
Aku masih berdiri waspada di depan Aldebaran.
Aldebaran yang tengah memegang buket bunga matahari yang Josh Rainer berikan padaku tadi pagi.
Dengan kartu ucapan yang kini telah ada di tangannya.
“Kamu datang di saat pelitaku redup dan hampir mati,” Aldebaran mulai membaca isi kartu ucapan tersebut dengan menirukan suara Josh Rainer.
Dia bahkan menirukan body language Josh Rainer yang kaku saat menyampaikan isi pesan itu.
“Stop,” kataku memintanya berhenti.
“Sadarkah kamu yang menyalakannya kembali dan buatku jadi manusia utuh lagi?” Aldebaran menghiraukan permintaanku.
“Aku bilang stop!” teriakku.
“Matahariku..”
Kini, aku sudah berjalan ke depannya.
Tak tahan lagi menyuruh mulut itu untuk berhenti.
PLAAAK.
Aku menamparnya.
Aku sendiri tidak paham apa alasannya.
Mungkin, aku hanya ingin kata-kata itu tetap sakral dan diucapkan langsung oleh Josh Rainer.
Bukan oleh mulut Aldebaran yang menyebalkan.
Aldebaran sendiri tampak kaget dengan tamparanku.
Kini dia sudah berdiri di depanku.
Dekat sekali dengan wajahku.
"Aku belum terlambat untuk membawamu pergi kan?" katanya kembali seperti orang gila.
Masih dengan memegang pipinya yang sakit setelah ku tampar.
“Aku menunggu bertahun-tahun untuk bisa bertemu kamu lagi. Tapi balasannya.. kamu malah menamparku,” katanya memulai lagi bualannya.
“Aku sudah tidak mau lagi mendengarkan omong kosong ini!” pekikku.
Aku lalu berlari, berusaha mencapai pintu. Namun gerakan cepat Aldebaran menghentikanku.
Bahkan dengan gesit dia telah menutup pintu keluar.
Kini dia telah mengunci pintu dan mengambil kunci itu dari kenop.
Lalu dengan gerakan kilat, dia berlari menuju balkon jendela.
Setelahnya, tak kusangka dia malah membuang kunci itu jauh-jauh menuju danau yang ada di belakang rumah ini.
Aldebaran sudah gila!
“Hey?!” hardikku. “Kita akan terperangkap tidak bisa keluar dari sini!”
Aldebaran tidak ingin mendengarku.
“Josh tengah berduaan dengan tunangannya. Kamu berduaan denganku disini, impas kan?” katanya santai.
Hilang sudah kesempatanku untuk kabur dari rumah ini.
Sementara itu, aku jelas-jelas tidak mungkin kabur dari rumah ini lewat balkon seperti yang kulakukan di rumah Josh Rainer.
Rumah nenek Josh ini sangat amat megah bak istana. Jarak balkon kamar ini ke lantai dasar kutaksir mencapai 20 meter.
Belum lagi, permukaan dasar balkon ini bukanlah tanah, melainkan tebing yang langsung berbatasan dengan danau di seberangnya.
Satu-satunya jalan, aku harus menelepon Margaretha. Dan merengek kepadanya untuk menyelamatkanku dari orang gila di depanku ini.
Namun, ide itu juga harus kulupakan.
__ADS_1
Entah bagaimana, Aldebaran kini sudah memegang ponselku yang tadi kutaruh di dalam tas.
Gerakannya cepat sekali. Seperti pesulap.
“Bagaimana bisa kamu memblokirku sih?” katanya heran dan lalu mengotak-atik ponselku. Sepertinya dia tengah membuka kembali nomornya yang telah terblokir.
“Kembalikan kepadaku sekarang!” kataku dengan nada tinggi yang rasanya hanya anjing yang bisa mendengarnya.
“Aku akan kembalikan padamu nanti, Ratuku,” katanya sambil berusaha mengusap kepalaku.
Aku lalu menangkis tangannya. Dia terlihat kesal dengan penolakanku.
“Selena, kamu yang sekarang ini susah sekali untuk diatur,” katanya sambil menghela nafas. “Padahal dulu kamu sangat manis dan penurut,” ujarnya lagi.
Oh tidak, lagi-lagi omong kosong.
“Berhenti berpura-pura gila! Aku sudah tidak peduli lagi dengan semua yang terjadi di keluarga ini. Aku ingin bebas,” kataku to the point.
Dia tampak mendengarkanku dengan seksama.
“Jadi hentikan omong kosong dan halusinasimu terhadapku. Aku tidak peduli motif dan rencana apa yang sedang kamu buat, tapi bualan ini semuanya sangat menjijikan,” kataku terus terang.
Dan nyata saja, kata-kataku barusan mampu membuat Aldebaran terdiam.
“Benar-benar menyedihkan,” ujarnya pelan.
Kini, dia bahkan menunjukkan raut muka kecewa.
Yang belum pernah aku lihat tergambar di wajahnya.
“Ternyata aku sama sekali tidak pernah berarti buatmu ya?” katanya kini sambil mengurut keningnya dengan dua tangannya.
Dia terlihat sangat sedih.
Wajah yang aku pikir selalu bersemangat, narsis, dan sangat senang merayu itu kupikir tidak akan pernah terlihat depresi seperti ini.
"Tolong dengarkan aku sekali ini saja," katanya nyaris memohon.
Aku tercekat di tempatku melihat perubahan dirinya.
“Waktu aku berusia 10 tahun, aku kabur dari panti asuhan yang membesarkanku," katanya memulai bercerita sambil memandang lurus kepadaku.
Waktu kecil Aldebaran tinggal di panti asuhan?
Jadi dia tidak dibesarkan oleh Celine?
“Aku naik bus dari panti asuhanku yang berada di Banten. Naik beberapa kali angkutan umum untuk menuju satu-satunya petunjuk yang kupunya. Kertas berisikan alamat yang disumpalkan di bandul kalungku waktu aku ditinggal di panti. Aku yakin itu alamat rumah orangtuaku,” ujarnya masih menatap lembut wajahku.
“Saat aku sudah berada di terminal bus Kalideres, saat itu malam hari. Aku berpapasan dengan sekelompok preman yang sedang kelaparan. Sementara saat itu, aku membawa tas besar yang berisikan baju, roti dan uang. Mereka sudah menunggu mangsa untuk bisa memberinya makan. Saat itu, aku beruntung sekali tidak dihajar oleh mereka, namun seluruh tasku diambil mereka,” katanya.
“Termasuk, satu-satunya kalung yang menjadi identitas penyambungku dengan keluargaku. Ya, kalung yang berisikan alamat itu juga diambil mereka,” ujarnya perih.
Sampai sini, aku rasanya teringat sesuatu.
Ya, aku ingat aku pernah mendengar cerita ini. Tapi dimana?
“Luntang-lantung di kota Jakarta dengan semua petunjuk yang hilang merupakan pukulan buatku. Aku tidak hanya kehilangan harapan untuk bertemu orang tuaku, namun juga harus berhadapan dengan dunia yang kejam di umur yang masih sangat belia seorang diri."
"Saat itu, aku tidur dimana saja. Di emperan Masjid, di gorong-gorong, di bawah jalan layang,” dia masih menjelaskan dengan mata menatapku.
Aku yakin pernah mendengar cerita pilu ini. Aku masih berusaha mengingat-ingat.
“Untuk bertahan hidup, aku makan dari sisa makanan orang yang kutemui di tempat sampah. Aku mengamen lalu mendapatkan uang untuk bisa membeli air minum dan roti. Wajahku kotor dengan polusi Jakarta karena harus mengais makanan dan mengamen dibawah teriknya matahari,” katanya lagi.
Apakah Aldebaran memang pernah bertemu dengaku waktu kecil dulu?
Karena aku yakin pernah mendengar cerita ini. Namun, aku tidak banyak mengingatnya.
Apakah artinya dia tidak pernah membual?
“Lalu setelah berminggu-minggu mengalami itu, aku akhirnya lelah. Aku akhirnya mencari jalan pintas agar segera pulang kembali ke panti asuhanku saja. Aku mulai mencuri tas penumpang saat tengah mengamen,” katanya, kini pandangannya semakin tajam kepadaku.
Oh tidak.
Apakah.. apakah dia?
__ADS_1
“Itu adalah pengalaman pertamaku mencuri, hal yang selalu dilarang dalam setiap pelajaranku di panti dulu. Namun, aku butuh uang untuk pulang ke panti karena aku sadar bahwa hidup di luar sangat kejam. Aku mulai mengikhlaskan untuk tidak pernah bertemu orangtuaku, yang penting aku punya rumah untuk berlindung. Aku hanya ingin merasa aman,” ujarnya.
Kini nafasku sudah naik-turun mendengar pengakuannya.
“Dan ternyata, korbanku saat itu adalah orang baik yang dikirim Tuhan untukku. Aku tahu mencuri adalah hal yang sangat salah, namun saat itu aku bersyukur. Bersyukur dengan mencoba mencuri saat itu, aku bisa dipertemukan oleh orang yang menerima dan menyayangiku apa adanya," jelasnya.
Tidak. Jangan bilang dia..
"Dia tidak marah dengan aksi mencuriku yang ketahuan. Dia malah membawaku pulang dan merawatku seperti anaknya sendiri,” katanya kini sudah lekat-lekat menatapku.
…
“Dan itu adalah Ibumu, Selena,” katanya lirih.
Aku kini menatapnya seperti sedang melihat hantu.
“Ale...” kerongkonganku tercekat
“Ya, aku, Ale. Jika kamu tidak melumpuhkanku dengan jurus karatemu saat itu, aku pasti masih berkeliaran di luar sana sebagai pencuri ulung di terminal bus,” ujarnya dengan wajah sumringah.
Aku kini menelengkupkan tanganku ke mulut, tak mampu berbicara apa-apa saat ini.
Selama ini, ternyata dia tidak membual sama sekali.
Dia adalah Ale, anak laki-laki yang pernah kutendang sampai terjengkal karena berusaha merebut tas Ibuku di terminal Kalideres, Jakarta Barat.
Saat itu aku baru berumur 8 tahun namun sudah memiliki sabuk karate ban kuning.
Kala itu, dia mengalami keseleo karena tendanganku, lalu ibuku merasa kasihan padanya. Ibu tidak melaporkannya ke polisi dan malah membawanya pulang.
Dan entah bagaimana, kami menerimanya menjadi bagian dari keluarga kami sejak saat itu.
Dia menjadi kakak laki-lakiku.
Berhari-hari, dia meyakinkanku bahwa dia bukanlah orang jahat. Dia terpaksa melakukannya untuk pulang ke panti asuhan karena tidak ada lagi cara untuk bertahan hidup.
Aku selalu mencuekinya dan tidak pernah percaya padanya. Sampai akhirnya, saat aku pulang sekolah, aku tidak bisa pulang ke rumah karena sedang badai dan aku tidak membawa payung.
Ale sendiri saat itu lanjut bersekolah home-schooling. Soalnya, seluruh berkas identitas Ale ditinggal di panti, sehingga dia tidak bisa melanjutkan sekolah dasar dan Ibuku lah yang mengajarinya langsung di rumah.
Saat itu sudah hampir maghrib. Ayahku masih mengajar sedangkan Ibuku sedang berkeliling mengajar bimbel.
Ingin menangis karena tidak bisa pulang, tiba-tiba sesosok pria kecil datang ke sekolahku dengan memegang payung.
Itu adalah Ale.
Dia khawatir aku tidak pulang dari Siang.
Dan dengan menerobos badai, dia menjemputku dengan kedua kakinya yang kedinginan.
Lalu memberikan payung kecil itu padaku, sementara dia hujan-hujanan karena tidak muat berada dalam satu payung.
Dia demam berhari-hari, yang membuatku merasa tidak enak dan berusaha merawatnya.
Di saat itulah, aku kemudian luluh dan mulai menerimanya sebagai anggota baru di keluargaku.
Kami lalu menghabiskan waktu bersama-sama sebagaimana teman dekat yang tinggal dalam satu rumah.
Namun, itu berlangsung tidak lama.
Hanya tiga bulan, sampai akhirnya Ale dijemput oleh orang panti asuhan yang sudah menelusuri dia sekian lama.
Karena orangtuanya saat itu kembali mencarinya.
Ale akhirnya menemukan tujuannya.
Dan akhirnya kami berpisah.
Setelah itu, aku tidak dengar apapun lagi tentangnya.
Namun kini, nasib kembali mempertemukan aku dengan Ale.
Dan aku tidak punya alasan untuk tidak memeluknya saat ini.
Erat.
__ADS_1
Dengan tawa sumringah, dia membalas pelukanku dan membisikiku.
“Aku kembali, Selena.”