Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
DUNIA JOSH


__ADS_3

Mulai pagi ini, rumah megah tiga lantai yang terletak di pusat Ibu Kota ini adalah kantorku.


Rumah Josh Rainer.


Tak hanya berkantor, aku juga akan tinggal di istana ini selama beberapa bulan kedepan.


Ya, aku akan menjadi dokter pribadi sekaligus teman bagi Josh, dalam rangka mengembalikan lagi ingatannya yang hilang. Aku akan tinggal sampai Josh pulih dan bisa bekerja seperti sedia kala.


Berapa lama? Entahlah.


Bisa jadi enam bulan, delapan bulan, satu tahun.


Atau jauh lebih lama dari itu.


Tadi malam, aku sudah menandatangani perjanjian kerja dengan Celine. Salah satu poinnya adalah bertanggung jawab untuk pemulihan Josh Rainer sampai sembuh.


Sebagai gantinya, Celine berjanji akan memberiku upah 6 bulan di muka dalam bentuk cek hari ini.


Jika Josh masih belum pulih dalam 6 bulan, kontrak akan diperpanjang dengan klausul penambahan upah sampai Josh Rainer sembuh dari penyakitnya.


Tentu aku tidak berharap menjadi dokter pribadi Josh Rainer sampai berbulan-bulan.


Aku berharap Josh bisa sembuh secepat mungkin sehingga aku bisa kembali melanjutkan karirku di rumah sakit.


Namun yang terpenting saat ini adalah pekerjaan ini dapat menyelamatkanku dari permainan jahat Ibu Dio.


Sebentar lagi, mereka tidak bisa lagi menekan keluargaku. Ayah dan Ibuku bisa kembali hidup tanpa rasa takut dan beban karena masalah ini.


Sebentar lagi Selena dan aku hanya perlu menjadi dokter yang baik untuk Josh dalam beberapa waktu. Aku yakin ini tidak akan berjalan lama dan aku akan menjalani hidupku seperti sedia kala.


Aku masih tertegun di depan rumah mewah ini setelah taksi menurunkanku. Rumah ini jauh lebih besar dan mewah bila dibandingkan dengan rumah Dio, yang juga terletak di perumahan elit Jakarta.


Aku berjalan menuju pintu masuk sambil mendorong koper besarku yang isinya adalah pakaian dan juga buku-buku medis.


Sesampainya di pintu masuk, sedikitnya 5 asisten rumah tangga keluar dari gerbang masuk istana dan langsung mengerubutiku.


"Selamat datang Dokter Selena," ucap mereka bersamaan sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


"Oh halo," jawabku. "Tidak perlu terlalu formal," aku bersungguh-sungguh.


Salah satu dari asisten rumah tangga itu adalah seorang pria yang terlihat sudah setengah baya dengan uban di kepalanya. Dengan hormat, dia maju sambil membenarkan kerah jasnya dan menyapaku.


"Dokter Selena, saya adalah Ketua ART disini. Nama saya Rikian," ujar bapak ini membungkuk hormat. "Mari ikuti saya untuk tur sebentar untuk tahu rumah ini."


Aku mengikut saja di belakang Rikian. Asisten lainnya gesit mengambilalih koper untuk langsung diantarkan ke kamar yang sudah dipersiapan untukku.


Rikian sangat ramah. Dia bercerita telah mengabdi pada keluarga ini sejak 25 tahun lalu. Dia menikah dengan juru masak yang juga bekerja untuk keluarga Josh.


Sayangnya, Rikian dan istrinya tidak bisa memiliki keturunan. Mengasuh dan menjadi saksi perkembangan Josh baginya sama bahagianya dengan memiliki anak sendiri.


Sambil bercerita, Rikian menunjukkan berbagai ruangan di lantai 1 rumah ini, mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, dapur, ruang makan, area olahraga, kolam renang hingga taman.


Kami kini menaiki lantai dua dan langsung masuk ke salah satu ruangan yang paling dekat dengan tangga. Ruang baca atau perpustakaan yang didalamnya terdapat ruang tidur mini dan kamar mandi.


Aku mengikuti Rikian masuk ke ruangan yang luasnya sebesar lantai 1 rumahku itu. Rikian berhenti pada satu potret diri berukuran besar di tengah dinding perpustakaan.


"Ini salah satu foto tuan muda saat kecil dulu waktu masih berusia lima tahun. Sedang lucu-lucunya," ingatnya.


Ketampanan Josh Rainer ternyata sudah terlihat sejak dia kecil.


"Josh bisa bermain biola?" tanyaku mengkonfirmasi.


"Ya, Dok. Tuan muda bisa memainkan beberapa alat musik. Selain biola, dia juga senang bermain piano dan drum," jawab Rikian.


"Namun diantara semuanya, tuan muda paling suka bermain biola. Biasanya kalau tuan sedang kesal atau sedih, dia bermain biola untuk menyenangkan hatinya," jelasnya.


Beruntung sekali Josh Rainer ini.


Aku teringat saat aku masih kecil dulu, merengek kepada ayah untuk membelikan aku biola. Hanya karena teman sekelasku dulu membawa biola saat pelajaran seni dan aku sangat ingin juga memainkannya.


Tentu saja aku tidak pernah mendapatkan biola itu. Biola terlalu mahal untuk dibeli, sementara ayahku punya kebutuhan yang lebih utama yakni memastikan keluargaku tetap bisa makan setiap hari. Sebagai gantinya, ayah membelikanku pianika agar aku tidak terlalu bersedih.


Aku masih melihat-lihat sekitar ruang baca dan menemukan puluhan medali dan piala di rak tengah ruang baca yang ukurannya sebesar lantai satu rumahku itu.


"Apa ini semua punya Josh juga?"

__ADS_1


"Betul Dok. Meskipun tuan Josh tidak terlalu mencolok di bidang akademik, namun dia sangat berbakat di bidang musik. Sampai kuliah, tuan muda masih sering mengikuti kompetisi bermusik hingga internasional."


"Apa jenis musik yang dikuasai Josh?"


"Setau saya musik klasik dan jazz. Tapi dia sangat berbakat dan tidak hanya fokus pada satu aliran saja. Waktu SMA, tuan bahkan membentuk band rock dan sempat ditawari untuk rekaman salah satu label besar disini. Namun dia menolak karena ingin melanjutkan kuliah di Amerika," jelas Pak Rikian.


Ternyata, saat SMA dulu Josh sama seperti Dio. Kecanduan musik hingga membentuk band. Dengan alasan yang sama pula, Dio keluar dari band untuk melanjutkan studinya.


Jika Dio masih disini, mungkin saja dia akan cepat akrab dengan Josh. Atau bahkan mereka membuat band bersama seperti halnya masa-masa SMA dulu.


"Apa Josh sering menghabiskan waktu disini? Maaf aku banyak bertanya, karena aku perlu seluruh informasi tentang Josh untuk merangsang memorinya," jelasku pada Rikian.


Pak Rikian tersenyum padaku.


"Tentu tidak apa-apa, Dok. Sebetulnya, ruang baca ini adalah ruangan kerja tuan besar. Tuan muda hanya sesekali kesini jika dipanggil tuan besar."


"Namun, setelah kematian tuan besar, tuan muda sering mendekam sendirian disini. Biasanya setelah pulang kerja, dia langsung mengunci diri disini dan kami sering mendengar alunan biola dari sini," papar Rikian.


Josh pasti sangat kehilangan ayahnya dan memainkan biola untuk mengusir rasa sedihnya.


Di sisi lain, ayahnya pasti sangat mencintainya. Jika orang biasa seperti aku masuk ke ruangan baca ini, pastilah menyangka ruangan ini adalah milik Josh.


Semua yang ada disini adalah wajah Josh. Lukisan jumbo di dinding, ratusan medali dan piala hingga frame foto yang tertempel di meja. Semua terpampang wajah Josh, tak ada satupun wajah ayahnya ataupun Celine.


"Apakah hubungan Josh dan ayahnya baik?" tanyaku.


Rikian terlihat berpikir sambil mengusap kacamatanya. "Tuan besar sangat menyayangi tuan muda, namun sejak lulus SMA, hubungan keduanya agak merenggang."


"Apa karena ayahnya meminta Josh melanjutkan studi ke luar negeri?"


Pak Rikian terlihat berpikir sambil mengusap kacamatanya yang berembun. Saat dia ingin menjawab, suara familiar memanggil namaku.


"Selena, kami dari tadi sudah menunggumu."


Aku memalingkan muka dan melihat Celine masuk ke dalam ruang baca suaminya bersama sosok yang sangat aku kenal.


"Becca?"

__ADS_1


__ADS_2