
Lucu memang.
Seharusnya aku masih marah dengan apa yang terjadi.
Ya, Nenek Josh Rainer memaksa kami menikah secepatnya dan Josh Rainer tampaknya patuh saja dengan rencana itu.
Aku kesal sekali.
Bukan berarti aku tidak ingin menikah dengan Josh, tentu saja aku mau.
Namun, dengan segala hal yang kuhadapi : Hampir mati dalam berbagai teror dan percobaan pembunuhan yang dilakukan Becca...
Bisakah mereka memberiku nafas sebentar untuk aku mensyukuri hidup?
Bisakah mereka mengerti bahwa aku butuh waktu untuk menyesuaikan perasaan dan pikiranku saat ini?
Bisakah mereka memposisikan jadi aku?
Apalagi, rencana pernikahan ini hanya selang 40 hari sejak tunanganku yang sebelumnya meninggal dunia!
Bisakah orang-orang kaya ini memahamiku sebentar saja?
...
Belum selesai masalah itu, hadir lagi yang lain.
Kali ini datang dari mantan kekasih calon suamiku.
Yang cantiknya bisa kusandingkan dengan pemain film hollywood disini.
Helena.
Datang begitu saja, memeluk Josh Rainer dan dengan gampang mengatakan semuanya hanya prank.
Benarkah dia sudah merelakan Josh untukku?
Benarkah dia tidak benci denganku?
Lalu buat apa dia kesini?
Aku menarik nafas dalam-dalam.
Hidupku kini serba membingungkan.
Dua bulan lalu, aku masih dalam kesibukkanku sebagai dokter sambil menyiapkan pernikahanku dengan Dio.
Hari ini, aku adalah pengangguran yang kebetulan tunangan dari pewaris keluarga Gurnawijaya. Yang punya banyak sekali masalah, musuh dan intrik internal yang luar biasa complicated.
Aku geleng-geleng kepala.
Teng..teng.. teng...
Jam utama di ruang tengah berbunyi sangat kencang. Memberitahukan kepada kami bahwa saat ini sudah pukul 7 malam, saatnya makan malam.
Keluarga konglomerat memang sedisiplin itu. Mereka sarapan pukul 7.30 pagi, makan siang pukul 12 dan makan malam pukul 7 malam.
Selalu tepat waktu, tidak pernah terlambat semenitpun.
Aku menghembuskan nafas sebentar. Mencoba terbiasa dengan segala hal baru yang kulalui sebagai calon istri pewaris Gurnawijaya.
Lalu dengan langkah tegas, aku bangkit dari kasurku untuk menuju ke lantai bawah.
Pintu kamarku berderit, dan aku mendengar ada pintu juga yang berderit di ujung lorong sana.
Siapakah? Apakah Josh dan Helena?
Aku mencoba kembali mendengar suara dari daun pintu, tidak mungkin dari kamar ayah dan ibuku karena mereka berada di lantai yang berbeda dengan kami.
Namun, tidak ada satu orangpun yang keluar dari lorong ini kecuali aku.
Baiklah. Sepertinya aku sudah mulai berhalusinasi. Aku mungkin memang tengah sakit kepala dengan segala yang terjadi belakangan ini.
Bam! Aku menutup pintu kamarku dan bergegas menuju ruang makan di lantai dasar.
Saat mau menuruni tangga, aku mendengar suara piano yang tidak biasa di balik ruang perpustakaan.
Refleks, aku menghentikan langkahku dan berbalik untuk mendengarkan suara piano tersebut lebih saksama.
Alunan lagu tersebut makin lama makin nyaring.. namun ada yang salah..
Melodinya.. sumbang.
Lagu yang dimainkan adalah lagu On my Own, yang berasal dari drama musikal terkenal Les Miserables. Bercerita tentang seseorang wanita yang menunggu cinta dari lelaki yang dicintainya sejak lama. Naas, lelaki tersebut jatuh cinta dengan sosok wanita cantik yang baru saja ditemuinya.
Lagu tersebut sangat menyentuh dan sangat emosional.
Namun, dengan melodi sumbang yang dilantunkan oleh piano ini, lagu ini jadi terdengar kurang syahdu.
Tidak mungkin Josh Rainer yang memainkannya kan? Josh adalah genius melodi, pemusik yang punya kemampuan pitch perfect dan pemain semua alat musik klasik. Dia pasti tahu ada yang salah dengan nadanya.
Apakah Helena?
Bukankah Helena juga besar di dunia drama musikal? Seharusnya dia juga sadar nada dasar yang dimainkan di piano ini sangat salah.
__ADS_1
Lalu siapa?
Tidak mungkin para pelayan, Josh tidak akan membiarkan pelayan memainkan alat musiknya.
Ayah dan ibuku? Mereka berdua tidak pernah tahu musik.
Semakin penasaran, aku mendekati daun pintu perpustakaan ini.
Aku membukanya perlahan, dan daun pintu berderit terbuka saat samar-samar aku melihat sosok yang tengah memainkan piano tersebut.
Seorang lelaki.
Di tengah ruang perpustakaan yang berhiaskan buku-buku klasik, pria tersebut duduk diatas kursi dengan permainan piano yang menggebu-gebu.
Nafasnya naik turun, tak beraturan.
Lagi-lagi aku mendengar nada yang sumbang, namun si pelantun piano tampak tak peduli.
Dia bahkan juga tidak menyadari bahwa aku kini telah menyaksikan permainannya.
Aku maju sedikit demi sedikit, ingin tahu siapa sosok orang ini.
Apakah teman Josh Rainer?
Saat aku melangkah lebih jauh, si pemain piano sedang menyelesaikan bait terakhir lagu menyedihkan itu dengan lantunannya yang masih sumbang.
Dan saat itulah, aku akhirnya melihat jelas siapa pelantun lagu di piano kesayangan Josh itu.
Oh...
Yaampun...
Aku terngaga melihat rupa sosok lelaki di depanku.
Jangan tanyakan dirinya. Dia sepertinya lebih shock melihatku yang kini hanya berjarak dua meter darinya.
Matanya yang sendu, garis wajahnya yang tampak kuyu, dan matanya yang terlihat letih.
Ale!
Aku tidak pernah membayangkan Ale yang selalu kelihatan flamboyan akan terlihat seperti orang sakit seperti ini.
Dia disini? apakah dia datang bersama Helena?
"Hai," aku menyapanya duluan, tak tahu harus mengatakan apa.
Di depanku, Aldebaran masih memandangiku kaget, seperti habis melihat hantu.
"Hai, Selena yang hilang," ucapnya datar.
Mendengar suaranya lagi kini terasa berbeda.
Saat pertemuan pertama kami di rumah Josh Rainer di Jakarta, aku pikir Ale berkomplot dengan Celine dan ingin mencelakakan kami. Dia mengerjaiku, membuatku jengkel, namun tetap membantu kami keluar dari cengkraman Celine dan Becca.
Saat pertemuan kedua kami, di rumah nenek Josh Rainer di puncak, Ale adalah orang yang sangat percaya diri, flamboyan dan narsistis. Dia seperti yakin bahwa semua orang di dunia ini menyukainya.
Dan di pertemuan kami yang ketiga kali ini, entah mengapa Ale seperti kehilangan energinya. Matanya kosong, badannya kuyu.
Dia seperti... tidak berminat untuk melanjutkan hidupnya.
Apakah.. apakah.. ini semua karena aku lebih memilih Josh Rainer?
Apakah keputusanku menghancurkan seorang Aldebaran?
"Bagaimana kabarmu?" aku bertanya sungguh-sungguh.
Ini adalah kali pertama aku berbicara dengannya dua arah sebagai Selena dan Ale, dua orang yang sejak kecil pernah bersama namun harus dipisahkan karena takdir.
"Sedikit terguncang, namun harus kuhadapi kan?" tanyanya retoris.
Aku semakin mendekatinya, kini aku sudah berada di depannya yang masih duduk di kursi piano. Menatap matanya.
Namun, Ale tampak tak ingin menatapku.
"Kak..." aku mencoba menenangkannya.
"Jangan panggil aku kakak!" katanya mencoba ketus, namun dia tetap bisa.
Aku tidak peduli dengan penolakannya.
Masih berdiri didepannya, aku mencoba memeluknya.
"Jangan dekat..dekat..." Aldebaran sekuat tenaga menolakku.
Aku tahu aku sudah melukainya.
Namun, aku tidak bisa membuatnya terus nelangsa seperti ini.
Setengah memaksa, aku memeluknya.
Ale berusaha melepaskan pelukannya dariku. Namun genggamanku lebih kencang.
"Terserah jika kamu mau membenciku. Tapi, seumur hidupku, aku akan selalu menyayangimu."
__ADS_1
Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
Sambil mendekapnya erat, seolah tak mau lagi kehilangan Ale yang berharga ini.
Aku benar-benar menyayanginya seperti kakak kandungku sendiri. Aku benar-benar berharap yang paling terbaik akan dia dapat dalam hidupnya.
Namun, tidak bersama denganku.
Dan untuk pertama kalinya, aku mendengar rintihan yang kencang dari sosok yang selama ini aku anggap paling kuat di dunia.
Aldebaran menangis di pundakku.
Aku tidak tahan mendengarnya. Aku tidak bisa menahan bulir-bulir air mata dari kelopakku untuk tidak ikut turun.
Kami menghabiskan belasan menit setelahnya masih dengan berpelukan. Aku benar-benar puas bisa kembali meraba raga dari kakak laki-lakiku itu.
Lalu aku dan Ale kembali berpandangan.
"40 hari lalu, hidupku hancur. Aku sangat ingin menyusul Dio untuk mati," aku mengajaknya bicara.
Sementara Ale, masih bergeming di tempatnya sambil menatapku dengan tatapan nanar.
"Aku pikir duniaku sudah selesai. Tapi nasib malah membawaku bertemu adikmu, yang mengajarkanku bahwa hidup dan mati itu sangat tipis. Ternyata aku belum ingin mati..." lanjutku.
"Aku masih ingin hidup. Aku ingin bangkit dan berjuang bersama adikmu.. adikmu membuatku kembali merasakan harapan yang kupikir sudah tidak akan aku rasakan lagi saat aku hidup.." kataku perlahan-lahan.
Ale berusaha menghentikan tangisnya, dia menatapku kosong namun mendengarkannya seksama.
"Aku mencintai Josh Rainer, sebagaimana aku mencintai hidupku. Dan posisimu Ale, sama dengannya di hatiku. Dia adalah jantung hatiku, dan kamu, ayah dan ibu melengkapi hidupku dengan rasa cinta kasih yang tak terhingga. Karena kamu adalah kakakku.Kamu pasti tahu itu," jelasku.
Aldebaran menatapku lekat-lekat.
Kami berdiaman beberapa saat. Sampai akhirnya tangannya yang kosong merengkuh kedua tanganku.
"Aku tidak membencimu, Selena.. bagaimana bisa?" dia akhirnya mencoba membuka dinding yang dia pasang di depanku.
Aku tersenyum mendengarnya.
"Sama denganmu, sepanjang hidupku aku akan terus menyayangimu.." ujarnya lagi. "Namun, aku sungguh butuh waktu."
Aku mengangguk. "Aku akan pergi jika kamu mau.."
"Tidak!" ucapnya cepat. "Aku harus terbiasa dengan ini semua, dan aku janji.. aku akan segera terbiasa."
"Ini baru Ale yang aku kenal," aku menepuk punggungnya.
Dia akhirnya tersenyum. Kemudian menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
"Bahagiakan adikku ya," katanya lirih, namun dalam.
"Pasti, kak Ale.." kataku menggodanya dengan sebutan kakak.
Kami tersenyum dan mencoba tertawa kecil bersama. Sulit memang, namun aku akan mencoba berbagai hal untuk membuat hubunganku dan Ale kembali harmonis seperti dulu kala.
Saat aku ingin mengajaknya untuk kebawah makan malam, Ale tampak ingin menghentikanku sesaat.
"Selena, aku rasa aku harus mengembalikan ini padamu," ujarnya serius.
Dia mengeluarkan pigura dari dalam goodie bag yang dia sampirkan di kaki piano sedari tadi.
Di dalam pigura tersebut, terdapat kertas tulisan anak-anak yang berantakan.
Keningku mengkerut.
"Apa ini?" tanyaku bingung.
Aldebaran tampak lebih bingung mendengarku.
"Ini... surat yang kamu tulis untukku?" kata Ale bingung.
Aku mengambilnya dari tangan Ale dan mencoba membaca isinya. "Tunggu aku, dari Ratumu?"
"Ale.. aku tidak mengerti. Aku tidak pernah menulis ini.." kataku sungguh-sungguh.
Wajah Ale tampak seperti tersengat listrik.
"Waktu aku bilang padamu aku punya bukti untuk membuatmu mau menikah padaku, ingat?" katanya mencoba mengingatkan kami pada percakapan konyol pada pertemuan kami.
Aku mengangguk.
"Dan.. delapan belas tahun aku berusaha keras menjadi Aldebaran yang hebat untuk bisa bersamamu.. karena tulisan tangan ini, kamu tidak ingat?" katanya mencoba membukakan ingatanku.
Aku berkali-kali membaca surat cinta yang dipigura itu. Tulisan anak-anak yang menyatakan "tunggulah aku, dari Ratumu" dan ada gambar ksatria dan ratu disana.
"Ale.. aku sama sekali tidak bisa menggambar. Bagaimana bisa surat ini aku yang buat?"
Apakah... dia mengira surat ini dariku?
Karena itulah.. dia mengharapkanku untuk menjadi kekasih hatinya?
"Ale.. aku rasa.. kamu salah orang.. Kamu salah membaca semua tanda ini.." aku mencoba menjelaskannya.
Namun, Aldebaran tampaknya tahu bahwa dia telah dibodohi oleh imajinasi liarnya selama ini. Dia terduduk lemas di lantai, tak mampu bersuara.
__ADS_1