
Aku kesal!
Josh harus menjelaskan padaku mengapa dia bisa punya kepribadian yang cepat sekali berubah seperti ini!
Masih bersungut-sungut, aku masuk sendiri ke dalam rumah sakit terbaik di kota Los Angeles, California ini.
Aku bertanya pada resepsionis dimana letak ruangan ayahku dirawat. Tak butuh waktu lama, salah satu suster dengan sigap menemaniku sampai ke ruangan VVIP.
Ruangan perawatan pribadi paling mewah dan canggih di rumah sakit terbaik ini, yang seluruh biayanya telah ditanggung Josh.
Oke, aku memang kesal padanya namun aku juga sangat berutang budi pada kebaikan hatinya.
Aku lantas membuka kenop pintu.
Di atas kasur, terlihat ayah yang kelihatannya sudah sangat bugar. Disebelahnya, wajah Ibu berseri-seri.
Ayahku terbaring di ranjang empuknya masih dengan infus di tangannya saat dia menyambutku hangat.
“Eh, anak Ayah sudah tiba..” manja ayah padaku.
Yang sangat jarang dia lakukan.
Tak kalah aneh, Ibuku kemudian menarikku dan memelukku.
Ada apa?
Mengapa seperti sedang ada perayaan disini?
“Mengapa kalian bahagia sekali melihatku? Seperti sudah lama tidak ketemu saja, padahal kan aku juga menjenguk kalian kemarin,” kataku bingung.
Ayah dan ibu bertatapan bingung dan kemudian ibu terbatuk-batuk.
Membuat segalanya semakin jelas, bahwa ada yang mereka tidak ceritakan padaku.
“Anu.. ibu senang sekali bahwa besok ayah sudah boleh pulang dan melakukan rawat jalan. Semuanya ini berkat bantuan Josh Rainer..” kata ibuku masih dengan wajah berseri-seri.
Aku tersenyum dikulum.
Bu, jika saja kamu tahu bahwa orang yang ibu puji-puji itu sedang membuatku kesal karena meninggalkanku dengan sengaja di parkiran!
“Loh.. katanya kamu membawa makan siang. Kok tidak bawa apa-apa?” tanya ibu heran.
Oh tidak!
Aku lupa mengambil bekal makan siang buat ayah dan ibu di jok belakang!
Ini semua karena aku terlalu fokus dengan perubahan sikap Josh Rainer.
“Ah.. maaf aku lupa bu.. aku akan hubungi Josh Rainer dan…”
Saat aku mengatakannya, sesosok pria tampan mengenakan sweater rajut wol dan celana khaki masuk ke dalam kamar.
Dan pria itu menenteng rantang di kedua tangannya.
“Halo Bu, Ayah. Aku tadi kembali lagi ke mobil karena Selena melupakan rantangnya..” ucap Josh Rainer dengan senyum manisnya yang biasa.
Dia kini menyodorkan satu rantang untuk ibu dan satu rantang untukku.
Hah?
Pria ini sudah tersenyum manis dan tidak marah lagi?
Apa dia sudah lupa wajah masamnya yang dia tunjukkan sepanjang perjalanan tadi?
Apakah Josh Rainer mengidap bipolar atau bagaimana?
__ADS_1
Entah mengapa, Ibu terlihat semakin sumringah saat mendapatkan rantangnya.
“Ah ya, ini rantang untuk ayah dan ibu ya. Kelihatannya enak sekali ya. Selena.. segera hidangkan rantang yang ada di tanganmu untukmu dan nak Josh.”
Aku menngangguk pada ibu dan mendelik pada Josh sepersekian detik.
Di wajahnya, benar-benar sudah tidak ada lagi wajah emosional yang dia tampakkan tadi di mobil.
Yang ada hanya senyum cerah dan merona kepadaku.
Aneh sekali.
Sepertinya, aku harus mengecek riwayat kesehatannya nanti.
Mungkinkah cangkok ginjal yang pernah dia lakukan dengan Ale memiliki efek samping terhadap mood dan suasana hatinya?
Kini, aku sudah membuka rantangan yang telah disediakan koki di rumah Josh.
Terdapat empat tingkat rantang, dari atas ada appetizer berupa canapé scallop, di tempat kedua dan ketiga ada makanan berat berupa BBQ ribs dengan mashed potato dan salad, dan di tingkat keempat ada dessert volcano cake.
Semuanya tampak menggiurkan.
Josh kemudian memberikanku piring dan sendok yang sudah tersedia di kamar ini.
Aku lalu menghidangkan canapé scallop yang sangah mengugah selera itu di piring lalu memberikan padanya.
Tak disangka dia menolaknya, dan mengatakan lebih baik canapé itu untukku saja.
Dia malah mengambil canapé yang masih di rantang dan langsung memakanannya bulat-bulat.
Ayah dan ibuku kemudian memuji masakan pak koki yang luar biasa enak. Bahkan, Ibu sempat tersedak ketika melihat Josh Rainer langsung menelan canape yang ukurannya cukup besar itu dalam mulutnya.
Apakah canape ini memang seenak itu?
Saat aku ingin memotong canapé menjadi dua bagian, aku merasakan ada yang keras didalam makanan pembuka ini.
Sementara itu, ayah, ibu dan Josh Rainer mengelilingiku dengan senyum mesam mesem tak karuan.
Ada apasih?
Kenapa semuanya kelihatan penasaran sekali dengan teknik memotong canapé ku?
Beberapa detik kemudian, aku akhirnya baru menyadari ada yang salah.
Canape ini tidak seperti yang Ibu, Ayah dan Josh makan.
Canape ini adalah dummy!
Ini adalah canapé bohong-bohongan yang biasa ditempatkan di bagian etalase restoran untuk menarik perhatian pengunjung!
Aku kaget dan kembali mendelik ke sekelilingku.
Mereka masih melihatku dengan senyum menggoda yang kelewat batas.
Apakah.. ada sesuatu pada canapé ini?
Aku punya firasat....
Saat berpikir mengenai kemungkinan yang terjadi, Josh Rainer akhirnya buka suara.
"Bukalah," ujarnya.
Oh Tuhan....
Jangan bilang ini...
__ADS_1
Aku langsung menguliti canapé ini dengan tergesa-gesa. Dan saat aku membelahnya menjadi dua dengan tanganku, aku tak bisa menahan kagetku.
Wajahku pasti melongo tidak karuan sekarang.
Dengan jantung yang bertalu-talu kencang.
Saat melihat ada yang berkilau dari balik canapé ini.
Oh Tuhan.
Itu sebuah cincin!
Aku mencoba mengambilnya dan kini ayah dan ibuku bersuit-suit di belakangku.
Lalu Josh Rainer dengan sigap mengambil cincin itu dari tanganku.
Dan dia kini sudah berlutut didepanku.
Oh Tuhan!
Mereka berkomplot untuk memberikanku kejutan!
Dengan mata berbinar-binar, Josh Rainer memandangku dari posisi berlututnya.
Suara memang pelan namun tegas saat dia mengatakan kata-kata sakral itu.
“Selena Ariadna, bersediakah kamu menjadi pasangan hidupku, saling mencintai, sampai salah satu dari kita harus meninggalkan dunia ini dan akan bertemu lagi di dunia yang selanjutnya?”
Tanganku kini sudah menutupi mulutku.
Aku masih tidak menyangka Josh merencanakan ini semua!
Dia pura-pura marah sepanjang hari hanya untuk membuat kejutan dengan melamarku di depan kedua orang yang paling penting buatku, ayah dan ibuku!
Aku tahu segalanya memang terjadi sangat cepat.
Aku tahu bahwa aku memang baru mengenalnya.
Namun aku juga tahu satu hal yang pasti : aku tidak bisa melepaskan pria ini dan hidup tanpa dia mulai sekarang.
Aku sangat amat mencintainya.
Bagaimana mungkin aku punya pilihan lain untuk tidak berkata ya?
“Seribu kali aku bersedia!” lantangku.
Yang kemudian diikuti dengan tepuk tangan dan sorak sorai suara ayah dan ibuku.
Dan pemandangan ini tidak akan pernah terhapus dalam benakku.
Saat Josh Rainer terlihat meneteskan air mata ketika aku menerimanya menjadi pasangan hidupnya.
Josh kemudian memelukku erat.
Dan berbisik kata-kata magis yang penuh emosi ke telingaku. Yang tidak akan pernah aku lupakan selamanya.
“Sampai mati aku akan selalu mencintaimu, Selena. Terima kasih sudah memilihku untuk menjadi pasangan abadimu."
.
.
.
.
__ADS_1
...Guysss pada hepi gak nih Selena akhirnya dilamar dengan Josh Rainer? Kira-kira masih ada harapan gak ya buat Aldebaran? Yuk komen dibawah 💙...