Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 71 (Part 1)


__ADS_3

“Maafkan saya, saya tidak sengaja.” Pelayan itu meminta maaf pada Fredy berulang kali. Merasa bersalah  telah melakukan kesalahan. Ia mengambilkan tisu untuk mengeringkan kemeja Fredy. Charlotte dengan sigap mengambil tisu itu dan membantu Fredy mengusap bagian depan kemejanya yang tampak kotor.


“Sudahlah. Ini tidak apa.”


“Ini sulit hilang Fred. Bagaimana kalau kau pulang dan berganti pakaian?” ucap Charlotte menyarankan karena dilihatnya kemeja pria itu yang sudah tidak layak dipakai. Tumpahan minuman itu cukup banyak.


“Setelah ini aku harus bertemu klien Char. Jarak rumah cukup jauh. Tidak akan sempat. Biarkan seperti ini.” Tolak Fredy. Ia juga tidak bisa meninggalkan Charlotte sendirian disana. Fredy harus mengantarnya kembali ke kantor.


“Tapi Fred ini penuh noda. Kau tidak bisa pergi kemana-mana.” Sergah Charlotte bersikeras ingin Fredy tetap pulang.


“Itu tidak masalah. Jangan khawatir, lagipula aku harus mengantarmu kembali ke kantor.”


“Aku bisa pulang sendiri. Jangan keras kepala deh Fred!” Perdebatan mereka membuat beberapa pengunjung memperhatikan mereka berdua. Begitupun Pelayan yang sudah menumpahkan minuman itu di kemeja  Fredy. Ia menunduk dengan merapal banyak doa agar ia tak dipecat oleh atasannya karena masalah ini.


“Ehem. Begini saja, bagaimana kalau Tuan Fredy kupinjamkan kemeja milikku. Kurasa itu jalan keluar terbaik?” tawar Tuan Harfin. Sedari tadi ia menahan diri mencari kesempatan menyela. Mengingat banyak orang tengah memperhatikan mereka. Tuan Harfin sepertinya tak ingin masalah itu berlarut-larut.


“Tidak Tuan, nanti kami merepotkan Anda.” Tolak Charlotte sungkan.


“Merepotkan apanya. Tidak sama sekali. Sudahlah, lebih baik ikut aku dan segera ganti pakaiannya.” Tuan Harfin berjalan pergi lebih dulu. Charlotte terdiam, bingung harus menuruti perintah Tuan Harfin atau tidak. Itu akan jadi kejadian yang memalukan, jika mereka merepotkan Tuan Harfin yang jelas-jelas orang yang seharusnya mereka mintai bantuan kerjasama. Hasil keputusannya pun juga belum ia dapatkan. Apa tidak masalah jika mereka merepotkannya sekali lagi?


“Ayo Char. Jangan membuat Tuan Harfin menunggu.” Fredy mengedipkan mata tanda untuk menyetujui bantuan Tuan Harfin. Ia bisa melihat ketulusan pria itu. Ia tahu Charlotte sungkan padanya, tapi menolak pun hanya akan meremehkan bantuannya. Itu jauh lebih buruk.

__ADS_1


“Baiklah.


^


Letak kamar Tuan Harfin berada dilantai 5. Pria itu tengah merogoh kunci kartu kamar disaku celana. Membuka pintu dengan berpelintur kayu asli. Pria itu membuka pintu lebih dulu dan mempersilahkan Fredy dan Charlotte masuk.


“Tunggu disini sebentar, akan kuambilkan kemejanya dulu.” ucap Tuan Harfin seraya masuk kedalam pintu ruangan yang tertutup. Charlotte yakin, itu adalah kamar tidurnya.


Charlotte berdiri dengan mengamati isi didalam kamar itu. Luasnya mungkin sekitar 8 x 6 meter. Memiliki satu kamar tidur, satu set sofa dan meja, satu kamar mandi dan juga ada balkon luar ruangan. Fasilitas yang cukup lengkap menurutnya.


Tak berselang lama, Tuan Harfin keluar dengan membawa pakaian ditangannya. “Ini, pakailah. Ini yang paling besar menurutku. Sepertinya pas ditubuhmu.” Tuan Harfin menyerahkan kemeja berwarna brown kepada Fredy.


Fredy menerima dengan senang hati, “Terima kasih Tuan, Anda sangat baik sekali.”


Fredy mulai membuka kemejanya, Charlotte memegangi kemeja milik Tuan Harfin. Menunggu pria itu selesai.


“Astaga! Ponselku dimana ya?” tiba-tiba Tuan Harfin terlihat panik saat tidak menemukan barang yang ia cari. Pria itu terlihat merogoh saku celananya. Melihat sekeliling.


“Mungkin ada didalam kamar Tuan?” ucap Charlotte.


“Oh iya, coba kucari disana.” Tuan Harfin menepuk jidatnya dan segera masuk kembali ke kamarnya dengan tergopoh-gopoh.

__ADS_1


Pria itu sangat baik sekali, batin Charlotte. Ia pun  ikut mencari disekitar sana. Sedangkan Fredy melanjutkan melepaskan kemejanya.


Setelah berhasil menyingkirkan kemejanya yang kotor, Fredy hendak memakai kemeja milik Tuan Harfin ke tubuhnya. Namun tiba-tiba…


Ting Tong…..


Suara bel pintu kamar berbunyi, Fredy dan Charlotte bersamaan menoleh ke arah yang sama. “Biar aku saja!” Fredy menawarkan diri, karena posisinya yang lebih dekat dari pintu.


“Oke.” Charlotte kembali melanjutkan mencari ponsel milik Tuan Harfin disekitar sana.


Fredy mendekati pintu, ia menekan handle pintu dan memutarnya. Menarik pintu itu hingga terbuka lebar. Menyambut tamu si pemilik kamar.


DEG!


Tubuh Fredy seolah membeku. Tatapannya tertuju langsung pada mata hitam gelap nan dingin. Menatap balik padanya dengan ekpresi tak terbaca. Sorot mata itu menghunus tajam seolah mampu menembus kepala Fredy. Xavier berdiri tegap tepat didepan matanya!


.


.


.

__ADS_1


Othor dag dig dug serrrrrrrrr... Happy reading ^-^


__ADS_2