Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 70 (Part 1)


__ADS_3

Charlotte dan Fredy dalam perjalanan menuju tempat pertemuan mereka dengan salah satu investor. Fredy menawarkan tumpangan dengan mobilnya. Mengingat waktu mereka yang sedikit. Fredy membelokkan kendaraannya disebuah Restoran . Charlotte yang tergesa-gesa segera turun hingga melupakan Fredy.


“Astaga!”


“Hati-hati Char.”


Ia hampir terpelesat saat sepatunya menyangkut di bagian samping mobil. Untung Fredy sudah duluan turun dan langsung memegangnya. Menghindarkan Charlotte dari tragedi memalukan. Fredy memegang tangan Charlotte, membantunya keluar dengan aman.


“Terima kasih Fred. Aku benar-benar panik.” Ujar Charlotte, jantungnya hampir copot mengingat heelsnya yang tinggi, mungkin ia harus dibawa kerumah sakit jika sampai terbentur keras.


“Tidak apa. Jangan cemas.”


Charlotte mengangguk, ia menghela nafas dengan perlahan. “Baiklah. Ayo kita masuk.”


Charlotte dan Fredy segera masuk kedalam. Mereka mencari orang yang kini menjadi tujuan mereka disana.


“Kok gak ada ya Fred?” Charlotte mengedarkan pandangannya kesekeliling setelah 5 menit mencari. Di dalam resto itu, ia sama sakali tidak menemukan keberadaan investor itu.


“Mungkin dia belum datang Char.” Balas Fredy.


“Mana mungkin, kata ayah dia sudah menunggu disini. Apa karena kita terlambat, jadi dia pergi?” tanya Charlotte takut.


“Lebih baik kita hubungi paman. Mungkin saja orang itu sedang ada urusan.”


“Baiklah.”


Charlotte segera menghubungi ayahnya. Panggilan kedua, teleponnya segera terhubung.

__ADS_1


“Ada apa Char?”


“Yah, Tuan Harfin tidak ada disini. Apa Ayah tahu keberadaannya?”


“Kau dimana?”


“Resto Valley.”


“Astaga Char, Ayah lupa memberitahumu. Tuan Harfin mengganti tempat 10 menit yang lalu, di Lobi Hotel tempat ia menginap. Akan kukirim alamatnya.”


“Oh, baiklah kalau begitu yah.” Charlotte ingin kesal tapi bagaimana lagi. Mereka tidak punya waktu untuk mengeluh.


“Cepat kesana. Jangan terlambat ya!”


“Iya yah.”


“Kita pindah tempat Fred. Nanti kuberitahu dijalan. Ayo pergi!”


^


“Ini tempatnya?” Fredy, melihat gedung Hotel didepannya. Ia baru tahu, ada Hotel baru disana. Bangunan berciri khas Italia berdiri megah dengan arsitektur gedung yang sangat mengesankan. Jika dikira-kira tinggi gedung itu sekitar 250 meter. Orang yang tinggal disana pasti akan kagum dengan penampilan luarnya, apalagi isi dalamnya. Fredy menjadi penasaran. Ia sejenak mengagumi tempat itu.


“Hei, ayo turun!” Charlotte menepuk pundak Fredy membuyarkan lamunannya.


“I-iya maaf.”


Charlotte menggelengkan kepala melihat sikap Fredy yang melamun disaat genting seperti ini. Mereka sedang dikejar waktu, Charlotte tak ingin rencananya hari ini berantakan. Ia harus segera menemui investor itu. Dan membuat kesepakatan dengannya.

__ADS_1


Charlotte bergegas masuk kedalam Hotel. Bangunan baru dan interior didalamnya menyegarkan matanya. Ia berdecak kagum. Charlotte yakin Hotel itu adalah satu-satunya Hotel yang bergaya Eropa. Tepatnya berdesain Italia. Luar biasa keren.


“Itu Tuan Harfin.” Tunjuk Fredy yang langsung melihat orang yang menjadi tujuan mereka datang kesana. Tuan Harfin duduk disalah satu sofa lobi tak jauh dari tempat mereka. Charlotte segera mempercepat jalannya. Mengingat mereka sudah terlambat 5 menit dari jadwal yang mereka buat.


“Selamat siang Tuan Harfin…”


^


Didalam sebuah Mansion di Jakarta, dengan dijaga ketat oleh belasan pengawal, Xavier tengah berdiri di balkon kamar dengan memegang ponsel ditangannya. Ia tengah berpikir bagaimana cara menemui wanita yang setiap saat selalu mengusik pikirannya. Walaupun ia sudah memutuskan pergi dari rumah orang tua wanita itu, ia masih memikirkannya.


Tidak bisa sedetikpun ia terbebas dari pikiran tentang Charlotte. Hah! Wanita itu sudah menguasai hati dan pikirannya. Kapan wanita itu pulang? Masih berapa jam ia datang? Atau apa mungkin lebih baik, jika ia menyusulnya? Pikiran-pikiran seperti itulah yang membuat Xavier dalam masalah.


Akhirnya, Xavier datang ke Mansion lamanya yang berada di pusat ibukota dengan alasan menyibukkan diri disana. Lima menit lagi, Dean akan kembali menjemputnya untuk pergi mengunjungi pembangunan gedung baru untuk bisnis hotelnya. Memang bulan lalu bangunan itu sudah beroperasi dan menerima pelayanan publik, namun ia ingin memastikan Hotel miliknya sudah sepenuhnya sempurna, baik dari kualitas bangunan maupun segi pelayanan konsumen.


Tok tok!


“Masuk!”


Dean masuk dan berjalan mendekati Xavier. “Semua sudah siap Tuan. Kita bisa berangkat sekarang.” Ujar Dean.


“Hem.” Xavier memasukkan ponselnya kedalam jasnya, lalu berjalan melewati Dean. “Ayo pergi.”


.


.


.

__ADS_1


Votenya Zeyeng, ditunggu... See You ^-^


__ADS_2