
Tidak.
Diana menangkap basah komunikasi aku dan Josh!
Dengan tatapan menyeringai, Diana meneriakiku.
“Aku sudah yakin ada yang aneh dengan kalian! Aku akan laporkan kepada Bu Celine.”
Aku kini telah menghentikan permainan biolaku. Aku berusaha berpikir keras apa yang harus aku lakukan untuk menyangkal semua ini di depan Diana.
Namun, Diana telah bergerak cepat mengambil kertas didalam tas biola yang disisipkan oleh Josh.
Tamat sudah.
Sandiwara aku dan Josh akan terbongkar.
Di tengah aku masih menginvestigasi apa yang sebetulnya terjadi pada keluarga ini.
Diana menunjukkan senyum kemenangannya padaku. Dia perlahan membuka kertas partitur yang disisipkan Josh ke dalam tas itu.
Aku kehilangan akalku.
Aku menengok ke arah Josh, namun dia tetap diam dengan tatapan kosongnya.
Dan wajah pucatnya.
Sangat pucat sampai membuatku lebih mengkhawatirkan kondisinya sekarang daripada isi kertas itu.
Apa yang terjadi pada Josh?
Mengapa dia terlihat lemah hari ini?
Apa memang sesuatu terjadi saat aku tidak ada kemarin?
Aku lalu kembali memusatkan perhatianku pada Diana.
Perlahan-lahan, dia membuka isi kertas itu dengan senyum lebar.
Namun, perlahan-lahan pula senyum di wajahnya memudar.
Matanya tampak terperanjat melihat kertas itu.
Apa yang ditulis Josh untukku?
Aku segera berdiri disampingnya untuk mengintip tulisan itu.
Ternyata,
Tak ada tulisan apapun!
Ya, tidak ada coretan apapun didalam kertas partitur tersebut selain not balok lagu Moonlight Sonata yang sedang kumainkan.
Dia membolak-balikan kertas itu berulang kali, dan kecewa saat mengetahui memang tidak ada apapun yang tercetak selain not balok di partitur.
Aku langsung bereaksi cepat menyambar kesempatan ini.
“Diana, apa maksudmu? Mengapa kamu seenaknya memotong permainanku? Kamu tahu betapa pentingnya terapi ini untuk kesembuhan Josh kan?”
Diana membisu dengan tampang kesal. Dia seperti yakin bahwa ada komunikasi tertulis yang dilakukan Josh kepadaku di depan matanya.
“Jika tidak ada sesuatu yang penting, tolong diam. Aku sedang menstimulasi otak Josh lewat biolanya!" nadaku meninggi.
"Jika kamu menganggu lagi, kita tahu apa yang menyebakan Josh Rainer sulit sembuh,” aku tegas kepadanya.
__ADS_1
Diana tampak ingin meledak saat ini karena malu.
“Terapi ini sia-sia saja,” dia meremehkanku tidak mau kalah.
“Rikian bawa kembali tuan muda ke kamarnya,” Diana membalas perkataanku dengan perintahnya.
Aku mengadangnya. “Tidak. Josh tetap disini sampai terapi selesai.”
“Mau melawanku?” Diana mengancamku.
“Dokter bodoh, kamu itu hanya boneka disini,” dia kehilangan kontrol.
Apa aku tidak salah dengar?
Aku adalah boneka? Apa maksudnya?
Diana tampak tidak sengaja mengatakan itu. Kini dia menutup mulutnya.
“Jelaskan padaku,” aku memintanya tidak beranjak.
Dia kini malah menjambak rambutku. Aku tampak meringis kesakitan.
Diana kini bahkan mencengkeram wajahku dengan emosi yang meledak-ledak.
Aku berusaha melawannya, namun badan kecilku sulit mempertahankan diriku dari Diana yang beperawakan gempal.
Tiba-tiba saja suara kursi roda berderit.
Josh, yang masih dengan tampang pucat, tidak terima dengan kondisi didepannya.
Dia tiba-tiba berdiri didepanku dan mencoba membelaku ketika Diana ingin mendorongku.
Sebaliknya, dengan badan tegap Josh Rainer yang melindungiku, kekuatannya malah membalik kepada Suster Diana dan membuatnya terjengkang ke lantai.
“Aduh!” teriak Diana, tidak menyangka ada kekuatan besar yang datang membantuku.
Diana bergegas ingin menyelamatkan diri, takut melempar barang-barang diperpustakaan padanya.
Tanpa disangka dia malah termakan perangkapnya sendiri.
Diana jatuh terjerembab dengan bunyi kencang.
Dia tersandung kaki meja tuan besar!
Diana mengernyit kesakitan.
Dahi dan dengkulnya tampak lebam setelahnya.
“Sialan! Dasar dokter bodoh dan orang gila sialan!” umpatnya padaku dan Josh.
Dia lalu tunggang langgang keluar dari ruang perpustakaan. Sepertinya ingin mencari pertolongan pertama untuk lukanya.
Didepanku, Josh berbalik.
Dia menggengam tanganku. Aku terkaget karena tangannya dingin sekali.
Aku memperhatikannya dan dia tampak semakin pucat.
"Josh kamu tidak apa-apa?"
Tanganku semakin keras digenggamnya. Dia lalu menatap mataku tajam.
Bibirnya bergerak ingin mengatakan sesuatu padaku. Lagi-lagi, dia menunjuk kepalanya berulang kali dengan telunjuknya.
__ADS_1
Namun tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Josh Rainer.
“Apa yang ingin kamu sampaikan kepadaku Josh?”
Brakkk...
Dia lunglai dan jatuh di depanku sangat cepat.
Josh kini tidak sadarkan diri dan jatuh persis di kakiku.
“Tidak!” teriakku. “Pak Rikian tolong aku!” cemasku.
Badan dingin, wajah pucat, dan sekarang dia pingsan.
Lalu mengeluh sakit sambil menunjuk kepalanya.
Apakah Josh tengah menahan sakit kepala yang luar biasa?
Mengapa dia bisa menunjukkan penurunan kondisi seperti ini?
Aku hanya meninggalkannya satu hari saja dan kondisinya jadi jauh lebih memburuk dari sebelumnya.
Aku semakin yakin bahwa terjadi sesuatu saat aku tidak disini kemarin.
Aku bersama Pak Rikian sama-sama memapah badan besar Josh ke atas kursi roda.
Aku meminta Rikian untuk segera membawanya ke tempat tidur.
“Aku akan membereskan ruangan ini dulu,” kataku pada Rikian.
Aku mengembalikan biola kedalam tasnya secara terburu-buru.
Aku juga menyusun kembali tumpukan partitur kedalam map besar. Memang tidak serapi sebelumnya, tapi cukup tersusun dengan baik.
Sampai aku menyadari ada sesuatu yang tidak biasa menyembul di tumpukan map “Moonlight Sonata”.
Ada coretan.
Aku membukanya terburu-buru dan menemukan coretan itu di partitur paling terakhir lagu Moonlight Sonata.
Partitur itu memang paling sedikit not baloknya karena sudah mencapai akhir lagu, sementara spasi kertas yang kosong tersisa banyak.
Dan disitulah coretan itu ada.
Sepertinya Josh sengaja mengelabui Diana dengan memasukkan kertas partitur kosong ke tas biola, sedangkan kertas yang berisi pesan untukku ditinggalkan di dalam map "Moonglight Sonata".
Dengan begitu, Diana hanya akan konsentrasi di tas biola saja, tidak tahu bahwa pesan sebenarnya tersimpan ditumpukan terakhir partitur "Moonlight Sonata."
Jantungku berdegup saat membaca pesan yang ingin disampaikan Josh padaku.
Pesan itu di tulis bergetar dan tegak lurus. Aku menduga Josh kesusahan dan mengeluarkan banyak tenaga saat menulisnya.
Oh tidak.
Sudah kuduga, ada yang salah.
Aku segera membereskan partitur yang ada dengan diam-diam mengambil kertas itu untuk kusimpan di jaket dokterku. Tentu saja dengan hati-hati, takut ada kamera pengintai yang merekamku.
Dan langsung bergegas menuju kamar Josh untuk memberikan pertolongan pertama.
Bayangan dari tulisan tangan Josh Rainer tersebut terus membayangi otakku.
"Mereka meracuniku. Berikan obat yang asli padaku. Jangan bilang siapa-siapa."
__ADS_1