Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
LELAKI ORANYE


__ADS_3

Dengan terbang menggunakan helikopter, perjalanan menuju rumah nenek Josh Rainer di pinggiran kota Jakarta hanya perlu memakan waktu setengah jam.


Namun, bagiku waktu berjalan sangat lambat.


Terang saja, Josh enggan melepaskan genggamannya di tanganku sepanjang perjalanan.


Hal ini membuatku semakin keki dan bingung.


Di satu sisi, aku tahu interaksi seperti ini tidak boleh dilakukan antara dokter dan pasiennya.


Di sisi lain, ada bagian dari diriku yang tidak ingin melepaskan genggaman tangan ini.


Genggaman tangan yang membuatku lupa atas masalah hidup yang aku lalui belakangan ini.


Pada akhirnya, aku sendiri terlalu lelah untuk melepaskan genggaman hangat itu dan malah tertidur sepanjang kami terbang.


Aku membuka mataku kembali saat bunyi mesin makin kencang, tanda helikopter melakukan persiapan untuk kembali menjejaki darat.


Kami masih di ketinggian puluhan meter saat warna langit berubah menjadi oranye yang cantik sekali. Matahari ingin kembali ke sarangnya dan meredupkan sinarnya untuk hari ini.


Saat aku menengok ke sebelahku, pemandangan itu semakin indah saja.


Temaram cahaya matahari sore tepat menyinari wajah tampan Josh Rainer yang tanpa cela.


Sangat amat indah.


Untungnya, Josh tengah pulas di sampingku. Aku bebas memandangi karya indah Tuhan sekitar lima menit lamanya sampai dia tersadar bahwa helikopter sudah menjejak ke tanah.


Mendarat di pekarangan rumah nenek Josh Rainer.


Dia akhirnya melepas genggaman tanganku dan melakukan peregangan badan.


Sebelum turun, Josh berterima kasih kepada para sekuriti yang sudah menjaga keselamatan selama penerbangan kemudian memanduku turun dari heli.


“Hati-hati disini habis hujan, tanahnya basah,” katanya membimbingku turun dari heli. Dia kembali menawarkan tangannya untuk kugenggam.


Josh.


Mau bagaimanapun aku adalah doktermu.


Mulai sekarang, aku harus menjaga hal ini tetap lurus.


Kami berada di hubungan professional sebagai dokter dan pasien, tidak lebih.


Meskipun.. aku sangat menikmati momen menyentuh Josh Rainer.


Namun, ini tidak benar untuk diteruskan.


Apalagi, kami akan bertemu dengan Nenek Josh Rainer. Aku harus menjaga sikapku sebagaimana kewajibanku disini.


“Aku bisa sendiri,” kataku menolak bantuannya sambil keluar dari badan heli.


Dia tampak kaget dengan penolakanku dan akhirnya mencoba tampak santai, tidak ada yang terjadi.


Kami kemudian berjalan menuju rumah utama Nenek Josh Rainer yang sebelumnya pernah aku datangi ini.

__ADS_1


Luas rumah ini mungkin bisa disamakan dengan empat kali rumah Josh Rainer di Jakarta. Dengan seluruh fasilitas lengkap ada di bagian belakang rumah ini, mulai dari trek berkuda, landasan pacu, kolam renang hangat, gazebo, kebun bunga,rumah kaca, taman luas, lapangan tenis hingga danau buatan.


Benar kata Gery, Istana Buckingham seperti pindah kesini.


Oh tidak, Gery!


Aku meninggalkannya tanpa kabar!


Bagaimana jika dia sedang menunggu kami keluar dengan mobil sewaannya?


Aku harus segera mengabarinya.


Saat aku ingin meraih ponsel di sakuku, aku kaget bukan kepalang saat sadar mode perekam suara yang aku tekan belum aku matikan sejak tadi.


Aku langsung sigap mematikannya.


Total waktu rekaman yang tadinya hanya kuperuntukkan untuk merekam pembicaraan Rahasia Celine menjadi menjadi sangat panjang hingga satu setengah jam.


Semuanya yang aku lalui tadi otomatis terekam di dalam sini.


Mulai dari percakapan di perpustakaan, perjanjianku dengan Aldebaran hingga kata-kata manis yang diucapkan Josh Rainer sebelum kami terjun dari balkon.


..


Artinya, aku bisa mendengarkan ucapan manis itu sekali lagi jika aku ada waktu luang.


Oh tidak, Selena kamu berpikir apa sih.


Aku harus menghentikan perasaan ini. Ini tidak boleh terjadi antara dokter dan pasien.


Aku kemudian segera fokus dan memencet nomor telefon Gery.


“KAMU TAHU GAK DARI TADI JANTUNG AKU DAN ANNA HAMPIR MELEDAK KARENA PESAN KITA GAK DIBALAS?” suara Gery meledak di kupingku.


Ternyata, Gery sedang bersama Anna. Dua sahabatku itu benar-benar peduli dan kalut menunggu kabar dariku.


“Maafkan aku Gery, semua sudah aman sekarang. Aku di rumah Nenek Josh Rainer. Kalian dimana?” tanyaku sambil terus berjalan mengikuti Josh menuju ke dalam rumah. Josh sendiri tampak diam dan seperti mencoba mendengar dengan siapa aku berbicara.


Gery tampak masih sewot dan tidak bisa bicara normal padaku. Akhirnya Anna mengambilalih telfon dari Gery.


“SELENA!” pekiknya.


“ANNA!” balasku


Kami bertukar sama dan memastikan semuanya aman dan sehat. Aku kembali bertanya mereka sedang dimana dan apa yang mereka lakukan bersama.


“Gery tadi ketakutan. Dia meneleponku untuk datang ke rumah Josh. Kebetulan aku lagi lewat dekat sana dan akhirnya kami menunggu kalian di luar rumah. Tapi kamu tidak membalas pesan dan malah nenek sihir itu yang muncul,” jelas Anna panjang lebar.


“Tapi kalian tidak apa-apa kan? Nenek itu tidak menangkap kalian?” kataku khawatir.


“Aman kok, saat Celine keluar bersama bodyguardnya kami langsung tancap gas kencang berbelok ke blok perumahan sebelah. Dia tidak ngeh,” katanya.


Aku bersyukur, berterima kasih atas kepedulian mereka dan meminta mereka untuk segera pulang dan istirahat saja. Aku juga memastikan bahwa dengan aku berada disini, sudah tidak ada lagi yang berani mengancam nyawaku.


Anna menutup nelfon tampak lega. Aku masih mengikuti langkah cepat Josh dan kini kami sudah berada di bagian dalam rumah.

__ADS_1


“Kamu menelepon siapa,” katanya ingin tahu, namun tidak memandangku.


Dia masih didepanku memandu jalan kelihatan tidak sehangat sebelumnya.


“Gery dan Anna, sahabatku. Mereka menunggu kita keluar dari rumah tadi berjaga-jaga mungkin kita butuh tumpangan,” balasku.


“Gery itu orang sama dengan yang mengantarkanmu malam itu?”


Cara bicara Josh kini kembali menjadi Josh Rainer yang kukenal pada awal perkenalan dulu.


Dingin.


Apa masalah Josh sehingga dia berubah cepat jadi dingin begini?


Apa dia cemburu karena aku menelepon Gery?


“Iya betul. Aku sudah cerita kan dia itu teman sejak kecilku? Dia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri,” jelasku.


Tidak ada balasan dari Josh. Dia tampak seperti boneka Ken yang tengah berjalan cepat di depanku, bedanya tidak ada senyum di wajahnya sama sekali.


Tak berapa lama, kami akhirnya sampai di lantai utama rumah megah ini.


Kali ini, tidak ada lusinan pelayan yang menunggu kedatangan kami kali ini.


Ketika kami tiba di ruang tamu, wanita setengah baya dengan gaya berbusana necis menghampiri kami.


Margaretha.


“Tuan muda,” katanya Margaretha sedikit membungkuk. “Senang sekali melihat tuan muda dalam keadaan baik.”


Josh Rainer membalas dengan tersenyum, “Terima kasih Margaretha, bantuanmu sangat berarti untuk keselamatan kami.”


Margaretha lalu menyapaku, “Dokter Selena, jika tidak ada Anda, bantuan yang saya kirimkan atas perintah Nyonya Gurnawijaya tidak ada artinya untuk keselamatan tuan muda. Terima kasih dokter.”


“Kami berhutang padamu, Margaretha,” kataku tulus.


“Saya sempat takut karena Anda tidak membalas pesan saya, saya pikir Anda tidak tahu kalau saya sudah mengatur sekuriti untuk tidak mendengarkan perintah Nyonya Celine, mengamankan area penerbangan dan mengirim helikopter,” jelasnya.


Lagi-lagi hal ini membuatku bingung.


Margaretha lah yang juga mengatur sekuriti untuk tidak berkomplot dengan Celine, bukan Aldebaran.


Ya, aku tidak sempat membuka ponsel sama sekali dan melihat instruksi Margaretha. Semua hal yang kulakukan adalah instruksi dari Aldebaran.


Tapi, bagaimana Aldebaran bisa tahu semua rencana Margaretha ini dan memberitahukannya padaku?


Dan sepertinya, Margaretha dan Aldebaran tidak dalam tim yang sama saat ini.


Dan lagipula, apa untungnya Aldebaran menyelamatkan aku dan Josh Rainer?


Aku masih dalam kebingunganku yang sama saat Josh bertanya pada Margaretha.


“Dimana nenekku?”


Margaretha menjawab dengan gerakan membimbing kami masuk kembali ke ruangan tempat aku dan Gery saat itu diadili.

__ADS_1


“Beliau sudah menunggu kalian dari tadi, silakan masuk,” ujarnya.  


Lagi-lagi, aku merasa tegang. Aku kembali terlibat untuk mengurai kusutnya urusan keluarga Gurnawijaya dan mengingat kembali tindakan berbahaya yang nyaris menimpa kami.


__ADS_2