Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
ALASAN PERPISAHAN


__ADS_3

Pov : Helena


Josh Rainer memandangku kaget.


Matanya seperti membelo ingin keluar, seakan sedang melihat hantu!


Sedangkan Dokter Selena..


Dengan polosnya, dia malah meninggalkan kami berdua disini.


Dia langsung berlari dan membuang mukanya saat aku menggengam tangan kekasihnya.


Dari gerak-geriknya yang kuamati terbatas, aku bisa membaca bahwa dia pastilah cemburu, sedih dan juga kecewa pada kami.


Ya ampun, mereka berdua membuatku gemas!


Josh, tampaknya baru sadar bahwa aku tidak boleh lagi menggengam tangannya seperti ini.


Dia langsung membanting kedua tanganku.


Dia bahkan melihat ke kiri dan kanan, mencoba mengecek apakah kekasih barunya itu melihat bahwa dia baru saja membiarkan mantan pacarnya menggengam tangannya.


Dasar bodoh.


Pacarmu sudah berlari dengan banjir air mata karena perlakuanmu padaku!


Dan Josh Rainer masih saja belum menyadarinya.


Pria ini memang tidak berubah.


Masih seperti yang dulu, kurang sensitif terhadap perasaan orang di sekitarnya.


Termasuk, bagaimana bisa dia tidak menceritakan padaku sedikit upilpun mengenai prahara keluarga Gurnawijaya?


Bagaimana bisa dia tidak mempercayaiku dan malah berpura-pura amnesia?


Padahal, aku dulu selalu jadi orang pertama untuk menumpahkan seluruh kekesalannya.


Aku selalu menjadi orang pertama yang dia cari saat dia mengalami masalah.


Dan aku juga yang selalu dia panggil untuk bersama-sama merayakan keberhasilannya.


Josh Rainer…


Lebih dari dua puluh tahun aku mengenalmu, dan inilah kali pertama aku merasa kamu seperti orang asing.


Aku tahu semakin tua umur seseorang, pasti ada perubahan juga dalam kehidupan mereka.


Namun, aku tidak pernah membayangkan akhirnya kita bisa seperti ini.


Kamu memilih menjauh dariku. Tidak menceritakan apapun lagi padaku. Tidak lagi menjadi orang pertama yang selalu kau cari dalam setiap suka dan dukamu.


Hanya dalam beberapa hari tempat itu sudah berganti menjadi milik Dokter Selena…


Aku sedih, namun aku tidak bisa memperlihatkannya pada Josh.


Karena sehancur apapun hatiku saat ini, aku tetap ingin melihatnya tersenyum.

__ADS_1


Dan sudah jelas dia tidak pernah bisa lagi tersenyum jika masih bersamaku.


Senyumnya kini hanya untuk dokter itu.


Dan jika dia bahagia, seharusnya aku juga bisa menemukan kebahagiaanku juga bukan?


Josh masih mencoba memperhatikan sekitarnya, mengamati dimana Dokter Selena saat ini.


Sementara aku, tak peduli dengan gerak geriknya dan malah memeluk tubuhnya kencang.


Tubuh yang selalu menjadi sandaranku untuk mencapai mimpi-mimpiku selama ini..


Namun, tidak lagi bisa kudapatkan.


Setelah setahun lalu penolakanku terhadap lamarannya benar-benar mengubah hubungan kami.


Kami menjadi pasangan yang tidak lagi dikenali.


Kami benar-benar bergerak sendiri.


Dan kini, dia telah menemukan rekanan yang dia yakin pantas untuk menjalani hidup bersama-sama dengannya.


Dan itu bukan aku.


Sampai kapanpun, aku tidak akan bisa membuatnya sama bahagianya seperti aku menganggapnya.


Dan aku harus mengakui ini.


Aku harus mendukung hubungan mereka.


“Helena, hentikan. Aku tidak ingin ada salah paham disini,” Josh mencoba mendorongku dan melepaskan pelukanku yang kuat padanya.


Tentu saja, aku tidak peduli dengan kekhawatirannya.


“Diam sebentar. Aku mungkin tidak akan bisa memelukmu lagi karena kamu sudah bukan menjadi orang pertama yang kamu cari,” kataku lugas.


Josh tampak keheranan dengan ucapanku, namun dia tetap berusaha melepaskan peganganku.


“Helena, aku tidak bisa.. aku tidak ingin menyakiti hati Selena.. apalagi jika dia melihat ini. Lepaskan aku sekarang!” katanya sedikit memerintah.


Aku tetap bergeming. Masih ingin bermain-main dengannya.


Aku bahkan kini mendekatkan mulutku tepat di telinganya.


Lalu meniup-niup telinga itu.


Josh selalu geli bila ada hembusan di telinganya, dan aku selalu menggodanya dan bercanda dengannya saat kami dulu masih bersama.


Dia kini dia tetap setengah bergidik, namun tidak bisa melepaskan pelukannya dariku.


“Josh Rainer.. jika kamu tidak sadar, kekasihmu yang baru itu sudah melihat kita dan lari dengan kencang sambil menangis..” kataku menggodanya.


Dan jelas saja, Josh langsung bereaksi hebat.


Dia kini tak segan mengeluarkan jurus bela dirinya dengan memiting tanganku kebelakang dan kini langsung mengunci gerakan di leherku.


“Helena.. jangan berani-berani.. kalau kamu punya motif untuk membuat segalanya berantakan..”

__ADS_1


Aku membalasnya dengan tawa kencang yang memekikan gendang telinganya.


Josh memang selalu menjadi si kembar yang paling serius.


“Astaga Josh! Aku hanya rindu padamu! Kita sudah tidak ketemu setahun sejak aku menolakmu, ingat?" kataku rileks.


Josh masih memitingku serius. Sepertinya dia tidak peduli jika tangan indahku ini bisa patah karena tenaganya.


"Sekalinya kita bertemu lagi, kamu malah membodohiku, pura-pura dungu dan linglung karena tabrakan itu! Ya sekarang aku balas mengerjaimu!” aku tertawa tak tertahankan.


Josh kini mengendurkan pitingannya padaku perlahan. Tahu bahwa aku memang bertingkah seperti Helena yang biasa, suka bercanda dan senang tertawa.


“Helena.. aku tidak bermaksud membodohimu.. aku harus waspada karena bisa saja kamu..” Josh kini kehilangan kata-katanya.


Sementara aku, yang tidak tahan ingin mengobrol tentang masalah ini langsung menyerobotnya.


“Menurutmu bisa saja aku kaki tangannya Becca dan Celine? Josh Rainer! Apa kamu kurang mengenalku selama dua puluh empat tahun kita tumbuh dan berkembang bersama-sama? Aku kecewa padamu!" kataku kini dengan tangan yang bebas.


Josh masih memandangku dalam-dalam.


"Kamu pikir aku setega itu ingin melihatmu menderita dan bergabung bersama regu kejahatan Becca? Dan yang paling membuatku sedih, bagaimana bisa kamu berpikiran kalau aku menginginkan hartamu?" kataku tak percaya.


Aku benar-benar mengeluarkan semua unek-unekku.


Aku paham Josh Rainer adalah orang yang sangat pintar dalam hal analisis dan strategi. Dia tentu saja mewaspadai dan bisa mencurigai semua orang disekitarnya untuk memiliki motif jahat terhadapnya.


Tapi mengapa aku juga termasuk?


Jika tidak ada Dokter Selena, aku akan berusaha terus mengejarnya untuk menjadi kekasih hatiku! Bagaimana aku bisa setega itu untuk menjahatinya dan bergabung dengan Becca?


“Helena.. aku tidak punya pilihan lain. Kamu sendiri sudah terlibat dalam rencanaya tanpa kamu sadari," katanya.


Aku masih memberikan gestur tidak terima dengan penjelasannya.


"Tidak memberitahumu bukan berarti aku tidak ingin kamu tahu, tapi aku lebih menjaga hal-hal yang berpotensi bisa bocor kepada tim musuh. Kamu sangat dekat dengan Becca.. aku sangat berhati-hati disini,” jujurnya.


Aku kini meraih kedua pipinya. Seperti yang aku sering lakukan padanya.


Kemudian mencubitnya sampai kedua pipi itu merah.


Menggemaskan sekali melihat Josh yang masih punya ekspresi yang sama setiap kali aku mencubit pipinya karena gemas dengannya.


“Tapi tetap saja aku kecewa. Bisa-bisanya aku bukan orang pertama yang kamu cari saat kamu mengalami semua penderitaan ini? Apa aku kehilangan Josh Rainer yang kurawat sejak bayi?” aku kembali mencoba melucu.


Josh akhirnya tertawa.


“Aku bahkan tidak memberitahu kakakku pada awalnya. Semuanya benar-benar terasa berbahaya dan aku tidak tahu dengan siapa saja aku bisa berbagi informasi ini. Tapi di luar itu semua, aku benar-benar minta maaf padamu Helena…”


Suaranya yang dalam.. kepintaran sekaligus kewaspadaannya… aku pasti akan sangat merindukan pria ini nantinya.


“Ya kamu memang harus minta maaf padaku. Tidak cerita apapun kalau dirimu sedang dalam bahaya, berpura-pura akting menjadi gila dan juga meninggalkanku begitu saja tanpa penjelasan untuk bersama wanita lain. Yang paling menyakiti hatiku, kamu bilang pada Aldebaran bahwa aku menolakmu karena aku tidak sabar menjadi nyonya Gurnawijaya yang bergelimang harta! Asumsi dari mana itu? Coba jelaskan dan aku akan pertimbangkan apakah aku bisa memaafkan pria kurang ajar macam dirimu,” kataku berapi-api.


Josh pasti tidak tahu ucapanku barusan itu serius atau tidak. Aku sendiri juga ragu, mungkin aku benar-benar merasa dalam titik kesedihan yang tidak bisa kuungkapkan sampai akhirnya aku mengatakannya seperti sedang bercanda.


Kini Josh menghembuskan nafasnya dalam-dalam.


"Aku memang harus menjelaskan semuanya. Tapi jangan disini, ikut aku. Kamu harus tanggung jawab dulu," ucapnya datar sambil memintaku mengikuti langkahnya masuk ke dalam istananya.

__ADS_1


__ADS_2