
Becca tersenyum padaku.
Disebelahnya, si nyonya rumah yang juga Ibu Josh tampak menggamit lengan Becca. Keduanya kini berjalan menuju kearahku.
Becca dan Celine mengenakan gaun cantik yang digunakan untuk acara formal. Mereka bahkan berdandan dengan gaya rambut yang anggun. Sepertinya mereka baru saja datang ke perjamuan resmi atau suatu pesta.
Pesta apa yang diadakan pagi hari? Aneh memang, tapi itu bukan urusanku.
Di sebelahku, Rikian meminta izin untuk pamit keluar ruangan. Dengan sigap, dia meninggalkanku bertiga melakukan pembicaraan pribadi di ruang baca ini.
“Dokter Selena, jika membutuhkan apa-apa jangan segan bertanya pada saya,” katanya sembari membungkuk kepadaku, lalu membungkuk sekali lagi di depan Celine sebelum menutup pintu ruangan baca.
Celine kini memandangiku.
Entahlah, aku tidak bisa menjelaskannya namun aku sungguh tidak nyaman setiap kali dia menatapku. Rasanya seperti dia tidak percaya kemampuanku dan selalu memandangku sinis.
Mungkin saja dia memang arogan, orang kaya kebanyakan seperti itu bukan?
Pikiran negatifku dibuyarkan dengan pelukan Becca. Kami berpelukan hangat sebelum dia bertanya bagaimana kabarku.
“Aku baik Becca, terima kasih sudah menawariku pekerjaan ini,” kataku sungguh-sungguh.
“Dengan senang hati," kata Becca padaku.
“Tante Celine, Selena merupakan lulusan terbaik dari kampusku. Dia juga teman dekatku. Aku yakin Josh akan segera pulih dan kondisi akan normal lagi,” Becca menyanjungku di depan Celine.
“Benarkah?” lagi-lagi nada sinis yang keluar dari mulut Celine. Dia bahkan tampak mendengus saat tangannya mengeluarkan selembar kertas dari tas Hermes Birkin yang ia genggam dan memberikannya di depan hidungku.
Cek pembayaran untuk pekerjaan ini.
Aku mengambilnya perlahan dan memperhatikan nominal yang ada di dalam kertas pembayaran ini.
Lima ratus juta rupiah.
“Terima kasih Ibu Celine, saya berjanji akan melakukan pekerjaan saya sebaik-baiknya untuk memulihkan kembali Josh secepatnya,” kataku tegas.
“Tunggu,” ucapnya.
Dia menyetopku sembari dengan elegan duduk di kursi baca di depanku. Becca mengikutinya dengan duduk di sampingya. Kini dia tengah menyalakan rokok dan meniupnya dengan mimik yang tidak berubah.
__ADS_1
Mimik yang arogan.
“Saya berbaik hati membayar kamu di muka, namun kamu harus mengikuti aturan main disini,” ucapnya sambil menghembuskan asap rokok.
Becca tersenyum menguatkanku dan dengan isyarat mengatakan “tenang saja, bukan masalah besar.”
“Pertama, kamu tidak boleh berkeliaran sendiri di rumah ini kecuali sedang bersama Josh. Kamu tidak boleh masuk ke ruangan manapun di rumah ini dan menikmati fasilitas disini kecuali kamarmu sendiri, kamar Josh, ruang baca ini, dapur, ruang makan, ruang tamu dan taman. Sisanya terlarang.”
Aku dengan seksama mencermati ucapannya.
“Kedua, kamu tidak boleh ikut campur dengan masalah apapun yang terjadi di rumah ini kecuali hanya untuk kesehatan Josh,” tambahnya.
“Ketiga, seluruh makanan dan obat yang kamu resepkan untuk Josh tidak boleh diberikan sendiri, melainkan melalui suster pribadi Josh. Suster ini akan tiba besok dan akan langsung bekerja denganmu.”
Apa?
Untuk poin-poin sebelumnya aku mengerti, namun untuk tidak memberikan dia obat secara langsung? Apa Celine pikir aku akan meracuni Josh?
“Maaf, tapi..” aku mencoba menginterupsi, namun Ibu Celine memotongku.
“Tidak ada tapi. Keempat, setiap kamu melakukan terapi dengan Josh, suster pribadi akan selalu menemani sampai selesai. Jam berapapun dan dimanapun,” ucapnya tak memberikan aku kesempatan bicara.
“Keenam, jika kamu melanggar salah satu dari poin ini, kontrak akan berhenti dan kamu harus mengembalikan seluruh pembayaran yang kamu terima hari ini,” ucapnya.
Apa aku punya pilihan selain berkata bersedia?
“Semua pembicaraan ini saya rekam untuk aspek legal perjanjian ini, kamu harus mengatakan bersedia,” perintahnya padaku.
Becca kembali memberikan isyarat padaku untuk mengatakan bersedia. Aku tahu ini adalah konsekuensi menjadi dokter pribadi keluarga kaya raya. Namun, sejujurnya aku sangat tidak nyaman bila area observasi untuk pemulihan pasien dibatasi seperti ini.
“Ibu Celine, apa Ibu pikir saya berencana mencelakakan anak Ibu? Saya punya kode etik untuk..”
“Saya hanya butuh kamu berkata bersedia, tidak ada interupsi!” tegasnya sambil menggemertakan gigi.
Becca kembali menyemangatiku dalam diam.
Aku menghela nafas. Dia benar-benar memperlakukanku seperti boneka.
“Aku bersedia.”
__ADS_1
Celine tampak puas dan menghisap rokoknya kembali. Dia lalu kembali mengeluarkan kertas yang sudah dia siapkan di atas meja ruang baca ini.
Surat perjanjian bekerja yang berisi seluruh poin yang dia sebutkan tadi.
“Tanda tangan diatas materai,” perintahnya kembali padaku.
Aku kembali mengecek satu persatu poin tersebut dan menambahkan satu poin lagi tanpa dia minta.
“Apa yang kamu lakukan!” teriaknya.
“Tenang Ibu Celine, aku hanya menambahkan jangka waktu kesepakatan ini hanya untuk 6 bulan. Jika dalam 6 bulan Josh belum pulih, akan dipertimbangkan untuk melanjutkan pekerjaan saya atau menyetopnya,” aku berusaha tetap sabar.
“Tanda tangan sekarang,” dia lagi-lagi memerintahku dengan nada tinggi.
Jika bukan untuk membebaskan keluargaku dari keluarga Dio, aku sudah pasti akan merobek kertas ini dan membuangnya ke muka perempuan sombong ini.
Sabar, Selena.
Aku hanya betul-betul ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini dan tidak ingin berlama-lama punya hubungan dengan Celine.
Aku menandatanganinya. Dua rangkap.
Dia lalu sigap mengambil dokumen tersebut dariku. “Kamu boleh ke kamarmu sekarang.”
Celine kini membawa dokumen itu pergi keluar dari ruang baca ini. Di belakangnya Becca terlihat mengikutinya. Dia sembari mengucapkan perpisahan padaku.
“Nanti aku telfon,” kata Becca sesumbar sebelum mengekor di belakang si nyonya rumah.
Ya Becca, kamu berhutang penjelasan padaku.
Apa hubunganmu dengan keluarga ini?
Mengapa bisa keluarga ini memperlakukan seorang ahli untuk menyembuhkan anaknya seperti ini?
Mengapa Josh kemarin berlaku tidak baik kepada Ibunya sendiri?
Aku kini baru sadar bahwa enam bulan kedepan tidak akan berjalan cepat.
Namun, aku harus fokus pada apa yang seharusnya aku lakukan.
__ADS_1
Segera menyembuhkan Josh Rainer dan pergi dari rumah ini secepat mungkin.