
Aku memegang sprei dan selimutku erat-erat.
Bulir-bulir keringatku turun. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, ingin melarikan diri secepat mungkin.
“Tidak!”
Aku terbangun dari tidurku sambil terengah-engah.
Nafasku masih memburu dengan jantung yang rasanya ingin copot dari badanku.
Aku baru saja bermimpi buruk.
Di mimpiku, aku dikejar-kejar oleh pria tanpa wajah yang membawa pisau. Pisau yang berdarah-darah, seperti habis membunuh orang.
Kemudian pria tersebut malah menikah denganku.
Saat aku ingin dipaksa melakukan malam pertama, aku menemukan badan mayat di bawah tempat tidur.
Dan mayat itu adalah Dio.
Aku merasa takut, marah dan benci sekaligus bercampur jadi satu kepada pria itu.
Syukurlah itu semua hanya mimpi.
Lagipula tidak mungkin aku mau menikahi pria yang membunuh kekasihku sendiri bukan?
Aku kini terduduk dan menyadari masih terlalu pagi untuk bersiap-siap bekerja. Matahari baru saja terbit dan aku sudah tidak bisa tidur lagi.
Aku termangu di kasur dengan pikiran menjelajah kemana-mana.
Hidupku kini persis seperti roller coaster.
Dua pekan lalu, tunangan yang telah menjalin hubungan 8 tahun lamanya denganku tewas kecelakaan.
Naasnya, dia kecelakaan saat mau menjemputku pulang. Kekasihku itu meninggal di tempat, persis tiga hari sebelum kami seharusnya melangsungkan pernikahan.
Keluarga kekasihku yang tidak pernah menyetujui hubungan kami tidak memperbolehkan aku mendatangi nisannya.
Bahkan, mereka dengan tega meminta uang kerugian pernikahan yang tidak pernah ditagihkan oleh kekasihku. Totalnya mencapai Rp500 juta.
Aku mencari pekerjaan tambahan dan awalnya aku sangat merasa beruntung saat mendapatkan pekerjaan ini. Menjadi dokter pribadi penerus tahta keluarga Gurnawijaya, salah satu konglomerat di bidang telekomunikasi di Indonesia.
Yang anehnya, saudara kembar kekasihku lah yang menyambungkan aku dengan Celine, Ibu dari si penerus tahta Josh Rainer yang sedang sakit keras. Sampai hari ini, aku masih belum tahu ada hubungan apa antara sahabatku itu dengan keluarga Gurnawijaya.
__ADS_1
Dengan bekerja untuk mengembalikan ingatan Josh Rainer, aku dapat membayar uang kerugian yang dimintakan keluarga kekasihku.
Namun, semakin hari semakin banyak keganjilan yang terjadi di rumah ini. Tidak hanya menggangu profesiku sebagai dokter, namun juga mengusik rasa kemanusiaanku.
Celine yang mempekerjakanku dan telah membayar uang jasaku malah “mengkebiri” tugasku untuk menyembuhkan Josh dengan serangkaian aturan tidak masuk akal.
Aku terpaksa menandatangani perjanjian agar waktu observasiku dibatasi, dikuntit oleh suster yang tidak membantu kerjaku bahkan tidak dibolehkan memberikan obat dan makanan secara langsung kepada pasien. Suster bahkan punya kuasa untuk menghentikan terapi jika dinilai tidak layak.
Yang terparah, dia bahkan mengawasi seluruh gerak-gerik anaknya lewat kamera pengawas dan penyadap di kamarnya.
Dengan caranya yang seperti ini, aku bahkan merasa dia tidak menginginkan anaknya untuk segera sembuh.
Belum lagi kepusingan ini selesai, aku menemukan fakta bahwa tuan muda Gurnawijaya ternyata tidak mengalami hilang ingatan dan trauma . Dia baik-baik saja, namun entah mengapa berpura-pura sakit dan menjadi “setengah gila”.
Padahal, diagnosa sakit tersebut dilakukan oleh salah satu dokter terbaik di negeri ini yang juga mentorku, Dokter Bernard.
Tuan muda memberikan peringatan bahwa aku sedang diawasi, sebagaimana dirinya juga tengah dalam pengawasan ketat oleh ibunya.
Dia bahkan meminta pertolonganku untuk tetap mengikuti permainan pura-puranya.
Yang kusanggupi begitu cepat. Yang artinya, jika ketahuan, Celine akan meminta pertanggungjawabanku sesuai dengan perjanjian yang kuteken.
Padahal, aku tidak tahu apa yang terjadi di keluarga ini.
Secara tidak langsung, aku telah membantu orang jahat untuk mendapatkan tujuannya?
Benarkah begitu?
Sebetulnya ada masalah apa di keluarga ini? Mengapa ada hubungan yang aneh antara Celine dan anaknya sendiri, Josh Rainer?
Apakah Josh dan Ibunya sendiri bermusuhan? Dan dia meminta pertolonganku untuk membuatnya bebas?
Aku harus mencari tahu lebih banyak dengan bertanya pada Josh hari ini.
Aku tahu ini sebetulnya sudah jauh dari ruang lingkup profesiku sebagai dokter.
Namun, aku betul-betul harus tahu sedang berhadapan dengan siapa, seperti apa dan apa tujuan utamanya.
Yang aku rasakan saat ini, aku merasa sedang dimanfaatkan untuk tujuan tertentu oleh Celine.
Tapi untuk apa?
Tak terasa, lamunanku sudah menghabiskan waktu puluhan menit. Aku kini loncat dari tempat tidur untuk bersih-bersih sebelum bekerja.
__ADS_1
Lebih tepatnya, pura-pura bekerja menyembuhkan tuan muda yang padahal tidak mengalami sakit sama sekali.
Sesampainya di ruangan Josh, aku langsung memulai observasi dan bersiap melakukan terapi memori. Berjam-jam, aku berusaha menjauhkan Diana dari Josh untuk mengorek informasi lain darinya. Namun hasilnya nihil.
Entah bagaimana, Diana hari ini garang sekali.
Dia bahkan seenaknya memberhentikan terapi karena alasan dapat semakin memperberat kondisi pasien yang masih trauma. Dia meminta dibuatkan terapi trauma yang santai saja dan menolak berbagai terapi yang menggunakan alat.
Sungguh aneh sekali.
Apa yang sebenarnya direncanakan Suster Diana dan Celine?
Saat aku tidak setuju akan tindakannya, dia memarahi balik dan mengatakan aku tidak kompeten dan sering merayu pasien terang-terangan.
Aku tertawa dalam hati mendengar dia meneriaki aku seperti ini.
Sementara itu, kemarahan Josh Rainer kepadanya pun dihadapi dengan tegas olehnya. Dia sama sekali tidak takut saat Josh tantrum dan malah langsung mengambil borgol untuk mengikat Josh.
Yang sayangnya tidak bisa aku hentikan karena semua kontrol yang dia lakukan berdasarkan konsultasi dengan Celine.
Alhasil, sepanjang hari aku tidak bisa mendapat informasi tambahan dari Josh.
Aku keluar kamar pukul 6 sore dan meninggalkan Josh Rainer bersama Diana.
Aku berharap Josh baik-baik saja.
Aku bergegas kembali ke kamar dan segera bersiap untuk keluar menemui Anna, sahabatku yang juga dokter.
Karena besok adalah hari liburku, aku berniat untuk tidur di rumah pada hari ini dan besok, lalu kembali lagi pada Minggu pagi untuk bekerja.
Aku menyampaikan rencana ini pada Diana sekaligus di depan Josh Rainer agar dia mendengarnya. Diana pastilah akan menyampaikan kepada Celine yang saat ini sedang pergi ke Singapura dan akan kembali besok, Sabtu.
Tadi, Josh kelihatan agak muram saat mendengar aku meninggalkan rumah ini sehari saja.
Tiba-tiba, ponselku berdering. Anna memanggilku dan aku segera menjawabnya.
“Aku jalan ke depan, Na,”
“Aku sudah di depan istana megah ini untuk menjemputmu. Lekas bergegas ya,” sahut Anna dari ujung telefon.
Aku bergegas dan kembali menitipkan pesan untuk Celine kepada Rikian yang papasan denganku di lantai bawah.
“Aku titip Josh Rainer ya, Pak,” pesanku pada Rikian.
__ADS_1
Pesan yang sebetulnya bukan basa-basi. Aku sebetulnya mulai mengkhawatirkan permainannya dan musuh seperti apa yang sedang dia sedang hadapi.