
Aku kembali ke rumah Josh Rainer pada minggu pagi.
Berbagai pertanyaan telah terkumpul di kepalaku untuk mengetahui kebenaran apa yang terjadi di rumah ini.
Sebelum masuk ke kamar Josh, aku bertemu dengan Rikian di teras rumah dan berbincang padanya mengenai keadaan rumah sepeninggal aku pergi.
“Apakah Josh tantrum lagi?” tanyaku pura-pura khawatir.
“Tidak Dok, semua aman terkendali,” kata Rikian sambil membantu membawakan tas berisi baju gantiku.
“Suster Diana juga menjaga Josh seharian kemarin kan?”
“Iya Dok, sesuai instruksi Nyonya. Nyonya sendiri baru kembali dari Singapura tadi malam,” jawab Rikian.
Celine yang merencanakan sesuatu dengan Becca telah kembali.
Aku baru saja ingin masuk ke kamar Josh saat berpapasan dengan Celine dan Diana di depan pintu.
Mereka berjalan bersisian dengan raut wajah yang tampak mencemoohku.
Aku bisa bilang mereka cocok sekali bila berperan sebagai adik dan kakak dan suatu sinetron.
“Bagaimana perkembangan Josh selama satu minggu ini?” tanyanya ketus.
“Bagaimana kalau saya lakukan observasi rutin pagi ini dulu baru saya laporkan kepada Ibu?” tawarku sambil mendorong pintu kamar Josh.
“Saya tidak bisa masuk, tadi malam dia masih meneriaki saya,” jelas Celine.
“Jelaskan kepada saya disini,” perintahnya padaku.
Aku menurut sambil berusaha mencari celah untuk mengorek informasi lainnya.
“Josh mencatatkan peningkatan yang bagus dalam pemulihan traumanya. Dia sudah bisa mengenal objek disekitarnya dan menggunakannya dengan baik. Dia juga sudah memahami cara menggambar, namun belum bisa menulis,” jelasku.
“Sampai hari ini, dia masih tidak mengingat apapun yang terjadi sebelum kecelakaan. Dia juga masih kesulitan bicara. Dia juga masih resisten terhadap beberapa hal yang saya juga sangat ingin tahu kenapa,” kataku.
“Hal apa?” tanyanya dengan nada tinggi.
“Pertama, apapun yang berhubungan dengan Ibu Celine. Kedua, dia juga resisten terhadap ucapan kasar atau ucapan yang menyerang mentalnya, seperti beberapa kali yang dilakukan oleh Suster Diana. Namun kepadaku dan Pak Rikian, dia sangat menggemaskan seperti anak kecil,” kataku gamblang.
Celine tampak menelan ludah sementara Diana menengok ke Celine seperti meminta dukungan.
“Mengapa Josh jelek sekali sikapnya terhadap kalian? Apa kalian melakukan sesuatu yang buruk terhadap Josh setelah kecelakaan terjadi?”
Celine tidak ingin mendengarkanku lagi.
“Itu bukan urusanmu,” katanya.
“Tentu saja urusan saya karena saya adalah dokternya. Saya perlu tau apa yang menghambat mentalnya untuk memastikan dia sembuh. Ibu Celine ingin anak Ibu bisa segera sembuh kan? “ tanyaku menyindirnya.
“Tentu saja. Dia anak saya,” katanya buru-buru.
“Josh hanya salah sangka dengan saya,”
“Salah sangka apa?”
“Kamu tidak perlu tahu karena ini urusan keluarga Gurnawijaya,” dia mewanti-wantiku.
“Perintahku padamu jelas, sembuhkan dia. Tapi jangan usik masalah pribadi keluarga saya.”
Celine kemudian berlalu begitu saja. Sementara didepanku, Diana memandangku dengan tatapan mencemooh.
Aku tidak peduli.
Yang aku pedulikan saat ini apa yang ada di balik pintu kamar ini.
Josh Rainer.
Saat aku masuk ke kamar, dia masih tertidur di kasurnya.
Aku mendekatnya dan membangunkannya pelan-pelan.
“Josh,” aku menggerakkan bahunya.
Dengan cepat dia membuka mata.
Lalu entah bagaimana, dia mendorongku untuk mendekat padanya saat aku sedang mencoba mengecek detak jantungnya dengan stetoskop.
__ADS_1
Kini aku menimpa badannya di tempat tidur!
Dia lalu mendekap badanku kencang agar tidak bergerak.
Setelahnya, aku merasakan hembusan nafasnya di leherku.
Terus naik ke telingaku.
Kini bibirnya menempel di kupingku.
Aku mematung. Aku tidak tahu apa yang terjadi.
“Josh, jangan,” aku mengerang sembari berusaha melepaskan diri.
Dia tidak mengendurkan dekapannya. Dia juga tidak memindahkan bibirnya dari kupingku.
“Sa..sakit.. Sakit sekali..” dia membisikiku.
Kemudian dengan cepat di melepaskanku. Bertepatan dengan bunyi pintu kamar yang menjeblak terbuka.
Diana baru saja masuk bersama dengan buku catatan ditangannya.
Dan aku segera bangun dari badan Josh Rainer, berusaha terlihat tidak ada apa-apa sambil mengecek kondisi detak jantungnya.
Apakah dia melihatnya?
Tatapan Diana sama saja dengan saat aku diberhentikan oleh Celine di depan pintu tadi. Tatapan mencemooh.
Oh, bagus. Itu artinya tadi tidak ketahuan.
Aku memandangi Josh dan dia memang terlihat lebih pucat dari kemarin.
Padahal observasi jantung, nafas dan suhu semuanya baik-baik saja.
Apa yang Josh maksud tadi?
Dia mengalami sakit apa?
Aku menginstruksikan Josh untuk sarapan pagi terlebih dahulu sebelum kami memulai terapi.
Terapi pura-pura tentunya. Josh tidak perlu terapi apa-apa kecuali berakting masih amnesia di depan Suster Diana, yang mengawasi Josh lekat-lekat.
Aku memilih untuk ke ruang baca ini karena ada alasan tertentu.
Karena aku perlu mengorek informasi lainnya dari Josh Rainer.
Dan satu-satunya cara adalah dengan kembali mendekatkan kertas dan pulpen di depan Josh Rainer. Dengan pengawasan ketat yang dilakukan Diana, ini adalah satu-satunya cara yang terpikir olehku.
Aku kemudian memulai rencanaku.
“Josh, lihat semua medali yang ada disini. Itu semua adalah milikmu,” kataku.
Aku kemudian memutarkan beberapa video yang kudapatkan dari rak kerja ayahnya. Video permainan biola Josh Rainer di berbagai kompetisi internasional.
Dia masih memperlihatkan wajah datarnya di depan Diana. Yang membuatku cemas, dia masih terlihat pucat. Bahkan lebih pucat dari sebelumnya.
“Josh, kamu sedang sakit kah? Mengapa pucat?” aku menanyakannya setelah kami menonton video.
Aku mendelik kepada Diana, ingin tahu responsnya. Dan dia keliatan membuang muka, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Josh tidak menjawab apa-apa padaku.
“Oh baiklah kalau kamu tidak merasa sakit, mungkin kamu kurang tidur? Kita akan selesaikan terapi ini cepat ya lalu kamu bisa tidur.”
Dia masih sama tidak membalas apa-apa.
Mungkin lebih tepatnya, dia tidak ingin membalas respons apapun didepan muka Diana.
Aku kemudian beranjak dari tempatku dan mengambil salah satu barang pusaka yang ada di kamar ini.
Biola Josh.
“Nah, ini adalah nyawamu,” aku memberitahunya.
“Josh, kamu harus ingat bahwa kamu adalah pemain biola professional yang terkenal di luar negeri! Kamu mau coba memainkannya?”
Aku basa-basi menawarinya. Tentu saja dia akan tetap berakting diam saja di kursi rodanya.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Josh, pelan-pelan saja ya. Mau lihat bagaimana cara bermain biola? Aku tunjukkan sekarang.”
Nah, inilah saatnya.
Aku kemudian memberikannya beberapa kertas partitur salah satu lagu klasik yang ada di rak bagian atas. Aku mengambilnya dan memberikan pulpen secara tidak terlihat kedalamnya untuk digunakan Josh menulis informasi untukku.
“Coba pilih satu lagu apa yang ingin kamu dengar,” aku menyuruhnya memilih.
Dia kemudian menunjuk satu kertas partitur secara acak.
Dan partitur itu adalah Moonlight Sonata karya dari Beethoven.
Salah satu karya favoritku yang dulu selalu kumainkan menggunakan pianika ku.
Cerita tentang kepahitan hidup karena ditinggal orang yang dicintai berkali-kali.
Mirip dengan kondisiku sekarang yang ditinggal mati kekasihku, eh?
“Terima kasih Josh, lihat aku baik-baik ya.”
Kemudian aku mencoba memainkannya.
Nada tiap nada.
Bait demi bait.
Semuanya presisi dan tidak ada yang lepas kontrol.
Aku memainkannya dari hatiku.
Sudah pasti aku tidak bisa sehebat Josh dalam memainkan biola.
Namun, aku sangat menikmati permainan biola Josh yang kualitasnya sangat baik ini. Biola yang telah melanglangbuana ke berbagai belahan dunia bersama Josh Rainer.
Terakhir kali aku bermain biola adalah waktu SMA dulu, saat aku bergabung dalam klub musik klasik. Aku bebas meminjam biola sekolahku saat itu.
Sementara Dio, di pojokan ruangan klub selalu mencoba mengiriku dengan piano. Memadukannya dalam harmoni.
Itu dulu sekali.
Dan kini, 8 tahun setelah itu, aku kembali memainkan biola yang tidak biasa. Biola ini sudah memiliki pengalamannya sendiri di berbagai negara dengan unjuk gigi di banyak kompetisi.
Lewat tangan magis Josh Rainer.
Aku tenggelam dalam permainanku sendiri saat sadar aku seharusnya memperhatikan Josh. Apakah dia berhasil menuliskan sesuatu di kertas partitur depannya?
Saat aku menatap Josh, dia malah bergeming di tempatnya.
Dia lekat-lekat memandangiku.
Menonton pertunjukkan biola amatirku.
Dengan mata berbinar, yang aku baru lihat dari sejak aku bekerja disini.
Aku sedikit canggung tapi merasa senang dalam hati.
Tidak tahu mengapa.
Saat aku sadar, Diana juga terlihat terhipnotis dengan permainanku.
Ini adalah saat yang bagus.
Aku mendelik pada Josh memberikan sinyal lewat mataku untuk menulis sesuatu di kertas partitur yang ada di meja di depannya.
Ternyata, tanpa kusadari dia sudah memegang satu kertas yang dilipat di tangannya.
Gotcha!
Dalam satu gerakan cepat, Josh memasukkannya ke dalam tas biola yang ada didepan kertas partitur yang berserakan.
Aku lalu memalingkan wajahku ke arah Diana untuk mengecek apakah dia masih terhipnotis dengan permainanku dan memastikan bahwa dia tidak melihat gerakan tidak biasa dari Josh.
Namun yang tidak aku harapkan terjadi.
Dia melihatnya.
Dengan kecepatan tinggi, Diana bergerak ke arah tempat duduk Josh Rainer dan merebut sesuatu yang Josh masukkan ke dalam tas biola.
__ADS_1
Kertas partitur.
Dengan menyeringai, Diana menatap kearahku sambil berkata, "Tertangkap basah."