Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
KESEMPATAN BERHARGA


__ADS_3

Hening.


Tidak terdengar pembicaraan selama perjalanan menuju pemakaman Dio.


Aku dan Becca sama-sama terpagut dalam diam.


Becca menyetir mobil dengan sesekali memperhatikanku, mengecek ponselnya, kemudian kembali lagi fokus menatap ke depan.


Sementara aku, tidak ingin diganggu dengan rasa bersalahku  yang bercampur kerinduan yang dalam.


Aku memilih membisu dengan pikiran bertualang ke masa-masa kelam yang aku alami belakangan ini.


Akhirnya, setelah tiga minggu mantan tunanganku meninggalkan dunia ini selama-lamanya, aku bisa mengunjungi tempat peristirahatannya.


Dengan diam-diam. Tanpa ketahuan oleh orang tua Dio yang begitu kejam kepadaku.


Sangat kejam. Tak hanya meminta uang ganti rugi pernikahan senilai Rp500 juta, mereka juga mengharamkanku untuk menginjakkan kaki ke kuburan Dio.


Saat itu, mereka mengadakan pemakaman yang dihadiri keluarga dan teman dekat saja. Gery bahkan tidak diundang dalam pemakaman kekasihku itu.


Karena itu, aku tidak bisa melacak dan mendatangi liang lahat Dio bahkan secara diam-diam.


Kini, Becca mencoba menebus kesalahannya padaku dengan mengajakku mengunjungi kakakknya. Momen yang sangat tepat mengingat kedua orangtuanya sedang berada dalam kunjungan kerja ke luar kota.


Meskipun aku tidak yakin dia melakukannya secara tulus.


..


Dio, Becca dan orang tua mereka.


Aku selalu menganggap Dio adalah pahlawanku dan Becca adalah sahabat terbaikku. Meskipun perlakuan orang tua mereka tidak pernah adil denganku.


Aku dipermalukan berkali-kali oleh orang tua Dio namun anak-anaknya selalu datang membela dan melindungiku.


Seiring berjalannya waktu, aku semakin yakin Dio adalah malaikat yang Tuhan kirimkan padaku untuk membuatku bahagia.


Dia menerima kekuranganku, mendukungku untuk bermimpi setinggi-tingginya dan selalu mengangkatku lebih tinggi saat aku jatuh.


Dia laki-laki terbaik yang pernah aku temui.


Aku ingin menangis, tapi sudah tak ada lagi aliran air mata dari kelopak mataku.


Tiga minggu setelah Dio pergi, aku tidak menyangka air mataku akan mengering.


Air mataku seakan sudah habis setelah bermalam-malam penuh emosi yang aku alami.


Aku masih sedih, Dio. Tapi aku juga tahu bahwa kepergianmu membuatku semakin kuat.


Aku harus kuat menghadapi dunia ini tanpamu.


Setelah satu jam lamanya, kami tiba di salah satu rumah besar dengan pekarangan luas di kaki gunung pinggiran Jakarta.


Ini adalah villa keluarga Dio.


Aku dulu pernah kesini saat Dio merayakan hari raya dengan keluarga besarnya. Saat itu, sekitar 200 orang hadir dan tertampung di dalam villa yang luasnya mungkin sekitar dua hektar ini.


Villa ini tampak sangat asri dengan banyak pohon akasia di sepanjang gerbang dan pekarangan depan.


Dan disinilah ternyata jasad Dio ditempatkan.


Setelah memarkir mobil, Becca keluar dan berjalan langsung menuju taman belakang rumah yang dihubungkan dengan undakan tangga. Dia memintaku untuk mengikuti langkahnya.


Kami melewati bagian belakang rumah, kolam renang, kandang kuda dan treknya, dan terus berjalan menuju bagian belakang villa.


Dari kejauhan, taman dengan berbagai pohon tinggi yang teduh mulai terlihat. Namun, sosok pria setengah baya tiba-tiba menghentikan kami untuk berjalan lebih jauh.


Dia adalah penjaga villa ini.


“Non Becca? kok tidak bilang-bilang dulu mau kesini? ” heran salah satu penjaga villa yang memakai kupluk di kepalanya.

__ADS_1


Becca tersenyum saat membalas si penjaga villa.


“Aku rindu dengan kakakku, Mang. Kami mau masuk ya.”


Saat kami mau masuk, si penjaga villa memperhatikanku dari atas sampai bawah.


“Ini kan Neng Selena? Non, perintah Nyonya ke Mang Ujang itu Neng Selena enggak diizinkan kesini.”


Si penjaga kini benar-benar menghentikan aku untuk masuk ke pemakaman Dio dengan tangannya.


Becca menenangkanku.


“Mang Ujang, tolong sekali ini jaga rahasia ini ya. Jangan bilang mama, ini buat Mang Ujang.”


Becca memberikan sejumlah uang yang terlipat rapi di dalam amplop.


“Eh, tapi Non Becca enggak akan bilang Nyonya kalau Mang Ujang mempersilahkan Neng Selena masuk kan? Mamang gak mau dipecat, Non.”


“Aman Mang Ujang, aku gak akan bilang-bilang. Ini rahasia kita bertiga saja ya.”


Aku tersenyum pada Mang Ujang saat dia membiarkanku pergi.


“Becca, terima kasih,” aku mengatakannya sungguh-sungguh.


Becca kini merangkulku menuju taman belakang rumah ini.


“Aku sudah bilang padamu kan Sel, ini sebagai permintaan maafku karena membiarkanmu diperlakukan tidak seharusnya dengan Ibu Celine,” ucapnya. “Hanya ini yang bisa aku lakukan.”


“Becca, terima kasih sekali lagi.”


Aku hanya bisa mengatakan itu. Meskipun aku masih kesal padanya, aku benar-benar berterima kasih karena dia mau memperjuangkanku untuk bisa menengok makam Dio.


Becca masih merangkulku saat kami tiba di pagar taman belakang ini. Dia membuka gembok dan kami masuk ke pekarangan yang cukup luas di dalamnya.


Kemudian, tak berapa jauh dari pagar, aku melihat beberapa gundukan tanah dengan undakan batu di tengah-tengah taman rindang itu.


Pemakaman keluarga.


 Jantungku berdegup kencang.


Keringat dingin mulai mengucur dari keningku di tengah dinginnya udara kaki gunung.


Belum lagi emosi yang membuncah di dadaku, yang melesak untuk dikeluarkan.


Saat Becca berhenti di gundukan tanah yang masih bertaburan bunga, aku terduduk lemas.


Memandang nama Aldio Revano di nisan yang sepertinya selalu digosok setiap hari. Cemerlang dan bersinar.


Dio yang baru berusia 26 tahun ketika nyawanya terenggut kini sedang terbaring di dalam tanah di depanku.


Tidak ada yang ingin aku lakukan lagi selain bersimpuh di samping makamnya dan memeluk nisannya erat.


Kemudian aku menangis sejadi-jadinya.


Air mataku akhirnya kembali mengalir untuk orang yang paling kukasihi ini.


Aku merindukanmu, Dio.


Aku benar-benar merindukanmu.


Becca terduduk disampingku sambil mengelus pundakku.


“Kak, Selena datang. Kalian berjumpa lagi. Seharusnya Selena sudah menjadi kakak iparku sekarang.”


Becca ikutan terisak saat mengatakan kata-kata itu.


“Maafkan aku kak tidak bisa melindungi Selena saat ayah dan ibu menyudutkannya. Maafkan aku tidak bisa membela Selena saat dia membutuhkannya di pekerjaan barunya,”ucapnya.


Aku benar-benar berharap Becca mengatakan ini semua tulus dari dalam lubuk hatinya.

__ADS_1


“Dan maafkan aku kak.. untuk semuanya.”


Aku pikir tangisku sudah paling merongrong saat ini.


Namun ternyata tangis Becca terdengar melolong steelahnya. Becca tampak kehilangan dirinya. Dia benar-benar menangis meraung-raung di depan makam Dio.


“Becca.. tenang.. Becca..” aku mencoba menenangkannya.


Dio dan Becca adalah saudara kembar identik. Mereka berdua sangat mirip, hanya bentuk badan Dio yang kekar, tinggi dan potongan rambut saja yang membedakan mereka berdua. Dan selama yang aku dengar, anak kembar memiliki telepati dan intuisi yang saling berhubungan.


Tidak heran Becca pasti sangat hancur saat tahu separuh hidupnya yang tidak pernah meninggalkannya pergi untuk selama-lamanya.


Ya, bukan aku saja yang hancur. Semua orang yang menyayangi Dio pasti merasa sangat merana dengan kepergiannya.


Aku memeluknya dari belakang dan kami sama-sama berbaring di makam Dio. Mencoba memposisikan Dio juga berbaring bersama kami.


Entah bagaimana mulainya, aku dan Becca kemudian bernostalgia menyebutkan kenangan-kenangan yang kami lewatkan bersama Dio.


Waktu kami berwisata bersama ke pantai, waktu mereka menemaniku saat praktek menunggui kamar mayat, waktu kami menonton permainan musik Dio dan teman-temannya, waktu aku harus melepas mereka berdua untuk melanjutkan studi magister ke Inggris dan masih banyak lagi.


Aku kini merasa Dio benar-benar berada di tengah-tengah kami dan memberikan lengannya untuk ku bersandar.


Lumayan lama kami berbaring di atas jasad Dio, tiba-tiba saja suara ponsel Becca terdengar nyaring.


Becca tampak kalut mendengarnya.


Dia lalu menutup telfonnya dan segera bangkit berdiri dari tanah yang kami baringi.


“Ada situasi darurat di kantorku, sepertinya pegawaiku terlibat dalam korupsi uang perusahaan,” katanya panik. “Aku harus segera ke kantor, Selena.”


Oh tidak.


Aku masih belum mau meninggalkan Dio.


Aku masih ingin menghabiskan waktu bersama Dio.


“Selena, kamu mau tinggal disini saja?”


Becca menawariku untuk tetap melanjutkan waktu yang sangat kurindukan ini di makam kekasihku.


“Tapi mungkin aku bisa menjemputmu nanti malam lagi. Atau kamu mau menginap di villa ku saja? Aku akan meminta Mang Ujang untuk membereskan kamar. Tenang saja, ayah dan ibu tidak akan tau.”


Ya, Becca. Aku masih ingin ada disini.


“Kamu pergi duluan saja, untuk urusan aku pulang nanti aku naik taksi saja,” kataku padanya.


“Kamu serius?”


“Iya, Becca. Pergilah, urusan kantormu mendesak untuk diselesaikan. Aku mau lebih lama bersama Dio.” kataku.


“Oke Selena, aku pergi dulu.”


Sebelum dia pergi, Becca tampak mencium nisan kakaknya dan kembali menangis kecil.


Dia lalu memelukku dan berjalan pergi menjauhiku.


Meninggalkanku bersama jasad Dio yang terkubur di tanah ini.


Aku kembali mengusap gundukan tanah dan berbaring di bawah nisan kekasihku itu.


“Sekarang hanya ada kita, Dio. Sama seperti dulu."


Aku kembali berbaring di sebelah tempat jasad Dio terkubur.


Tidak peduli kotornya tanah di pakaianku, tidak peduli banyaknya jasad lain yang terbaring disini, dan tak peduli dengan matahari yang semakin meredup.


Aku hanya ingin kembali bersama dengan lelaki terbaik yang pernah singgah dalam hidupku itu.


Walaupun, dunia yang berbeda kini telah memisahkan kami.

__ADS_1


 


__ADS_2