
Setelah aku memprovokasinya dengan mengatakan kebenaran tentang detik-detik kematian Dio, aku pikir Becca akan menginjak-injak badanku.
Atau menjambak rambut dan membenturkan kepalaku berkali-kali ke lantai.
Atau dia bisa saja meminta para bodyguardnya untuk memusnahkanku dengan sekali tembak.
Kupikir Becca akan menghabisiku saat itu juga ketika aku menantangnya.
Tapi ternyata fikiranku salah.
Becca malah bereaksi lain.
Kini dia menelungkupkan kedua tangan ke kupingnya.
Dan anehnya, kini dia tampak menunjukkan wajah shock dan terlihat kaget sekali.
Setelahnya, terdengar suara histeris, dan secara perlahan badannya lunglai dan kini terduduk melorot di lantai.
Dia lalu berteriak kencang sekali.
“TIDAAAAAAAK!”
Becca bahkan kini terlihat menonjok lantai dengan tangannya.
Dengan tangis tersedu-sedu.
“SEMUA BOHONG! TIDAK MUNGKIN AKU PEMBUNUHNYA!”
Ada apa dengannya?
Apa kata-kataku begitu melukainya?
Aku masih terduduk menahan sakitku saat melihat Becca kini semakin intens menonjoki lantai yang berdebu.
Dia bahkan kini berlaku lebih ekstrem.
Dia mencoba membenturkan kepalanya ke meja kayu terdekat yang ada di sebelahku!
Apakah Becca mengalami depresi?
Sejak kapan? Dan mengapa aku tidak tahu sama sekali tentang ini?
Saat ini aku berada dalam kebingungan untuk tidak berbuat apapun.
Aku ingin mencoba menenangkannya, tapi bagaimana jika dia malah menyakitiku lebih parah?
Aku sendiri masih tidak menyangka Becca akan menculik dan menyekapku seperti ini.
Dia bahkan melukaiku sampai aku tidak bisa berjalan seperti ini.
Apakah dia memang sedang mengalami masalah mental? Sehingga dia bisa berubah drastis seperti orang yang tidak aku kenal sama sekali?
Apakah ini semua karena kematian Dio? Dan kata-kataku tadi membuatnya menjadi semakin bersalah dan kini malah menyalahkan dirinya sepenuhnya?
Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Dia dulu sahabatku.
Tapi dengan semua yang dia lakukan padaku, entah dia kehilangan kesadarannya atau tidak, ini bukanlah seorang cerminan dari persahabatan yang sesungguhnya,
Aku sudah kehilangan Becca.
Orang di depanku ini bukanlah lagi Becca si sahabatku.
Mengusik lamunanku, salah satu bodyguard kini berteriak kencang sekali, “Bos butuh obat biasa, ayo kita cari di mobil!”
Obat biasa?
Jadi benar Becca sudah ketergantungan dengan obat?
Apakah itu obat penenang?
Omongan itu langsung disigapi oleh salah satu kawanan lain. Dua dari empat bodyguard kini telah meningkalkan ruangan ini. Sementara dua lainnya, dengan badan sama besarnya dan penuh tattoo, kini mencoba membangunkan Becca dari lantai agar dia tak lagi membenturkan kepalanya ke meja.
Dan seperti dugaanku, Becca bereaksi dengan menendang kedua bodyguard itu sambil meronta-ronta.
Energinya besar sekali.
__ADS_1
Tidak lagi terlihat Becca yang ceria dan rupawan. Becca yang selalu menjadi pusat perhatian saat aku pergi berdua dengannya. Becca yang selalu disenangi para lelaki karena sifat ramahnya.
Yang ada sekarang hanyalah sosok dengan baju berantakan, rambut awut-awutan, dengan mascara dan eyeliner yang telah bercampur dengan air mata di seluruh pipinya.
Becca benar-benar seperti orang gila.
Kedua bodyguard itu berbadan tambun, jika badan mereka sekecil aku, mungkin mereka sudah tersungkur di lantai karena kekuatan kemarahan Becca.
Kedua bodyguard itu kini sedang sibuk menenangkan tuannya.
Meninggalkan aku tanpa proteksi, sendirian di lantai tanpa pengawasan dengan pintu keluar gudang yang terbuka.
Ini adalah kesempatan emas.
Jika aku tidak terluka, aku akan memanfaatkan peluang ini dan berlari sekuat tenaga sampai lolos dari pengejaran.
Namun, aku tahu itu adalah khayalan.
Aku tidak bisa kemana-mana.
Pinggangku seperti ditumpuki beban berat yang perih sekali bahkan untuk sekadar mengesot di lantai.
Aku tidak bisa bangun. Aku tidak bisa berlari dan melarikan diri dari sini.
Aku kehilangan kesempatan emas ini.
Aku bahkan mungkin tidak akan bisa melarikan diri dari Becca dan kawanannya ini. Dengan kondisiku yang lemah begini, apa yang bisa kuharapkan?
“LEPASKAN AKU! KAU! KAU! DENGARKAN AKU!”
Kini Becca kembali meronta-ronta di pelukan dua bodyguardnya sambil menunjuk-nunjuk aku.
“CUKUP HANYA DIO YANG KAMU AMBIL! JANGAN AMBIL ALDEBARAN DARIKU! DIA MILIKKU!”
Kini suara parau Becca berhenti menjadi jejeritan.
Aku merasa kasihan padanya, walaupun aku tahu seharusnya aku tidak boleh mengasihaninya.
Dia telah berubah menjadi penjahat.
Aku telah ditawan olehnya, buat apa aku masih berbelas kasihan padannta?
Dia kini memintaku untuk membalas kegaduhannya.
Sementara aku hanya termangu, tidak tahu harus menjawab apa.
“LEPASKAN AKU SEKARANG! AKU INGIN MENGHAJARNYA! DIA MAU MEREBUT CALON SUAMIKU! PADAHAL DIA SUDAH MEMBUAT KAKAKKU MATI.. LEPASKAN SEKARANG!” kini dia memerintah para bodyguard untuk membiarkannya menyerangku.
Akhirnya aku merasa ngeri.
Saat melihat dua bodyguard itu tampak mengangguk bersama sebelum melepaskan rangkulannya kepada Becca.
Yang membuat Becca berlari dalam keadaan kencang siap menerjangku.
Oh tidak.
Tidak pernah aku pikirkan aku akan berakhir begini.
Akan dihancurkan sendiri oleh sahabatku.
Sementara itu, aku pasrah, masih tidak bisa bergerak di tempatku.
Siap menerima amukan dan perlakuan kasar Becca padaku sebentar lagi.
Hidup memang lucu. Tidak ada yang tahu bahwa orang yang paling kamu percayai dapat berubah menjadi orang yang paling tidak kamu kenali.
Dan jika aku berakhir disini, aku bahkan belum sempat memintanya untuk menjaga kedua orangtuaku.
Serta membebaskan Gery dan Anna agar tidak lagi terlibat dalam masalah ini.
Aku sedih sekali karena aku telah membuat semua orang terlibat dalam masalah ini dan membuat mereka kesusahan.
Apakah masih ada harapan buatku?
Akankah ada keajaiban?
Saat aku tengah berharap dalam hati, tiba-tiba saja ada gerakan cepat dari pintu masuk yang juga berlari kearahku.
__ADS_1
Kencang sekali.
Aku bahkan tidak bisa melihat siapa orang yang kini merengkuhku dan mencoba melindungiku dengan memelukku kencang.
Saat tersadar, aku kini mengamati pria dengan pakaian serba hitam, menggunakan topi dan memakai masker lah yang merengkuhku kencang untuk melindungiku.
Sebelum Becca sempat menerjang dan mencabik-cabikku.
“Tenang.. aku sudah disini,” kata si pria misterius mencoba menenangkanku dalam pelukannya.
Apa?
Inikah keajaiban?
Dan dia… dari suara beratnya, bukankah dia adalah…
BRAKKKK....
Tak kusangka, Becca masih tetap mencoba menerjang aku dan pria ini dengan kekuatan yang tidak disadarinya.
Namun, pria ini kokoh seperti tembok dan membiarkan badannya menjadi sasaran amarah Becca. Pukulan dan tendangan dari seorang perempuan tidak membuatnya melepaskan pelukan dari badanku.
Pria ini menamengi badannya untuk melindungiku.
Becca kelihatan semakin mengamuk karena sasarannya dilindungi oleh si pria misterius ini.
Namun, pria misterius ini bergerak cepat sekali.
Dengan gerakan seperti menari, dia memiting Becca dan kini Becca tidak bisa bergerak di rangkulannya!
Sementara itu, para bodyguard kini tengah memasang kuda-kuda untuk menyerang balik si pria karena melihat tuannya sedang terjepit.
Aku mencoba mengamati keduanya dan saat tersadar salah satu dari mereka telah mencoba menerjang si pria misterius, sementara satunya lagi tengah menodongkan senjata api kearah kami.
Oh tidak.
Mereka bisa menembak kami kapan saja saat ini!
Si pria misterius, yang berbadan semampai dan berbahu bidang kini mencoba membuat aku tertutupi oleh badannya. Dengan begitu, si pengawal tidak bisa menembakku
Sekaligus, dia semakin mempererat pitingannya kepada Becca.
“Jika kalian tembak aku, kalian beserta keluarga kalian akan habis,” kata si pria itu memulai diplomasinya.
Namun, si bodyguard yang memegang pistol seperti tidak mau diatur.
Kini dia telah menembakkan satu pelurunya ke langit-langit untuk mengancam kami.
Oh tidak.
Apakah masih ada kesempatan untuk pria penolong ini dan aku menyelamatkan diri?
“Jangan banyak omong dan lepaskan bos kita atau kita dor lo sekarang!” ancamnya.
Si pria misterius tampak tidak takut sama sekali dan semakin mengencangkan pitingannya kepada Becca.
Becca kini terlihat seperti kehabisan nafas.
“Kalian berani menembak saya?” kata si pria sambil mendengus dan tertawa. “Kalau tangan kotor kalian berani melakukan itu saya pastikan kalian dan keluarga kalian akan masuk ke kuburan besok!” ancamnya balik.
Mengapa pria ini berani sekali?
Aku mencoba mengamati pria ini dan dia datang tanpa ada pengamanan apapun.
Tidak ada senjata yang dia bawa untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Dan dengan modal nekat dia berusaha menyelamatkanku?
Sementara itu, bodyguard satunya telah berada di depan kami dan berusaha menendang laki-laki ini disudut sempit pinggangnya.
Dan dia berhasil menangkisnya dengan tendangan balik.
“Kalian aku instruksikan mundur sekarang juga. Apa kalian mau membunuh aku, calon suami dari bos kalian sendiri, hah?” kata pria misterius itu tegas.
Apa?
Dia? Benarkah dia..
__ADS_1
Pria misterius ini Aldebaran?