Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 10


__ADS_3

Sella berpura-pura baik pada Charlotte dan memintanya naik keatas untuk ganti baju. Charlotte sejak tadi diam tidak ingin membongkar acting ibu tirinya itu. Dia masih kesal kerena ibu tirinya telah memberinya obat malam itu. Dia bisa saja bicara pada Ayahnya tentang perilaku Ibu  tirinya jika dia mau. Tapi Dia tidak  ingin membesarkan masalah. Kemudian Ayah pergi kembali keruang kerjanya meninggalkan istri dan anak-anaknya disana.


“Cepat ganti baju kotormu dengan baju yang sudah kusiapkan.”


“Aku tidak mau.” Tolak Charlotte acuh.


“Kamu ini ya, sudah baik kuberi hati. Masih saja membantah!”


“Aku tidak perlu menurutimu kan. Jangan lupa tindakanmu malam itu yang sudah memberiku minuman. Jika Ayah tahu, apa yang akan dipikirkan tentangmu?” sindir Charlotte.


“Kau! Dasar anak kurang ajar!”


“Ma, biarkan dia. Shinta yang akan bicara dengannya.” Shinta, adik tiri Charlotte datang dengan santai, tersenyum sinis pada Charlotte.

__ADS_1


“Baiklah. Urus gadis tidak tahu diri ini.” Sella pergi meninggalkan mereka.


“Syukurlah kau baik-baik saja. Aku senang melihatnya.” Ucap Shinta penuh maksud, tersenyum dengan sangat manis.


“Jangan sok peduli. Kenapa tidak kamu saja yang menikahinya.” Ucap Charlotte.


“Dia untukmu. Kau kan sudah dengar sendiri, kalau kalian sudah dijodohkan sejak dulu. Lagipula aku mencintai Fredy. Aku akan menikahinya.” Ucap Shinta penuh percaya diri. Dengan begitu angkuhnya dia mengakui Fredy miliknya dan yakin akan menikah dengannya. Charlotte merasa muak.


Tak mau berdebat dengan Shinta, Charlotte segera naik keatas menuju kamarnya. Shinta yang masih belum selesai berurusan dengan Charlotte mengikutinya dari belakang.


Charlotte duduk di pinggir tempat tidur. Menatap Shinta yang tanpa ijin masuk kedalam kamarnya. Shinta mengambil gaun di meja rias dan melemparkannya pada Charlotte.


“Tuh pakai. Mama udah pilihkan itu untukmu.” Seringai Shinta penuh ledekan.

__ADS_1


Charlotte tidak menerimya dan membiarkan gaun itu jatuh ke lantai. Melihat itu, Shinta geram dan berjalan mendekati Charlotte dengan wajah penuh emosi.


“Kau ini benar-benar tidak tahu diri sekali ya! Sudah baik mama berikan gaun itu untukmu. Berhenti sok menolak pernikahan ini. Takdirmu itu hanya menikah dengan laki-laki tua gay!”


“Jaga bicaramu Shin.” Geram Charlotte.


“Emang bener kan. Kau itu hanya pembuat masalah dirumah ini. Jadi untuk itu, Orang tua kita menjodohkanmu dengan laki-laki yang sepandan denganmu ini. Seharusnya Kau berterima kasih, karena masih ada yang mau menikahimu!”


“Kau pikir, Kau bisa mendapatkan apa yang kau mau disini? Tidak semudah itu. Aku, Mama, Ayah, Nenek  dan Fredy sudah tidak peduli lagi denganmu! Kau menikah dengan orang itu juga keinginan mereka. Disini tidak ada yang mau menolongmu.” Imbuhnya berapi-api.


Charlotte sejenak diam, menerima semua hinaan dari Shinta. Lalu dia berdiri dan memungut gaun lusuh milik Shinta. Dia mendekati Shinta dengan wajah datar. “Terserah kau mau bicara apa. Asal kau tahu Sin. Kau itu ibarat mmemungut sepatu bekas karena merebut hidupku. Aku mengambil 1 bajumu dan anggap kita impas.” Charlotte tersenyum kecut lalu pergi.


Sesaat kemudian, Shinta baru tersadar atas ucapan Charlotte jika wanita itu sedang meledeknya karena sudah merebut Fredy. Dengan wajah merah padam, Shinta dipenuhi dengan kemarahan pada Charlotte.

__ADS_1


__ADS_2