Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
MENUNGGU WAKTU


__ADS_3

Aldebaran?


Anak haram Celine?


Aku masih berusaha memproses informasi yang baru aku terima.


Aku baru tahu jika Celine memiliki anak selain Josh Rainer.


Apakah ini ada hubungannya dengan Josh Rainer gadungan?


Dan apakah Aldebaran dan Celine terkait langsung dengan transaksi gelap perusahaan Josh Rainer senilai Rp1,2 triliun?


Yang aku tahu pasti, nama Aldebaran cukup membuat nenek Josh Rainer ngeri.


“Siapapun, tolong cek dimana lokasi Aldebaran sekarang,” perintah nenek Josh tegas.


Aku dan Gery saling berkomunikasi dalam diam.


Josh Rainer memang dalam bahaya.


Dan sepertinya, motif utama dari keganjilan yang terjadi di keluarga Gurnawijaya adalah masalah uang dan kekuasaan.


Perlahan, tabir masalah di keluarga Josh Rainer mulai terbuka.


Salah seorang staf yang diminta mengecek absensi mendekat kepada nenek Josh.


“Nyonya, betul sekali tuan muda Josh Rainer tidak pernah absen sidik jari selama dua minggu ini di kantor.”


Aku dan Gery kembali berpandangan. Gery kini menyeringai memperlihatkan giginya yang menggunakan behel.


“Dan Nyonya, saya sudah cek posisi tuan nuda Aldebaran. Dia sudah tidak tinggal di Eropa, kini dia sedang di Singapura,” kata salah satu staf Nenek Josh menyeletuk.


Singapura!


Itulah mengapa Celine belakangan ini selalu berpergian ke Singapura karena dalih perjalanan bisnis.


Nyonya Gurnawijaya, tanpa disangka, sedang tertawa di kursinya.


Tertawa kesal karena merasa sedang dipermainkan.


Tak lama setelah tertawa keras, nenek Josh kini mencoba menenangkan dirinya.


“Dokter Selena, dengan kegilaan yang terjadi saat ini, terima kasih sudah datang pada kami. Kami akan segera mengurus semuanya.”


Mengurus semuanya? Maksudnya juga mengeluarkan Josh Rainer dari rumah itu kan?


"Juga menyelamatkan Josh sesegera mungkin?" tanyaku mengafirmasi.


Kini nenek Josh sudah berdiri dari kursi kerjanya.

__ADS_1


“Kami perlu strategi karena sedang berhadapan dengan ular buas,” katanya tegas.


“Sembari saya pulang ke Indonesia untuk menyelamatkan Josh Rainer, saya boleh minta bantuan sekali lagi untuk menjaga cucu kebanggaan saya?”


Aku terenyuh mendengar pemintaan tolong itu. Sungguh lirih namun terdengar khawatir.


Dia sangat khawatir terlambat melakukan tindakan untuk menyelamatkan cucu kebanggaannya.


“Saya akan melakukan semampu saya, Nyonya,” kataku pada akhirnya.


“Terima kasih Dokter, saya harap semuanya belum terlambat. Untuk keselamatan Josh dan masa depan Josh.”


Aku sebetulnya tidak mengerti maksud masa depan Josh yang nenek Josh bicarakan. Namun, kemungkinan besar berkaitan dengan masa depan perusahaan Gurnawijaya yang sepenuhnya telah berada di tangan Josh namun berpotensi berpindah tangan bila nenek Josh tidak melakukan gerakan cepat.


“Nyonya, mungkin informasi ini bisa berguna untuk Anda. Namun, Celine dalam dua minggu ini selalu bolak-balik Jakarta-Singapura. Dia juga sering masuk ke kamar Josh Rainer saat malam. Kemungkinan itu ada hubungannya dengan masalah ini, terutama soal sidik jari,” kataku mencoba menjelaskan.


“Ya Dokter, saya rasa juga demikian. Kamu pintar sekali dan juga berani,” pujinya padaku.


Aku merasa wajahku memerah. Nyonya Gurnawijaya punya kharisma dan kebijaksanaan yang besar sekali hanya dengan kita berbicara padanya. Tak heran aku jadi bersikap malu saat dipuji olehnya.


“Dan cucu anda sangat cerdas sekali, Nyonya. Luar biasa pintar. Saya hanya mengikuti permainannya,” kataku merendah.


Nyonya Gurnawijaya berpamitan pada kami dan ingin segera berkemas untuk menuju Indonesia saat rasa penasaranku kembali muncul dan tak mampu terbendung.


“Nyonya maafkan saya bila lancang, namun saya masih tidak percaya mengapa bisa Celine yang melahirkan Josh Rainer mau mencelakakan anaknya sendiri?”


Nenek Josh tampak sedih mendengar pertanyaanku.


Dia mematikan videonya.


Ternyata ini alasannya mengapa Celine tega meracuni Josh.


Josh bukan darah dagingnya!


Josh hanyalah anak tirinya.


Dengan begini semua masuk akal. Semua pengawasan ketat dan obat palsu itu adalah untuk membuat Josh Rainer terus melemah. Di waktu yang sama, Celine sedang mengeruk uang perusahaan untuk keuntungannya sendiri.


Bersama anak kandungnya, Aldebaran.


Yang kuduga sama liciknya dengan Celine.


“Dokter Selena, maafkan perlakuan kasar kami tadi kepada Anda dan teman Anda,” Margaretha membuyarkan pikiranku.


“Silakan menuju ruang makan, kami sudah menyiapkan makan malam untuk kalian.”


Aku dan Gery bertatap-tatapan. Setelahnya bunyi kencang terdengar dari perut Gery.


Kami kelaparan dan lupa mengisi perut kami sebelum pergi hingga kosong.

__ADS_1


“Lumayan, abis ini kita bakal dua jam perjalanan menuju Jakarta kan,” kata Gery kesenangan dan langsung berlari mengikuti Margaretha menuju ruang makan.


Kami menghabiskan makan malam tergesa-gesa karena tidak ingin sampai ke rumah kemalaman. Besok, aku harus kembali mengurus Josh Rainer sedangkan Gery bekerja seperti biasa dari pagi. Saat ini, jam sudah menunjukkan pukul  9 malam.


Di tengah makan malam kami, aku sempat menanyakan rasa penasaranku kepada Margaretha.


“Ibu Margaretha, apakah hubungan Celine dan Josh Rainer sangat buruk?”


Margaretha tampak bingung menjawabku.


“Saya rasa, saya tidak punya hak membicarakan hal ini Dokter maaf,” katanya.


“Namun, memang dari kecil tuan muda Josh Rainer tidak pernah menganggap Celine adalah ibunya.”


Aku mengangguk tanda mengerti.


Semua tantrum yang dilakukan Josh aku rasa adalah luapan kebencian yang selama ini sudah dia pendam terhadap Celine.


Setelah makan malam, kami berpamitan untuk pulang. Aku dan Margaretha saling bertukar nomor telfon untuk saling membagikan info perihal rencana penyelamatan Josh Rainer.


“Tolong bantu jaga tuan muda, Dokter. Sampai bantuan dari nyonya datang,” harap Margaretha padaku.


“Pasti, Bu,” aku berlalu dan kembali dibonceng oleh Gery menuju Jakarta.


Dua jam perjalanan dari Sentul menuju Jakarta sangat menyiksa. Utamanya angin malam dan beberapa jalan yang tidak mulus yang membuat motor Gery harus melompat-lompat mengarungi terjalnya jalan.


Tanpa sadar, aku tertidur di jalan sambil memeluk Gery dari belakang.


Saat tersadar, aku tengah dicubit oleh Gery untuk bangun. Tepat di depan rumah mewah Josh Rainer.


“Sel, badanmu ini mau aku lempar ke depan pagar atau aku gendong tapi bayarin pijat refleksi sampai seminggu kedepan?” tawar Gery padaku.


Aku benar-benar capek dan merasa energi sangat terkuras.


“Gendong ke dalam dan aku bayarin jasa pijat refleksi sampai sebulan kedepan.”


Gery teriak kegirangan dan cepat saja dia menggendongku dibelakang bahunya menuju ke dalam rumah.


“Aku yang pesanin tukang pijatnya ya. Bapak-bapak modal pakai balsem dan minyak angin yang buka praktek di Pasar Senen,” kataku sekenanya.


Gery tampak kecewa karena dia membayangkan jasa pijat refleksi oleh wanita muda yang tempat prakteknya berada di tempat gaul Jakarta. Aku menolaknya supaya dia fokus ke jasa pijat refleksi untuk menyegarkan badan, bukan untuk kenalan sama terapis pijat wanita.


Gery terus mengoceh sampai kami tiba di teras rumah. Dia kemudian pamit dan aku mengucapkan terima kasih pada sahabatku itu dengan memeluknya singkat.


“Thank you banget. Aku enggak tau kalau enggak ada kamu bakal kaya gimana tadi.”


“MAKANYA TRAKTIRNYA DI PIJAT REFLEKSI CEWEK DONG!”


Aku tidak mau mendengarkan ocehan Gery dan langsung kabur masuk ke dalam rumah Josh Rainer. Gery masih menggerutu sebelum dia kembali ke luar dan pulang dengan motor gedenya.

__ADS_1


Tanpa aku tahu, sepasang mata tajam memperhatikan gerak-gerikku dari balkon sedari tadi. Mulai dari Gery menggendongku hingga kami berpelukan.


Mata itu adalah milik Josh Rainer.


__ADS_2