Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 66


__ADS_3

“Tentu. Akan kubantu.”


“Terima kasih Xav-“


“Tapi dengan satu syarat.” Potong Xavier, kini wajahnya berubah serius. Menatap Susanto. “Ubah kepemilikan semua saham atas nama Charlotte. Baru aku akan membantu.”


Susanto maupun Charlotte sama-sama tersentak. Mereka tidak menyangka Xavier akan mengajukan syarat seperti itu. Charlotte tahu, ia hanya mendapat sedikit bagian dari saham itu. Sisanya milik Ayahnya. Jika Xavier mengajukan syarat itu, ia tidak yakin ayahnya akan mengabulkannya. Mengingat Shinta akan mendapat bagian yang cukup besar.


“Xavi…”


“Sayang, diam sebentar ya.” Sela Xavier memperingatkannya secara halus. Sepertinya suaminya tidak ingin dirinya ikut campur.


“Ta-tapi Xavier, Charlotte belum mampu melakukannya.”


“Melakukan apa? Istriku tidak perlu melakukan apapun. Anda hanya perlu merubahnya saja. Itu sama sekali tidak sulit.”


“I-iya tapi semua butuh proses dan-“


“Jangan khawatir. Anda hanya perlu menaken berkas apa saja yang diperlukan. Sisanya biarkan aku urus.” Xavier berkata cepat. Menyangkal semua penolakan Susanto. Ayah mertunya lah yang butuh bantuan itu, maka dari itu, permintaannya harus terlaksana tidak peduli jika itu memaksa.


“Aku harus memberitahu para petinggi lebih dulu.”


“Silahkan. Saya akan menunggu. Tapi sayangnya, nasib perusahaan Anda tidak bisa menunggu lama. Anjloknya saham bisa mempercepat lemahnya kinerja para karyawan. Mereka, cepat atau lambat akan tahu jika perusahaan tempat mereka bekerja akan Colaps. Anda akan lebih kesulitan.” Ujar Xavier.


“B-baik. Kalau begitu, bisakah aku bicara dengan putriku sebentar?” pinta Susanto.


Xavier menoleh pada Charlotte disampingnya. Ia sejenak berpikir, namun pada akhirnya ia menyetujuinya. “Baiklah. Silahkan.” Xavier bangkit dan berjalan pergi.


Namun sedetik kemudian ia berbalik, “Sayang, ajak ayahmu makan siang bersama. Setelah kalian selesai bicara panggil aku.”


“Iya.”


Setelah mengatakan itu, Xavier benar-benar pergi masuk kedalam ruang kerjanya di lantai dasar.


“Ayah, apa yang ingin ayah katakan?” tanya Charlotte.


Susanto cepat-cepat berpindah tempat dan duduk disamping Charlotte. “Char, tolong ayah. Minta Xavier untuk merubah keputusannya. Kau tahu kan, ayah pasti akan memberimu bagian. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengganti kepemilikan saham. Kau mengerti kan?” bujuk Susanto.


Charlotte ingin bilang jika ia sama sekali tak tertarik dengan saham perusahaan. Sayangnya, Xavier sudah membuat keputusan. Salah jika dirinya membantu ayahnya. Karena apa yang akan terjadi nanti, ayahnya pasti akan memberikan perusahaan pada Shinta. Perusahaan itu awalnya milik kakeknya, ia tidak rela jika perusahaan jatuh ketangan yang salah. Kenyataannya, dua tahun setelah Kakek meninggal, perusahaan mengalami kebangkrutan hingga dua kali. Charlotte takut. Apa lebih baik ia mengikuti perkataan Xavier?


“Yah, turuti saja permintaan Xavi. Biarkan dia yang menangani semuanya sampai perusahaan stabil.”


“Tidak semudah itu Charlotte.”

__ADS_1


“Mudah jika ayah percaya padaku.”


Charlotte memegang tangan Susanto, mencoba memberinya pengertian.“Yah, dengarkan Charlotte. Xavier ingin membantu, dia tidak punya maksud apa-apa.”


“Tidak punya maksud katamu? Kamu ini bodoh atau bagaimana Charlotte! Dia jelas-jelas ingin menguasai perusahaan keluarga kita. Dengan memanfaatkanmu. Kamu tidak mengerti jalan pikiran seorang pebisnis. Mereka akan selalu berupaya mencari kesempatan emas untuk mewujudkan tujuannya. Termasuk memanfaatkan orang terdekatnya. Yaitu kamu!”


“Termasuk ayah?”


“Char?!”


“Ayah juga memanfaatkanku, Ayah memaksaku menikahinya hanya untuk menyelamatkan perusahaan. Sekarangpun masih sama. Teganya Ayah melakukan itu padaku?” lirih Charlotte mengerjapkan matanya menahan air mata yang akan tumpah. Ia tidak kuasa menahan diri. Ayahnya dengan mudah menilai orang lebih buruk darinya.


“Ayah tahu bagaimana kesulitan yang kualami, itu tidak setara dengan apa yang Ayah minta padaku.”


“Charlotte… bukan begitu maksud ayah.”


“Aku capek yah.” Charlotte menyeka bulir air mata di pipinya. Lalu berdiri. Ia tidak kuasa menatap ayahnya, “Terserah ayah mau apa. Charlotte akan setuju apapun keputusan Xavier. Istirahatlah disini, Charlotte akan menyiapkan makan siang.”


Setelah mengatakan itu, Charlotte berjalan pergi meninggalkan ayahnya yang termenung di tempatnya.


^


Makan siang itu terasa hening. Tidak ada satupun yang bicara. Xavier, Charlotte dan Susanto duduk menikmati makanan mereka. Sedari tadi ia memperhatikan Charlotte yang terus terdiam. Bagitupun dengan Susanto, ayah mertuanya. Mereka berdua seolah tengah menjaga jarak. Tidak ada keramahan atau tegur sapa keduanya. Xavier tahu, mungkin itu buntut dari syarat yang ia ajukan.


Namun kekhawatirannya seakan lenyap, saat tahu Charlotte menolak keras permintaan Susanto dan memilih memihak dirinya. Ia sudah mendengar semua percakapan mereka dengan alat penyadap di Mansion. Xavier tidak menyangka, istrinya lebih percaya kepadanya. Itu membuat Xavier senang.


“Tuan Susanto, apa makanannya enak?” tanya Xavier.


“Ini enak.” Jawab Susanto seadanya. Sepertinya pria itu tidak menikmati makanannya, Dia terlihat lesu dan murung.


“Padahal, ada beberapa yang minus.” Ujar Xavier sekilas melirik Charlotte.


Charlotte menoleh pada Xavier, Xavier kembali melanjutkan bicaranya. “Seperti Soup yang overcook, roti Truffle yang keras dan juga steak yang sedikit asin. Aku benar kan sayang?” Xavier tersenyum penuh maksud, senyum yang menyebalkan.


Charlotte membalas dengan senyum dipaksakan. Xavier benar-benar pintar membuat ia malu didepan ayahnya. Setidaknya ia bisa memuji makanan enak lainnya kan, kenapa harus makanan buatannya. Dasar Xavier si tukang protes. Gerutu Charlotte.


“Terima kasih atas makanannya. Setelah ini aku harus kembali ke Jakarta.” Ucap Susanto seraya mengusap mulutnya dengan tisu.


“Anda tidak tinggal disini? Setidaknya, biarkan istriku merasa senang saat ayahnya mengunjunginya. Ia selalu kesepian disini.” Ujar Xavier sedikit melontarkan candaan. Charlotte mendengus pelan.


‘Apa-apaan itu? Kesepianku juga karenamu yang mengurungku!’ gerutunya kesal.


“Maaf. Karena banyak masalah yang terjadi, ayah harus cepat-cepat kembali. Lain kali ayah akan mengajak ibu dan adikmu kemari.” Ujar Susanto kepada Charlotte.

__ADS_1


“Baik yah.”


“Aku akan mengantar Ayah ke depan.” Charlotte berdiri dan mengajak ayahnya kedepan.


^


“Xavi.”


“Ya?”


Charlotte berjalan mendekati Xavier dalam perjalanan mereka masuk kedalam Mansion. Mereka berada dihalaman, setelah mengantar kepergian ayah Charlotte.


Xavier memperhatikan Charlotte yang diam, seolah wanita itu tengah berpikir. “Ada apa?”


Charlotte terlihat menimang-nimang untuk bicara. Namun ia memberanikan diri menatap serius Xavier. Menarik nafas dalam-dalam. “Tentang masalah perusahaan, kau tidak perlu membantunya.”


Dahi Xavier menyernyit, “Kenapa? Kau tidak percaya padaku?”


“Bukan. Bukan karena itu.”tutur Charlotte. Ia sejenak menunduk, mencari kata-kata yang tepat.


“Itu adalah perusahaan milik Kakekku, Aku ingin mencoba mempertahankannya dengan usahaku sendiri. Aku tidak ingin kau pusing memikirkannya. Serahkan padaku, akan kucoba untuk menyelesaikannya.” Jelasnya penuh keyakinan.


Xavier terdiam, tangannya bersedekap didada, tatapannya tengah menilai kesungguhan Charlotte. “Keberitahu satu hal, perusahaan yang hampir Colaps, cukup sulit dikembalikan seperti sebelumnya. Bahkan pengusaha terbaik pun terkadang gagal. Kau yakin dengan kemampuanmu ini kau bisa memulihkannya?”


“Ya. Aku yakin! Aku akan berusaha keras.” Balas Charlotte serius, penuh semangat. Satu hal yang ia harapkan, persetujuan suaminya. “Berikan aku kesempatan.”


Xavier terdiam, mengamati mimik wajah Charlotte dengan intens. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk lengan kekarnya. Seolah ragu dengan keinginan istrinya itu. Beberapa menit berlalu, tidak ada jawaban dari Xavier, pria itu hanya diam menatapnya tanpa berniat mengucapkan sepatah katapun. Charlotte berpikir jika Xavier tidak akan mengijinkannya. Padahal ia sangat ingin mengembalikan perusahaan Kakeknya hingga benar-benar stabil. Setidaknya ia harus berusaha, daripada tidak melakukan apapun. Ia pasti akan menyesal, jika perusahaan yang telah dirintis Kakeknya sejak dulu pailit atau bangkrut.


“Baiklah. Kau boleh melakukannya.” Ucap Xavier pada akhirnya.


Charlotte menengadah, ia terbelalak sesaat. “Benarkah? Te-terima kasih Xa-“


“Tapi dengan satu syarat.” Xavier mengangkat dagu Charlotte dan berbisik didepan wajahnya. Tatapan dingin dan tegas terlihat jelas. Charlotte sedikit takut. “Aku akan ikut pergi. Tidak ada bantahan.”


.


.


.


.


Maksih Votenya Bestie...  Saranghaeeee ^-^

__ADS_1


Yg blm Vote, yuks bisa yuks ... tinggal klik tombol VOTE di beranda Novel Menikahi Tuan Penguasa ya.. Gratis kok. 1 Vote hanya berlaku 1 orang setiap minggu ya. Jadi gunakan vote dgn baik, agar Othor bisa kembali update secara rutin. Sarangheoooo bestie... Semoga sehat selalu... Lopee yuu.. ^-^


__ADS_2