
Aku masih dilanda kekhawatiran sekaligus kebingungan yang luar biasa dengan apa yang terjadi.
Suara riuh derap kaki, bunyi senjata dan deru mesin helikopter semakin ribut memenuhi gendang telingaku.
Apakah kami terkepung?
Ataukah.. pasukan yang tiba-tiba datang ini adalah bala bantuan buat kami?
Aku mencoba mencari jawabannya dengan bertanya lewat tatapan mata dengan Josh Rainer yang masih mendekapku hangat.
Disana, aku melihat mata yang sangat cemerlang itu terlihat puas.
Dengan senyum mengembang yang menyiratkan bahwa keadaan kini telah berbalik.
"Sudah selesai," katanya seakan menjawab kebingunganku.
..
Benarkah begitu?
....
Dooor… Door.. Dooor..
Saat aku masih tidak percaya bahwa aku benar-benar selamat dari kematian, suara memekikan telinga kini terdengar di sekitar kami.
“AAAAA!” teriak salah satu orang saat aku mencoba memusatkan pendengaranku.
Apakah itu suara dari pengawal yang mencoba menangkap kami?
Lalu siapa yang menembak dengan senapan api itu?
"AMPUNN!" teriak salah seorang lagi di balik lemari ini.
Di telingaku, suara semakin ramai terdengar. Teriakan manusia yang dibalas dengan belasan bunyi senapan api tanpa peredam terdengar bersautan.
Seperti ada pertumpahan darah di dekat pintu keluar sana.
Aku menatap Josh Rainer lagi, ingin meminta penjelasan lebih lengkap darinya.
Namun, dia tidak menggubrisku. Kini dia telah membuang kardus yang menjadi pertahanan terakhir di atas kepala kami dan bangkit berdiri di depanku.
Dengan senyum cemerlang, dia merengkuh lenganku dan menggendongku dengan dua tangannya yang kuat.
Kemudian, wajahnya dekat sekali dengan mukaku saat dia membisikan kata-kata yang semakin membuatku jatuh padanya.
“Jika aku bilang kita akan selamat, maka kita akan selamat. Jika aku bilang kita akan mati bersama setelah menikah dan punya anak, ya kita juga akan mati bersama dengan bahagia nanti.”
Aku seperti terbang sampai ke bulan saat mendengarnya.
Oh Tuhan.
Aku... benar-benar jatuh hati padanya.
Tanpa buang waktu, Josh yang menggendong tubuh lemahku kini keluar dari persembunyian kami dari balik lemari.
Disitulah aku melihat pemandangan yang benar-benar berbalik 180 derajat dari sebelumnya.
Empat pengawal gagah dan bersenjata itu kini semuanya telah tersungkur di tengah2 gudang dengan beberapa cipratan darah mengelilingi mereka.
Tak hanya itu, kini para pengawal itu telah dikelilingi pasukan berseragam hijau tua yang jumlahnya sekitar tiga puluh awak. Mereka berdiri siaga seperti memastikan bahwa tidak ada lagi perlawanan dari para penjahat ini untuk menyerang kami.
__ADS_1
Pasukan ini pastilah yang diatur Josh Rainer untuk menyelamatkan kami.
Tapi...
Apakah para pengawal itu mati?
Dan haruskah mereka mati?
....
Karena kejadian ini sungguh sangat mengiris hatiku.
Becca yang pencemburu. Becca yang menyalahkan diriku atas kematian kakaknya. Becca yang tidak dewasa menyikapi gelapnya hidup yang telah membawanya ke situasi mengerikan hidup mati seperti ini.
Yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Josh Rainer masih menggendongku menuju pintu keluar gudang saat mataku tertambat pada sesosok wanita cantik, namun kini penampilannya tampak parah.
Itu Becca.
Dua pasukan berseragam hijau tampak menginspeksi tubuh Becca yang telah tergeletak di lantai dengan mata terpejam.
"BECCA!" pekikku.
Oh tidak.
Dengan semua yang Becca telah lakukan padaku, hatiku tetap hancur melihat orang yang kuanggap sebagai adikku sendiri itu kini tergeletak di lantai bersimbah darah.
Air mataku jatuh tak tertahankan.
Ya Tuhan.
Mengapa Becca juga harus menyusul Dio secepat ini?
....
"Dia tidak mati," Josh Rainer seperti membaca fikiranku.
Apa?
Becca.. belum mati?
"Instruksiku jelas pada pasukan. Lumpuhkan tapi jangan bunuh satu orangpun," kata Josh Rainer tegas.
Begitukah?
Mendengar itu, aku merasa lega.
Sejahat apapun Becca padaku, aku sama sekali tidak menginginkan adanya nyawa yang hilang diantara kami.
Karena aku tahu bagaimana sakitnya rasa kehilangan itu dan tidak ingin mengalaminya lagi.
Sejahat-jahatnya Becca, dia tetap adalah saksi hidupku. Dia adalah sahabat yang selalu menjadi tempat ku bersandar dulu dalam berkeluh kesah maupun menghabiskan waktu bahagia.
Hidup kami mungkin sudah berjalan ke arah yang berbeda kini. Persahabatan kami pun sudah tidak bisa diperbaiki lagi.
Namun, aku berharap Becca bisa memahami kesalahannya dan menebusnya seiring berjalannya waktu.
Aku tetap ingin melihat dia hidup dan bahagia dengan caranya sendiri.
Semoga saja.
__ADS_1
Kami kini sudah mencapai pintu keluar gudang saat teriknya matahari menyilaukan pupil mataku yang telah terkurung tanpa cahaya seharian.
Aku mencoba beradaptasi dengan silaunya matahari dan mulai membuka mata perlahan.
Saat aku melihat ternyata gudang ini berada di tengah-tengah tanah kosong yang luas.
Pemandangan sekitarnya adalah bukit-bukit yang dikelilingi pohon-pohon berdahan tinggi khas pegunungan.
Sejak kemarin, aku dikurung di dalam gudang di kaki gunung di lokasi terpencil ini.
Dan aku sendiri masih tidak mengerti, bagaimana Josh Rainer dapat mengendus keberadaanku disini?
Josh masih erat menggendongku dan kini kami akan menaiki helikopter yang terparkir di tidak jauh dari pintu keluar gudang.
Di sekitar helikopter, aku melihat banyak sekali mobil gede yang dipakai para pasukan untuk memobilisasi awak untuk menyelamatkan kami hari ini.
Saat salah satu pengawal yang terlibat dalam pasukan penyelamat berseragam hijau tua membungkuk di depan Josh lalu membukakan pintu helikopter untuk kami.
Josh dan aku kini sudah memasuki helikopter.
"Lapor tuan, semua berjalan sesuai rencana. Kami akan memindahkan mereka untuk pengobatan sebelum melanjutkan instruksi selanjutnya dari tuan," kata pengawal yang kutaksir adalah komandan regu penyelamat ini.
Josh tampak puas dengan laporan itu.
"Bagus, terus berikan informasi kepadaku. Khususnya untuk wanita itu, kalian harus sembuhkan mentalnya juga," kata Josh Rainer.
Aku lalu berusaha menyampaikan rasa terima kasihku pada pasukan yang telah membantu kami.
"Terima kasih, kalian.. sudah.. menyelamatkan nyawa kami..," kataku sungguh-sungguh.
Komandan itu tampak kaget dengan ucapan terima kasihku yang tiba-tiba.
"Dengan senang hati, Nona. Namun, seharusnya ucapan itu Nona berikan untuk tuan Josh Rainer," kata si komandan penuh hormat.
Aku memandang Josh meminta penjelasan, namun dia hanya memamerkan senyum manisnya padaku.
"Tuan muda menerjang bahaya sendirian, dia datang dulu ke sini untuk memastikan keselamatan anda saat kami masih bersiap untuk mengerahkan awak dan memastikan posisi penyergapan. Tapi tuan muda sangat yakin disinilah posisinya dan pergi duluan.Jika tuan muda tadi tidak datang duluan, mungkin kami akan terlambat Nona," ucap komandan sambil hormat untuk izin undur diri dari sini.
Josh..
Dia benar- benar ksatria sekali sampai tidak memperdulikan bahaya yang bisa menimpanya karena pergi tanpa pengamanan.
Aku kini menatapnya, meminta penjelasan mengapa dia tidak memperhatikan keselamatannya terlebih dahulu saat menolongku.
Namun masih tidak ada jawaban dari mulutnya.
Dia malah berusaha mendudukanku ke kursi helikopter dan mengatur mode agar kursi tersebut menjadi kasur sementara buatku. Dia juga telah menyiapkan es untuk meringankan luka memarku dan membersihkan luka di kepalaku.
"Jika Becca tadi mengenalimu sebagai Ale palsu, apa kamu pikir kamu akan selamat? Mengapa kamu pergi tanpa pengamanan seperti ini?" aku rewel meminta penjelasannya saat dia tengah membersihkan lukaku.
Josh tampak tersenyum di samping kursi tidurku dan membelaiku hangat, dengan satu tangannya tetap membersihkan lukaku.
"Sayangku...aku lebih baik luka parah daripada harus kehilanganmu..."
Aku tidak tahu mana yang lebih membuat hatiku berdesir hebat saat ini.
Apakah karena dia memanggilku sayangku atau karena ucapannya yang benar-benar terdengar tulus.
Yang aku tahu, kini hatiku sudah jelas menyatakan apa yang dia inginkan.
Hatiku ingin Josh Rainer bisa selamanya berada di sampingku.
__ADS_1