
Josh Rainer masih ada di depanku saat ini.
Dia tidak lagi terlihat acak-acakan seperti waktu pelarian kami tadi. Kini, Josh mengenakan celana kargo midi dengan kaus lengan panjang santai di depanku.
Josh memakai kacamata, yang selama ini tidak pernah dia pakai saat pura-pura sakit. Dia bahkan menyisir rambutnya dengan rapi ke belakang. Dan dengan gaya seperti ini, dia benar-benar terlihat seperti sosok CEO yang serius, professional dan workaholic.
Dan Jujur, aku bisa bilang ketampanan dan aura misterius Josh Rainer bertambah berkali-kali lipat dengan tampilan dia yang sebenarnya.
Disisi lain, aku teringat betapa parahnya penampilanku saat ini. Keringat kering yang masih menempel di sekujur tubuhku, rambut lepek, bercak lumpur di pakaianku hingga luka goresan ranting di beberapa bagian tubuhku.
Bolehkah kamu datang lagi setelah aku sudah membersihkan diri nanti, Josh? Sehingga aku tidak perlu minder dan malu begini.
Josh tampak menunggu keputusanku sambil terus menatapku lekat-lekat.
Oh tidak, pasti aku jelek sekali saat ini sampai dia tidak mengedip melihatku!
Aku merasa keki saat ini dan teringat bahwa aku sangat lelah dan segera ingin tidur. Josh sendiri tadi bilang dia hanya ingin ngobrol denganku sebentar sehingga mungkin lebih baik aku mempersilahkannya masuk dan segera menyudahi obrolan kami.
Sebelum aku merasa lebih tidak percaya diri lagi.
“Silakan,” kataku kaku.
Aku berjalan kikuk di depannya dan menuntunnya untuk duduk di ruang tamu kamar mewah ini.
Saat aku duduk di kursi tamu di depannya, aku melihat gerakan cepat Josh yang tadinya sudah duduk namun bangkit dan bergerak lurus persis ke sampingku.
Oh tidak, apa yang mau dia lakukan!?
Dia kini sudah berada di sampingku dan langsung memegang bahuku.
Dia mendekatkan wajahku ke wajahnya.
Kami kini bertatap-tatapan dekat sekali.
Dan aku saat ini gugup sekali.
Apa yang mau dia lakukan terhadapku?
Saat seluruh perasaan bingung dan waspada menjalari tubuhku, satu tangannya kini sudah berada di wajahku.
Menyentuhku dengan lembut.
Aku menelan ludah.
Aku ingin menghentikan perlakuannya agar tidak lebih jauh dari ini namun entah mengapa aku malah membatu.
Mungkin... karena aku juga menikmatinya.
“Jangan bergerak,” pintanya pelan kepadaku.
Apa dia ingin memelukku lagi?
Dengan kondisi badanku yang lengket dan kotor seperti ini?
Pikiranku sudah berlarian kemana-mana saat aku baru menyadari bahwa sedari tadi dia membawa kotak obat di tangannya.
Dia ingin mengobatiku.
Josh kembali menyentuh wajahku yang terluka dengan lembut dan mengoleskan krim pengering luka secara hati-hati disana.
“Jika bukan karena aku, kamu tidak akan terluka seperti ini. Maafkan aku.”
Mungkin Josh Rainer tidak sadar betapa kata-kata itu mengandung daya listrik yang sangat tinggi dan menyengatku.
__ADS_1
Hatiku tersentuh olehnya.
“Tidak apa-apa Ini hanya luka kecil, akan sembuh sendirinya besok,” kataku membalasnya.
Dia diam dengan wajah dinginnya yang biasa namun cekatan mengolesiku krim pada lukaku. Kini dia mulai pindah ke tanganku dan menemukan beberapa luka kecil disana.
Tangannya lembut sekali. Aku nyaris tidak merasakan sakit karena tindakannya yang sangat gentle.
“Bagaimana lukamu sendiri? Tadi kamu jatuh cukup tinggi, apakah memar? “ tanyaku sedikit khawatir.
“Sudah kutangani sendiri,” katanya datar masih sambil mengobati lukaku.
Dalam dua minggu ini, aku selalu berkomunikasi dengannya lewat papan tulis. Dari situ, aku tidak pernah tahu bahwa sebenarnya Josh Rainer sangat irit kata dan hanya bicara seperlunya dalam komunikasi dua arah seperti ini.
Kami memang belum mengenal lama, namun aku bisa melihat Josh adalah orang yang cenderung introvert. Dia kelihatan susah mengekspresikan apa yang ada di pikirannya dengan kata-kata dan lebih memilih untuk melakukan tindakan langsung tanpa banyak basa-basi.
Dan itu membuatnya semakin misterius. Di tengah semua perhatian dan perlakuan mesranya padaku, Josh Rainer adalah orang yang sulit ditebak.
Belum lagi keahlian dia dalam berstrategi dan kelihaiannya dalam membuat rencana. Jika tidak mengikuti semua instruksinya, mungkin aku dan dia masih belum bisa keluar dari lingkaran setan yang dibuat Celine.
Dengan semua kekompleksitasannya ini, Aku semakin ingin mengenal Josh Rainer.
Kini, Josh sudah selesai dengan tanganku dan dia kini telah duduk di lantai berjongkok di depan kakiku.
Oh tidak.
Tuan muda Gurnawijaya duduk bersimpuh di bawah lantai untuk mengecek kakiku?
“Josh tidak perlu, aku tidak apa-apa,” kataku merasa tidak enak dengan situasi ini dan mencoba berdiri.
Bagaimana bisa anak konglomerat ini duduk dilantai dan kini menggelung celana bahanku sampai ke lutut untuk mengecek luka disana?
“Kamu tadi berlari sambil menyeret kakimu, bagaimana bisa kamu bilang kalau kamu tidak apa-apa?” balasnya tanpa melihat kearahku.
Dia kembali melanjutkan untuk menggelung celana bahanku sampai ke lutut.
Aku bahkan sudah tidak bisa menerima respons dari tubuhku bahwa ada nyeri yang tidak aku tahu karena seluruh kegilaan hari ini benar-benar menguras atensiku.
Namun, tangan lembut itu kembali membuatku tidak merasakan adanya nyeri. Dia mengoleskan krim kembali disana sambil membuat perban di pergelangan kakiku.
“Seharusnya kamu tidak terluka saat terjun dari balkon. Mengapa kamu terluka? Apakah kamu sempat jatuh keras hari ini?” katanya memborbadirku dengan pertanyaan.
Meskipun dia menyampaikannya dengan nada dingin, aku merasakan bahwa Josh Rainer tengah khawatir padaku.
“Mungkin, luka ini ada saat aku jatuh dari motor,” kataku menerkanya. Aku bahkan tidak ingat mengapa memar itu ada disana di tengah fokusku untuk segera mengeluarkan orang di depanku ini dari rumah laknat itu.
“Kamu jatuh dari motor!?” Josh kini tampak terbelalak tak percaya.
“Apa ada lagi yang luka di badanmu? Aku perlu memanggil dokter untuk memeriksamu sekarang,” katanya panik sambil mencari nomor kontak di ponselnya.
Aku memang tidak menceritakan secara detail mengenai seluruh tahapan penyelamatan Josh Rainer kepada dia dan neneknya tadi. Bagian aku harus menerjang hutan dan menabrak truk bersama Gery tidak aku ceritakan karena kurasa tidak perlu, sebab tidak berkaitan dengan rencana busuk Celine untuk keluarga Gurnawijaya.
“Josh aku tidak apa-apa. Saat ngebut untuk segera menemuimu tadi, motor temanku sempat menabrak truk namun dia berusaha membelokkan arahnya dan membuatku hanya mengalami cedera kecil. Setelahnya aku lari ke rumahmu untuk mencari cara mengeluarkanmu dari sana dan aku tidak bisa merasakan nyeri apapun lagi di badanku karena…”
Aku tidak bisa menyelesaikan penjelasanku karena lagi-lagi aku dikagetkan dengan aksi spontannya yang tiba-tiba.
Lengannya dan lenganku kembali berpadu.
Dia kini sudah memelukku lagi.
Pelukan yang sama, namun tidak seerat saat aku membangunkannya dari pengaruh pil tidurnya. Mungkin dia takut ada bagian di badanku yang terasa sakit bila dia mengencangkan rangkulannya padaku.
Ini adalah sinyal yang sangat jelas buatku.
__ADS_1
Josh Rainer memiliki perasaan terhadapku.
Dari caranya memperlakukanku, dari tatapan matanya, caranya berbicara padaku hingga bagaimana dia mengkhawatirkanku.
Dan aku tahu, dia pasti sedang menunggu balik responsku.
Namun, aku sudah memberikannya respons yang jelas saat kami tiba di rumah ini tadi. Hubungan seperti ini harus kami hentikan. Dan sepertinya dia kecewa akan hal itu.
Tapi, sepertinya Josh tidak mau menyerah dan kembali mencoba mengekspresikan rasanya terhadapku.
“Aku tidak akan membiarkanmu dalam bahaya lagi. Tidak akan,” katanya berbisik lembut di telingaku.
Dan lagi-lagi, ucapannya seperti listrik karena mampu mengejutkan hatiku.
Aku harus bagaimana? Ini tidak bisa dibiarkan karena dapat menganggu hubungan professional antara dokter dan pasien. Dan aku sangat menjunjung tinggi integritas dan kode etik profesiku selama ini.
Namun, perasaan ini..
Aku tidak bisa membohongi bahwa untuk pertama kalinya, aku benar-benar bisa melupakan Dio yang telah pergi selamanya dari hidupku.
Dan itu karena Josh Rainer.
Aku seperti menemukan cahaya kembali di dalam kubanganku yang temaram.
Apa yang harus aku lakukan?
Josh lalu mengendurkan pelukannya padaku. Dia lalu kembali mencari nomor telepon dan langsung meneleponnya.
“Dokter, segera datang ke kamar tamu di sebelah kamarku,” katanya lewat telepon.
Aku langsung menginterupsinya.
“Aku tidak perlu dokter aku baik-baik saja,” kataku kembali meyakinkannya.
Dia kembali menjadi Josh yang dingin dan datar, lalu mengambil kotak obat dari meja dan berdiri di depanku.
“Selena kamu sangat berarti buatku. Dan aku tidak mau ada hal buruk menimpamu lagi,” katanya sambil berlalu menuju pintu keluar.
Dia kembali membuat jarak. Namun dia juga jujur mengatakan kepadaku bahwa aku berarti sesuatu untuk hidupnya.
Ya, Josh Rainer tengah menunggu jawabanku atas segala ekspresi rasanya padaku. Dia tidak ingin aku merasa tidak nyaman jika dia mendekatiku secara intens sehingga dia tetap memberikanku jarak sampai aku yakin dengan perasaanku.
Benar begitu kan Josh?
Saat sudah akan menutup pintu, dia kembali mengatakan sesuatu yang membuatku kembali tersengat.
"Selena, tolong beri aku kesempatan ya?"
.
.
.
...TEBAK KARAKTER...
Nah kalau mas yang dibawah ini, kira-kira siapa hayo? Pakai ilmu cocokologi dari semua deskripsi yang sudah pernah aku paparkan di dalam cerita ini ya!
A. Gery
B. Aldebaran
__ADS_1
C. Dio
Jawabannya akan diketahui di chapter berikutnya ya! ❤