
Kepalaku pening.
Mataku berat.
Seperti ada beban yang berat sekali di kedua kelopak mataku untuk bisa membuka mata.
Pusingnya kepalaku semakin menjadi saat silaunya cahaya mencoba memasuki mataku.
Butuh waktu beberapa detik untuk menyesuaikan mata dengan cahaya yang berlomba-lomba masuk ke dalan pupilku.
Sampai akhirnya mataku menjeblak terbuka.
Hening.
Dan tersadar bahwa aku sedang berselimut di tempat tidur. Di tengah kamar yang tidak ku kenal.
Aku dimana?
Tak butuh waktu lama, otakku berdesing dan memikirkan ulang apa yang terjadi sebelumnya.
….
Oh tidak.
Aku habis dibius oleh Aldebaran!
Dengan sigap, aku langsung berdiri dari tempat tidurku.
Saking cepatnya membuat jantungku tidak beraturan iramanya.
Aku dimana?
Apa yang dilakukan dia padaku?
Dan dimana dia?
Kepalaku tidak berhenti berdesing. Jantungku sudah tidak bisa dikontrol lagi degupnya.
Cemas. Takut. Khawatir.
Dengan gerakan cepat, aku langsung berlari menuju pintu.
Mencoba memutar kenop sepelan mungkin.
Dikunci.
Aldebaran memblok akses keluarku.
Dia menyekapku.
Kurang ajar!
Aku mengigiti bibir, masih mencoba berpikir apa yang harus kulakukan.
Saat aku tersadar ada yang aneh di tubuhku.
Aku mengenakan gaun tidur.
Dengan jantung yang berdetak, aku lalu memeriksa keadaanku.
Berjalan ke arah cermin untuk memastikan aku baik-baik saja.
Oh tidak.
Aku tidak baik-baik saja.
Setelah menyaksikan penampilanku di depan kaca saat ini.
Aku melihat gambar diriku sendiri yang telah berganti pakaian.
Dari pakaian formal yang diberikan oleh Margaretha, menjadi gaun tidur tipis berwarna pink dengan kerah rendah.
Oh tidak.
Pasti Aldebaran yang mengganti bajuku!
Artinya… dia sudah melihat seluruh tubuhku?
Aku terduduk lemas di tempat tidur saat ini.
Memikirkan Aldebaran yang mencoba membuka paksa bajuku dan menggantinya dengan gaun tidur saat ini.
Memalukan dan menjijikan.
Kesal, kesal, kesal!
Apa dia melakukan sesuatu yang lain kepadaku?
Apa dia mencoba... memerkosaku?
__ADS_1
Aku mencoba mencari jejak di tubuhku namun aku tidak menemukan apapun.
Tidak ada bekas ciuman. Dan tidak ada bercak di tempat tidur.
Aku sedikit lega. Meskipun aku masih tidak bisa menghilangkan pikiran marahku saat Aldebaran dengan sengaja membuka pakaianku.
…
Aku sungguh menyesali kebaikan hatiku yang begitu bodohnya percaya padanya.
Pada Ale, kakak laki-laki yang sebetulnya sangat aku rindukan.
Benar-benar aku rindukan. Aku masih ingat malam-malam setelah kepergiannya yang kutangisi secara diam-diam.
Ale adalah penghiburku, teman bermimpiku dan kakak yang selalu berusaha melindungiku.
Aku sangat bahagia saat tahu bisa menemukannya kembali.
Namun, aku tidak pernah membayangkan Ale ternyata memiliki motif dan tega memanipulasi aku, yang bertahun-tahun menunggunya kembali.
Untuk mengambil hatiku, sejak awal dia menggoda dan mengajakku menikah.
Untuk membuatku percaya padanya, dia menceritakan bahwa aku selalu menjadi ratu di hatinya.
Untuk membuatku luluh, dia bilang keluargaku adalah rumah baginya.
Kenyataannya, dia menipuku.
Benar-benar hebat menipuku.
Dia tahu aku akan terkesan dengan cerita lama kami saat waktu kecil dulu.
Dan dia menggunakan itu untuk membuatku percaya bahwa dia selalu menjadi orang baik dan sosok yang paling tepat untuk berada di sampingku.
Nyatanya, semuanya palsu.
Ya, manusia memang selalu berubah. Kadang menjadi orang yang tidak bisa kita kenali lagi.
Dalam kasus ini, aku sudah kehilangan Ale.
Ale yang kukenal sudah tiada.
Dia berubah menjadi Aldebaran , yang tidak jauh berbeda dengan ibunya sendiri.
Celine si bengis, yang ingin menjebloskanku ke penjara dan membunuh Josh Rainer demi harta.
Aldebaran dan Becca.. mereka cocok sekali, begitu kan?
Sama-sama tidak berperasaan dan rela memanipulasi orang terdekat untuk kepentingannya sendiri.
Aku marah.
Tapi aku tidak bisa diam saja.
Tapi aku harus bergerak cepat.
Aku harus keluar dari kamar penyekapan ini sekarang juga.
Meskipun…
Aku merasa tidak seperti disekap.
Kamar ini memang tidak sebesar kamarku di rumah Josh Rainer. Namun kamar ini terlihat cukup mewah.
Kasurnya yang besar, lemari yang kokoh, hingga sofa berbulu di samping jendela.
Jendela!
Aku lalu lari kearah jendela. Menyibak tirai dan membuka daun jendela saat aku melihat pemandangan yang tidak biasa.
Hamparan pohon-pohon tinggi yang rindang memenuhi pandanganku.
Ternyata, saat ini aku sedang berada di daerah pegunungan.
Aku sedang berada di villa besar di puncak gunung.
Aku melongok ke bawah dan sudah pasti tidak ada jalan untuk lompat dari sini selain jatuh ke jurang yang dalam.
Aku terkurung.
Mencoba untuk berfikir jernih, aku membuka jendela dan membiarkan cuaca dingin malam hari masuk ke dalam kamarku yang hangat.
Aku baru sadar bahwa kamarku dilengkapi pemanas ruangan. Dan aku cukup keringatan karena khawatir dan gugup dengan semua yang terjadi.
Apakah ini villa Aldebaran?
Dan apakah Celine dan Becca juga ada disini?
Namun, ada yang janggal.
__ADS_1
Jika dia ingin mengumpankanku, mengapa dia repot-repot mengurungku di kamar sebagus ini?
Jika dia ingin mengurungku, mengapa dia membiarkanku bebas begini?
Mengapa dia tidak mengikat tanganku dan meletakanku di basement saja?
Apa ada sesuatu yang tidak kumengerti disini?
Apa ada yang kulewatkan?
Aku memandang sekitar kamar sampai akhirnya aku menyadari ada yang hilang.
Tas tanganku.
Yang berisi ponsel milikku.
Tanpa gerakan babibu, aku langsung mencari tasku di seluruh pojok kamar ini.
Dan tidak ditemukan dimanapun.
Apa Aldebaran sengaja mengambil tasku supaya aku tidak meminta pertolongan?
Apa Aldebaran sengaja agar aku tidak kabur?
Aku kini mencoba membuka seluruh laci dan lemari untuk menemukan adakah petunjuk atau alat pertolongan.
Kosong.
Tidak ada apapun di kamar ini. Bahkan pakaian bekasku tidak ada di kamar ini.
Selena, ayo berpikir.
Apa yang bisa kulakukan untuk mengabari keluargaku?
Bagaimana caranya agar aku meminta pertolongan dari sini?
Aku ingin sekali menggedor pintu dan kemudian berlari ke luar pintu saat Aldebaran atau orang yang ditugaskan untuk menjagaku datang.
Tapi bisakah aku kabur dari mereka?
Bisakah aku melawan kekuatan mereka?
Namun, aku benar-benar tidak ada jalan keluar.
Selain pintu keluar kamar ini.
Namun, aku yakin ini semua sia-sia.
Sekalipun aku bisa keluar, mereka tidak akan melepaskanku. Apalagi aku tidak familiar dengan villa ini.
Jika...
Jika Josh Rainer tahu aku sedang terpojok begini, apakah dia akan menyelematkanku?
Atau dia tidak peduli karena Helena sudah kembali ke sisinya?
Oh, sudahlah Selena.
Aku rasa aku harus menghentikan seluruh hubunganku dengan Gurnawijaya.
Entah itu Josh Rainer maupun Aldebaran.
Mereka tidak layak mendapatkan atensiku.
Yang satu, menyatakan cinta saat masih memiliki kekasih. Yang satu, menipuku dan berani menyekapku begini.
Aku hanya ingin hidup yang damai.
Dan jika hidup yang damai bisa kudapatkan tanpa mereka, aku akan memilihnya.
Aku akan pergi jauh bersama keluargaku. Hidup nyaman dan tenang tanpa huru hara keluarga konglomerat ini.
Tapi, bisakah aku keluar dari sini?
Bisakah aku keluar dari sini hidup-hidup?
Saat tengah melamun memikirkan nasibku, tiba-tiba saja aku tersadar ada satu kertas diatas meja kerja di samping tidurku.
Kertas itu ada diatas buku agenda di atas meja kerja. Dan dikertas itu ada tulisan yang tercetak rapi.
Mengapa aku tidak melihatnya sejak tadi?
Aku segera mendekat dan mengambil satu-satunya kertas yang tergeletak di sekitarku itu.
Dan merinding melihat pesan yang tertera di atasnya.
"Aku pergi untuk kembali menyiapkan rencana pernikahan kita."
Aldebaran.
__ADS_1