
Area 16+ yaa... ^-^
.
.
Dengan tubuh gemetar menahan amarahnya, Charlotte duduk di sofa seraya memegang telfon. Hanya memakai kemeja milik Xavier ia ingin mengadukan kerja buruk pelayan disini yang sudah mengijinkan hadiah kedua sahabatnya masuk tanpa seijinnya. Dona, kepala pelayan disana akan merasakan kemarahannya sekarang. Charlotte tak peduli lagi, dia harus kembali ke kamarnya!
“Selamat malam.”
“Dona! Siapa yang memberimu ijin memasukkan barang-barang tak berguna disini?” seru Charlotte tak sabar.
“Maaf, maksud Nona apa?” Suara Dona sama sekali tak terpancing emosi. Tenang seperti biasa. Kalau ada lomba tahan tawa, mungkin dia juaranya.
“Dilemari banyak pakaian tak pantas dari teman-temanku. Kau tahu aku pasti membencinya, kenapa masih kau ijinkan!” teriak Charlotte.
“Oh, maksud Nona, baju lingerie itu?”
“Ya! Itu.”
“Saya sudah melarangnya. Tapi kedua teman Nona bilang jika Nona sendiri yang memintanya.”
“Apa! Aku??”
“Iya Nona. Jadi saya mengijinkannya.”
“Seharusnya kau bilang padaku dulu Dona.” Keluh Charlotte.
“Maaf Nona. Untuk kedepannya, apa perlu saya melarang kedua teman Nona datang?”
“Hah! Ti-tidak perlu seperti itu juga!”
“Baik Nona.”
“Ya sudah, besok kembalikan semua pakaianku. Dan lain kali aku tidak mau ada kesalahan seperti ini. ”
“Baik Nona.”
Tut.
“Kepalaku pusing rasanya.”
“Kau berani memarahi Dona?” Charlotte menoleh dan melihat Xavier duduk ditempat tidur. Sedang menatapnya.
“Oh astaga! Se-sejak kapan kau masuk?” Charlotte cepat-cepat menegakkan duduknya.
“Sejak kapan kau berani memakai kemejaku?” ucap Xavier dengan matanya yang sibuk melihat tubuh Charlotte yang kini hanya memakai kemeja miliknya yang kedodoran sampai atas lutut. Kaki jenjang Charlotte yang putih terekspos jelas.
“Aku pinjam kok.” Sangkal Charlotte.
__ADS_1
“Jangan sampai kotor.” Tegas Xavier. Pria itu kini mulai melepas sepatunya.
“Acaranya sudah selesai?” tanya Charlotte.
“Hmm.”
“Orang-orang juga?”
“Hmm.”
“Irit kali kalo bicara.” Gumamnya pelan.
Xavier mendongak, “Kau bicara apa?”
“Ah, tidak. Tidak ada kok.” Charlotte menggeleng-geleng kepala cepat. Menepiskan senyumnya.
“Aku ke kamar mandi sebentar.” Ucap Xavier.
“Iya.”
Charlotte berdiri dan melirik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Memastikan Xavier tidak akan keluar dalam waktu dekat.
“Lebih baik aku pura-pura tidur.” Charlotte bergegas naik ke atas tempat tidur. Meringkuk disana seraya mengintip pintu kamar mandi.
Charlotte tidak ingin melakukan apapun. Pikiran overthingkingnya selalu berputar diotaknya. Xavier bisa saja meminta haknya malam ini. Mungkin jika pria itu adalah orang yang dicintainya, semua tidak akan serumit ini. Charlotte tak ingin dan tak akan pernah mau disentuh lagi oleh Xavier.
Ceklek!
‘Tidur… tidurlah Charlotte… atau kau akan mati ditangannya.’ Batin Charlotte memaksa alam bawah sadarnya untuk tertidur.
Disamping itu, Xavier masih berdiri ditempatnya. Memperhatikan sosok yang meringkuk diatas tempat tidur miliknya. Xavier kini hanya memakai handuk yang melilit dipinggang dengan bertelanjang dada. Otot-ototnya yang eightpack timbul sempurna didadanya. Handuk kecil ditangannya digunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Tiba-tiba saja ia tersenyum miring, seolah mendapat pikiran gila. Ia melempar begitu saja handuk kecil itu hingga teronggok dibawah meja. Lalu berjalan perlahan mendekati sisi tempat tidur. Dirinya duduk disisi wanita yang kini telah menjadi istrinya.
Kelopak mata Charlotte yang bergerak-gerak menandakan jika wanita itu belum tidur. Hal itu semakin membuat Xavier tersenyum lebar. Dengan santainya, tangan Xavier terulur perlahan menyentuh kepala Charlotte.
Xavier bisa merasakan tubuh wanita itu tegang atas sentuhannya. Lalu tangan Xavier kian menurun menyentuh pipi wanita itu. Semakin berani, ibu jari Xavier menyentuh bibir bawah Charlotte dengan sensual.
Plak..
Charlotte menepis kasar tangan itu dari wajahnya. Kedua matanya terbuka lebar, menampilkan reaksi tak suka.
“Beraninya kau menyentuhku!”
“Belum tidur rupanya.”
“Hei, mana bisa aku tidur kalau tanganmu itu senakal ituuu….” Suara keras Charlotte berubah pelan saat matanya menangkap pemandangan menggiurkan didepannya.
Dada kekar berotot seperti roti sobek dengan tetesan air masih menempel. Dulu ia pernah melihatnya, tapi kenapa yang ini lebih terlihat menggoda baginya? Wah... inikah yang dinamakan karunia Tuhan? Mona benar, Xavier pria sempurna.
Wangi tubuhnya…… Oh astaga, menyeruak kuat di indera penciumannya. Segar dan …..Upss!
__ADS_1
“Kenapa kau tidak pakai baju hah?!” teriak Charlotte marah. Tak ingin dipergoki tengah mengangumi pria jahat itu.
“Bukannya itu tugas istri?”
“Hah?”
“Setahuku, menyiapkan keperluan untuk suami adalah tugas istri. Termasuk mengambilkan baju untuknya.”
“A-apa kau bilang? Kenapa harus begitu? Memangnya kau pikir kau siapa?!” Charlotte tak mau kalah.
“Suamimu.”
Charlotte tertawa kecut, pikiran menggelikan dari seorang mafia jahat. Bahkan istri saja masih diperbudak olehnya. Eh, tunggu. Semua yang dikatakan ada benarnya sih.
“Aku tahu itu tugas istri, tapi kalau istrinya capek, suami bisa ambil sendiri kan?” ujar Charlotte menantang.
“Tentu saja bisa.”
“Nah, kalau sudah tahu, kau bisa pergi. Oke. Aku capek.” Charlotte menjauh dan kembali berbaring disisi lain.
Charlotte menghela nafas, semoga kata-kata terakhirnya bisa menghentikan perdebatan mereka malam ini. Jujur saja, ia sangat lelah. Tidur dikamar pria itu saja sudah membuatnya tak nyaman apalagi mereka harus berbagi ranjang. Tidak bisakah mereka tidur terpisah, sampai waktunya tiba. Dimana ia akan terbebas dari belenggu pernikahan mereka.
Jujur saja, Charlotte ingin menyendiri dan menghabiskan hidupnya dengan hal yang bermanfaat. Menyelesaikan kuliahnya dan bekerja disebuah perusahaan. Menyalurkan ide-ide pintarnya. Dan jika memungkinkan, ia ingin mewujudkan impian ibunya dengan mendirikan sebuah yayasan amal. Dimana ia bisa membahagiakan banyak orang.
Semua impian ibunya juga menjadi impiannya. Ia ingin menjadi wanita mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Jika nantinya semua sudah tercapai, barulah ia memikirkan pernikahan. Memilih pria yang baik dan begitu mencintainya. Hidup bersama pria yang mencintaimu akan jauh lebih baik daripada hidup dengan pria yang tidak pernah mencintaimu. Semua akan mudah karena terbiasa dan berani membuka hati.
Semua itu, berbanding terbalik dengan hidup yang dialaminya saat ini. Xavier tidak mencintainya, pria itu menikahinya hanya karena permintaan Kakek. Selalu memaksa dan suka bertindak seenaknya sendiri. Jika dirinya bisa bertahan, mungkin itu sebuah keajaiban.
Grep!
Eh??
Sebuah tangan kokoh tiba-tiba melingkar diperutnya dan memeluknya dari belakang. Bahkan tubuh mereka berada didalam satu selimut hangat. Charlotte terkejut, dan tidak mengerti apa yang sedang pria itu lakukan.
“Apa-apaan sih!” Charlotte melepas tangan Xavier dan berbalik.
“Kenapa? Aku salah lagi?”
“Ya!! Kau selalu salah! Apa-apaan itu, peluk-peluk orang seenaknya!”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Pergi menjauh dari Ummmmhh…”
Serangan ciuman dari Xavier, mendarat sempurna dibibir ranum milik Charlotte.
.
.
__ADS_1
.
Hmmm... kira-kira apa yg trjdi slnjutnya?