laki ini di kupingku.


Aku memang tidak tahu siapa orang ini .

__ADS_1


Namun yang aku tahu pasti, tidak ada jalan keluar bagiku dan Josh Rainer untuk selamat kali ini.


__ADS_2