
Kakiku terasa kebas.
Jantungku serasa mau copot.
Dan kepalaku seperti ingin pecah.
Di tengah kepayahanku, aku tetap berlari menuju kamar Josh Rainer.
Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu lagi di tengah rentetan fakta mengerikan yang terkuak hari ini.
...
Ternyata, sejak awal aku sudah diincar untuk dijadikan kambing hitam pembunuhan Josh Rainer oleh ibu tirinya sendiri.
Buruknya lagi, sahabatku sekaligus adik dari tunanganku membantu merencanakan konspirasi ini sejak awal.
Dan yang paling membingungkan dari semuanya, aku bertemu anak kandung Celine yang mengaku mengenalku waktu kami masih anak-anak.
Dan dia tidak malu-malu mengajakku menikah di pertemuan pertama kami kembali.
Ya ini aneh sekali. Anak dari orang yang menginginkanku masuk penjara malah ingin menikahiku?
…
Ada banyak waktu berjam-jam untuk memikirkan kebingungan ini nanti.
Namun, aku tidak boleh mengendurkan fokusku saat ini untuk membawa kabur Josh Rainer.
Aku memelankan lariku. Kini, aku telah melewati empat kamar menuju sayap timur bagian rumah ini.
Dan berhenti di depan pintu kamar penerus keluarga Gurnawijaya yang tengah berada di pusara perebutan harta dan kekuasaan oleh keluarganya sendiri.
Kita pasti akan keluar dari neraka ini, Josh.
Masih mencoba mengendalikan degup jantungku, aku perlahan membuka gagang pintu dan masuk ke kamarnya.
Aku hanya pergi beberapa jam dari sini dan semuanya tampak tak ada yang berbeda.
Meskipun kawanan Celine sudah membobol kamera pengawas disini, kamarnya masih terlihat rapi dan tak ada letak barang yang berubah.
Tentu saja begitu. Mereka tidak ingin ada kecurigaan bahwa Josh Rainer dibunuh oleh tersangka selain dokternya kan?
Karena begitu, mereka menyiapkan semua kondisi senatural mungkin.
Licik. Mereka sangat kejam.
Dari semua kekhawatiranku sejak tadi, akhirnya ada satu hal yang membuat jantungku terasa lebih baik.
Adalah saat melihat Josh Rainer masih bernafas dalam tidurnya.
Terlihat damai dan masih tergeletak dengan posisi yang sama sebelum aku pergi. Dia pun masih dengan pakaian yang sama dan tertutupi selimut.
Melihat ini saja aku sudah merasa lega.
Untunglah, mereka belum mengeksekusi Josh. Dan untunglah mereka hanya memberikan obat tidur padanya.
Aku bergerak ke sampingnya dan menyentuh wajah Josh yang tenang, tak terpengaruh dengan hingar bingar rencana jahat yang disusun Ibu tirinya di perpustakaan sebelah.
Terima kasih Tuhan, dia masih hidup.
Yang paling penting untuk kulakukan sekarang adalah membangunkan Josh Rainer. Sesegera mungkin.
Ada banyak cara yang biasa dokter lakukan untuk membangunkan pasien pasca dibius. Biasanya kami memberikan tepukan atau cubitan di area tubuh yang sakit untuk segera membangunkannya.
Josh Rainer tidak sedang mengalami luka sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang sakit. Jadi, aku memutuskan untuk mencubit dan menjepit beberapa bagian tubuhnya agar dia segera bangun.
Namun, pengaruh obat tidur ini pastilah masih sangat kuat di tubuh Josh karena baru disuntikkan beberapa jam sebelumnya.
__ADS_1
Tapi, aku harus tetap mencoba segala cara.
Dengan terburu-buru, aku menjewer kedua telinganya cukup keras.
Namun, masih belum ada respons.
Aku lalu memencet jari manisnya dengan kuat, dia masih saja bergeming.
Bangun Josh, bangun!
Kemudian aku mencoba menyemprotkan air minum yang ada di atas meja ke wajahnya, dia masih saja diam.
Josh, ayo! Kita akan kehabisan waktu!
Dia masih damai dalam tidurnya, seperti tidak ada yang terjadi.
Josh, jika kamu adalah bayi, aku akan menggendongmu dengan senang hati dan mencari cara untuk turun ke balkon bawah.
Namun kamu adalah lelaki bertubuh atletis, memapahmu saja aku kesulitan apalagi harus menggendongmu!
Aku masih mencoba berbagai cara, termasuk menusukkan ujung pulpen ke jempol kaki Josh dan jempol kaki tangannya bersamaan.
Bangun, ayo bangun!
Aku hanya takut kehabisan waktu dan ditangkap Celine dan rombongannya.
Sayangnya, tetap tidak ada reaksi apapun di badan Josh.
Aku nyaris putus asa dan akhirnya mencoba merangsangnya lewat suara. Sebetulnya, cara ini adalah yang paling lemah untuk dilakukan dibandingkan dengan rangsangan sentuh.
Namun, aku harus benar-benar melakukan segala cara untuk dia bangun.
“Josh Rainer, kalau kamu mau selamat bangun sekarang!”
Aku berbisik di telinganya, sambil masih mencoba menusukkan ujung pulpen ke jempol tangannya.
Masih diam, tidak ada reaksi.
Aku kini lalu menumpahkan semua air minum ke atas muka Josh dan dia masih sama saja.
“JOSH KITA HARUS HIDUP, AYO BANGUN!”
Aku kini sudah nyaris berteriak di kupingnya dan berharap tidak ada satupun dari kawanan Celine yang mendengarkan jeritan dari kamar ini.
Dan disaat itulah, dua pasang mata indah itu akhirnya menjeblak terbuka.
Josh Rainer akhirnya bangun dari tidurnya!
Dia kemudian terduduk dan batuk karena banyaknya air yang masuk dari hidungnya.
Kemudian dia baru sadar bahwa sedari tadi, aku telah menyebabkan nyeri di sekujur tubuhnya.
Dia lalu menatapku, yang kali ini pasti sudah bertampang parah. Cemong karena melewati ranting tajam di hutan pemakaman, lumpur di celanaku, hingga rambutku yang pastinya sudah awut-awutan sehabis jatuh dari motor tadi.
“Josh kita harus cepat..”
Saat aku memintanya untuk segera bergegas, Josh malah melakukan hal yang tidak kuduga.
Dia merengkuh lenganku.
Lalu merangkulku masuk ke dalam lengannya.
Dia memelukku. Erat.
“Josh..kita..”
“Selena, diam sebentar..”
__ADS_1
Josh memintaku diam untuk menikmati momen ini.
Dia bahkan semakin mengencangkan pelukkannya buatku.
Fikiranku ingin menolak situasi ini.
Tetapi, perasaanku..
Perasaan ini..
Nyaman sekali.
Rasanya seperti aku menemukan harapan kembali di tengah kematian yang diujung tanduk.
Rasanya seperti aku tidak sedang mengalami kegilaan dan bahaya mengerikan dalam dua minggu ini.
Rasanya seperti aku mendapatkan ketenangan duniaku kembali.
Dan rasanya.. seperti Dio kembali lagi disini.
Entah mengapa, aku menikmatinya.
...
Apa yang salah denganku?
Mengapa rasanya beban di hidupku terasa hilang dengan memeluk Josh?
Mengapa, aku yang baru saja ditinggal mati tunanganku ini malah bahagia saat dipeluk oleh lelaki yang sudah memilki pacar?
Josh Rainer masih belum mau melepaskanku.
Sementara itu, otakku bereaksi hebat atas kemungkinan kematian jika kita hanya bersantai dan tidak melakukan apa-apa secepat mungkin.
“Kita harus cepat, Celine akan membunuhmu sebentar lagi. Aku pun mungkin juga akan mati,” tegasku masih di dalam pelukannya.
Josh tidak menjawabku. Dia malah mengetatkan kembali pelukannya padaku.
“Josh..”
Aku benar-benar dilema. Dihadapkan oleh otakku yang memberikan peringatan, di sisi lain hatiku yang meminta pelukan ini tidak selesai.
“Kamu tidak tahu rasanya. Aku pikir aku tidak bisa melihatmu lagi,” bisiknya di kupingku sambil mengeratkan pelukannya.
Oh, Josh.
Hatiku...
Aku luluh mendengarnya.
Di tengah situasi terjepit saat ini, ucapan Josh Rainer terasa seperti oase untukku.
Rasanya seperti aku melihat pemandangan indah setelah berjalan kaki ratusan kilometer jauhnya.
Aku kini sudah tidak peduli lagi yang mana yang benar.
Aku bahkan sudah tidak peduli lagi apa yang akan terjadi setelah ini.
Yang aku tahu, lelaki yang sangat kuperjuangkan hidupnya ini ternyata mampu membalikkan rasa sedihku.
Dia mampu memberikanku rasa tenang, kenyamanan dan keindahan dalam satu waktu.
Bahkan disaat-saat kami tengah dilanda kengerian seperti saat ini.
Merengkuhnya saja sudah membuatku merasa hidup.
Apakah aku mulai menyukainya?
__ADS_1