Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
MALAIKAT PENJAGA


__ADS_3

Aku berada di tempat yang gelap sekali.


Tidak ada cahaya dimanapun, tidak ada suara apapun.


Yang ada hanya deru nafasku yang menderu karena gelisah.


Aku dimana?


“Halo?”teriakku kencang.


Suaraku bergema berkali-kali dan tetap tak ada yang menjawab.


Mataku masih tidak bisa menemukan cahaya. Sementara udara di sekitarku terasa lembab.


Aku mencoba meraba benda di sekitarku, dan menyadari bahwa aku tengah berada di antara bebatuan.


Bebatuan yang basah.


Aku mencoba memejamkan mata dan mendengar suara riak air kecil.


Sepertinya, aku terjebak dalam goa yang berada di tepi pantai.


Sendirian.


Kemudian, tiba-tiba saja suara riak air itu terdengar semakin kencang.


Rasanya seperti ada bebatuan yang terlepas dari fondasi goa ini, yang membuat suara air laut terdengar jelas.


Seketika, cahaya terang pun akhirnya masuk dan menyilaukanku.


“Kamu baik-baik saja kan?” tanya suara yang tiba-tiba saja hadir bersama cahaya.


Aku kaget setengah mati mendengarnya.


Suara ini..


Suara Dio?


Aku mencoba membuka mata di tengah silaunya matahari di tepi lautan.


Dan aku melihat Dio disana, dengan baju setelan putihnya tersenyum cemerlang melihatku.


Apakah ini halusinasi?


Atau aku..


Atau aku sudah mati?


Aku kembali berfikir apa yang terjadi sebelumnya.


Aku ingat kepala dan pinggangku terluka karena benda tajam yang dihunuskan oleh para pengawal Becca.


Kemudian Josh Rainer menyelamatkanku.


Aku seharusnya sudah berada di helikopternya dan tengah menuju tempat pengobatan.


Lalu mengapa aku disini?


Apakah aku tidak pernah sampai ke tempat tujuan untuk mengobati lukaku?


Dan kemudian.. aku malah dijemput Dio?


Menuju gerbang yang kekal bersama?


Aku menelan ludah saking bingungnya.


Bila memang takdirku begini, Tuhan berarti memang menginginkanku untuk kembali bersama lagi dengan Dio.


Dio yang seharusnya mengucapkan sumpah sehidup semati bersamaku itu.


Dan sekarang, ini semuanya seperti menjadi kenyataan.


Kami bersama-sama saat hidup, dan bersama lagi saat mati.


“Apakah aku bisa memelukmu?” hanya itu yang bisa aku katakan padanya.


Dio memamerkan lesung pipi saat tersenyum padaku, “Tentu saja, aku rindu sekali.”


Tanpa buang waktu, aku memeluk mantan calon suamiku itu.


Terasa nyata.


Punggungnya yang hangat, wangi tubuh Dio yang biasa.


Aku dan dia seperti kembali hidup di bumi.


Ternyata, aku juga sangat amat merindukannya.


Orang yang tidak bosan menghapus raguku selama delapan tahun lamanya.


Orang yang selalu mendukungku untuk menggapai mimpiku.


Aldio Revano.


Aku masih ingin berlama-lama memeluknya, merasakan bahwa kami kini telah kembali di dunia yang sama.


Dio pun membalas pelukanku seperti tidak ingin terkejar waktu.


Lama sekali kami saling melepas rindu dalam dekapan di dalam goa tepi pantai itu..


Sampai akhirnya, Dio menarikku menjauh dari bebatuan dan mengajakku keluar dari goa.


Kakiku menapaki batu-batu karang dan beberapa kerang sebelum keluar dari goa.


Kemudian, aku mendapati pantai yang indah berpasir putih di depan mataku.


“Kamu tinggal disini?” kataku bodoh.


Dio terkekeh mendengar pertanyaan polosku.


“Aku bisa tinggal di mana saja yang aku mau,” katanya santai. “Tapi tempat favoritku, adalah dimanapun saat kamu berada.”


Hatiku berkecamuk mendengarnya.


Apalagi saat dia mengatakannya dengan senyuman yang tulus.


“Kamu.. selalu mengawasiku?” tanyaku mengonfirmasi.


Dia mengangguk cepat. Tangannya yang hangat kembali menarikku mendekat dengannya.


"Selalu," katanya masih memberikanku senyum dengan lesung pipi itu. “Ayo kita kesana,” ajaknya padaku untuk menuju tengah pantai.


Aku menurutinya dan kami kini tengah memandangi pantai bersih berwarna biru dengan air yang tenang.


Dia lalu mengajakku duduk di atas pasir sambil memandangi pantai, yang airnya kini sudah memercik hingga ke kaki kami.


Ini…


Setiap kali kami punya kesempatan untuk berlibur ke pantai, Dio selalu melakukan ini.


Mengajakku untuk bicara berjam-jam di pasir di tepi pantai sambil menunggu matahari terbenam.


Bicara tentang hidup kita.. tentang mimpi-mimpi kita..

__ADS_1


Aku merasa kami seperti kembali lagi ke masa lalu.


Dan kini, aku sudah duduk bersisian di samping Dio.


Dia menarikku semakin dekat dan aku akhirnya menyandarkan kepalaku di bahunya sambil memandangi indahnya pemandangan di depan kami.


Seperti dulu kala.


Saat kami masih bermimpi untuk menjadi pasangan yang paling bahagia di bumi.


Sejenak, kami tidak bicara apa-apa selain menikmati momen yang telah lama kami lewatkan bersama ini.


“Jika kita tetap melangsungkan pernikahan, seperti apa kira-kira hidup kita setelahnya?” tanyanya tiba-tiba.


Hatiku kelu mendengarnya.


Bertahun-tahun, aku memiliki harapan dan rencana dalam kehidupanku untuk kuhabiskan bersama Dio.


Dan semua tujuan itu menguap begitu saja dalam satu hari kelam saat kehilangannya.


Dan kini, dia memintaku untuk membeberkan kembali semua rasa luka yang sudah kupendam karena tidak pernah akan terjadi itu.


“Dio.. ini semua menyakitkan, aku tidak mau membicarakannya..” kataku kini telah menegakkan lagi kepalaku dari bahunya.


Dia tahu perubahan suasana hatiku dan kini mengelus kepalaku lembut.


“Selena, apa ada yang lebih menyakitkan dibanding harus melihatmu berjuang sendiri di kehidupanmu kini?”


Oh Dio.


Dia bilang.. kini dia selalu mengawasiku.


Berarti dia tahu semua rasa sakit dan lukaku dalam beberapa minggu belakangan ini bukan?


Dan dia menyesalinya.. mengapa aku harus melewatinya sendirian.


Dia merasa terbebani hal yang padahal bukan kesalahannya.


Air mataku kini sudah menetes tak tertahankan.


“Lepaskanlah apa yang kamu rasakan, kamu tidak perlu  menanggungnya sendirian,” ujarnya kembali.


Aku kini menggengam tangannya.


“Kita menikah.. lalu kita sama-sama mewujudkan mimpimu untuk menjadi diplomat sukses di Polandia.. sambil juga mewujudkan mimpiku untuk mengambil spesialis dokter bidang neurologis. Kita saling mendukung dan mewujudkan mimpi kita bersama-sama.." kataku terbata-bata.


Aku mengambil nafas sebelum kembali melanjutkan.


"Lalu kita juga mewujudkan mimpi baru yang kita ciptakan bersama.. punya tiga anak dan hidup bahagia sampai melihat anak dan cucu kita tumbuh tanpa kekurangan..” aku kini sudah sesenggukan saat selesai mengatakan semua hal yang dia pinta dariku.


Pilu karena kami tidak pernah akan menyelesaikan mimpi yang kami rencanakan.


Delapan tahun yang indah. Dan puluhan tahun setelahnya yang sudah kami idam-idamkan untuk kami habiskan bersama.


Hilang sekejap karena kuasa Tuhan untuk lebih dahulu merangkul Dio di sisi-Nya.


Dio masih merangkulku hangat sambil mengelus kepalaku.


“Lanjutkan mimpi itu meskipun tanpa aku ya?”


Aku terkesiap.


Apa maksud Dio?


Bukannya aku sudah mati? Bagaimana bisa aku terus melanjutkan mimpi dan rencana itu?


Dio seperti membaca kebingungan dari wajahku.


“Jangan bilang kamu fikir kamu sudah mati?” katanya tepat sasaran.


Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


“Sayang, kamu belum boleh mati..” katanya semakin membuatku berpikir keras.


“Bukannya aku sudah mati makanya kita bisa bertemu dan kembali kencan di pantai ini?” tanyaku sekali lagi mengonfirmasi.


Dio kembali terkekeh dan tawa itu seperti menular kepadaku juga.


Jadi.. aku belum mati?


Entah mengapa ada rasa lega saat mengetahui duniaku belum berakhir.


Meskipun artinya aku akan kehilangan Dio lagi.


“Aku hanya mampir sebentar untuk mengingatkanmu jangan lupa bahagia,” kata Dio sambil kembali mengelus kepalaku.


Jadi apakah ini mimpi?


Atau ini hanya pikiran yang terjadi di kepalaku?


Bagaimana bisa aku bertemu dan berbincang dengan orang yang sudah mati senyata ini?


Otakku yang logis masih tidak bisa menerima penjelasan mengapa Dio bisa tiba-tiba datang dan mengajakku bicara saat ini.


“Selena…Kamu dengar aku kan? Waktuku cuma sebentar. Setelahnya kamu akan kembali ke duniamu, aku kembali ke duniaku," ujarnya, membuatku yang tengah berpikir keras kembali ke pandangannya.


"Dan mungkin.. kita tidak akan pernah bertemu seperti ini lagi,” katanya terdengar tegar.


Baiklah.


Aku tidak tahu fenomena apa yang membuat aku bisa berbincang dengan orang yang sudah tiada, namun aku akan memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya.


“Aku minta maaf, jika saja waktu itu kamu tidak mau menjemputku pulang, kita pasti sudah menikah..”


“Tidak ada yang perlu dimaafkan, aku sudah di tempatku yang seharusnya dan begitu juga pun kamu,” kata Dio tidak sedih sama sekali.


Dio, mengapa kamu selalu menjadi yang paling bijaksana.


“Dan terima kasih untuk seluruh kenangan yang telah kamu ukirkan di hati dan fikiranku. Mengenalmu adalah salah satu fase terbaik dalam hiduku. Kita bertemu, tumbuh bersama, belajar tentang hidup bersama-sama, jatuh dan bahagia bersama..”


“Menghabiskan waktu bersamamu juga adalah fase terindah yang pernah aku punyai sepanjang hidupku yang singkat ini,” katanya lagi tanpa beban. “Meskipun, kamu adalah perempuan paling keras kepala dan paling insecure yang pernah aku temui.”


Dio,


Dan kini aku berhasil meredam rasa insecure-ku dan sifat keras kepala yang sudah tertanam sejak kecil ini.


Semuanya karena dukunganmu.


Kamu selalu mempercayaiku, selalu menerima kekurangan dan kelebihanku dan aku banyak belajar darimu.


Kamu selalu membantuku untuk menjadi Selena yang lebih baik setiap harinya.


Terima kasih untuk semuanya Dio.


Kami kemudian terdistraksi dengan cahaya yang ada di depan kami.


Matahari sudah mulai turun dan segera kembali ke persembunyiannya.


Sebentar lagi, matahari akan terbenam seluruhnya.


“Aku mencintaimu sejak kita pertama kali bertemu bahkan hingga maut memisahkan aku dengan duniamu, Selena.”


Ya Tuhan.

__ADS_1


Aku benar-benar merasa bersalah padanya saat ini.


Aku juga sungguh mencintainya, namun bagaimana aku bisa membalas kata-katanya?


Setelah dia tahu bahwa kini hatiku tak sepenuhnya lagi untuknya?


Karena... ada nama orang lain yang terukir di hatiku saat ini.


Nama Josh Rainer.


Bahkan, aku sempat mempertanyakan pantaskah hatiku ini kubagi dengan orang lainnya?


Yakni...Aldebaran.


Bagaimana aku bisa mengatakannya di depan Dio? Bahwa aku cepat sekali berpaling darinya untuk merasakan kasih yang baru?


“Tapi tolong, jangan buat ini jadi beban bagimu,” katanya lagi.


Dia tahu.


Dia yang sudah mengawasi setiap hari-hariku pasti tahu bahwa kini perasaanku terpecah, tak lagi sepenuhnya kubagikan untuknya.


“Karena tidak ada artinya jika aku mencintaimu, tapi tak bisa melihatmu bahagia..”


Dio!


Kini air mataku sudah bercucuran tak karuan. Sekuat apapun aku mencoba menahannya.


“Lanjutkanlah mimpimu ya? Walau tanpa aku..”


Aku sudah terisak-isak, masih kehilangan keberanianku untuk bersuara.


“Lakukan apa yang membuatmu bahagia. Dengan begitu, kamu juga sudah membahagiakanku disini,” katanya sekali lagi menusuk hatiku.


Aku kini memeluk tubuhnya kencang.


Tubuh yang sebentar lagi akan hilang dalam dekapanku ini.


Dia kemudian membalas pelukanku kencang.


Aku merasakan bahunya bergetar.


Dio juga menangis.


“Wujudkan mimpi kita dulu untuk menikah, memiliki anak dan bahagia selamanya..."


"Dio.... bagaimana dengan kamu.."


"Jangan pedulikan aku, aku akan selalu bahagia disampingmu saat melihatmu bahagia. Namun aku juga akan merana, jika melihatmu selalu lara..”


Bagaimana bisa ada orang setulus Dio?


Dan bagaimana bisa kami dipisahkan saat aku mendapatkan orang sebaik dia?


“Dio.. maafkan aku..,” aku lagi-lagi hanya bisa meminta maaf.


“Aku tidak akan memaafkanku jika kamu tidak melanjutkan hidupmu," katanya tegas.


"Jadilah Selena yang aku kenal, raih kebahagiaanmu bersama orang yang menurutmu paling pantas untuk mendapatkan cintamu. Aku akan selalu berada di sisimu.. selalu.. sampai kamu akhirnya boleh berada disini,” katanya sambil mencoba menahan tangis.


“Kamu adalah lelaki terbaik yang pernah aku temui!” kataku masih memeluknya kencang.


Aku masih ingin disini bersamanya. Berlama-lama mendengarkan kata-kata bijaknya.


“Dan lelaki ini akan selalu bersamamu meskipun kasat mata, sampai kamu menemukan lelaki yang lebih baik untuk bisa menjagamu seumur hidup..”


Dio!


Seluruh ucapannya benar-benar mengoyak hatiku yang telah patah.


Mengapa dia yang begitu sempurna ini harus pergi dari hidupku selamanya?


Kini, matahari sudah hilang sepenuhnya dari pandangan.


Sekelilingku sudah berganti menjadi oranye kegelapan.


Aku sudah tidak bisa lagi menatap pantai biru yang bercahaya karena kini hampir tak terlihat apa-apa.


Namun, kini satu-satunya cahaya ada di sampingku.


Tubuh Dio bersinar seperti matahari dan tetap membuat sekelilingku mendapatkan pencahayaan yang cukup.


Dia kini terlihat seperti malaikat.


Namun, semakin lama cahaya di seluruh tubuhnya meredup.


“Aku rasa, waktu kita akan segera selesai,” katanya terdengar sedih.


“Aku tidak punya pilihan untuk tinggal?” tanyaku sungguh-sungguh. Kini kami sudah melepaskan pelukan kami dan berpegangan tangan.


Jika dunia tidak bisa memberikan kedamaian buatku, aku rela mati dan bersama dengan Dio dalam kehidupan tenang seperti ini.


“Tidak, kamu harus merasakan bahagia dulu baru boleh kesini,” tegasnya.


“Meskipun.. aku harus mendapatkan kebahagiaan dengan bersama orang lain?” tanyaku ragu.


“Jika itu membuatmu bahagia, kenapa tidak?” katanya santai.


“Kamu.. tidak akan marah?”


“Aku marah jika kamu tidak berusaha bahagia. Aku marah jika kamu terus terbebani aku yang sudah mati dan tidak bisa membuatmu bahagia ini,” katanya.


Cahaya di tubuhnya kini perlahan-lahan semakin memudar.


Pegangan tangan Dio pun merenggang dari gengagamanku.


Lama-kelamaan, Dio memudar seperti hologram yang berkelap kerlip.


“Dio.. terima kasih… untuk semuanya,” aku kini mencium kedua tangannya yang terasa kebas.


“Jangan lupa untuk bahagia, dengan begitu kamu akan membahagiakanku juga!” katanya dengan senyum di lesung pipinya.


Aku mengangguk kencang.


Dan akhirnya dia hilang sepenuhnya.


Kembali meninggalkanku di dunia yang gelap.


Sendirian.


Sampai akhirnya, aku merasa ada cahaya yang dinyalakan di sekelilingku.


Tidak.


Ini adalah cahaya kehidupan.


Mataku mencoba membuka dan menyesuaikan dengan sekelilingku saat ini.


Semuanya terasa seperti gambar yang hablur, perlu waktu beberapa saat sampai akhirnya semuanya berwujud sebagaimana adanya.


Aku tengah terbaring di salah satu kamar yang didominasi dengan warna putih.


Dan dua kepala menyambutku dengan riang gembira.

__ADS_1


“Selena sudah sadar!”


__ADS_2