Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
JANGAN PERGI (LAGI)


__ADS_3

Aku masih terbuai dalam pelukannya.


Dan Josh Rainer semakin memelukku erat, enggan melepaskanku.


Rasanya damai dan tenang.


Untuk sesaat, aku lupa dengan segala kegilaan yang terjadi tiga minggu terakhir.


Kematian tunanganku, menebus uang kematian Dio, sampai masuk ke dalam konflik internal keluarga Gurnawijaya yang pelik.


Rasanya aku seperti terlahir kembali.


Dan orang didepanku ini... dia sangat magis.


Dia mampu melupakan luka perihku beberapa minggu ini.


Dia bisa mendamaikanku dengan lara.


Walau aku tahu, setelah pelukan ini selesai, aku akan kembali ke dunia nyata.


Aku yang punya banyak masalah dan terlilit derita.


Seluruh luka perih itu akan muncul lagi.


Bisakah ini berlangsung selamanya?


Sehingga seluruh deritaku tak perlu kembali datang?


Di saat sendu ini masih terjadi, otakku kembali memberikanku peringatan bahwa kami sedang dalam bahaya.


Kami seharusnya bergegas untuk menyelamatkan diri dari ancaman ini.


“Josh.. kita harus bergegas,” kataku mengingatkannya.


Aku sudah melewatkan 10 menit disini dan khawatir Aldebaran tidak bisa menahan Celine dan kawanannya lebih lama.


Dia akhirnya melepaskanku dari pelukannya.


Dia lalu menggengam tanganku dan menatapku dengan matanya yang teduh.


“Selena, jangan pergi lagi.”


Josh kembali mengatakan kata-kata yang membuat jantungku seperti teraliri listrik.


Dia menatapku dalam, benar-benar serius mengatakannya.


Oh Tuhan,


Degup jantungku kencang sekali.


Lebih kencang dari saat aku nyaris ketahuan Celine di depan perpustakaan tadi.


Apa aku benar sudah mulai menyukainya?


Aku lalu tersenyum padanya.


“Aku akan pergi selamanya jika kita tidak segera bergegas,” tegasku. “Sekarang, kita harus menuruni balkon dan pergi ke taman belakang. Disana ada bantuan menunggu,” jelasku.


Dia tersenyum dan membelai kepalaku. Kini, akhirnya dia mendengarkanku bahwa kita harus segera bergegas.


Josh kini sudah berdiri di sampingku. “Bantuan dari mana?” tanyanya.


Aku bingung mau menjawab apa.


Aku sudah berjanji dengan Aldebaran untuk tidak memberitahu ini pada siapapun.


“Kamu lihat saja nanti. Kita sebetulnya butuh tali tambang untuk turun dari balkon ini tapi sepertinya sprei ini bisa kita gunakan untuk membuat simpul,” aku memberikannya instruksi. “Bantu aku melepas sprei ini Josh.”


Namun, Josh mengindahkan permintaanku dan malah berjalan kearah rak dibawah televisi.

__ADS_1


Dia mengorek-ngorek beberapa kotak didalamnya yang tampak sudah berumur, dan menemukan alat yang dapat membantu penyelamatan kami.


Seutas tali tambang yang kokoh.


“Aku selalu menyimpan tali disini sejak umur 10 tahun. Untuk kabur setiap Celine mengurungku berhari-hari,” jelasnya.


Aku mendengar ucapannya muram. Josh pasti tidak akan memaafkan perbuatan Celine kali ini yang ingin menghilangkan nyawanya.


“Kamu bisa membuat simpul di celah balkon? Aku akan melakukan sesuatu dulu agar mereka kesulitan membuka pintu,” katanya sambil memberikan tali tambang itu padaku.


Dia percaya aku bisa membuat simpul untuk penyelamatan diri kami.


“Waktu kecil aku ikut Pramuka dan ahli memasang simpul tenda,” banggaku sekenanya.


Dia tersenyum padaku.


“Wanita hebat,” gumamnya.


“Kamu bilang apa?” kataku ingin memperjelas pujiannya padaku.


“SEGERA BERGEGAS ATAU KITA AKAN MATI,” Josh mengulang kata-kataku, ingin menggodaku.


Kami tertawa. Rasanya ringan sekali bisa tertawa lagi.


Dan untuk pertama kalinya setelah tiga minggu yang penuh lara, aku merasa sangat aman.


Merasa aman berada disampingnya, yang selalu bisa diandalkan.


Apalagi, Josh Rainer tak perlu lagi berakting dibawah kamera pengwas.


Aku sungguh menikmati suasana ini.


Kami lalu berjalan ke arah yang berbeda. Aku menuju balkon dan menemukan pilar yang dapat kami gunakan sebagai pemberat untuk dililiti tali.


Sementara untuk pemberat di bawah, aku mengambil salah satu kursi kecil di balkon untuk kuliliti tali, kemudian melemparkannya pelan-pelan ke bawah.


Sementara itu, Josh Rainer tampak menggeser sofa di ruang tamu kamarnya untuk ditempatkan di depan pintu. Dia juga menumpuk rak lemari diatas sofa dengan harapan kawanan Celine akan kesulitan membuka pintu.


Setelahnya, dia menyusulku untuk mengecek simpul yang aku buat di pilar balkon kamarnya. Dia mencoba mengeratkan simpul tali yang kubuat dengan kekuatannya sebelum melilitkan simpul lainnya ke pinggangnya sendiri.


Aku lalu mencoba membantunya mengeratkan simpul di pinggangnya.


“Selena, kamu percaya padaku?” katanya sambil menawarkan tangannya untuk kugenggam.


Kami kini sudah berdiri bersisian di depan balkon lantai dua rumah mewah ini.


Aku menelan ludah melihat tingginya tembok yang harus kuturuni. Perkiraanku, jarak antara balkon ini menuju tanah sekitar 7 meter.


Kemudian, aku menyerahkan tanganku untuk digenggam olehnya.


“Aku percaya padamu,” kataku serius.


 Dia memberikan senyumnya yang cemerlang untukku.


“Aku akan turun duluan kebawah lalu setelah sudah di tanah kamu tarik tali ini lalu pasang simpul seperti ini dipinggangmu. Aku akan membantu menarik tali sisanya dari bawah,” katanya.


Memanjat pohon dengan Gery waktu kecil dulu adalah hal yang tidak sulit, namun menuruni tembok curam setinggi 7 meter dengan tali yang kapan saja bisa putus, adalah hal berisiko yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.


“Kamu hati-hati,” kataku sedikit cemas dengan rencana ini.


Josh Rainer tampaknya mendengar perubahan suaraku yang khawatir.


Dan entah bagaimana mulainya, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mendarat di keningku.


Bibir Josh Rainer mengecup pelan keningku.


Josh Rainer mencium dahiku!


“Aku tunggu kamu dibawah,” katanya dengan pandangan mata yang menentramkan.

__ADS_1


Oh Tuhan.


Ciuman ini malah membuatku semakin tegang!


Mengapa aku diam saja?


Mengapa aku tampak menikmati semua perlakuan romantis Josh terhadapku?


Apa yang salah dengan otak dan hatiku?


BUAMMMM….


Saat aku kalut dengan kekhawatiran menuruni tembok curam dan ciuman yang memabukkan, kami berdua dikagetkan dengan bunyi keras dari pintu kamar.


Josh yang sudah siap dengan posisinya untuk turun kebawah tiba-tiba saja menarik badanku kearahnya.


Kini kami tengah berpandangan ngeri.


“SELENA BUKA PINTUNYA!”


Suara Celine.


Akhirnya Celine tahu bahwa aku melakukan perlawanan bawah tanah!


“Kita ubah rencana!” pekik Josh kepadaku.


”Selena, peluk aku!”


Aku sedikit bingung dengan permintaannya namun dia telah mendorongku cepat untuk memeluknya. Dia kemudian melilitkan sisa tali di pinggangku juga.


“BUKA PINTUNYA! DOKTER SIALAN!”


Josh lalu melemparkan sisa tali ke bawah tanah dan dia memandangiku lagi, seperti meminta dukungan bahwa kita akan selamat dari percobaan melompat ini.


“Pegangan padaku, kita pelan-pelan turun menjejaki tembok. Hitungan ketiga!” instruksi Josh.


Aku menganggukkan kepalaku pasrah.


“Satu.”


“Dua.”


“Tiga.”


Kami melompat menuju tembok sambil berusaha menstabilkan pegangan tali yang berayun kencang.


Josh Rainer sekuat tenaga menjejakkan kakinya perlahan di tembok, seakan sedang berjalan di tembok.


Aku beberapa kali terayun dalam pelukannya, namun berusaha agar kakiku menjejaki tembok menuju ke bawah.


“KELUAR! BUKA PINTU INI,” teriak Celine membahana.


Aku berdoa kawanan Celine tidak berinisiatif menunggu kami dibawah balkon.


Aku juga berdoa agar kawanan Celine tidak tahu bahwa helikopter sudah terparkir di taman belakang kebun sana.


Dan aku berdoa agar usaha kami lancar sampai kami kabur sepenuhnya dari rumah ini.


Saat kami sudah sepenuhnya stabil dan perlahan menjejaki tempok, aku menengadahkan kepalaku ke atas.


Dan disana mataku menyala ngeri.


Oh tidak.


Tali yang kami gunakan sebentar lagi akan putus!


Kami akan jatuh!


 

__ADS_1


__ADS_2