
Aku masih tidak menyangka.
Aku akan menjadi Nyonya Gurnawijaya sebentar lagi!
Setelah aku mengalami bertubi-tubi kesedihan, pengkhianatan, pemufakatan jahat, sampai penculikan yang nyaris menghilangkan nyawaku dan orang-orang terkasihku dalam sebulan terakhir.
Siapa sangka aku akan mendapatkan kebahagiaanku secepat ini?
Aku tidak bisa meminta lebih kepada Tuhan selain bersyukur dengan apa yang telah kudapatkan.
Ya, aku akan menikah dengan Josh Rainer..
Tangan yang menggengam erat bahuku ini akan selamanya menghangatkanku.
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi saking bahagianya!
Dan aku sangat ingin selamanya merasa begini...
Merasa bahagia karena jatuh cinta dan dicintai..
Apalagi yang kamu butuhkan didunia ini selain merasa aman dan bahagia dengan orang yang kamu cinta?
Aku memandanginya, yang tengah memberikan bahunya untuk aku bersandar.
Josh balas memandangku dan mengelus kepalaku lembut.
Saat ini sudah sore hari dan kami kini berada di Pantai Point Dume Beach, di Malibu, Los Angeles. Kami duduk diatas tikar pasir di depan pemandangan indah pantai ini sepulangnya kami dari rumah sakit.
Aku kembali mengingat momen itu dan rasanya aku benar-benar tidak akan pernah melupakan momen ini seumur hidupku.
Bagaimana tidak?
Setelah selesai dengan kejutan lamaran, Josh Rainer lalu mencium tangan kedua orang tuaku dan berterima kasih atas restu yang telah mereka berikan.
Dia lalu berjanji kepada kedua orangtuaku bahwa seumur hidup dia akan membahagiakanku dan juga mereka.
Ya, Josh juga berjanji akan membahagiakan ayah dan ibuku.
Aku nyaris tidak pernah mendengar ada pria yang berjanji untuk juga membahagiakan kedua orang tua pasangannya saat menikahi anaknya.
Bahkan, Dio pun dulu tidak pernah berjanji sebagaimana yang Josh lakukan.
Ya...Josh tahu bahwa orang tuaku adalah yang paling penting dalam hidupku.
Dia tahu bahwa aku akan bahagia jika kedua orangtuaku bahagia.
Karena itulah dia berjanji untuk membahagiakan kedua orang tuaku agar aku terus merasa bahagia..
Josh...
Kamu benar-benar spesial dan mengambil tempat penting dihatiku..
Aku masih bersandar padanya diatas hamparan pasir.
Memandang ombak pantai yang riaknya seakan melambai-lambai mengajakku untuk masuk ke dalamnya.
“Kamu ingin berenang?” tanya Josh seperti bisa membaca pikiranku.
Aku mendelik padanya.
“Hanya jika kamu juga ingin berenang,”kataku padanya.
Josh tertawa kecil.
“Aku punya trauma dengan air laut. Dulu aku pernah berselancar di salah satu pantai dekat sini dan nyaris tenggelam,” katanya dengan wajah khawatir.
Aku bersimpati padanya.
“Oh maafkan aku. Jika aku tahu kamu punya trauma dengan pantai, aku tidak akan mengajakmu kesini. Kamu ingin pulang sekarang?” tanyaku cemas.
Josh menggeleng sambil memilin rambutku.
“Sayang… aku rasa aku harus meredakan ketakutanku dan mulai berenang lagi. Bagaimana aku bisa menjagamu yang suka berenang ini jika aku saja tidak mampu menjaga diriku sendiri?” katanya lembut.
Aku mencium pipinya.
“Aku tidak mau membahayakan mentalmu hanya karena keegoisanku. Lagipula, aku cukup mahir berenang. Kamu tidak usah khawatir,” kataku sambil mencubit kedua pipinya.
Josh tampak tak puas.
“Aku tetap akan berlatih. Tapi jika kamu ingin berenang sekarang, aku akan menunggumu disini,” ujarnya pelan.
Aku menggeleng dan kemudian melingkarkan tanganku ke bahunya.
“Aku memilih untuk bersandar di bahu calon suamiku saja sambil menunggu sunset tiba,” kataku sambil meletakkan kepalaku di dadanya.
Badan Josh Rainer tampak tersengat setelah aku memanggilnya calon suami.
“Bisa katakan sekali lagi?” pintanya seperti anak kecil padaku.
“Bersandar di bahu?” kataku menggodanya, tahu bahwa bukan ini yang dia maksud.
“Kata-kata setelahnya.. katakan sekali lagi, aku mohon?” ujarnya tak sabar.
Aku tersenyum menggodanya.
“Calon suamiku..” kataku pelan tepat dibawah kupingnya.
Kata-kata itu memang mengandung matra yang memantik reaksi Josh Rainer.
Tanpa aba-aba, dia lalu mendaratkan bibirnya yang lembut ke bibirku.
Dia lalu menarik badanku semakin dekat padanya. Mencium bibirku dengan penuh gelora.
Menemukan lidahku dan tidak mau melepaskan permainan lidahnya hingga membuatku sulit bernafas.
Entah mengapa dia sangat bersemangat sekali kali ini.
Apakah karena aku baru saja memberikan kepastian akan menikah dengannya?
Atau karena efek aku memanggilnya sebagai calon suamiku?
Apapun itu, aku berusaha bernafas di tengah ketatnya cumbuan maut Josh padaku.
Aku mulai mengimbangi permainannya.
Dan mulai menikmatinya.
Bibirnya kini turun ke leherku dan aku menarik rambut cepaknya untuk menjawab bahwa aku tidak ingin permainan ini selesai.
__ADS_1
Tangan Josh kini mulai bergerak ke pahaku, berusaha menyingkap dress sepanjang lututku untuk terangkat lebih tinggi.
Oh.. ini akan menjadi sore yang sangat intens.
Tiba-tiba aku tersadar bahwa kami saat ini berada di ruang publik.
Meskipun ini adalah tanah Amerika yang cenderung bebas, namun tetap saja aku merasa tidak nyaman berciuman mesra dengan kekasihku di tempat terbuka seperti ini.
Aku dengan cepat merangkak dan duduk di paha Josh.
Aku lalu menangkap wajahnya dan mencoba menghentikannya.
Namun, sepertinya aku melakukan gerakan yang salah.
Karena Josh malah mengerang dan tampak tak ingin menghentikan sentuhan mulutnya di wajahku.
“Josh.. tidak enak.. kalau.. orang lihat..” kataku mencoba mengingatkannya.
Josh tampak tidak mengendurkan gempurannya.
Dia kembali menciumi bibirku dengan liar dan tangannya kini sudah berada di pinggangku!
Dia malah semakin erat mencumbuiku!
Aku mencoba mencari cara untuk menghentikannya.
Akhirnya, aku menggigit lidahnya untuk membuatnya berhenti.
Dia tampak kaget dan kemudian tertawa.
“Sayang.. tidak usah khawatir. Aku sudah membeli tempat ini. Tidak akan ada yang akan lewat dalam radius 1 kilometer dari sini,” ujarnya pelan dan kembali ******* bibirku.
Aku berusaha kembali menguasainya.
“Kamu bisa membeli pantai? Kok bisa? Dan buat apa? Kenapa boros sekali?” tanyaku bertubi-tubi.
Aku kini sudah mencubit dua pipinya agar dia berhenti menciumku dan mendengarkanku sebentar saja.
Dia akhirnya kini benar-benar menghentikan gempuran intensnya.
“Karena aku tahu calon istriku sangat suka pantai dan ini adalah pantai pribadi paling indah di Malibu. Aku ingin tidak ada yang menggangu calon istriku saat sedang berenang disini,” ujarnya dengan nada bucin, sambil memandang mataku tajam.
Ya ampun.
Josh ingat bahwa aku suka berada di pantai...
Dia tahu aku senang mengagumi sunset...
Dan dia juga tahu bahwa aku adalah maniak berenang...
Aku kemudian menghindarkan pandanganku ke seluruh penjuru pantai ini.
Dan baru sadar bahwa memang tidak ada siapapun disini.
Dia ingin membuat pantai ini menjadi milik kami berdua.
“Aku sudah memerintahkan kontraktor untuk membangun villa disitu, jadi kalau kamu bosan kamu bisa kesini dan menginap disini..”
Josh tidak bisa menyelesaikan kata-katanya.
Karena aku menyerobotnya dengan ciumanku.
Panas dan liar.
Membiarkanku mengambil kendali dan ******* habis bibirnya.
Aku benar-benar tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.
Dan dengan cara inilah aku bisa mengekspresikan betapa bahagianya aku karena memilikinya.
Kami berciuman lama dengan posisi aku masih di pangkuan pahanya.
Kemudian berhenti saat sadar bahwa matahari sudah menukik turun dan akan segera menutup hari ini menjadi gulita.
Saat berhenti, Josh memandangku seakan aku adalah satu-satunya wanita yang tersisa di Bumi ini.
“Aku adalah perempuan yang paling beruntung di dunia ini..” kataku berbisik padanya. “Terima kasih, calon suamiku..” ujarku.
Josh Rainer tampak sangat bahagia saat aku mengatakannya.
“Bukankah harusnya aku yang mengatakan itu? Calon istriku sangat berani, pintar dan perhatian. Calon istriku pernah menyelamatkan nyawaku, rela berkorban untukku, dan dicintai semua orang. Bukankah aku pria yang paling beruntung di dunia kalau begitu?” jelasnya.
Sudah pasti aku tersenyum berseri-seri.
Dan menggodanya dengan mengigit bibirnya.
“Baiklah, kita sama-sama beruntung karena menemukan diri kita satu sama lain,” kataku memeluknya.
Dia kini juga balas memelukku. Erat sekali.
Namun, entah mengapa pelukannya perlahan seperti terasa dia juga dilanda kekalutan.
Josh perlahan berbisik.
“Tolong jangan tinggalkan aku, Selena..”
Mendengar kata-kata itu lagi-lagi seperti ada listrik yang mengalir ke dadaku.
Mengapa kekasihku ini sangat merasa insecure?
“Bagaimana aku bisa meninggalkan orang yang telah membuatku merasa menjadi perempuan yang paling beruntung sedunia?” aku menggodanya dengan menempelkan hidungku ke hidungnya.
Dia lalu tersenyum mendengarnya.
Dan tidak berkata apa-apa lagi.
Meskipun, dari wajahnya aku merasa dia tengah merasa kalut.
Apa ada masalah yang Josh Rainer sembunyikan dariku?
Aku lalu kembali duduk disampingnya.
Kembali menyender di bahunya. Sambil menunggu matahari yang indah itu kembali ke kandangnya.
Benar-benar pemandangan yang cantik, yang kuhabiskan bersama calon suamiku yang luar biasa hebat namun sayangnya sering merasa insecure.
“Josh.. waktu kamu dulu hampir tenggelam itu bagaimana kejadiannya? Dan bagaimana kamu menyelamatkan diri?” tanyaku penasaran.
Josh menghembuskan nafasnya.
__ADS_1
“Aku sedang berselancar dengan teman-teman kuliah di pantai dekat sini, namanya Surfrider Beach. Temanku bercanda denganku dan aku kehilangan keseimbangan. Untungnya, saat itu Aldebaran juga sedang disini dan dia langsung menarikku dari laut dan memberikanku nafas buatan,” jelasnya sambil menunduk.
Lagi-lagi Aldebaran.
Aku bisa merasakan beban Josh Rainer yang selama ini dibesarkan dengan bayang-bayang seorang Aldebaran.
Aldebaran yang telah menyelamatkan dirinya dua kali.
Tak hanya mendonorkan satu ginjalnya agar adikknya bertahan hidup, dia juga menyelam dan memberikan pertolongan pertama untuk Josh yang tenggelam.
Josh pasti merasa sangat tidak berdaya dengan kakaknya yang selalu menyelamatkan nyawanya itu.
Apalagi, Aldebaran pernah dicintai oleh satu-satunya sahabat yang dia miliki, Helena.
Dan Aldebaran adalah anak kesayangan ayahnya, karena kemiripan sifatnya.
Aldebaran yang sangat gemilang dalam hal akademis dan memiliki jaringan pertemanan yang luas untuk mendukungnya menjadi pemimpin yang sukses.
Aku bisa merasakan bahwa Aldebaran yang sangat hebat terasa mengecilkan eksistensi Josh Rainer di dunia ini.
Padahal, Josh juga tidak kalah hebatnya.
Josh yang sejak kecil sangat berbakat dan jenius di bidang musik.
Dia bisa memainkan hampir seluruh alat musik dan memenangkan berbagai kompetisi internasional atas bakat bermusiknya selama bertahun-tahun.
Dia pernah nyaris ditawari rekaman oleh salah satu label besar di Indonesia, namun sayangnya ayahnya menentang tawaran ini dan menyuruhnya untuk kuliah di luar negeri.
Josh Rainer yang sangat cerdas. Meskipun dia tidak mengambil bidang akademis seperti Aldebaran, namun Josh adalah ahli strategi dan perencanaan yang sangat mahir.
Terbukti dari berbagai rencana yang dia jalankan, contohnya rencana penyelamatan saat kami teraniaya sebulan terakhir ini karena Celine dan Becca. Semuanya berjalan sempurna.
Dan yang paling aku cintai darinya adalah ketulusan dan kebaikan hatinya.
Josh rela melakukan apapun yang bisa dia lakukan untuk membuat orang tersayangnya merasa aman dan selalu bahagia.Seperti yang dia lakukan kepada aku dan kedua orangtuaku.
Bagiku, Josh hanya berada di tempat yang salah. Semua orang menuntutnya untuk menjadi pewaris perusahaan yang sukses, namun tidak pernah menanyakan padanya apa yang dia sukai dan membuatnya bahagia dalam menjalankan hidup.
Josh seharusnya bisa terbang jauh dan mencapai mimpinya, namun dia terjegal oleh tuntutan di keluarganya sendiri yang tak pernah mendengarkan suara hatinya.
Dan aku, berjanji pada diriku sendiri..
Aku akan berada disampingnya saat dia memilih jalan hidup yang dia yakini akan memberikannya kebahagiaan.
Aku akan memastikan dia mendapatkan apa yang ingin dia capai dalam hidup.
Aku dan dia akan sama-sama bahagia dengan cara yang kita pilih dan kita sukai.
Kitalah pilot dalam kehidupan kita sendiri dan tidak ada yang bisa menentang itu.
Lama aku merenung dalam diam sampai akhirnya dia melanjutkan kembali.
“Kamu mau dengar lanjutan cerita tadi? Aku akhirnya tahu bahwa teman-teman kuliahku ini memang ingin mencelakaiku karena mereka iri pada penunjukkan sekolah agar aku bisa ikut kompetisi pianis bergengsi di Belgia saat itu. Mereka ingin menghentikan langkahku," ujarnya tanpa beban.
Oh tidak, Josh.
Pasti sedih sekali jika jadi dia.
Ketika dia sudah bahagia mendapatkan teman-teman yang mau menerimanya, namun pada kenyataannya teman-temannya itu malah menusuknya dari belakang.
"Sepertinya aku memang tidak ditakdirkan mendapatkan teman sejati. Dan sejak saat itu aku tidak pernah lagi menginjakkan kakiku di pantai itu. Aku trauma tidak bisa bernafas di dalam air dan juga trauma untuk berteman terlalu dekat dengan orang lain,” jelasnya.
Aku menggenggam kedua tangannya dan menelengkupkannya ke dadanya.
“Setidaknya kamu ditakdirkan bertemu denganku yang mencintaimu dan akan selalu bersamamu menuju kebahagiaanmu,” kataku sungguh-sungguh.
Wajah Josh Rainer terpana sekaligus kaget mendengar kata-kataku.
Dia lalu tersenyum sambil memegang kedua wajahku.
“Sudah kubilang, aku adalah lelaki paling beruntung di dunia karena bisa berjalan menuju masa depan bersamamu..” ujarnya.
Aku tidak membuang-buang waktuku untuk memelukknya dengan erat.
Sampai akhirnya matahari benar-benar sudah turun ke peraduannya. Kami masih berpelukan dengan alas tikar pantai, seperti tidak ingin berpisah sama sekali.
Namun, tiba-tiba saja suara ponsel Josh Rainer menggangu kesyahduan momen kami.
Aku mendelik padanya, namun dia berusaha tidak peduli.
“Angkat saja..” kataku.
“Tidak mau, menggangu saja,” ujarnya masih memelukku erat.
“Josh.. jika itu memang penting bagaimana?” pintaku.
Josh menurutiku dan akhirnya mengambil ponsel itu di saku celananya.
Aku kini kembali duduk di sampingnya dengan pantai yang sudah hampir gelap dan berpenerangan terbatas ini.
Aku sempat melihat caller id di layarnya dan melihat nama nenek lah yang memanggilnya.
Josh menjawab telfonnya didepanku.
“Ada apa, Nek?” tanyanya.
Josh mendengarkan baik-baik apa yang dikatakan neneknya di telefon, kemudian wajahnya berubah.
“Aku akan mengabari Nenek secepatnya..” dia hanya membalas itu pada neneknya dan menutup telfon dengan wajahnya yang dingin.
“Apa terjadi sesuatu pada nenek?” tanyaku khawatir.
Wajah Josh Rainer tampak bingung.
Dia seperti sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya padaku.
“Selena, keadaan sangat genting terjadi.. aku khawatir aku harus memaksamu untuk menikah denganku secepatnya di minggu ini.”
.
.
.
Wah, keadaan apa nih kira-kira yang membuat Josh Rainer harus cepat-cepat menikahi Selena?
A. Aldebaran mau ngerebut Selena
B. Kondisi perusahaan gak stabil dan Josh harus segera menikah untuk ambil alih
__ADS_1
C. Ada kekacauan yang dibuat Becca, sehingga Josh mau cepet-cepet nikahin Selena sebelum fakta kecelakaan Josh ketahuan
D. Alasan lain (Yuk sebutin dibawah)