Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
PALSU


__ADS_3

Aku kini berada di kamar baruku.


Ruangan pribadiku untuk enam bulan ke depan yang membuatku terpana.


Kamar ini sangat besar, berukuran tiga kali lebih besar dari kamar rumahku. Aku disediakan kasur berukuran king, lemari empat pintu, meja rias, televisi, sofa malas,cabinet dan rak buku didalamnya.


Belum lagi kamar mandi di dalam dan kulkas kecil yang tersedia, membuatku merasa tengah menginap di hotel bintang 5.


Rikian baru saja meletakkan koper besarku di depan pintu. Dia juga menyuruh stafnya untuk memberikanku air minum dan makan siang dalam kamarku.


Dia berkata Celine memerintahkannya untuk mulai mengantarkan makan pagi, siang dan malam ke kamarku setiap hari. Aku tidak boleh makan di ruang makan bersama anggota keluarga lainnya dan hanya boleh makan di kamarku saja.


Aku tahu Celine berlaku hati-hati pada orang luar. Setelah suaminya meninggal dan anaknya sakit keras, dia pasti tidak mau jadi sasaran kemurungan selanjutnya. Dengan begitu, dia mencoba berhati-hati pada orang lain, termasuk denganku.


Itulah kesimpulan paling logis yang bisa aku pikirkan atas segala tindakan sinisnya terhadapku.


Rikian izin pamit sebelum memberikan nomor ponselnya padaku. Dia berkata Celine saat ini sedang keluar dengan Becca sedangkan Josh masih tidur di ruangannya. Dia menyarankanku untuk menelponnya jika ingin berkunjung ke kamar Josh.


“Tapi Ibu Celine bilang suster pribadi Josh baru akan datang besok, bolehkah aku mulai bekerja hari ini juga?” tanyaku gundah.


Rikian tampak mengernyitkan dahi. “Suster pribadi? Saya pikir dokter Selena saja sudah cukup?”


Aku kemudian menjelaskan sedikit peraturan kerjaku kepada Rikian. “Saya rasa tidak apa-apa jika Dokter sudah mulai berinteraksi dengan tuan muda hari ini, untuk mengenal tuan muda lebih jauh.”


Baiklah, lagipula aku sudah ada disini.


“Boleh antarkan aku sekarang saja, Pak?”


Rikian mengangguk sambil tersenyum.


“Silahkan Dokter ikuti saya”


Aku mengikuti langkah Rikian keluar dari kamar. Ternyata, kamar Josh ada di lantai yang sama dengaku namun terletak di ujung koridor di sayap kanan, sementara kamarku berada di sayap kiri.


“Silahkan dokter,” Rikian mempersilahkanku masuk.


Oke, seperti inilah rupa kamar pangeran dalam kehidupan nyata.


Selain furniturenya yang mayoritas berhias emas, kamar ini jauh lebih besar daripada kamarku tadi.


Namun pandanganku atas mewahnya kamar ini teralihkan dengan satu sosok yang tengah terduduk di atas tempat di tengah ruangan.


Josh Rainer.

__ADS_1


Pangeran tampan yang tengah kehilangan ingatannya.


Mengenakan baju tidur berwana biru tua, dia duduk termangu di tempat tidurnya. Kakinya masih terbalut selimut sedangkan matanya menatap kosong di depan.


Saat aku dan Rikian menghampirinya, dia bahkan tidak memberikan reaksi lain.


Matanya masih kosong menatap kedepan.


“Loh tuan muda sudah ganti baju?” tanya Rikian keheranan.


Aku menangkap informasi Rikian tersebut dan memikirkannya.


“Kapan terakhir kali Josh bertemu orang lain?”


“Tadi malam, saya dan nyonya masuk ke kamar tuan muda dan menindurkannya dengan obat penenang. Tuan muda tadi malam ingin menyerang Nyonya dan kemudian langsung tidur.”


Aneh.


Aku kini sampai di depan si pangeran. Perlahan aku duduk di tepi tempat tidurnya.


“Hai Josh, kita bertemu lagi.”


Diam. Tidak ada reaksi. Dia bahkan tidak melihat kearahku saat aku menyapanya.


Reaksinya persis sama dengan kemarin. Aku kemudian mengecek matanya, suhu tubuhnya dan tekanan darahnya. Semua normal.


Di saat itulah dia baru menatap mataku.


Dan aku langsung terpesona dengan keindahan wajahnya.


Dia masih menatapku lurus seperti ini ingin menyampaikan kabar padaku.  Dia lapar.


“Josh,” kataku sambil menatapnya balik. “Jika kamu lapar, segera bilang saja ya. Jangan diam. Mengerti?”


Dia masih menatapku tapi tidak memberikan jawaban apapun. Wajah porselen itu tetap tak mengacuhkanku.


Aku bangkit dari tepi tempat tidur Josh dan mulai memandangi satu-persatu barang yang ada di ruangan ini.


“Aku pinjam toilet sebentar boleh? Aku hanya ingin mencuci tangan.”


Josh masih bergeming, Rikian mempersilakan aku untuk masuk ke kamar mandi Josh.


Aku memperhatikan toilet itu seksama. Tak perlu lama, aku sudah tau ada yang salah.

__ADS_1


Aku kembali ke kamar utama dan bertanya pada Rikian.


“Pak Rikian, apa makanan favorit Josh?” tanyaku.


“Sup seafood, Dokter. “


“Boleh minta tolong buatkan untuk Josh? Namun isiannya hanya salmon, bawang merah dan brokoli ya. Lalu tolong juga siapkan buah blueberry dan strawberry. Makanan ini bagus untuk memperkuat memori,” kataku.


“Baik Dokter, saya permisi dulu,” kata Rikian sopan padaku.


Kini hanya tersisa aku dan Josh berdua di kamar ini.


“Josh Rainer, kamu bisa mempercayaiku.”


Aku bicara serius dengannya saat ini.


Dia masih menatapku lurus. Aku mendekat dan kembali duduk di tepi tempat tidurnya.


“Bicara padaku jika ada yang menganggumu. Aku bisa menjaga rahasiamu,” kataku.


Masih tidak ada respons.


“Josh Rainer, bisakah kamu berhenti berpura-pura?”


Aku mengatakannya dengan gamblang karena itulah yang kuyakini.  


Josh tengah berpura-pura.


Josh bisa memahami maksudku, tapi sengaja tidak mau membalasku.


Dengan alasan yang tidak ku tahu.


“Kamu tidak bisa menipu dokter,” kataku.


Dia masih terdiam.


Dia masih menatapku lurus namun aku bersumpah melihat ujung bibirnya sedikit naik seperti sedang ingin marah, namun dia menahannya.


“Josh kamu memang kehilangan ingatanmu sebelum kecelakaan, tapi otakmu setelah itu semuanya baik-baik saja. Respons diam ini semuanya akting.”


Kini dia mulai bereaksi berbeda. Dia kini memejamkan matanya.


Aku semakin mendekat dan berbisik padanya.

__ADS_1


“Jika kamu bisa mengganti baju sendiri dan memasukkannya ke tempat mencuci baju di toilet, seharusnya tidak ada masalah apapun di otakmu kan?”


Aku tidak menduga kejadian setelahnya akan merugikanku. Dengan gerakan cepat, Josh Rainer mencekikku dengan tatapan mata merah membara.


__ADS_2