Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
AKU SUKA KAMU


__ADS_3

Aku pikir aku bisa tidur nyenyak tadi malam.


Nyatanya, seluruh kejadian hampir meregang nyawa yang kulalui kemarin tidak serta merta membuat badanku terlelap.Kebalikannya, aku malah tidak bisa tidur sama sekali.


Bukan karena aku yang sedang dikejar-kejar wartawan sebagai terduga pembunuhan, bukan.


Bukan juga karena memikirkan rencana apa yang Celine dan Becca akan lakukan saat tahu aku memiliki rekaman yang mampu menendang mereka ke penjara.


Tapi ini soal hatiku.


Hatiku yang semakin tidak bisa dikendalikan setiap saat memikirkan Josh Rainer.


Dan sepanjang malam, wajah Josh Rainer memenuhi ruang di kepalaku.


Aku bingung.


Tidak percaya.


Namun juga senang.


“Selena, tolong beri aku kesempatan.”


..


Kata-kata itu seperti pita rekaman yang berulang kali terputar di kepalaku.


Josh sadar betul aku sudah menolaknya.


Tapi dia tidak menyerah.


Dia bahkan mau melindungiku mati-matian meskipun aku telah menjauhinya.


Dia tidak ingin aku berada di dalam bahaya lagi.


Karena itu akan menyakitinya juga.


Oh, Tuhan.


Apakah perasaan ini pantas untuk kumiliki?


Tunanganku bahkan belum sampai sebulan meninggalkan dunia ini dan aku sudah bisa memberikan perasaanku secepat ini kepada orang lain?


Aku paham ini sangat tidak adil untuk Dio.


Ya, aku tidak pantas memperlakukan Dio seperti ini.


Tapi, saat aku memikirkan untuk memberikan batas pada Josh, mengapa hatiku sakit sekali?


Aku meragu.


Namun, aku harus membuang pikiran ini jauh-jauh dulu.


Karena hari ini akan menjadi hari pembalasan untuk Celine dan Becca!


Aku segera membersihkan diri, bersiap dengan pakaian ganti yang sudah disiapkan oleh Margaretha tadi malam, dan membuka perban di kakiku yang tadi malam dibuatkan oleh Josh Rainer. Saat aku membukanya, sudah tidak ada lagi lebam biru dipergelangan kakiku.


Seluruh badanku juga tidak lagi merasa nyeri. Khasiat obat yang diberikan dokter jaga di rumah Gurnawijaya tadi malam sangat ampuh. Kini, hanya kepalaku saja yang sakit karena tidak bisa tidur semalaman.


Tak lama, aku telah siap dengan kostum yang disipkan Margaretha untukku : satu set blazer dan celana kulot trendy berwarna biru menyala plus sepatu berhak rendah berwarna transparan.


Aku kini tengah mengeringkan rambut lurus panjangku dengan hair dryer, sambil meratakan pelembab sebelum aku menyapukan make-up natural look di wajahku.


Tentu saja, semua skin care dan makeup bermerk itu sudah disiapkan Margaretha sebelumnya di meja riasku. Tak hanya bermerek, semuanya juga masih dalam kemasan baru tanda belum pernah dipakai.


Aku diperlakukan bak putri raja disini.


Saat aku hampir siap dengan tampilan formal dengan riasan simpel yang biasa menjadi gayaku, terdengar pintu diketuk.


Ternyata salah satu asisten rumah tangga memberitahuku bahwa Nyonya Gurnawijaya telah menungguku dibawah untuk sarapan bersama.


Yang membuat wajahku bersemu merah, pelayan itu juga memberikan sebuket bunga matahari kepadaku.


Berwarna kuning cemerlang di dalam buket yang diberikan pita berwarna putih.


“Bunga matahari?” tanyaku bingung kepada pelayan.


Si pelayan mengangguk sambil menyerahkannya ke tanganku, “Dari tuan muda untuk Nona.”


Josh Rainer memberikanku bunga?


Aku kehabisan kata-kata.


“Terima kasih. Aku akan segera ke bawah,” kataku pada si pelayan.


Aku menutup pintu dengan perasaan campur aduk, senang sekaligus geli.


Ini adalah kedua kalinya aku mendapatkan bunga. Setelah Dio pernah memberikannya padaku dulu sekali.


Dan karena itulah aku bingung, harus diapakan bunga ini?

__ADS_1


Dan apa maksud Josh memberikan ini?


Aku masih merasa geli.


Aku bukanlah tipe perempuan romantis atau yang senang diberikan berbagai hadiah manis oleh pasangannya. Entahlah, aku kadang tidak mengerti mengapa banyak perempuan suka diberikan bunga.


Tak hanya cuma dijadikan pajangan saja, bunga juga akan membusuk dalam waktu kurang dari seminggu kedepan.  Jadi apa gunanya?


Dio yang sangat mengenalku tahu bahwa memberikan bunga padaku adalah hal yang sia-sia. Dulu sekali waktu kami kencan pertama kali, Dio pernah memberikanku sebuket bunga mawar yang akhirnya berakhir cepat di tong sampah kamarku.


Bukan karena aku tidak mengapresiasi pemberian orang, namun aku hanya merasa tidak ada gunanya menyimpan barang yang akan segera busuk dan tidak berfungsi selain menjadi pemanis di sudut ruangan saja.


Dan sejak saat itu, Dio tidak pernah memberikanku satupun tangkai bunga karena dia tahu hal itu sia-sia. Saat itu, Dio malah melabeliku sebagai perempuan tomboy karena tidak suka diberikan bunga, boneka hingga perhiasan.


Namun kali ini, aku merasa dejavu.


Dulu, Dio memberikanku bunga mawar untuk mengekspresikan rasa hatinya untuk berhubungan lebih serius denganku.


Dan kini, Josh Rainer memberikanku bunga matahari tepat ketika dia memohon kesempatan agar aku membuka hati untuknya.


Aku tersenyum lebar.


Dio adalah orang yang sangat penting dalam kehidupanku. Delapan tahun bersamanya melewati suka dan duka adalah salah satu kenangan terindah yang selalu kusimpan hangat di hatiku selamanya.


Dan kini, Josh Rainer muncul di saat Dio pergi dan tidak akan kembali. Apakah artinya Josh juga akan menjadi orang yang sangat penting buatku nantinya?


 Aku kembali tersenyum namun juga bingung saat memikirkannya.


Harus aku apakan bunga ini?


Aku yang tidak punya ide ini memilih untuk kembali mengirimkan pesan kepada Anna.


Anna dan Gery sendiri belum membalas pesanku tadi malam. Mungkin mereka berdua kelelahan setelah membantu pelarian ayah dan ibuku tadi malam. Aku sangat-sangat berterima kasih kepada mereka akan hal itu.


“Na, kalau dapat bunga matahari supaya awet harus diapain ya? Ditunggu jawaban paling masuk akal selain dibuang di tong sampah.”


Pesan terkirim.


Josh Rainer pasti akan kecewa jika bunga pemberiannya akan berakhir di tong sampah. Dia pasti berharap aku akan memajangnya di samping tempat tidurku dan itulah yang kini aku lakukan.


Sampai nanti Anna membalas pesanku dan bunga ini membusuk nantinya, aku baru akan membuangnya.


Saat aku meletakannya di meja kecil samping tempat tidurku, aku baru sadar ada sesuatu yang menyembul diantara tangkai bunga.


Kartu ucapan dari Josh Rainer.


Dan disanalah terpampang tulisan tangan tegak lurus yang tidak terlalu bagus, namun bisa dibaca dengan baik.


Kamu datang di saat pelitaku redup dan hampir mati.


Sadarkah kamu yang menyalakannya kembali dan buatku jadi manusia utuh lagi?


Matahariku..


Oh Tuhan!


Ini manis sekali!


Aku bahkan kini telah menelungkupkan kedua tanganku ke wajah saking tersentuhnya aku dengan kata-kata itu.


Jelas sekali, Josh Rainer adalah orang yang romantis.


Apakah dia menggoogle dan menulis ulang kata-kata itu?


Atau itu memang datang dari lubuk hatinya sendiri?


Dio tidak pernah mengirimkanku pesan-pesan manis seperti ini. Karena Dio tahu aku bukanlah perempuan ‘menye-menye’ yang senang dihujani kata-kata gombal.


Ya, hubunganku dengan Dio dulu lebih banyak bicara tentang masa depan dan bagaimana kami berdua menjadi pasangan yang sangat positif untuk mencapai mimpi-mimpi kami bersama-sama.


Namun kali ini… rasanya sangat berbeda.


Aku tidak pernah tahu bahwa ucapan bernada romantis bisa menerbangkan seorang Selena yang super rasional ke angkasa dan rasanya tak ingin lagi kembali ke bumi.


Bagaimana bisa begini?


Mengapa aku sangat menikmati seluruh perlakuan romantis Josh kepadaku?


Jangan bilang.. aku sudah jatuh cinta padanya!


Saat aku masih mencoba mengendalikan rasa malu-maluku, ponselku berdering.


Pesan balasan dari Anna.


“Kalau mau awet, rahasianya pepet terus yang ngasi bunga matahari jangan sampai lepas!”


Sialan, Anna malah menggodaku!


“Serius. Jangan ketawa.”

__ADS_1


aku membalas pesan Anna cepat.


“Kamu potong bawah tangkainya miring, ambil vas isi air lalu celupkan bunganya disitu. Lalu vas itu ke arah sinar matahari. Paling bagus deket jendela” balas Anna lagi.


“You are the best, Na. Dan terima kasih untuk semua keringat dan lelahmu ya untuk memastikan aku dan keluargaku baik-baik saja!” balasku sungguh-sungguh.


Butuh waktu beberapa menit untuk Anna membalasku. Aku sendiri sudah membuka pintu untuk menuju ke meja makan di bawah sana saat pesan balasan dari Anna masuk.


“Tapi aku cuma bantu nolong aja loh, Sel. Josh Rainer kemarin memohon kepada Gery untuk segera membawa orangtuamu ke tempat aman. Jadi kamu bisa tenang dan bisa menyelesaikan masalahmu disana. Dia keren banget! Pepet terus!”


Jadi begitu.


Lagi-lagi kamu, Josh.


Hatiku kini rasanya seperti dipenuhi kupu-kupu.


Ternyata, kamu lah yang membantu pelarian orang tuaku.


Bahkan tanpa aku meminta, kamu melakukannya tulus untukku.


Aku sungguh tidak tahu harus berkata apa.


Kamu benar-benar melindungiku dan tidak mau aku berada dalam bahaya dan kesedihan.


Kamu.. benar-benar menjaga kata-katamu.


Sepertinya, aku sudah tidak bisa menahan ini lagi.


Aku tersentuh oleh semua perhatiannya.


Aku tergugah oleh semua tindakan ksatria nya.


Aku tahu ini tidak adil untuk Dio, tapi aku tidak bisa mengendalikan apa yang Tuhan sudah beri padaku.


Ya, Tuhan telah memberikan perasaan yang hidup untuk kubagikan kepada Josh Rainer saat ini.


Perasaan bahwa aku sangat menyukainya.


Dan saat aku masih tenggelam dalam fikiran melodrama, suara lelaki yang sangat kudamba itu mengagetkanku.


“Selena..”


Di depanku, ksatria berwajah tampan yang dingin namun romantis nan menggemaskan ini ternyata sedari tadi sudah berada di depan pintuku.


Dia menungguku siap untuk bersama-sama pergi ke bawah.


“Kamu baik-baik saja?” tanyanya masih dengan nada datarnya yang biasa.


Mata kami bertatap-tatapan.


Aku bisa menemukan kesejukan disana.


Josh Rainer.


Sama denganmu, aku kini merasa seperti hidup kembali.


Aku juga merasa seperti menemukan matahariku kembali.


Dan itu adalah kamu, Josh Rainer.


“Tidak pernah lebih baik dari hari ini,” kataku tersenyum lebar.


Dia tersenyum balik kepadaku. Kali ini tidak terlihat dingin, malahan terasa sangat hangat dan manis.


Lalu, dia menjulurkan tangan kanannya dan menungguku untuk menyambutnya.


Tanpa pikir panjang aku langsung menggengam tangan itu. Tangan dari si pemilik yang sukses membuatku terbang melayang dengan kesungguhannya.


Jika saja aku tahu bahwa ini menjadi awal cerita cinta yang sebaiknya tidak pernah terjadi.


.


.


.


.


...TEBAK KARAKTER...


Dan jawabannya adalah...



Dio! Yang jawab bener keren deh 🤟


Clue : Dio dan Becca adalah saudara kembar. Dio memiliki wajah khas Asia, berkulit putih yang mirip dengan kembarannya Becca. Coba cek lagi foto yang kemarin, mereka mirip kan?


Ditunggu untuk quiz tebak karakter di chapter berikutnya ya! ❤

__ADS_1


__ADS_2