
Tok..tok..tok….
TOK..TOK..TOK..
“Dokter Selena?”
Aku gelagapan mendengar suara dari balik pintu. Aku segera melihat jam dan ternyata sudah pukul 07.30 pagi.
Aku kesiangan.
Aku segera membuka pintu dan mendapati asisten rumah tangga perempuan yang sebaya dengan diriku tengah mengantarkanku sarapan. Aku mempersilahkannya masuk dan dia menaruh satu nampan sarapanku diatas meja makan kecil di kamar ini.
“Terima kasih. Apakah Rikian masih belum kembali?” tanyaku karena biasanya Rikian lah yang mengantarkan sarapan untukku.
“Belum dokter, ketua kemungkinan masih sampai minggu depan memimpin renovasi villa ibu Celine di Puncak,” katanya sopan.
“Apakah ibu Celine sudah kembali dari Singapura?”
“Ibu Celine sudah kembali tadi pagi-pagi sekali Dokter,” ucapnya sambil izin pamit padaku. Aku mengingatkannya untuk membawakan sarapan untuk Josh Rainer pada pukul 08.30 nanti.
Setelahnya, aku segera bergegas mandi, mengganti pakaianku, dan terburu-buru menyelesaikan sarapanku. Pukul 08.00 aku segera menuju kamar Josh Rainer.
Saat berada di depan kamar, sesosok wanita berperawakan tinggi langsing dengan wajah congkak sudah menungguku.
Celine.
“Dokter,” katanya sinis. ”Bagaimana perkembangan anak saya?”
“Ibu Celine, Josh Rainer menunjukkan penurunan kondisi yang tidak diakibatkan oleh mentalnya.”
“Apa?” katanya pura-pura khawatir.
“Seharusnya Ibu sudah tahu hal ini karena kata Suster Diana, Ibu tidak mengizinkan Josh Rainer untuk dibawa ke rumah sakit,” kataku ketus.
“Tidak," Celine lagi-lagi berusaha menunjukkan wajah khawatirnya.
“Suster Diana sudah berhenti dari tugasnya sekarang. Saya tidak puas dengan kerjanya,” ucapnya.
Apa aku tidak salah dengar?
Permainan apa lagi yang tengah disiapkan Celine?
“Semua pengobatan dan makanan bisa langsung di lakukan oleh Dokter Selena sekarang. Saya mau Josh sembuh sesegera mungkin. Mentalnya, ingatannya maupun kondisi badannya.”
Apakah Celine habis disambar petir lalu lupa dengan rencana jahatnya untuk Josh?
Atau ada hal yang disembunyikan?
“Baik, Ibu Celine. Saya akan berusaha semampu saya,” kataku berupaya menghilangkan rasa heranku.
“Besok kamu akan ambil hari libur kan?” tanyanya.
Bagaimana dia bisa tahu?
Aku memang punya satu hari libur di setiap Minggu, namun aku bebas mengambilnya di hari apapun. Tidak harus selalu hari Sabtu.
Oh..
Pasti karena Becca memberitahunya.
Mereka bertemu di Singapura. Becca pastilah cerita bahwa aku akan kerumahnya dan bertemu dengan orang tua Dio untuk menyelesaikan masalah kami.
Tapi untuk apa Becca cerita mengenai hal ini? Sepenting itukah Celine untuk tahu?
__ADS_1
“Ibu tahu darimana?” tanyaku balik, ingin tau reaksinya.
Dan anehnya, Celine tampak gelagapan.
“Saya.. saya menebaknya saja karena minggu lalu kamu pun mengambil libur di hari Sabtu.”
Sungguh reaksi yang aneh.
“Baiklah, Ibu tidak mau melihat kondisi Josh?” kataku basa-basi.
“Sudah tadi,” katanya ketus dan berlalu begitu saja meninggalkanku.
Otakku berputar cepat. Apakah ada sesuatu yang sedang direncanakan Celine?
Mungkin, Josh Rainer punya jawabannya.
Aku membuka pintu kamar Josh dan melihatnya tengah di balkon luar.
Dia sedang duduk di kursi luar sambil memandang halaman rumahnya yang luas.
Di sebelah kiri balkon, dia bisa melihat bermacam-macam bunga yang ditanam di kebun samping. Di sebelah kanan balkon, dia bisa melihat kolam renang outdoor yang menyambung dengan kolam renang indoor di lantai 1.
Sementara di depan balkon, Josh bisa melihat halaman rumput luas dan gerbang utama yang terlihat kecil dari atas sini.
“Josh Rainer,” kataku menyapanya dengan senyum yang cemerlang.
Josh duduk dengan piyama warna biru tua kesukaannya dengan wajah tampannya. Namun, reaksinya tidak seperti yang aku harapkan.
Dia tahu aku mendatanginya namun responsnya sangat dingin.
Apa dia masih berakting?
“Hey, apakah ada kamera juga di depan balkon ini?” aku bisik-bisik di telinganya.
Apa yang salah dengan Josh?
Apa dia salah minum obat lagi?
Aku kembali ke dalam kamarnya dan berpura-pura membenarkan selimut Josh Rainer. Sambil secara cepat membuka bawah bantal Josh. Aku tetap harus berakting karena kamera dipasang jelas untuk kasur ini.
Aku melihat obat-obatan asli yang aku berikan padanya masih disana. Dan jumlahnya berkurang sehingga dia sudah pasti meminumnya terus.
Jika tidak salah minum obat, apa yang terjadi padanya?
Aku kembali ke balkon dan berdiri di belakang Josh Rainer. Aku kemudian membisikinya lagi.
“Aku sudah bicara dengan nenekmu.”
Tanpa kuduga, badannya langsung menegap saat mendengar nama neneknya disebut. Dengan cepat, dia menoleh ke arahku saat aku masih dalam posisi awalku di sebelah telinganya.
Membuat wajahku dan wajahnya menjadi sangat dekat.
Mata kami, hidung kami, bibir kami.
Aku bahkan bisa merasakan desahan nafasnya. Mencium aroma lehernya.
Aku merasa keki. Namun, Josh Rainer tampak tidak terganggu dengan posisi ini. Matanya malah tajam mengamatiku, ingin aku meneruskan kata-kata itu.
“Aku akan cerita, tapi kamu jangan marah lagi padaku ya? Aku ingin Josh Rainer yang biasa.”
Aku hanya menebak dia marah padaku. Entah karena apa.
Namun sepertinya tebakan itu benar.
__ADS_1
Kini dia memperlihatkan reaksi yang berbeda. Menunduk lalu mengangguk.
Saat matanya menatapku lagi, aku melihat semburan merah di pipinya.
Dia sedang grogi? Dia malu?
Apa yang membuat Josh marah padaku?
Entahlah, hal ini bisa menunggu.
Sementara informasi mengenai neneknya yang berusaha menyelamatkannya jauh lebih penting untuk dibicarakan.
Aku mengajaknya untuk kembali pindah ke kamarnya sehingga Celine tidak akan curiga.
Aku dan Josh kembali berakting. Aku memapahnya dari depan balkon, seakan-akan Josh memang kondisinya masih lemah dan sulit berjalan.
Aku lalu mendudukkanya di tempat tidur lalu menyelimuti kakinya dengan selimut. Kemudian aku membawa papan tulis kecil dan spidol ke depannya, yang sudah kusiapkan sebelumnya untuk mempermudah komunikasi kami.
Josh sempat memberitahu ku dulu bahwa kamera pengawas hanya dipasang diatas langit-langit kamarnya, di atas televisi tepat di depan kasurnya dan di ruang tamu. Sehingga, bagian dinding belakang kasur sangat aman dari kamera pengawas, yang membuat coret-coretan ini tidak akan bisa terbaca oleh Celine.
“Hari ini kita belajar menulis huruf ya. Sini aku tuliskan dulu huruf A sampai Z,” ucapku lantang.
Sementara aku menuliskan sesuatu yang berbeda disana.
"Tunggu bantuan dari nenekmu, dia sudah pergi dari Amerika menuju ke sini."
Aku lalu berkali-kali memberikan pesan sembari berakting tengah mengajari Josh menulis.
"Nenekmu memintaku untuk menjagamu sampai bantuan tiba."
Josh tersenyum saat melihat aku menuliskan ini untuknya. Tanpa suara, dia menggerakkan bibirnya sambil mengatakan “Terima Kasih”
“*Tapi banyak keganjilan.”
“Suster Diana dipecat."
"Rikian tidak berada di sini."
"Sementara Celine menyerahkan kamu sepenuhnya kepadaku sekarang*."
Wajah Josh Rainer kini berubah dari tersenyum menjadi datar. Dia tampak berpikir.
"Menurutmu apa yang sedang direncanakan Celine?"
Aku lalu memberikan spidol padanya saat aku mencoba menghapus seluruh pesanku.
“Ayo coba kamu praktikan bagaimana menulis kata Josh Rainer,” palsuku.
"Dia ingin menjebak kita."
Kerongkonganku tercekat saat melihatnya.
"Jangan tinggalkan aku sendirian."
Kata-kata itu menusukku.
Aku tahu maksud Josh Rainer adalah aku harus tetap disampingnya supaya kami saling mengawasi.
Namun, melihat kata-kata itu malah membuatku teringat dengan bagaimana aku tidak ingin Dio meninggalkan aku sendirian di dunia ini.
Aku merindukan mantan kekasihku itu.
Namun dengan kegilaan yang terjadi setelah Dio pergi, aku jadi menyadari satu hal yang pasti.
__ADS_1
Dio, bagaimana bisa aku malah jadi sekuat ini saat kamu pergi?