
Pov : Becca
Mungkin seperti ini rasanya mati.
Rasanya seperti kamu sudah tidak bisa merasakan sakit lagi.
Padahal, hatiku jelas tengah hancur berkeping-keping.
Otakku? Jangan tanyakan otakku yang mendidih atas semua kegilaan yang terjadi.
Bahkan badanku yang kini terluka dan bersimbah darah seperti tak berasa apa-apa.
Aku seperti melayang.
Aku sudah tidak bisa merasakan sakit.
Mungkin karena kesakitan yang kuterima selama ini sudah begitu menyakitkan.
Aku sudah mati rasa.
Atau..
Mungkin aku memang sudah mati.
Aku sudah pindah ke dunia lain.
Ke dunia yang kekal, karena dunia yang fana selama ini tidak pernah memberikanku harapan.
Tapi,
Dunia baru ini bahkan tidak bisa membuatku merasa lebih baik.
Masih ada lubang yang menganga di dasar hatiku yang kuyakini tak bisa disembuhkan.
Luka akibat perasaan yang berkali-kali ditolak oleh harapan.
Perih.
Dan hampa.
....
Mengapa dunia setega ini padaku?
Mengapa aku harus semenderita ini?
Mengapa....
Aku harus melihat pundak yang selama ini kuidamkan itu pergi menjauh?
Dan mengapa pundak itu harus memeluk perempuan yang paling tidak kuinginkan ada di dunia ini?
Mengapa!
Selena..
Kamu sangat keterlaluan!
Mengapa kamu selalu mengambil semua milikku yang berharga?
Mengapa kamu dengan tamaknya mengambil semua yang kuinginkan?
Mengapa bukan aku yang dipeluk oleh Aldebaran!
Mengapa selalu kamu yang mengacaukan semua harapanku, Selena!!
..
Jika saja dulu Dio tidak bertemu Gery, kakakku itu tidak akan pernah mengenalmu.
Jika saja sejak awal aku menolak tegas hubungan kalian seperti yang dilakukan orang tuaku, Dio tidak akan terperdaya olehmu.
Jika saja aku tidak merasa kasihan kepada Dio yang memohon padaku untuk menerima kamu, kakakku dan kamu tidak akan pernah bisa bersatu!
__ADS_1
Jika saja semua itu terjadi, Dio tidak perlu terlibat dalam rencana setan ini!
Kakakku tidak perlu mati!
Kakak tersayangku itu berhak mendapatkan hidup yang lebih baik.
Namun, nasibnya... karena aku...
Tidak...
Ini semua karena kamu!
Jika dia tidak menjemput kamu saat itu, kakakku masih bernafas dan akan menjadi orang hebat di negara ini di kemudian hari.
Dan coba lihat apa yang kamu lakukan pada kakakku, Selena?
Kamu tanpa rasa bersalah malah melenggang pergi bersama cinta matiku!
Bahkan Dio belum genap pergi satu bulan lamanya dan kamu sudah menggandeng lelaki lain?
Dimana hatimu Selena?
Kamu membinasakan kakakku dan sekarang pergi merebut orang yang kucintai tanpa memahami perasaanku?
Aku hancur! Hancur hancur hancur!
Kakakku mati karenamu!
Dan kini satu-satunya lelaki yang membuatku bahagia memilih untuk bersamamu!
Kamu antagonis, Selena.
Teman tidak pernah menusuk dari belakang seperti ini!
Dan tahukah kamu Selena?
Aku sempat berusaha melupakan Aldebaran, dengan mencoba berkencan dengan Gery. Itu dulu sekali.
Aku pikir, aku bisa melupakan pangeranku itu dan memulai semuanya dengan Gery.
Tapi tahukah kamu Selena?
Tahukah kamu bahwa Gery tidak pernah melepaskan pandangannya padamu?
Dan tahukah kamu, di setiap malam kami selalu bertengkar karena Gery tak pernah melewatkan hari tanpa menyanjungmu?
Gery selalu memujimu dan bangga bisa mengenal dan tumbuh bersama seorang Selena Ariadna.
Bayangkan Selena!
Aku sudah berusaha melupakan Aldebaran saat itu,
Tapi kamu bahkan tidak membiarkan aku untuk memulai kisah cintaku dengan Gery!
Tiga tahun kisah cinta kami selalu dipenuhi dengan pertengkaran karenamu!
Kamu ambil kakakku dan tetap menjaga Gery supaya selalu disisimu!
Mengapa kamu tega kepadaku Selena?
Dan saat Aldebaran kembali,
Mengapa kamu juga ambil milikku yang tersisa ini? Mengapa???
Aku yang jatuh cinta lebih dulu pada Aldebaran!
Tapi mengapa kamu yang ada di dekapannya saat ini?
Kamu jahat, Selena.
Kamu menghancurkanku sampai tidak ada lagi yang tersisa dariku.
Aku hancur! Hancur hancur hancur!
__ADS_1
.......
Fikiranku kembali melayang saat pertama kali aku jatuh hati pada Aldebaran.
Di pertemuan pertama kami.
Saat itu, aku masih berusia 8 tahun. Aldebaran mungkin kala itu berusia 10 atau 11 tahun.
Jika kalian pikir ini adalah cinta monyet semata, kalian salah besar.
Karena ini adalah awal dari bagaimana hatiku jatuh dan luluh padanya.
Kala itu, ada pesta perjamuan untuk memperkenalkan pewaris keluarga Gurnawijaya yang telah lama hilang.
Dan pewaris itu adalah Aldebaran.
Anak yang hilang sejak dilahirkan dan kembali pulang setelah 10 tahun tanpa kabar berita.
Aku datang bersama ayah dan ibuku, yang diundang sebagai tamu dari Istri Gurnawijaya saat itu, Celine. Ibuku dan Celine adalah teman baik di grup sosialitanya.
Dio kala itu tidak ikut ke pesta yang diadakan di rumah Gurnawijaya karena bentrok dengan kegiatan karyawisata sekolahnya.
Kala itu, aku celingukan mencari teman untuk bermain dan kecewa karena tidak menemukan anak seusiaku.
Sampai akhirnya, aku refleks mematung ketika melihat lelaki berwajah rupawan melintas di depanku.
Aldebaran Gurnawijaya.
Yang disalami banyak orang dan dikelilingi oleh para tamu yang ingin melihat rupa pewaris konglomerat di tanah Jakarta ini.
Mulutku ternganga. Keringat dingin mengucur dari balik gaun princess yang kukenakan. Tubuhku masih kaku mematung.
Saat melihat lelaki yang tengah menyapa ramah para tamu itu juga melemparkan senyumnya padaku.
Membuatku jadi salah tingkah.
Aldebaran, sejak masih muda, tidak pernah canggung berada di tengah pusat perhatian.
Namun, tampang dan penampilan saja tidak serta merta membuatku jatuh hati padanya.
Tapi kebaikan hatinya lah yang menjerumuskan perasaanku pada palung cinta untuknya.
Saat itu, seluruh tamu sudah berkumpul dan mengerubungi ruang tamu mewah keluarga Gurnawijaya. Kakek Aldebaran yang saat itu masih hidup memperkenalkan cucunya secara resmi sebagai pewaris keluarga Gurnawijaya yang sah.
Kala itu, riuh rendah tepuk tangan membanjiri seantero ruangan, sampai tidak ada yang sadar bahwa Kakek Aldebaran terbatuk-batuk karena harus mengumumkan pengumuman ini dengan suara kencang.
Dengan responsif, Aldebaran yang berdiri di samping kakeknya langsung mengambil air minum yang letaknya ada disudut ruangan sambil berlari, kemudian memberikannya cepat pada kakeknya.
Yang membuat para tamu melongo.
Karena pekerjaan memberikan minum tidak wajar dilakukan oleh seorang pangeran, melainkan menjadi tugas sehari-hari asisten rumah tangga.
Aldebaran bahkan menepuk-nepuk bahu kakeknya untuk memastikan batuk kakeknya pulih dan tidak tersedak lagi.
Semua tamu di ruangan kembali bertepuk tangan melihat pewaris Gurnawijaya yang sangat rendah hati dan penuh inisiatif sejak usia muda.
Namun, suasana pesta yang sangat berisik tampaknya tidak cocok untuk seorang Aldebaran.
Tanpa dia sadari, aku melihat saat dia berusaha kabur dari ruang tamu dan menyelinap menuju taman samping rumah.
Aku lalu mengejarnya!
Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menjadi temannya!
Aldebaran berlari menyusuri taman sampai akhirnya kami berada di sudur kebun bunga yang di sudutnya tumbuh semak-semak tinggi.
Dan aku terkesiap saat melihat Aldebaran masuk ke semak-semak tersebut.
Apa yang ingin dia lakukan di dalam semak-semak sana?
Apakah dia sedang bermain petak umpet? Pikirku polos saat itu.
Tak banyak pikir, aku lanjut mengejarnya.
__ADS_1