
Sudah sepekan aku dan keluargaku berada di California, Amerika Serikat dan tinggal di rumah kekasihku, Josh Rainer Gurnawijaya.
Sudah sepekan juga aku meninggalkan kegilaan yang terjadi di Indonesia, bisa tidur nyenyak tanpa ada gangguan apapun, dapat melihat ayahku berangsur-angsur pulih dari penyakitnya dan semakin mencintai kekasihku yang baru itu.
Dan entah mengapa semakin aku mengenal Josh Rainer, semakin aku tidak ingin melepaskannya.
Meskipun, dalam seminggu ini banyak hal yang baru aku ketahui tentangnya.
Hal baru yang benar-benar mengejutkan. Yang menjelaskan bahwa dia telah menjalani hidup yang sangat pelik sebelum bertemu denganku.
Mulai dari hubungan Josh Rainer dan Ale yang sebenarnya adalah anak kembar, Celine yang sejak awal sudah berniat memisahkan dua saudara ini untuk diakui menjadi anaknya, hingga kisah cinta Josh dengan Helena yang tidak semanis yang kupikirkan.
Belum lagi, soal Nenek yang belum tahu bahwa Ale adalah cucu kandungnya sendiri, hubungan Celine yang sebetulnya sudah terjadi sebelum ayah dan ibu Josh menikah, hingga perkembangan Becca yang saat ini masih belum sadarkan diri.
Semakin mengetahui betapa pelik hidupnya, semakin aku ingin memegang tangannya untuk bersama-sama menjalani hidup yang tersisa di masa depan.
Aku menemukan kehangatan dan penerimaan sebagaimana dulu Dio memperlakukanku.
Josh yang gentle, sangat perhatian, penyayang dan sangat peduli padaku.
Bagi seorang yang selalu mengedepankan logika dan rasionalitas sepertiku, seluruh guyuran kasih sayangnya terasa seperti memindahkanku duniaku ke surga.
Seluruh tindakan romantisnya, kata-kata manisnya, dan semua atensi yang dia berikan padaku benar-benar tidak bisa kutukar dengan apapun. Dia tak hanya memperlakukanku bak ratu, namun juga sanggup untuk memberikanku Bulan jika aku memintanya.
Aku tidak perlu apapun lagi di dunia ini.
Josh Rainer saja bagiku sudah cukup.
Dan yang membuatku lebih bahagia, Josh Rainer bertingkah seperti budak cinta padaku atau yang sering disebut “bucin”.
Saking bucinnya, dia suka menginterogasi seberapa jauh hubunganku dengan para teman dan rekan kerjaku terdahulu.
Di malam-malam kami bersama, dia kerap mengorek detail mengenai persahabatanku dengan Gery hingga hubungan pekerjaan antara aku dan Dokter Bernard. Dia bertanya rinci sekali dan seperti ingin memastikan bahwa para pria tersebut tidak tertarik denganku.
Bukan hanya itu. Beberapa kali saat kami sedang makan di luar rumah, mata Josh kelayapan memperhatikan sekitarku. Dia sibuk memastikan tidak ada laki-laki yang menaruh atensi terhadapku!
Dia bahkan memilihkan sendiri gaun malam yang tertutup untuk aku pakai, supaya tidak terlalu mengundang perhatian laki-laki hidung belang California.
Josh bahkan kini mengganti profile picture whatsappnya dengan potret diri bersamaku. Foto itu diambil saat kami berjalan ke Pantai Malibu di California tiga hari lalu. Padahal, di foto itu dia tampak seperti orang yang sedang menahan pipis sedangkan aku terlihat sangat sumringah.
Tak sampai disitu saja, setiap pagi, dia selalu mengetuk pintu kamarku, membangunkanku, membawakanku buket bunga dan mengecup keningku dan mengatakan kata-kata puitisnya yang biasa.
“Selamat pagi, matahariku..”
“Kamu adalah hal terindah yang diberikan Tuhan padaku untuk hari ini dan seterusnya”
“Selalu kamu yang aku ingat di saat aku membuka mata pagi hari. Aku mencintaimu..”
Bucin sekali bukan? Namun entah mengapa semua perlakuannya itu bagiku sangat imut!
Dan pagi ini, aku menemukannya jauh lebih bucin dari biasanya.
Dia mengetok kamarku, namun herannya kali ini dia tidak membawa bunga sama sekali.
Aku mengucek mataku dan mencium pipinya mesra,sambil mengatakan, “Selamat pagi, Sayang, dimana bungaku?”
Dia hanya menggeleng pelan dengan tangan terlipat di belakang punggungnya.
“Kata orang mendengarkan musik saat pagi akan membuat moodmu bagus sepanjang hari. Aku persembahkan musik ini buatmu,” dia lalu memperlihatkan tangannya yang tengah menggengam biola kesayangannya.
Dan kemudian dia memainkan musik indah dari biolanya, yang membuatku serasa kembali ke masa-masa kejayaan Wolfang Amadeus Mozart saat melahirkan karya masterpiece-nya.
Bagaimana aku tidak kepincut dengan semua perilaku manisnya?
Dia membangunkanku dengan romantis setiap pagi dan selalu mengecup keningku mesra saat aku ingin tidur di malam hari.
Aku adalah perempuan yang paling beruntung di Indonesia!
__ADS_1
Aku masih memperhatikannya sambil tersenyum saat aku tersadar alasan dia tidak membawakan Bunga padaku pagi hari inu karena di luar sedang hujan deras.
Dia memang tidak bisa mengambil seikat-dua ingat bunga yang basah untukku, namun dia menukarnya dengan permainan sang maestro level internasional yang muktahir.
Aku semakin menggilaimu, Josh.
....
Hari ini, adalah hari terakhir ayahku mendapatkan perawatan intensif oleh dokter kenalan Josh di UCLA Medical Center.
Setelah itu, ayah bisa berobat rawat jalan dan kembali ke Indonesia karena kondisi lambungnya sudah cukup stabil.Namun, dokter tetap menyarankan ayah untuk check up paling tidak enam bulan sekali untuk evaluasi treatment.
Artinya, kami semua akan segera kembali ke Indonesia secepatnya.
Josh sendiri sudah terlalu lama disini. Dia punya perusahaan yang harus dia pimpin dan kejahatan ibu tirinya yang harus segera dia bereskan.
Ya, masa-masa liburan kami telah berakhir dan inilah saatnya kami akan menghadapi kembali berbagai tantangan dalam hidup.
Namun, saat aku mengingatkannya pagi ini tentang kami harus segera kembali ke Indonesia, Josh malah mengatakan hal yang tidak sesuai ekspektasiku.
“Sayang, aku tidak bisa kembali ke kantor karena masih berpura-pura amnesia. Nenekku dan Al sudah mengendalikan perusahaan, jadi kita masih bisa berlama-lama disini,” ujarnya dengan nada datarnya yang biasa.
“Mau sampai kapan kamu harus berpura-pura? Dan mau sampai kapan Celine dan Becca bebas dari hukuman yang seharusnya dia dapatkan?” tanyaku butuh keadilan.
Ya, aku masih tidak terima dua orang yang nyaris membunuhku dan Josh itu masih berkeliaran dan menikmati kebebasannya di Indonesia. Celine atas rencana pembunuhan Josh Rainer dan mengkambinghitamkan aku, sedangkan Becca untuk penyekapan, penculikan yang nyaris menghilangkan nyawa kami.
Saat ini, kami seharusnya sudah berkendara menuju rumah sakit untuk menjemput ayah dan ibuku. Namun, argumen ini membuat kami kembali terduduk di sofa dan kembali mendiskusikannya.
“Aku sudah bilang padamu kan Becca sedang dalam pengobatan fisik dan mentalnya. Celine sudah diasingkan oleh Al. Keduanya saat ini tidak bebas berkeliaran, mereka benar-benar dijaga ketat dan tidak bisa kemana-mana," ujar Josh Rainer meyakinkanku.
Dia lalu melanjutkan.
“Saat ini aku sedang mencari bukti seluruh kejahatan mereka. Jika sudah terkumpul aku akan segera memprosesnya ke jalur hukum. Jadi, tolong sabar, Sayangku," jelas Josh Rainer sambil mencium tanganku.
Tak sampai disitu, dia kembali meyakinkanku. "Saat ini aku masih harus berpura-pura untuk tidak memunculkan berbagai pertanyaan publik. Namun aku pastikan semuanya sudah kuatur sesuai rencanaku.."
Dari sebelumnya sangat manis, menjadi sangat dingin.
“Kamu tidak suka berada disini?” tanyanya pelan.
Si pangeran tampaknya sedang merasa sensitif.
“Bukan begitu, Josh. Aku selalu suka dimanapun aku menghabiskan waktu bersamamu. Tapi, aku juga ingin melanjutkan hidupku," aku mencoba mencari kata yang tepat agar tidak menyinggungnya.
Aku melanjutkan, "Dan aku butuh dua orang ini dihukum sesuai aturan yang berlaku sehingga aku dapat merasa aman dan bisa melanjutkan hidupku dengan normal,” aku mencoba memberitahunya pelan-pelan.
Josh tampaknya masih mencerna penjelasanku.
“Beri aku waktu satu bulan..” Josh Rainer seperti berusaha menahan emosi saat mengatakannya.
Aku melihat perubahan emosi yang drastis padanya, dan ini merupakan hal yang jarang sekali terjadi.
Josh selalu tenang di depanku. Datar dan bahkan seperti tidak pernah menyimpan amarah setiap kali bicara padaku.
Namun, kali ini dia berbeda.
Apakah aku membuatnya marah?
Apakah meminta kepastian soal Celine dan Becca membuatnya menjadi emosional?
Mengapa?
“Kamu tidak apa-apa?” aku kini sudah tidak peduli lagi dengan isi pembicaraan kami.
Josh terlihat memejamkan mata dan kemudian dia bangkit dari duduknya.
“Kita harus segera ke rumah sakit,” tutupnya tidak banyak bicara.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Josh memilih untuk menyetir sendiri, tanpa supir. Dan sepanjang itu pula, kami tidak bicara apapun.
“Josh.. apakah aku membuatmu kesal?” tanyaku to the point.
Josh masih menyetir dan seperti ingin menghiraukanku.
“Tidak.. aku hanya kecewa karena waktu kita bersama akan selesai jika kita kembali ke Indonesia,” ujarnya tanpa melihat ke arahku.
Benarkah begitu?
“Josh, jika itu masalahmu aku berjanji kita akan bertemu setiap hari. Akupun harus mendapatkan pekerjaanku kembali jadi kemungkinan masih banyak waktu luang untuk kita menghabiskan..” kata-kataku terpotong dengan raungan kencang mobil Josh.
Dia menarik pedal gas dan semakin ngebut.
Apa yang terjadi padanya?
Aku akhirnya tidak melanjutkan kata-kataku dan memilih diam sampai akhirnya kami tiba di rumah sakit tempat ayahku dirawat.
Ibuku sudah menemani ayah sejak kemarin dan aku kini membawakan rantang makanan untuknya, yang telah dimasak oleh koki kenamaan di rumah Josh.
Hari ini, Ibu memang kelihatan aneh. Dia bersikeras ingin meminta makan siang yang disiapkan oleh koki di rumah Josh. Padahal, makanan di rumah sakit juga tidak kalah enaknya.
Mungkin, dia memang tergila-gila dengan masakan standar michelin yang selalu dimasak oleh koki dirumah Josh.
Mobil terparkir. Aku bergegas turun dari mobil dan langsung berjalan menuju rumah sakit. Saat sudah mencapai lobby, aku menyadari Josh Rainer tidak berjalan bersamaku.
Dia tidak ada disampingku.
Apa dia sengaja meninggalkanku?
Aku kebingungan dengan sikapnya.
Apa yang terjadi?
Saat ini, ponselku masih belum dikembalikan sehingga aku tidak bisa menghubunginya.
Apakah dia marah padaku?
Kenapa dia harus marah? Apa yang salah dengan diskusi kami tadi pagi?
Aku berpikir keras sekaligus juga menunggunya. Mungkin saja dia sempat ke toilet dulu sebelum menuju lobby.
Setelah sepuluh menit aku menunggunya, aku menyadari Josh tidak akan kemari.
Inikah sisi lain dari Josh Rainer yang tidak kuketahui?
Bukankah seharusnya aku yang kesal? Sudah ditinggalkan begitu saja, kasus Celine dan Becca pun dibiarkan menggantung begitu saja.
Seharusnya aku bukan yang marah disini?
Kenapa dia harus bereaksi seperti anak kecil begini?
Sambil bersungut-sungut, aku akhirnya masuk sendiri ke rumah sakit.
.
.
.
Duh kira-kira Josh Rainer kenapa ya? Ada yang bisa menebak?
A. Josh takut Selena akhirnya akan tahu tentang kecelakaan yang menewaskan Dio 😭
B. Josh kesal karena dia masih ingin lama-lama liburan bareng Selena 🤔
C. Josh lagi pura-pura aja mau kasi kejutan ke Selena 💙
__ADS_1
Isi di kolom komentar yuk!