
Aku tidak mempercayai apa yang kulihat.
“Josh lihat talinya!” aku berteriak histeris.
Josh masih menjejak pelan dan turun perlahan di dinding sambil memelukku.
“Sebentar lagi kita sampai, tahan..” balasnya lembut padaku.
“Talinya akan putus!” pekikku.
Dia lalu melihat keatas dan melihat sumber kekhwatiranku.
Kami segera jatuh.
Jatuh di ketinggian ini masih sangat berbahaya, khususnya jika kepala yang langsung mencium tanah.
Sekalipun kami bisa bertahan sedikit lagi kebawah, kami pasti akan merasakan sakit yang luar biasa sampai mungkin tidak bisa berjalan jika jatuh.
Tanpa aku sadari, Josh telah berupaya membuka simpul di pinggangnya.
Dia berniat untuk menjatuhkan diri dari ketinggian sekitar lima meter dari atas tanah!
“Jangan!” aku mencoba mengentikan tangannya.
“Kamu percaya padaku kan?” dia kembali mengatakan itu.
“Sebentar, kita masih bisa bertahan sedikit lagi kebawah,” pintaku.
Namun, Josh tidak mendengarkanku dan segera membebaskan talinya.
Dia lalu hilang begitu saja dari pandanganku.
Terjun ke bawah sangat cepat.
“JOSH!” teriakku pilu.
Aku masih berayun-ayun di taliku saat aku melihat lelaki itu jatuh tersungkur ke bawah tanah.
Lalu tidak bergerak sama sekali.
Oh tidak Josh!
Sudah sedikit lagi dan kami akan selesai disini?
Aku masih mendengar suara Celine berteriak dari balik pintu. Sepertinya mereka semua tengah mencoba mendobrak pintu itu saat ini.
"SELENA AKU PERINGATKAN KAMU UNTUK KELUAR!"
Sementara itu, aku berusaha menjejaki tembok hingga di ketinggian tiga meter sampai akhirnya tali itu sudah tidak mampu mengangkutku.
Aku lalu terhempas begitu saja ke tanah.
Aku mencoba mengendalikan jatuhku, namun ini semua terjadi begitu cepat.
__ADS_1
Aku kini pasrah dan memejamkan mataku sambil menunggu kerasnya tanah memukul badanku.
…
Namun, tidak berasa apa-apa.
Aku tidak jatuh ke tanah.
Aku melayang.
Aku membuka mataku, bingung dengan apa yang terjadi.
Dan disana, aku melihat sosok tampan itu sudah menangkap badanku yang akan jatuh ke tanah dengan sigapnya.
Tidak ada luka, tidak ada sakit di wajahnya.
Dia menggendong tubuhku di lengan kekarnya.
“JOSH!” aku menangis saking kagetnya.
Dia mencoba menenangkanku.
“Aku tidak apa-apa, hanya sedikit sakit saja saat aku menapak tadi jadi aku berbaring dulu,” katanya sambil membuka simpulku.
Syukurklah kami masih selamat.
Dan saat ini yang harus kami lakukan adalah kabur secepat mungkin dari cengkraman Celine!
Di saat aku membantu Josh memutus simpul di pinggangku, suara dentuman terdengar kencang dari pintu kamar Josh.
Pintu kamar sudah dibobol dan artinya tinggal sebentar lagi Celine melihat keanehan di balkonnya.
“Kamu lari duluan, nanti aku akan menyusul!” pintaku padanya mencoba menenangkannya.
Namun, Josh menghiraukanku dan tetap masih berusaha keras membuka simpul tali yang kuikat mati tadi.
“Aku tidak akan melakukan hal sebodoh itu,” balasnya kini berusaha mengigit simpul agar terlepas.
"Aku tidak mau kehilanganmu, Selena," katanya lagi.
Josh.
Lagi-lagi kamu membuat hatiku meleleh.
Aku terharu namun kami saat ini benar-benar dalam kondisi genting.
Josh masih berusaha keras membuka simpul di pinggangku. Bersusah payah.
Oh cepatlah, beberapa detik lagi Celine pasti akan melihat hal yang aneh di balkon Josh.
Dan saat itulah, simpul ini terlepas!
Tanpa membuang waktu, Josh lalu menarikku dan segera berlari menuju taman di kebun belakang rumah.
__ADS_1
“Lewat sini!” katanya membimbingku.
Kami melewati jalanan semak-semak, mengindari petak jalan utama menuju taman belakang agar tidak kelihatan.
Saat kami tengah susah payah berlari diantara semak-semak, suara Celine masih terdengar jelas.
“KALIAN SEMUA TIDAK BERGUNA! MEREKA KABUR! CEPAT PERIKSA GERBANG DEPAN!” katanya.
Gerbang depan?
Celine bahkan tidak repot-repot menyuruh orangnya mengecek taman belakang?
“Tidak ada jalan keluar di belakang rumah ini, satu-satunya akses masuk keluar rumah hanya lewat gerbang depan,” jelas Josh padaku yang kebingungan.
Begitukah?
Itukah mengapa Aldebaran mengusir sekuriti di pintu depan? Supaya memalsukan langkah kami yang sebenarnya akan keluar dari jalan belakang?
Jika memang begitu, aku sangat berterima kasih padanya.
“Celine.. tidak berpikiran.. kita akan kabur lewat helipad?” tanyaku terengah engah.
Josh didepanku masih memandu jalan rahasia semak-semaknya sebelum kami sampai di taman yang berada di kebun belakang.
“Helipad ada diatas rumah. Dia tidak akan berpikiran kalau helikopter penolong ini akan mendarat di tempat rahasiaku,” katanya.
Tempat rahasia?
Apakah Aldebaran tau bahwa ini adalah tempat rahasia Josh?
Tak berapa lama, kami sampai di ujung semak-semak dan disanalah berada taman lapang yang luas.
Taman ini mungkin digunakan oleh Josh Rainer muda untuk bermain sepak bola.
Dan disanalah, aku melihat helikopter terparkir diantara helipad yang dibuat ala kadarnya.
Tak berapa lama empat wajah sekuriti yang sudah aku kenal muncul dan segera mempersiapkan penerbangan. Mesin helikopter sendiri tampak sedari tadi sudah dipanaskan.
“Pak Josh Rainer, kami mendapat arahan dari Ibu Margaretha untuk mengatur penerbangan ke rumah nenek Anda,” ucap salah satu sekuriti berbadan kekar.
Margaretha?
Semua bantuan ini disiapkan oleh Margaretha? Bukannya Aldebaran?
Lantas mengapa Aldebaran yang mengetahui rencananya dan memberitahukannya padaku?
Josh tampak tak heran dengan bantuan ini dan dia mengangguk.
Dia kemudian menggenggam tanganku dan mengajakku masuk ke dalam.
“Kita pergi sama-sama, Selena,” ucapnya.
Aku mendidih mendengarnya dan masuk ke dalam helikopter sambil menggengam tangannya.
__ADS_1
Akhirnya, seluruh masalah yang aku alami berhari-hari terakhir ini akan segera berakhir.
Tanpa aku tahu, sebetulnya aku baru saja mulai masuk dalam drama percintaan pilu yang tak pernah aku bayangkan.