
Rasanya, seperti ada pecahan kaca di otakku.
Bukan..
Luka ini lebih sakit dari itu.
Seperti ada tongkat kayu yang menampar kepalaku.
Berdenyut, sakit sekali.
Saat tersadar, aku merasa ada cairan yang turun dari pelipisku.
Dengan badan masih terasa lemas, aku mencoba merabanya.
Dan terkejut saat tahu bahwa itu bukan keringat, bukan juga air mata.
Tapi darah.
Darah segar mengucur turun membasahi wajahku.
Luka di keningku.
Apakah seseorang memukul kepalaku dengan kayu?
Apakah para pengawal itu?
Kejam sekali.
Aku masih mencoba menahan rasa sakit saat tersadar bahwa aku tengah tersungkur di lantai dengan posisi tengkurap.
Perlahan-lahan, aku mencoba bangkit sambil mencoba menutup luka di keningku yang terus mengucurkan darah.
Oh tidak.
Tak hanya kepalaku, pinggangku juga sakit sekali.
Apa mereka juga menghajar badanku?
keji. Sungguh keji.
Aku kini berusaha duduk di lantai sambil memperhatikan lingkungan sekitar.
Aku berada di salah satu ruangan yang luas, namun berpenerangan temaram dan penuh debu.
Sepertinya, tempat ini adalah gudang. Atau basement yang dipakai lagi dengan banyak dus ditumpuk di belakangku.
Aku mencoba bangun, namun kepayahan.
Aku mempertahankan posisi duduk sambil meringis menahan sakit.
Kemudian menyadari bahwa aku hanya sendiri di ruangan ini tanpa ada kedua orangtuaku.
Oh tidak.
Apakah mereka baik-baik saja?
“Ibu? Ayah?” aku mencoba berteriak, namun yang keluar hanyalah suara lemah yang tidak bertenaga.
Aku kemudian mengecek bagian pingangku dan menemukan memar biru yang cukup besar disana.
Siapa yang mengerjaiku begini?
Siapa yang dengan pengecut menghajar perempuan sampai babak belur seperti ini?
Apakah benar dugaanku sebelumnya?
Apakah Ale memang berpura-pura dan sebenarnya ingin menendangku ke hidung Celine?
Aku tidak ingin mengenalnya lagi jika itu terjadi.
Aku benar-benar marah padanya.
Tiba-tiba, aku baru teringat bahwa Gery dan Anna ada di dalam insiden pengejaran oleh sekumpulan orang yang mirip bodyguard tadi malam.
Dimana mereka? Apakah mereka selamat?
Aku kini sudah tidak bisa membedakan lagi antara meringis dan menangis.
Aku berdoa agar mereka semua untuk tetap sehat dan aman dimanapun mereka berada.
Terutama kedua orangtuaku.
Semoga mereka semua selamat dan tidak terluka.
Aku akan merasa bersalah jika mereka sakit karena urusanku.
Tolong Tuhan, selamatkan mereka.
…
Memikirkan mereka membuatku nelangsa.
Apakah aku pantas diperlakukan begini?
__ADS_1
Aku hanyalah figuran. Aku hanya numpang lewat masuk dalam intrik keluarga Gurnawijaya.
Mengapa mereka sejahat ini padaku?
Apa yang mereka inginkan dariku sampai tega mencelakaiku begini?
….
Aku sungguh ingin sekali menjelajahi ruangan ini dan mencari celah untuk diriku bisa kabur.
Namun aku benar-benar tidak berdaya.
Luka dipinggangku membuatku tidak bisa berdiri, sakit sekali.
Belum lagi kepalaku yang cenat-cenut tak tertahankan.
Dalam posisi terjepit, aku mencoba merobek sebagian jaket wol Gery yang masih kukenakan sekuat tenaga.
Lalu menutup luka di kepalaku yang masih berdarah-darah dan memperbannya ala kadarnya. Setidaknya ini bisa menutup potensi infeksi dari luka yang terbuka.
Setelah selesai memperban kepalaku, aku ditemani oleh hening.
Aku bahkan menahan sakit berjam-jam sambil terduduk dalam posisi terlentang.
Aku pasrah.
Rasanya, aku kini dekat sekali dengan kematian.
Sampai akhirnya aku mendengar suara pintu berderit.
Jantungku seperti bocor saat mendengar beberapa derap kaki masuk ke dalam ruangan gelap ini.
Di sisi lain, aku sudah tidak bisa menahan sakit di pinggang dan kepalaku lebih lama lagi.
Aku sudah pasti akan dihabisi.
Oleh siapapun dari pemilik langkah kaki ini.
Apakah Aldebaran yang tega mencelakaiku seperti ini?
Atau ibunya sendiri yang sebelumnya telah melewatkanku dalam rencananya?
Langkah kaki ramai semakin mendekatiku.
Sementara itu, mataku masih berusaha menyesuaikan dengan silaunya cahaya yang masuk dari lampu di luar ruangan ini.
Oh tidak, bukan lampu.
Di luar sudah ada matahari yang menyinari.
Aku sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan pemilik derap langkah ini.
Apa mereka akan menginjakku?
Menghancurkan tulangku?
Atau langsung menembak tepat di jantungku?
Memikirkan itu semua seharusnya membuatku ngeri.
Namun entah mengapa aku kini tak peduli.
Aku sudah tidak peduli lagi akankah aku bisa hidup.
Jika aku mati, aku akan bersatu kembali dengan Dio bukan?
Ya, tidak ada jalan keluar lagi disini selain aku akan dihabisi.
Aku hanya berharap mereka tidak menjahati orang tuaku dan sahabatku.
Jika itu memang jalan yang terbaik untuk keluar dari semua ini, aku rela.
Aku tidak akan kembali lagi bersama Josh Rainer yang sudah memiliki rencana masa depannya sendiri bersama Helena.
Dan aku juga tidak akan menjadi ratu Aldebaran, yang dia selalu inginkan. Meskipun aku masih meragukannya.
Ternyata..
Secepat ini aku akan bertemu denganmu lagi, Dio.
Tunggu aku sebentar lagi.
Aku menutup mataku, tidak peduli lagi dengan siapa si penculik yang menghajarku begini.
Sampai akhirnya aku mendengar suara yang familiar berada dekat di depanku.
Dia bahkan sengaja membungkuk dan berbisik di telingaku yang dipenuhi dengan darah.
Merasakan rambut ikal panjangnya menyentuh pipiku. Mencium bau parfum yang sama dengan yang kakaknya selalu pakai.
Dia...
“Mengapa kamu selalu ingin mengambil barang yang bukan milikmu?”
__ADS_1
Aku tersentak saat mendengar suara orang yang sangat kukenal ini.
Ya Tuhan.
Suara Becca.
Aku kini membuka mataku dan melihat wajahnya tepat di muka ku.
Dengan wajah penuh amarah dia menatapku tanpa belas kasihan.
Jadi Becca yang menculik dan membuatku babak belur begini?
Tak butuh waktu lama, dia menampar pipiku, sangat dekat dengan luka di pelipisku.
Membuat sakit yang tidak tertahankan kembali menyerang.
Empat orang bodyguard dibelakangnya sigap mendekati Becca, takut jika aku melawan balik dan mencelakakan tuannya.
Namun, seluruh kesakitan yang aku rasakan saat ini membuatku tidak mampu melakukan apa-apa.
Aku seperti sudah diujung nasibku.
Aku akan dihabisi oleh orang yang aku pikir adalah sahabatku.
Orang yang seharusnya menjadi adik iparku.
Aku tidak pernah menyangka dia bisa bertindak sekejam ini.
"Aku sengaja melakukan ini agar kamu sadar dimana tempatmu. Kamu tidak pernah belajar dari kejadian sebelumnya," katanya masih dengan nada amarah.
Aku mencoba menjawabnya dengan mengumpulkan sisa-sisa tenagaku.
“Aku akan sampaikan kepada Dio bahwa adik kesayangannya lah yang membunuhku. Bahwa adik kesayangannya tidak pantas dihargai setinggi langit,” kataku tegas.
Becca tampak menyeringai saat mendengar aku mencemoohnya.
“Kamu pikir kamu adalah malaikat? Kamu tidak sadar yang kamu lakukan tidak lebih baik?”
Becca pasti akan mengaitkanku dengan kematian Dio. Sama seperti ayah dan ibunya, dia akan menyalahkan semuanya kepadaku.
Aku pikir Becca berbeda dengan kedua orangtuanya.
Nyatanya, dia sama saja. Dia menganggap aku adalah penyebab kematian kakaknya.
“Jika aku bilang saat itu Dio menjemputku karena ingin membelikan hadiah terakhirnya untukmu, apa kamu percaya?” kataku akhirnya mengeluarkan kartu as ku.
Becca tampak terkesiap.
Dia kini hampir menginjak kakiku karena tidak percaya dengan apa yang aku katakan, namun aku menghindar darinya sekuat tenaga.
“Kamu mengarang-ngarang cerita.. tidak mungkin itu terjadi!” katanya kini marah sekali.
Aku mengumpulkan tenagaku yang tersisa untuk menceritakan hal yang belum pernah kuceritakan pada satu orangpun.
Aku menyimpan fakta ini karena tidak ingin Becca terluka.
Namun kenyataanya, dia tidak memedulikan aku sama sekali.
Dia bahkan kini mencelakaiku.
“Semua bukti percakapan ada diponselku. Dio mendadak ingin menjemputku karena dia minta ditemani untuk membelikan hadiah untukmu. Hadiah untuk adik kesayangannya sebelum dia menjadi milik orang lain dan tinggal jauh di Polandia," jelasku.
"Seharusnya kamu tahu dia sangat mengkhawatirkanmu karena kalian tidak pernah terpisah sejak kecil,” sambungku lagi dengan kekuatan terakhirku.
Becca kini sudah terlihat seperti orang gila.
“Tidak.. tidak.. tidak! Kamu bohong!”
“Becca, tanpa kamu sadari, kamu adalah pembunuh sebenarnya kakakmu sendiri!” kataku tajam.
Tanpa memperhitungkan balasan fisik yang akan kuterima setelah ini.
.
.
.
.
.
.
.
...Jawabannya : Becca...
...Siapa nih yang jawabannya benar? Kira-kira apa ya motif utama Becca?...
...a. Selena adalah penyebab kematian Dio...
...b. Becca cemburu dengan perhatian Aldebaran kepada Selena...
__ADS_1
...c. Jawaban a dan b benar...