Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 101


__ADS_3

“Ini hasil tes DNA Nona Charlotte.” Dokter Helmi memberikan hasil tes kepada Kakek. Kakek meminta pertemuan di rumah sakit bersama dengan Xavier. Ia ingin cucu laki-lakinya itu tahu sendiri hasil keraguannya selama ini. Kakek tersenyum puas setelah membaca hasil tesnya. Ia lempar kertas itu tepat didepan Xavier.


Xavier membacanya dengan seksama. Hasil tes menunjukkan kalau dirinya dan anak dalam kandungan Charlotte memiliki 99% kemiripan. Itu artinya Xavier memang ayah biologis anak itu. Xavier tampak gelisah, tangannya gemetar memegang kertas itu. Ia menatap Dokter Helmi dan Kakek bergantian. Ada rasa tak percaya tapi lebih pada rasa bahagia. Ya, Xavier senang, senang bahkan dia benar-benar ayah kandung anak itu. Dia dan Charlotte akan segera menjadi orang tua. Namun sedetik kemudian, wajahnya berubah murung, lesu dan sedih. Xavier kembali menyesali sikap dan perilakunya yang buruk pada Charlotte. Bahkan kejadian malam itu kembali menguasai pikirannya.


Ia hampir saja membunuh anaknya sendiri! Ia bahkan melukai perasaan istrinya! Dia memang seorang iblis, tidak punya hati! Nafas Xavier memburu, ia memegang dadanya yang terasa sakit. Kesalahannya begitu besar. Ia tak akan dimaafkan.


Anaknya sendiri tidak bisa ia rasakan tubuh dalam Rahim istrinya. Cemburu buta benar-benar membutakannya. Ia seorang pria bodoh dan tidak tahu malu mengharapkan cinta Charlotte.


Xavier bangkit dari duduknya ia menyingkirkan kursi itu dan berlutut dibawah Kakek dengan kepala tertunduk. “Kek, bisakah aku bertemu dengannya? Kumohon…. Aku ingin memperbaiki semua kesalahanku. Tolong pertemukanku dengannya Kek. Aku salah, aku pria tidak berguna. Tolong maafkan aku..” Xavier menyentuh kaki Kakek, apapun cara akan ia lakukan demi bisa menemui istrinya.


“Berdirilah!”


Xavier tetap bergeming ditempatnya, membuat Kakek jengah. “Aku bilang berdiri!!!”


Xavier maupun Dokter Helmi terjingkat mendengar suara Kakek yang menggelegar. Xavier segera berdiri sesuai perintah Kakek.


“Xavi, kau tahu kesalahanmu? Kau menyesalinya?” tanya Kakek dengan suara serius.


“Iya Kek. Aku salah, aku bodoh. Aku ingin memperbaiki semuanya.” Ucap Xavier bersungguh-sungguh. Sejak ia memberi minuman laknat itu, Xavier sudah mulai menyesal. Ia menginginkan istri dan anaknya. Ia kacau dan hidup dengan rasa penyesalan amat dalam. Xavier tidak tahan hidup seperti itu. Ia ingin bahagia bersama mereka.


“Jika kau benar menyesali perbuatanmu, bawa Charlotte kembali.” Ucap Kakek.


“Maksud Kakek apa? Memangnya istriku kemana?” tanya Xavier bingung.


“Dia pergi. Kakek tidak akan memberitahumu kemana dia pergi. Itu janjiku padanya. Jika kau merasa menyesal, bawa cucu menantuku itu kembali kesini.” Ujar Kakek tegas seraya berdiri dan pergi dari ruangan itu. Xavier terdiam, ia tidak tahu kemana harus mencari Charlotte.


^^

__ADS_1


Xavier pulang ke Mansion, ia berlari dari mobil menuju kamarnya. Ia ingin segera menemukan istrinya. Ia berharap ucapan Kakek tidak benar-benar terjadi. Ia akan menebus semua kesalahannya.


“Sayang? Sayang, kau dimana?”


Xavier membuka pintu kamar dan masuk kedalam. Kamar itu kosong. Pintu kamar mandi juga terbuka menandakan tidak ada orang didalam sana. Xavier tidak pantang arang, ia keluar dan membuka semua kamar disana. Dona yang melihat itu segera mendekati Tuan Mudanya.


“Tuan, Nona Charlotte sudah pergi dari sini. Tadi pagi.” Ucapnya.


“Kemana dia pergi? Dengan siapa?”


“Saya tidak tahu Tuan. Orang-orang Tuan Besar yang membawanya pergi.”


“ARGHH!!!!!” Xavier berteriak frustasi. Ia bingung kemana ia akan pergi mencari istrinya. Kakek sudah menyiapkan semuanya. Menyembunyikannya darinya. Xavier bingung.


^^


“Baik.”


“Kau yakin tidak tahu kemana Kakek membawanya pergi?” Xavier menautkan kedua alisnya. Merasa curiga pada Dean. Karena selama ini, Asistennya itu cukup dekat dengan Kakek.


“Tidak Tuan. Tuan Besar sangat merahasiakan semuanya. Saya tidak diberitahu sama sekali.” Ujar Dean.


Xavier menghela nafas kecewa, “Kalau begitu kau bisa pergi.”


“Baik. Permisi Tuan.” Dean pamit dari ruang kerja Xavier.


Xavier memutuskan akan fokus mencari keberadaan istrinya. Ia tidak akan tenang jika belum menemukannya. Xavier tinggal di Mansion dan mencari cara agar cepat mencari istrinya. Dalam sehari Xavier akan berpergian ke tempat pusat informasi disetiap daerah. Ia mencari tempat-tempat yang mungkin istrinya jadikan tempat tinggal.

__ADS_1


^^


Satu bulan berlalu. Xavier belum menemukan keberadaan istrinya. Sudah puluhan anak buahnya mencari keluar kota, maupun keluar pulau sudah ia pencar disetiap titik masing-masing. Semua hasilnya nihil. Xavier heran sendiri, dimana Kakek menyembunyikan Charlotte. Disetiap kesempatan pula, Xavier terbang ke Singapura hanya untuk menemui Kakek. Bertanya padanya dimana Charlotte tinggal. Kakek menolak semua informasi yang ia ketahui untuk diberitahukan pada Xavier. Kakek sudah memutuskan agar Xavier berusaha keras menemukan istrinya. Kakek seolah tak peduli bagaimana kondisi Xavier saat ini.


Dalam proses pencarian istri dan anaknya, Xavier rela tak pulang ke Mansion. Pria itu tidur dimobil dalam setiap perjalanan menemukan Charlotte. Tubuhnya tak terawat, wajahnya dipenuhi kumis yang tumbuh banyak. Rambutnya acak-acakan dan berat badannya yang menurun membuatnya terlihat kurus. Xavier menjadi orang lain dalam satu bulan, penampilan gagahnya kini hilang ditelan penampilannya yang seperti seorang anak punk! Ya, dia hanya memakai kaos dan celana jins dengan jaket kulit hitam. Xavier selalu menyamar ditempat umum. Semua itu demi terhindar dari serangan musuh-musuhnya. Xavier tak ingin mereka semua menemukannya dalam keadaan lemah seperti sekarang. Pikirannya begitu kacau. Makan pun terkadang saat ia merasa lapar saja. Dan itu sehari bisa saja ia tidak makan.


“Ada apa Hugo, kenapa terus menghubungiku!” bentak Xavier kala dirinya tengah menyetir menuju tempat yang ia pikir istrinya ada disana. Ia sedang bertelepon dengan adik angkat sekaligus orang kepercayaannya.


“Brother, aku ada kabar buruk! Cepatlah kembali!”


“Ada apa?! Aku sibuk!”


“Cossa, Cossa malam ini akan menyerang kapal pengiriman ke dua kita. Ayolah, cepat pulang kemari. Aku kesulitan menahan gempuran mereka tanpa kau!”


“Fuck*ng Sh***! Mereka mau cari mati denganku!?” umpat Xavier seraya membanting stir.


“You know Brother, Come on! Pulanglah. Kita akhiri sekarang. Aku dengar, Michael akan ikut penyerangan. Ini kesempatan kita membunuhnya!” suara Hugo terdengar menggebu-gebu diujung sana. Xavier memaklumi itu, karena ia tahu, Hugo-lah orang yang paling punya rasa dendam besar pada pemimpin Cossa itu.


“Baiklah. Aku pulang, Hugo! Siapkan semua persiapan. Aku sampai sana dalam waktu 2 jam!”


“Oke Brother, kutunggu!”


Xavier melempar ponselnya di kursi penumpang, ia mengacak rambutnya kasar. Bingung dengan keadaannya. Disatu sisi, ia ingin segera menemukan istri dan anaknya dan membawanya pulang bersama. Disisi lain, ia harus menyelamatkan bisnisnya dan para anak buahnya yang kini tengah mempersiapkan peperangan terakhir dengan Cossa. Ia sangat merindukan Charlotte. Ia ingin segera bersama wanita itu. Seadainya saja ia bisa memutar ulang waktu….


Xavier mendesahkan nafas keudara, beban berat dipundaknya begitu besar. Ia berharap, setelah menyelesaikan pertempuran ia bisa bertemu dengan anak dan istrinya. Ia berharap bisa meminta maaf pada Charlotte sebelum ia mati.


“Sayang, kamu dimana. Aku merindukanmu….”

__ADS_1


__ADS_2