Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
USAHA


__ADS_3

Oh wow.


Aku dan Gery tiba di rumah tujuan kami dan terkesima dengan apa yang kami lihat.


Jika rumah Josh Rainer di kawasan elit Jakarta disebut Istana Pangeran William oleh Gery, pemandangan di depanku mungkin bisa disebut Istana Buckingham, tempat tinggal Ratu Elizabeth di Inggris sana.


Bahkan diantara tempat tinggal yang ada di di kawasan ini, rumah inilah yang paling mencuri perhatian karena luasnya yang mencapai belasan hektar.


Gery bahkan masih bengong di jok nya saat aku melepas helm dan jaket parasutku.


“Istana Presiden gak pindah kesini kan?” Gery masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Aku mencubit Gery agar dia bangun dari mimpinya. Gery tampak meringis dan setelahnya mengikuti langkahku menuju gerbang masuk istana ini.


Tidak ada sekuriti di depan pagar.


Bahkan tidak ada pos satpam yang dibangun di depan gerbang.


Tidak ada bel, tidak ada interkom, tidak ada alat bantu apapun.


Aku memperhatikan sekeliling dan melihat banyak kamera pengawas terpasang diatas gerbang.


Oh, mereka hanya mengawasi orang-orang yang datang dari sini. Jika tidak kenal dan tidak ada janji, kemungkinan tamu akan dibiarkan saja di depan rumah seperti kami ini.


Yang mana ini berita buruk buat kami.


Aku sendiri akhirnya nekat mendatangi rumah nenek Josh Rainer ini karena tidak ada yang mengangkat panggilan telfonku selama tiga hari terakhir ini.


Mereka pastilah menggunakan caller id, yang mampu mengecek siapa nama penelepon. Dan nomor telfonku sudah pasti tidak berada dalam daftar kenalan mereka.


Sementara itu, rumah ini sangat amat besar. Tidak akan ada satupun yang bisa mendengar kami berteriak dari sini. Cara memanggil-manggil nenek Josh Rainer dari balik pagar sudah pasti tidak akan efektif.


Pagar di gerbang ini juga sangat tinggi dan kokoh. Kami berdua tentu tidak bisa mendobraknya. Sepertinya perlu ratusan orang untuk bisa mendobraknya, pikirku.


“Lalu kita mesti gimana?” tanya Gery sama bingungnya.


Aku mencoba mencari akal. Apa yang bisa membuat orang di dalam rumah ini keluar dan menemui kami?


“Sel, kita waktu masih kecil kan sering manjat pohon belakang sekolah. Mau coba manjat pagar ini gak?”


Gery mulai mengeluarkan ide gilanya.


“Pasti setelahnya ada alarm peringatan kan, kita malah ketangkap dong," jawabku.


“Loh malah bagus dong. Tujuan kita kan supaya bisa diketemuin ama Ratu Elizabeth, abis itu tinggal bilang deh sama sekuriti yang nangkap kita soal kondisi pangeran. Kasi tuh kertas partitur yang jadi bukti, pasti pada percaya,” ucap Gery berapi-api.

__ADS_1


Ide Gery memang masuk akal namun sama sekali tidak elegan. Aku khawatir langkah “grasak-grusuk” dapat mengurangi kepercayaan Nenek Josh Rainer terhadap kami. Aku butuh dia percaya bahwa Josh saat ini sedang dalam bahaya dan sangat butuh bantuannya.


“Kamu bawa kertas dan pulpen gak?” tanyaku akhirnya. “Kita coba pakai cara orang cerdas dulu ya.”


Gery tampak manyun karena secara tidak langsung ide yang dia lontarkan adalah cara orang yang tidak cerdas.


“Nih aku bawa buku catatan kantorku,” katanya seraya memberikanku buku tulis dan pulpen.


Aku lalu menulis tulisan diatas kertas. Setelahnya merobek beberapa halaman buku itu.


“Oke Ger, sekarang tolong gendong aku di pundakmu ya. Aku harus menunjukkan kertas-kertas ini didepan kamera pengawas persis,” pintaku lugas.


“Sel, tapi traktir pijet ya besok? Pegel-pegel pasti nih abis gendong kamu. Mana perjalanan hampir empat jam pulang pergi,” cerocos Gery.


“Eh, woy! ” Gery kaget aku tiba-tiba sudah memanjat ke punggungnya.


“Datang aja ke rumah, papaku pinter mijit,” kataku sekenanya sambil menyeimbangkan badanku yang kini sudah berada di pundak Gery. Gery yang badannya memang atletis tampak tidak masalah dengan berat badanku yang terhitung ringan ini.


Gery mulai nyerocos tapi aku memintanya untuk diam dan fokus dulu pada misi kali ini. Aku memintanya untuk lebih dekat ke arah kamera pengawas terdekat yang tertempel di pilar gerbang pagar utama.


Gery perlahan-lahan berjalan mendekati kamera sambil memegang kakiku yang ada di pundaknya. Setelah posisinya pas, aku kemudian menempelkan kertas itu ke dekat kamera.


“JOSH RAINER”


“DALAM BAHAYA”.


Aku menahan lagi kertas itu selama tiga puluh detik.


Lalu aku mengganti kembali kertas pertama, berharap segera ada orang rumah yang membaca dan menyuruh kami masuk.


Aku melakukannya bergantian selama hampir lima menit dan rasanya tidak ada tanda-tanda orang didalam rumah yang akan menyambut kami.


“Sel, ini kayanya sia-sia. Ganti ke rencana B?”


Rencana B yang dimaksud Gery adalah rencana kesukaannya. Memanjat pagar sampai ditangkap oleh sekuriti. Dengan begitu kita bisa meminta akses untuk menemui Nyonya Gurnawijaya.


Aku memutar otak lagi dan teringat hal penting.


Kertas partitur yang berisi tulisan Josh.


Aku mengambilnya dari tas ranselku kemudian menunjukkanya dekat-dekat ke kamera.


Tulisan itu pastilah terlihat sangat kecil di kamera, namun aku tetap yakin ini bisa jadi alasan orang rumah mau menemuiku.


Aku kembali bergantian menyorongkan kertas bertuliskan “JOSH RAINER DALAM BAHAYA” sekaligus tulisan Josh Rainer sendiri di kertas partitur.

__ADS_1


Aku mencobanya sekitar 3 menit dan masih tidak ada reaksi.


“Sel,” Gery tampak sudah lelah menggendongku.


“Cara terakhir!” aku mengingatkannya.


”Jika gak ada respons, kita manjat beneran.”


Aku lalu mengambil ponselku dan membuka galeri foto.


Ya, aku sempat mengambil foto Josh Rainer saat pertama kali dia dinyatakan amnesia oleh Dokter Bernard.


Di foto itu, Josh masih menggenakan perban di kepalanya dan tengah tertidur setelah dia melabrak Celine pertama kalinya saat dia bangun dari koma.


Aku menunjukkannya didepan kamera.


Hanya ini satu-satunya cara terakhir. Setelahnya, aku sudah tidak punya cara lainnya untuk meyakinkan nenek Josh Rainer bahwa Josh dalam bahaya.


Semoga gambar foto Josh Rainer ini jelas terlihat di kamera, harapku.


Aku menunggu tiga menit dan tidak ada respons.


“Ger, ayo,” aku akhirnya menyerah dan menuruti ide Gery memanjat pagar setinggi lima meter didepanku ini.


Gery mendekatkanku ke pagar dan aku langsung mengambil pegangan untuk menempel di pagar.


Gery mengikuti langkahku setelahnya, kini kami berdua telah menempel di pagar dan siap memanjat.


Pagar besar ini tidak hanya tinggi namun juga banyak jeruji tajam dalam desainnya. Kami harus hati-hati atau kalau tidak tajamnya jeruji akan melukai badan kami.


Saat aku mau memulai memanjat dan berhati-hati memindahkan tanganku ke jeruji yang lebih tinggi, aku dikagetkan dengan pandangan didepanku.


Tanpa kami sadari, sekitar selusin sekuriti berbadan tegap telah berdiri di balik jeruji pagar.


Diantara sekuriti itu, ada satu sosok perempuan tua dengan rambut putih yang berdiri paling depan. Dia menatapku tajam.


Si perempuan tua itu kemudian mengangkat tangannya, memberikan aba-aba kepada orang-orang yang dibelakangnya.


Salah satu sekuriti mengangkat satu remote di depannya, dan menekan tombol.


Tiba-tiba saja, pagar yang aku pegangi bergeser cepat ke dua sisi, kanan dan kiri. Tanpa aba-aba, aku dan Gery jatuh bebas ke tanah.


Sebelum akhirnya perempuan tua itu menghampiri kami, mendekati wajahku dan mengatakan sesuatu yang tak kuduga.


“Pembohong," ucapnya di depan wajahku dengan mimik penuh kebencian.

__ADS_1


__ADS_2