Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
FAKTA BARU


__ADS_3

Dari jauh, Anna terlihat melambaikan tangannya dari dalam mobil dengan kaca yang terbuka.


Setengah berlari, aku menuju tempat parkir di depan gerbang rumah Josh yang dijaga oleh banyak sekuriti.


Aku tersenyum pada sekuriti dan memberikan kode bahwa aku akan keluar.


Sesampainya di mobil Anna, kami berpelukan dan saling menanyai kabar. Setelahnya, di langsung menghidupkan mesin mobilnya dan perlahan-lahan keluar dari kompleks rumah mewah ini.


“Kita langsung kerumahmu saja ya?” tanya Anna yang membetulkan kacamatanya sembari menyetir.


“Setuju. Kalau kita makan di luar takutnya ada yang menguping,” kataku masih berhati-hati.


“Segitu parahnya kah?” tanya Anna tak percaya.


Tidak berapa lama, kami sampai di pekarangan rumahku. Ibu dan ayahku menyambut kami dan mempersilahkan kami untuk makan malam bersama terlebih dahulu.


Di momen makan malam itu, aku mengatakan kepada ayah dan Ibuku bahwa aku baik-baik saja selama seminggu di pekerjaan baruku.


Aku juga menyampaikan pada mereka bahwa uang yang dimintakan keluarga Dio sudah berada di tanganku dan aku akan menemui keluarga itu pada Sabtu depan.


Ayah dan Ibuku tampak lega.


Mereka juga berharap aku selalu sehat dan segera menyelesaikan pekerjaan baruku sehingga aku bisa kembali menjalankan karirku seperti sedia kala.


Sesudah mengobrol dengan orang tuaku dan membereskan piring, aku mengajak Anna masuk ke kamarku.


Disitu, aku menjelaskan semua yang terjadi padanya. Semua cerita yang terjadi tanpa ada yang kututup-tutupi.


Anna tampak kaget dan khawatir dengan keselamatanku.


“Sel, ini gila,” respons pertamanya saat mendengar seluruh ceritaku.


Aku tahu Anna adalah orang yang dapat dipercaya.


Meskipun pertemanan kami baru terjalin beberapa tahun, tepat ketika kami bertemu pertama kali sebagai dokter muda di rumah sakit yang sama.


Dari situ, aku merasa Anna adalah teman yang tulus. Anna sendiri adalah tipe kutu buku yang jarang memiliki teman sehingga ketika aku menjadi temannya dia tak sungkan membagikan 'dunianya' kepadaku.


Anna datang dari keluarga menengah keatas, berkuliah di luar negeri dan tidak pernah jajan di area kaki lima.


Dia tidak sungkan membayari seluruh biaya liburan kami hanya untuk memiliki waktu berkualitas denganku. Baginya, mengobrol denganku berjam-jam di rumahnya lebih menyenangkan daripada harus hang out di tempat eksis ibukota sampai larut malam.


Sebagai gantinya, aku selalu mengajak Anna untuk bergabung dengan lingkungan pertemananku yang cukup luas. Membantunya membangun jaringan pertemanan.


Anna adalah tipe pemalu yang kurang bisa bergaul dengan cepat, namun ketika kamu sudah mengenalnya, dia rela melakukan apapun demi temannya.


“Kamu akan ngapain kalau jadi aku?” aku menanyai pendapatnya.


Anna menghembuskan nafas dalam-dalam sebelum menjawabku.


“Gini Sel, kalau aku jadi kamu aku akan berpegangan pada fakta bahwa aku adalah dokter, " katanya gamblang.


Dia lalu melanjutkan, "Dan aku dibayar untuk menyembuhkan pasien. Jadi ya aku akan bertanggung jawab untuk kepercayaan itu saja. Urusan keluarga yang terjadi di antara mereka bukan urusanku,” jelasnya.


Aku sudah menebak Anna akan berkata seperti ini.


Dia adalah orang yang lurus, sangat menjunjung tinggi etika profesinya dan tidak mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaannya.


“Lagipula, ini berita baik loh buatmu. Dalam seminggu saja kamu sudah membuat pasien sembuh," ucapnya sambil berbaring di kasurku.


"Kamu enggak perlu menghabiskan waktu 6 bulanmu terbuang sia-sia. Kamu bisa langsung melanjutkan karirmu lagi. Apalagi masalah uang ganti rugi dengan Ibu Dio juga sudah kelar. Win-win solution,” jelasnya.


Dia masih belum selesai menceramahiku, “Jika aku jadi kamu, aku akan mengatakan semuanya kepada Celine. Dan kamu bisa bebas. Kamu bisa melakukan apa yang kamu mau setelah itu, Sel.”


Aku meresapi sarannya terhadapku.

__ADS_1


“Kecuali, kamu kesengsem berat sama Josh Rainer dan ingin menyelamatkannya.”


Hah?


Anna kini sudah tersenyum lebar dan mencubit lenganku, menggodaku.


“Ya gak mungkin lah!” aku membela diri.


“Sel, maaf aku memang gak pernah ada di posisimu saat ini. Tapi hidup harus terus berlanjut kan? Jika memang kamu tertarik padanya ya gak ada salahnya kan?”


Aku sedikit curiga jangan-jangan Anna sempat menenggak minuman keras sebelum menjemputku tadi.


“Apalagi aku dengar dia tampan dan berprestasi,” Anna lanjut menggodaku.


“Na, ini karena rasa kemanusiaanku terpanggil. Aku tahu ini sudah di luar lingkup kerjaku sebagai dokter, tapi aku sudah terlanjur terlibat disini dan aku tidak mau aku salah bersikap,” kataku.


“Eits, tapi kamu sudah memilih untuk bekerjasama dengan Josh Rainer loh," dia mengingatkan aku.


Betul. Aku sudah berjanji akan membantu dia.


"Meskipun dia mengakui dia bukan orang baik. Bagaimana kalau kamu salah bersikap disini?” tegas Anna kepadaku.


Aku tertunduk mendengar kata-katanya.


“Bagaimana kalau memang Josh lah yang harus dimusuhi? Bagaimana kalau Celine adalah pihak yang benar?”


“Na, batinku mengatakan sebaliknya. Aku merasa dimanfaatkan entah untuk tujuan apa oleh Celine dan Josh adalah korban,” kataku yakin.


“Selena, kita bicara fakta disini bukan perasaan,” dengusnya. “Lagipula, siapapun pihak yang benar maupun salah diantara mereka, itu bukan urusanmu.”


Ya betul, itu bukan urusanku.


Apapun masalah yang terjadi pada Josh Rainer maupun Celine bukanlah urusanku.


Seharusnya aku tidak perlu membantu siapa-siapa.


Mengapa rasanya ini adalah hal yang benar untuk dilakukan?


“Aku tahu kamu adalah penggemar Sherlock Holmes dari dulu. Tapi ini adalah dunia nyata, dan kamu hanyalah dokter yang bertugas menyembuhkan. Bukan untuk menginvestigasi masalah pribadi orang lain,” lagi-lagi Anna menguatkanku.


Haruskah aku mengikuti saran Anna?


“Terlepas dari pekerjaan kita sebagai dokter, jika kamu simpulkan sebetulnya apa yang sedang terjadi dengan keluarga ini?”


Anna mengangkat bahunya.


“Sel, urusan kita sendiri masing-masing sudah cukup rumit, buat apa menebak-nebak urusan orang lain?”


“Coba tebak saja,” kataku tidak sabaran.


Anna tampak berpikir keras. Dia akhirnya menjawab.


“Aku rasa kamu harus tanya dulu pada Becca, apa hubungan dia dengan keluarga Gurnawijaya dan apa yang dia ketahui sejauh ini? Dengan begitu, mungkin informasi akan jauh lebih lengkap."


Becca.


Ya, jika tidak ada Becca, aku tidak mungkin terlibat dalam konflik keluarga konglomerat ini.


“Mungkinkah Becca adalah pacar Josh?” tanya Anna ingin tahu.


Saat mendengar itu, entah kenapa seperti ada sesuatu yang berdesir di jantungku.


“Entahlah,” kataku tidak ada ide.


“Dia sangat dekat dengan Ibu Celine, tapi sepertinya dia tidak terlalu dekat dengan Josh.”

__ADS_1


Awalnya, aku juga sempat berfikir apakah ada hubungan khusus antara Josh dan Becca. Namun dalam seminggu ini, Becca sendiri tidak pernah menjenguk Josh Rainer.


Namanya bahkan tidak ada di dalam daftar yang boleh masuk ke kamar Josh menurut Rikian.


“Bagaimana bisa begitu ya? Apa jangan-jangan Becca adalah teman sosialitanya Celine?” Anna kembali melakukan cocokologi.


Kami berdua tertawa terbahak.


Baiklah, ada satu cara untuk membuktikannya kan?


Aku langsung mengambil ponsel dan menekan nomor kontak Becca.


Tersambung.


Tidak berapa lama dia mengangkat telfonku.


“Selena, ada apa?” dia mengangkat telfonku sembari berbisik.


Aku menduga dia tengah berada dalam pertemuan yang penting.


“Becca, apa besok kamu lowong? Aku libur dan pengen ngobrol denganmu.”


“Sori Sel, aku nyusul mama papaku nih ke Dubai lagi dinas. Kita ketemu Sabtu depan saat kamu datang ke rumahku saja ya? Soalnya aku mungkin agak lama disini,” balasnya masih berbisik.


“Ohbaiklah. Bec, tapi aku penasaran banget sama satu hal," aku sempat ingin mengurungkan niatku saat ingin bertanya mengenai hal ini namun aku sungguh ingin tahu.


"Apa tuh?" jawabnya berbisik-bisik.


"Apa kamu pacaran dengan Josh Rainer?”


Becca tampak diam sepersekian detik sebelum menjawabku.


“Menurutmu gimana? Kami cocok gak, Sel?”


Jadi begitu.


Becca dan Josh adalah sepasang kekasih?


“Sel maaf aku harus tutup telfon sekarang, nanti kita kabar-kabari lagi ya. Bye!” dia kini tergesa-gesa untuk menutup telfonnya.


Di saat Becca akan menutup telfon, aku mendengar suara wanita berbicara.


“Becca, bantu kami minggu depan..”


Suara itu terputus saat Becca menutup telfonku.


Dan suara itu adalah suara yang tidak asing buatku selama sepekan ini.


Celine.


Becca berbohong padaku.


Dia tidak di Dubai bersama orang tuanya.


Dia bersama Celine, yang ku ketahui sedang berada di Singapore dalam rangka perjalanan bisnis.


Mengapa dia berbohong padaku?


Apa yang Becca dan Celine sebetulnya rencanakan minggu depan?


“Suara itu suara Celine,” aku menerangkannya pada Anna.


Anna mendelik padaku. Dia mendengar jelas bahwa ada sesuatu yang tidak beres dari panggilan Becca yang sengaja aku lakukan dengan mode loudspeaker.


“Jangan bahayakan nyawamu,” pinta Anna padaku.

__ADS_1


“Tapi jika kamu memang ngeyel, aku bersedia membantu.”


__ADS_2