Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
KATA KATA TERAKHIR


__ADS_3

Kini hanya tinggal aku dan Dio.


Sama seperti dulu waktu dimensi yang berbeda belum memisahkan kami.


Aku tersenyum sambil menangis.


Aku memeluk nisannya sambil mengelus batu itu pelan.


Kita akhirnya bersama lagi, Dio.


Tak ada siapapun disini. Hanya kita.


Aku lalu memulai percakapan satu arah dengan kekasihku itu dalam diam.


Hai Dio.


Maafkan aku baru tiba disini.


Tiga minggu setelah pemakamanmu.


Kamu pasti tahu, sulitnya aku menemuimu karena orang tuamu.


Terima kasih kepada Becca yang diam-diam menuntunku kesini.


Dio,


Aku percaya kamu pasti ikut merasakan betapa hancurnya hatiku saat aku mendengar kecelakaan itu.


Tak hanya hatiku, ragaku pun rasanya ingin ikut menuju ke tempatmu yang baru.


Menyusulmu. Merengkuh tanganmu. Tertawa berjam-jam bersamamu.


Melanjutkan mimpi-mimpi kita dulu untuk hidup susah dan senang bersama-sama.


Sehidup semati.


Dio,


Nyatanya, itu semua hanya delusi.


Aku hidup, kini kamu mati.


Berhari-aku aku merasa berjalan di kegelapan dan tak yakin bisa lagi merasakan senang.


Tanpa ada kamu disini.


Sayangku,


Maafkan aku.


Aku selalu ingin waktu bisa diulang kembali.


Jika Tuhan berikan kesempatan itu, aku tidak akan pernah mau menuruti maumu.


Menjemputku pulang ke rumah saat hujan deras kala itu.


Nyatanya kamulah yang pulang.


Selama-lamanya, hilang dari hidupku.


Dio,


Aku yakin kamu benci melihatku lemah.


Dulu, kamu selalu benci melihatku yang mudah menyerah.


Tanpa kamu tahu, bertahun-tahun bersamamu adalah kekuatan terbesarku.


Kamu telah membantuku menemui sisi hebatku.

__ADS_1


Menjadi tegar, percaya diri, dan tidak lagi mudah menyerah.


Meksipun semua dunia menentangku, kamu selalu mengingatkanku satu hal.


Aku berhak bahagia.


Aku mampu mewujudkan mimpi-mimpiku.


Kamu selalu meyakinkanku bahwa aku berhak merengkuh dunia.


Tak peduli semiskin apapun status keluargaku.


Tak peduli selemah apapun pengakuan lingkungan di sekitarku.


Kamulah yang mendorongku menjadi Selena seperti hari ini.


Terima kasih untuk delapan tahun yang berharga, Sayang.


Aku tidak akan pernah melupakanmu.


Kamu akan selalu menjadi pangeran hatiku.


Sampai nanti kita bertemu lagi.


Di dunia yang sama.


Aku mencintaimu, Aldio Revano.


Namun, aku harus melupakanmu.


Demi hidupku kini.


Demi hidupmu kini.


Akhirnya aku bisa mengatakan ini semua pada Dio. Meskipun, aku tahu ini tak akan mengubah apapun, aku yakin ini layak dilakukan untuk seseorang yang sangat berharga buatku.


Dio meninggalkanku namun hidupku harus tetap berlanjut.


Tanpa ada Dio disampingku kini.


Aku menghapus air mataku dan memeluk nisan mantan tunanganku itu dalam diam.


Mengingat-ingat seperti apa kulit lembutnya saat aku peluk dulu.


Aroma tubuhnya.


Dan kehangatan yang selalu dia beri untukku.


Indah, manis dan menyenangkan.


Namun, aku harus mulai menutupnya rapat-rapat.


Dan kembali fokus membangun hidupku kembali.


Tentunya, setelah aku berhenti menjadi dokter pribadi Josh Rainer.


Aku harus memikirkan ulang hidupku.


Pilihan apa yang akan aku ambil nantinya?


Aku selalu bercita-cita menjadi dokter spesialis neurologi. Setelah ini semua usai, mungkin aku bisa mencari beasiswa untuk membiayaiku sekolah lagi. Dengan begitu, aku akan semakin dekat dengan mimpiku ini.


Kabarnya, sistem pendidikan kedokteran di Amerika sana sangatlah maju dan salah satu yang terbaik di dunia. Tak hanya terdepan soal teknologi, namun standarisasi kedokteran disana sangatlah tinggi sehingga pendapatan pun juga akan besar. Jika aku punya kesempatan itu, aku sangat ingin bisa melanjutkan studi spesialis di Negeri Paman Sam sana.


Aku juga selalu ingin melihat ayah dan ibuku bahagia. Mereka selalu bicara tentang menjalani hari tua di kampung halaman. Aku sangat ingin bisa membelikan mereka rumah di desa dan membangun usaha kecil untuk mereka bisa menjalani hidup. Jika aku nanti sudah menjadi dokter neurologi yang sukses, aku akan mewujudkan keinginan orangtuaku ini.


Aku juga sangat ingin membangun keluarga. Menjadi istri yang baik dari suami yang kucintai. Menjadi ibu dari anak-anak yang lucu. Aku selalu mengira orang yang akan bersamaku sampai akhir hayat adalah Dio. Aku selalu percaya akan melahirkan dan membesarkan anak-anak Dio.


Tapi, keinginan ini sudah tak mungkin lagi. Tidak pernah terjadi.

__ADS_1


Mungkin perlu bertahun-tahun bagiku untuk bisa kembali merasakan cinta dan mewujudkan keinginan ini. Perasaanku sudah sedingin batu. Aku yakin perlu waktu yang lama untuk menghangatkannya kembali.


Dengan sosok yang baru.


Mungkinkah itu terjadi? Atau aku akan memendam perasaan sejatiku dengan Dio selamanya?


Saat aku sedang berkontemplasi dengan pikiranku sendiri, suara gemerisik yang kencang mengagetkanku.


Ya, aku tidak salah dengar. Suara itu berasal dari semak-semak di sudut pekarangan tempat jasad Dio terbaring.


“Mang Ujang?” tanyaku mencoba menebak-nebak darimana suara itu berasal.


Suara itu semakin berisik. Sampai akhirnya, sesosok pria berbadan tegap berjalan dari balik semak menuju ke arahku.


Bukan, dia bukan Mang Ujang.


Mang Ujang tidak akan mungkin bersembunyi di semak-semak. Dia pasti akan berjalan lewat pintu gerbang biasa untuk menemuiku.


“Becca?” tanyaku berharap dia kembali datang.


Walaupun itu tak mungkin. Becca tidak mungkin datang dari semak-semak juga.


Siapa orang ini? Apa tujuannya disini?


Oh tidak, dia kini tidak berjalan.


Dia berlari cepat ke arahku!


Nafasnya terengah-engah, seperti sedang dikejar sesuatu.


Jangan bilang dia sedang menargetkanku.


Jangan bilang dia ingin menyerangku!


Aku kini setengah terduduk dan terdiam beku, sembari menduga-duga siapa orang yang tengah bergerak ke arahku ini.


Langkahnya semakin cepat mendekatiku.


Dengan pandangan ngeri, aku tak bisa lagi bergerak dari tempatku.


Aku pasrah dengan apa yang akan kuhadapi setelah ini.


Aku hanya berharap suara ini bukanlah binatang liar di hutan yang ingin melukaiku.


Aku masih terdiam bak patung di sebelah kuburan mantan tunanganku.


Aku ingin mencoba berdiri dan mempertahankan diri, namun badanku seperti melawan naluri ini.


Suara langkah kaki semakin mendekat ke arahku dan aku malah memejamkan mata.


Ya, taman yang berada di ujung belakang villa keluarga Dio ini memang terhubung dengan hutan jati di belakangnya. Namun, hutan tersebut kelihatan di rawat dengan baik, aku yakin tidak ada beruang, serigala apalagi singa yang mendiami hutan yang dijaga ini.


Lalu siapa pemilik suara ini?


Saat jantungku rasanya ingin copot dari rongganya, suara nafas menderu terdengar di depanku.


Manusia! Pemilik suara ini adalah manusia.


Dia sepertinya tengah berlutut di depanku.


Lima detik berlalu dan si manusia ini tidak menyerangku.


Dia malah mulai membelai halus kepalaku.


Aku mencoba membuka mataku pelan-pelan. Semakin bingung dengan apa yang dilakukan si pemilik suara ini.


Aku terngaga.


Mataku tak mempercayai apa yang aku lihat.

__ADS_1


Bagaimana bisa dia ada disini?


 


__ADS_2