Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
BUKA HATI


__ADS_3

Mataku melotot saking kagetnya.


Melihat empat wajah masuk bersama-sama ke dalam kamar kerangkengku.


Habislah aku.


Akhirnya aku tertangkap juga.


Seluruh perjuangan yang kulakukan untuk kebenaran akan berakhir disini.



Namun, aku salah.


Wajah terkejutku berganti menjadi senyuman lebar saat melihat rona keempat orang itu.


Aku tak lagi kaget, malah kini berlari menuju mereka.


Dan memeluk dua orang yang paling kucemaskan keadaannya selama aku terlibat dalam drama intrik Gurnawijaya.


Ayah dan ibuku.


Berdiri di depan pintu dengan wajah lega melihatku baik-baik saja.


Lenganku kini merangkul erat keduanya.


Tangis lega tak tertahankan akhirnya tumpah.


Ayah dan ibuku pun lalu membalas pelukanku erat.


Ayah mengelus kepalaku dan ibuku tetap memegang erat pinggangku.


Sementara itu, dua wajah di samping mereka juga turut mengerubutiku.


Gery dan Anna.


Aku akhirnya pulang ke rumah.


Dimana aku bisa melihat orang-orang yang kusayangi berkumpul dalam keadaan baik-baik saja.


Jadi…


Aldebaran memang tidak menyekapku?


Dia malah mengembalikanku kepada orangtuaku?


“Kamu baik-baik saja kan, Nak?” tanya ibuku khawatir.


Aku mengangguk pasti. “Maafkan aku. Karena aku, kalian harus sembunyi seperti ini.”


Aku benar-benar minta maaf karena masalahku telah membuat mereka terancam bahaya.


Ayahku masih mengelus kepalaku lembut.


“Selama kamu selalu benar kami selalu berdiri untukmu, Anakku” katanya.


Aku kini merasa seperti kembali seperti saat kecil dulu. Saat aku ketahuan menghajar para pembully di sekolah dengan sepakan taekwondoku.


Kala itu aku harus diskors karena laki-laki yang mengataiku anak dari keluarga miskin yang suka mengemis harus masuk rumah sakit karena hidungnya robek.


Dan saat itu, ayah dan ibuku mengatakan hal yang persis sama.


Selama aku berdiri untuk kebenaran, mereka juga mendukungku.


Walaupun, mereka menyesalkan mengapa aku perlu melakukan kekerasan kepada orang lain.

__ADS_1


Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi ikut kelas bela diri. Karena untuk memperjuangkan hal yang benar, aku belajar bahwa tidak perlu menggunakan kekuatan fisik yang berlebihan.


Tapi pikiran lah yang menentukan segalanya.


Dan kali ini, ayah dan ibuku mendukung sepenuhnya karena mereka mengerti posisiku.


Aku berjuang untuk melawan hal yang salah.


Meskipun, kini seluruh situasi menjadi sangat berbahaya untukku dan keluargaku.


Aku kini telah melepas pelukanku pada mereka. Dan kini memandangi dua sahabatku yang selalu ada di saat aku senang maupun susah.


Gery dan Anna.


“Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kalian,” kataku penuh haru.


Anna menggeleng sambil memegang tanganku, sementara Gery lagi-lagi nyeletuk mengenai voucher pijat. Namun saat Anna mendelik padanya, Gery langsung bersiul-siul seakan-akan dia tidak mengatakannya.


Kami lalu tertawa bersama.


“Selena, ini hanya kebetulan saja aku punya villa di puncak untuk bisa ditinggali. Pas juga aku sedang ambil cuti, dan Gery juga sedang izin dari kantornya karena habis pemulihan setelah kecelakaan kemarin. Jadi kami bisa berkumpul disini sembari menunggumu pulang,” kata Anna tetap rendah hati.


Bagaimana aku bisa lupa?


Anna sudah mengatakan kepadaku bahwa dia dan Gery telah membawa orangtuaku ke tempat yang aman, yakni villa di puncak miliknya.


Mengapa aku tidak terpikir sejak tadi bahwa ini adalah villa milik Anna?


Mengapa aku masih berpikiran yang tidak-tidak terhadap Aldebaran?


Mengapa aku masih punya pikiran buruk bahwa dia tengah mengurungku untuk diserahkan kepada Celine dan kawanannya?


Seketika, aku merasa tidak enak pada Ale.


Sejauh ini, dia benar-benar menjaga kata-katanya. Untuk melindungiku dan membawaku kembali ke rumah.


Aku harus berterima kasih padanya nanti.


“Dan jika Josh Rainer tidak memintaku dan Anna untuk membawamu kesini, mungkin orang tuamu sudah…” Gery tidak mampu menyelesaikan kata-katanya.


Oh iya Josh Rainer.


Dialah yang berinisiatif untuk melindungi keluargaku sejak awal.


Agar orangtuaku tidak menjadi sasaran kepungan massa akibat berita hoax mengenai aku yang membawa kabur dirinya.


Terima kasih, Josh.


Namun, aku masih merasa sangat pilu.


Aku tidak ingin mengingatnya dulu.


Aku hanya ingin menyembuhkan diriku dengan orang-orang yang kusayangi dan berkumpul untukku saat ini.


Lalu mencoba melupakanmu.


Perlahan-lahan aku harus melupakanmu.


Karena inilah yang seharusnya aku lakukan bukan? Sangat tidak pantas dan tidak etis untukku menganggu hubungan yang telah dipupuk oleh Josh dan Helena setelah sekian lama.


Aku tahu itu sakit, namun aku harus bisa mengalahkan kesakitan ini.


“Dan juga.. pria tampan yang menggendongmu pulang hari ini! Ya ampun Selena, mengapa kamu tidak pernah cerita punya kakak sekeren itu!” Anna mulai berterus terang seperti sifat biasanya, tidak peduli ada kedua orang tuaku yang mendengar pujiannya terhadap Aldebaran.


Kedua orang tuaku tertawa mendengar kekaguman Anna terhadap Ale, sedangkan Gery tampak menciut dengan muka manyun disebelah Anna.

__ADS_1


“Jadi itu si Ale-Ale yang kamu sering ceritakan waktu kecil? Yang kamu bilang aku tidak bisa menggantikan posisinya sebagai kakak terbaik?” Gery kini terlihat kesal karena merasa ada tandingan.


Aku mencubit lengan Gery.


“Kamu tetap kakak favoritku kok, jangan manyun,” kataku membesarkan hatinya.


“Dih dia tidak bisa dibandingkan, Sel,” celetuk Anna terlalu jujur.


Gery lagi-lagi menampakan wajah masam.


Aku tidak tahu mengapa, rasanya Gery bukan kesal dan cemburu karena Aldebaran lah sosok yang selama ini sering aku ceritakan waktu kami kecil dulu.


Tapi sepertinya.. dia kesal karena Anna memuji Aldebaran sepenuh hati?


Aku tersenyum jika ini benar adanya.


Jika Gery memang menyukai Anna, aku akan mencoba mempengaruhi Anna.


Dua sahabatku jika bisa saling bersama pasti sangat lucu bukan?


Fikiranku untuk menjodohkan mereka berdua diinterupsi oleh ajakan ibuku untuk makan malam. Tak buang waktu, kami lalu menuju ke meja makan di lantai bawah untuk menyantap makanan yang disiapkan Ibuku.


Di meja makan, sudah ada makanan favoritku. Telur mata sapi balado, semur ati ampela goreng dan sapo tahu buatan ibuku yang menggugah selera. Aku terkesiap saat melihat ada hidangan lain yang disiapkan ibuku di meja itu.


Dendeng kering sambal matah.


Makanan favorit Ale yang sering dibuatkan ibuku waktu kecil dulu untuknya.


Aku menoleh ke arah ibuku, seperti meminta penjelasan.


“Dia pergi cepat sekali. Ibu tidak sempat menahannya saat ibu memasak dendeng ini untuknya tadi. Dia bilang ada urusan untuk melindungimu,” kata ibuku dengan pandangan berkaca-kaca.


Tidak hanya aku yang merindukan Ale.


Begitu juga dengan ibuku.


Aku masih ingat bagaimana ibuku tidak mempermasalahkan Ale yang berusaha menjambret tas tangannya dulu.


Dengan penuh kasih sayang, dia malah merawat Ale selama tiga bulan dan sudah dianggap seperti anaknya sendiri.


Aku paham sekali bahwa ibuku sangat menginginkan anak laki-laki. Dari silsilah keluarga ibuku, hanya ibu yang tidak memiliki anak laki-laki.


Kedua orangtuaku telah berusaha untuk membuatkan adik untukku, namun aku mendengar bahwa kandungan ibuku lemah setelah melahirkanku dan sangat berisiko untuk ibuku jika kembali mengandung.


Aku juga yakin, ayahku juga merindukan Ale.


Ale yang selalu menang setiap kali melawan permainan catur ayah. Padahal ayah dulunya adalah atlet catur selama dia berkuliah dan pernah bertanding hingga tingkat nasional.


Aku ingat kata-kata ayah dulu bahwa Ale sangat berbakat dan akan menjadi orang yang panjang akal dewasa nanti.


Dan itu terbukti kini.


Dia tidak hanya cerdik, tapi juga sangat manipulatif.


Bagaimana bisa dia melindungiku begini padahal ibunya sangat cermat menyusun rencana untuk menyingkirkanku?


Bagaimana bisa dia berkomplot dengan Josh Rainer, orang yang paling diinginkan ibunya untuk hancur?


Ale, aku menunggu penjelasanmu.


Dan Ale..


Dengan semua pengorbanan yang telah kamu lakukan untukku...


Apakah sebaiknya aku benar-benar mencoba membuka hatiku untukmu?

__ADS_1


__ADS_2