
Mulutku masih ternganga melihat sosok didepanku.
Mataku sudah menjeblak terbuka sepenuhnya dan aku masih tidak mempercayai apa yang ku lihat di depan mataku.
Pria dengan pakaian compang camping, banyak lumpur dan sejumlah luka gores di berbagai tubuhnya.
Dia duduh bersimpuh persis didepanku dengan kedua tangannya kini turun memegang pipiku.
Meskipun pria didepanku ini sangat kotor dan terluka, aku tahu pasti siapa orang ini.
Orang yang sama sekali tidak berbahaya.
Gery.
Teman sejak kecilku.
“Kamu kok bisa disini? Kok kotor dan luka begini?” kataku histeris.
Nafas Gery masih terengah-engah didepanku. Wajahnya tercoreng dengan banyak lumpur. Pipi kiri dan tangan kanannya banyak luka gores yang masih mengeluarkan sedikit darah.
“Sel kita harus segera pulang!” katanya terburu-buru.
Apa sesuatu terjadi saat aku pergi?
Mengapa Gery bisa sampai ada disini?
“Tenang dulu, ceritakan padaku apa yang terjadi,” kataku memintanya tenang.
“Dan ini, adalah makam Dio yang selama ini kita tidak pernah tahu,” lanjutku.
Gery bergerak menuju nisan Dio dengan tangan masih gemetar.
“Hai bro, kita ketemu lagi. Aku berharap kamu bisa tidur tenang disana. Tapi maaf sekali, aku harus segera membawa Selena pulang. Ini sangat gawat,” katanya khawatir.
Aku tak bisa menyembunyikan ekspresi ngeriku.
“Katakan padaku ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan ayah dan ibuku?" kataku khawatir.
Atau apakah sesuatu terjadi pada Josh Rainer?
“Aku tadi mengikuti mobil kalian. Aku sudah memanggil-manggil kalian, tapi kalian berdua tidak dengar. Jadi aku mengikuti kalian sampai di depan gerbang rumah tadi. Lalu aku malah dihentikan saat mau masuk ke dalam villa ini," Gery mulai bercerita.
Dia tampak mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan penjelasannya. Jelas sekali dia masih terengah-engah.
"Aku mencari cara untuk bisa masuk dan akhirnya aku dapat jalan dengan menaiki bukit dulu, lalu menuju kesini. Banyak lumpur dan cabang yang runcing sehingga aku kotor dan..”
“Gery katakan padaku intinya apa yang terjadi!”
Gery tidak mungkin iseng mengikuti kami hingga jauh begini bila tak ada alasan yang amat sangat penting.
“Sel, hari ini aku masuk kantor setengah hari dan aku melihat Celine di kantor bersama Diana ingin bergegas pulang. Aku sempat menguping dan mereka bicara tentang “sekaranglah waktu untuk menyingkirkannya”."
Lututku lemas mendengarnya.
Mereka ingin menyingkirkan Josh Rainer saat ini juga!
"Aku kaget sekali. Aku takut kalau Josh dalam bahaya makanya ingin memberitahumu. Tapi ponselmu bahkan tidak bisa aku hubungi..”
Badanku kini seperti melawan gravitasi, lemas sekali.
Namun, aku mengindahkannya dan cepat berdiri untuk mencari ponselku. Ternyata aku dari tadi belum menghidupkan ponselku saking banyaknya kejadian yang terjadi hari ini.
__ADS_1
Perasaan ngeri dan takut kini sudah menjalariku.
Bagaimana kalau Celine dan komplotannya ingin mencelakai Josh Rainer saat dia sedang sendirian?
Bagaimana kalau Celine saat ini sudah melukai Josh?
“Gery, ayo kita pergi!”
Aku menarik tangan Gery untuk segera kembali menuju rumah Josh Rainer. Sebelum pergi, aku memeluk nisan Dio dan menciumnya untuk beberapa detik.
Semoga aku masih bisa kembali kesini, Dio.
Maaf, aku harus memprioritaskan keselamatan Josh Rainer dulu kali ini diatas segalanya.
Gery juga tampak mengelus nisan Dio dan berlari bersisian denganku.
“Sebelah sini, Selena. Aku memarkir motorku di atas bukit sana, kita harus melewati hutan sialan ini dulu,” maki Gery.
Perlu waktu 10 menit bagi kami keluar dari hutan ini. Beberapa kali pula badanku tergores oleh cabang-cabang pohon liar yang menghalangi jalan kami. Untung saja, Gery cukup tangkas mengingat jalan pulang sehingga aku tidak lagi menemui lumpur untuk dilewati.
Kami sampai di parkiran motor dan segera memakai helm untuk kembali ke Jakarta.
Aku meminta Gery untuk mengebut secepat mungkin dan dia menyanggupinya. Dengan kemampuan juara balap liar saat kuliah dulu, aku sama sekali tidak meragukan bakat Gery kali ini.
Kami seharusnya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai di rumah Josh. Semoga kami bisa menyusul lebih cepat hingga 30 menit saja untuk sampai dan memastikan Josh Rainer baik-baik saja disana.
Pikiranku melayang kemana-mana saat ini.
Apakah Becca terlibat dalam rencana Celine?
Apakah telfon yang tadi dia terima adalah dari Celine? Bukan dari orang di kantornya?
Apakah Becca sengaja mengajakku ke makam Dio untuk menjauhkan aku dari Josh?
Mungkin saja Becca sengaja menjauhkanku dari Josh Rainer dengan mengajakku ke makam agar Celine bisa lebih gampang beraksi.
Kenapa Becca?
Mengapa kamu tega terlibat dalam kasus jahat ini?
Dan mengapa kamu tega membawaku masuk sebagai pendukung ceritamu disini?
Menawarkanku pekerjaan ini tapi juga memanfaatkan aku untuk mencelakakan orang.
Becca, aku sungguh kecewa.
Di depanku, Gery mengajakku bicara. Meskipun angin di motor saat ini sedang kencang, aku bisa mendengarnya jelas.
“Selena, kamu janji kemarin akan menjelaskan padaku tentang keanehan Becca,” pinta Gery masih sambil fokus mengendarai motornya.
Oh tidak.
Gery tidak pernah bisa melupakan Becca.
Jika aku cerita semua dugaanku padanya, apakah dia percaya?
Atau dia malah berbalik mendukung Becca dan berada di sisi Celine?
“Sel! Jangan bilang kalau Becca terlibat untuk mencelakakan Josh Rainer?” nada Gery kini meninggi.
Ya, mungkin Gery sudah menduganya juga. Atau mungkin dia merasakan intuisi dari orang yang dia sangat sayangi itu.
__ADS_1
“Gery.. Becca.. sudah seperti bukan Becca yang kita kenal dulu,” getirku.
Kemudian, aku bercerita panjang lebar padanya tentang semua yang kuketahui dan asumsiku tentang keterlibatan Becca.
Gery tampak menggeber lebih kencang. Bahkan kecepatan kami saat ini sudah berada di 120km/jam. Mau tak mau, aku mengeratkan peganganku pada pinggang Gery yang dipenuhi bekas lumpur.
Dia pasti sangat kecewa dengan Becca.
Atau, dia mungkin tidak mempercayai satu kata yang keluar dari mulutku tentang Becca.
Tentu saja, dia selalu mencintai Becca.
“Aku tidak percaya Selena.”
Suara itu tegas. Benar-benar mengonfirmasi bahwa dia yakin Becca yang dia sayangi bukanlah orangs seperti itu.
Maafkan aku Gery, tapi inilah kenyataannya.
Apakah kini dia tidak lagi mau membantuku?
Apakah kini dia berada di pihak Becca?
“Aku tidak percaya bagaimana bisa dia bisa sebodoh ini,” Gery mendengus kesal.
Apa yang dia bilang?
“Bagaimana dia bisa membuatmu berada di posisi berbahaya saat ini? Dia seharusnya menjadi adik iparmu!” Gery tampak emosi di jok motornya.
Gery percaya padaku.
Untunglah, perasaan yang dia miliki tidak menghentikan otaknya memproses fakta.
“Dia tahu bahwa Sabtu ini kamu harus menjauh dari Josh Rainer. Dia mengikuti rencana Celine. Becca yang aku banggakan mengapa jadi begini?” Gery masih marah-marah sambil menggeber motor.
Aku juga tidak tahu jawabannya.
Mengapa Becca menjadi sosok yang tak lagi kukenali kini.
Aku mencoba berpikir, dan kemudian kenyataan seperti menyambarku.
Tepat ketika Gery mengatakan Sabtu yang sudah terencana.
Aku teringat dengan percakapan di telfon antara aku dan Becca tempo lalu. Saat aku dan Anna tengah mengorek informasi tentang dirinya dan Josh Rainer.
Mengapa aku bisa lupa?
Saat itu, aku dengar sekilas bahwa Celine menanyakan keikutsertaannya tentang rencana pada hari sabtu kepada Becca.
Hari Sabtu. Hari ini adalah hari Sabtu.
Mereka memang telah merencanakan kecelakaan ini sejak pekan lalu.
Rencana di hari Sabtu. Untuk mencelakakan Josh Rainer.
Aku pikir, aku bisa mengikuti permainan ini.
Aku pikir aku bisa menolongnya.
Tapi karena kecerobohanku, aku meninggalkan ruang kosong yang bisa saja telah membinasakan Josh Rainer kini.
Josh Rainer.
__ADS_1
Aku mohon kamu untuk bertahan.
Jangan mati.