
“Kau tau posisi mereka?” tanya Xavier. Tak ayal ia juga merasa sedikit takut, bukan takut mati karena kalah melawan musuh, namun sekarang ia tidak sendiri lagi. Ada Charlotte yang harus ia lindungi. Tak mungkin jika mereka tidak mengincar istrinya dalam bentuk pembalasan dendam.
“Tentu saja Brother. Sudah kusuruh orangku mengawasinya.” Jawab Hugo.
“… Brother. Menurutku ini bisa jadi kesempatan baik untuk mengakhiri pertempuran yang sudah belasan tahun terjadi. Kau pasti bisa mengalahkan Michael. Jika pria itu tumbang ditanganmu, para pengikutnya pun akan tunduk pada Keluarga Besar Xavier. Bagaimana menurutmu?” Hugo memberikan masukan yang menurutnya jalan terbaik mengakhiri peperangan antar organisasi Mafia. Mumpung pemimpim Cossa berada di satu wilayah yang sama dengan mereka.
Xavier terdiam, pikirannya juga sama dengan Hugo. Dia cukup lelah mengurus masalah dengan organisasi Cossa yang selalu mencari gara-gara dengannya. Ia juga ingin fokus pada pekerjaannya yang lain. Cossa selalu merugikan bisnisnya. Dan itu tidaklah sedikit. Jika Cossa jatuh, maka hanya dia seorang yang menyandang gelar penguasa Mafia yang dihormati bukan ditakuti. Xavier hanya ingin menstabilkan dunia gelap dengan caranya sendiri. Bukan ingin memberikan dampak buruk bagi Negara-negara yang akan merugi akibat perbuatan biadab organisasi yang tidak bertanggungjawab.
“Aku punya rencana. Kita selesaikan semua disini.” Ujar Xavier tegas. Sudah cukup ia main-main dengan Cossa. Ia akan mengambil tindakan tegas untuk mengakhiri semua perselisihan mereka. Jika pimpinan mereka, Michael Cossa tidak berubah sikap, maka sikap keras Xavierlah yang harus bertindak!
Hugo mengangguk setuju. “Aku akan siapkan semuanya, Brother!”
“Hem!”
Tok Tok!
Ceklek!
Dean masuk kedalam ruangan. Ia berjalan mendekati Xavier. “Tuan, ada Tuan Fredy ingin bertemu.”
Dahi Xavier berkerut tajam, ia tidak menyangka Fredy akan menemuinya secara langsung. Ia pikir, Tuan Julius, ayah pria itu yang akan menemuinya untuk memberikan berkas kepemilikan. Xavier berdecih, pria tidak tahu malu itu ternyata masih punya nyali menemuinya.
“Biarkan dia masuk!” perintah Xavi. Dean keluar menemui Fredy diluar ruangan.
“Siapa Brother?” Hugo mengambil tempat disamping Xavier.
“Salah satu orang yang ingin kuhancurkan. Dia datang, mungkin ingin berlutut meminta ampun?” ujar Xavier tak acuh. Ia terlihat tak peduli.
“Why? Apa yang sudah dia lakukan padamu? Apa perlu aku turun tangan menghukumnya?” seru Hugo bersemangat.
“Nope! Aku sendiri cukup!” tolak Xavier.
Dean kembali masuk kedalam ruangan, bersama dengan Fredy dibelakangnya. Xavier menyandarkan punggungnya di Sofa, bersedekap tangan dengan kaki terangkat. Mata hitam gelapnya memandang tak senang pada pria yang telah menjadi masalah dalam keluarganya.
__ADS_1
“Senang bertemu dengan Anda Tuan Muda Ferdinant Xavier…..” Ucap Fredy. Bersikap tenang, walaupun disekitarnya dikelilingi pria-pria bertubuh besar dengan mata gelap. Apalagi melihat sikap Hugo yang sedari tadi menatapnya dengan tajam dan penuh ancaman. Pria bermata biru laut itu sangat protektif kepada siapapun yang mengganggu ketenangan kakaknya.
“Ya, senang melihatmu juga Tuan Fredy Nahendra. Ada apa kau datang kemari?” balas Xavier.
“Anda pasti tahu, maksud tujuan saya kemari. Saya sudah membawa apa yang Anda minta.” Fredy mengeluarkan map kertas diatas meja. Mendorongnya mendekat kepada Xavier. Xavier hanya meliriknya sekilas, lalu dengan kedikan kepala, ia menyuruh Dean yang memeriksanya.
Dean meneliti semua berkas, setelah selesai ia berikan kepada Xavier. Xavier tersenyum puas, ia suka dengan kinerja orang-orangnya. Jujur saja, ia tidak punya minat dengan perusahan milik keluarga Nahendra, dia hanya ingin memberi pelajaran khusus pada pria yang duduk didepannya. Sikap sok tenang pria itu sungguh membuatnya muak!
“Ada lagi?”
“Sebenarnya ada. Boleh aku bertanya?”
“Tentu. Selama tidak mengganggu, aku akan menjawabnya.”
Fredy sejenak diam. Seolah sedang merangkai kata yang tepat. “Charlotte, apa dia baik-baik saja?”
Mendengar nama istrinya disebut, alis Xavier menaut tajam. Untuk apa pria itu menanyakan keadaan istrinya yang jelas-jelas diluar ranah pekerjaannya. Apa pria itu ingin membuatnya cemburu lagi? Fredy memang pria Brengs*k!
“Kau membawanya kembali begitu saja. Aku hanya ingin tahu, jika Charlotte dalam keadaan baik.” Ucap Fredy.
“Untuk apa kau peduli dengan istri orang lain? Belum cukup, apa yang kau terima sekarang?” senyum sinis terpatri diwajah Xavier.
“Kau salah paham!” Suara Fredy meninggi tiba-tiba. “Charlotte dan aku tidak punya hubungan yang kau pik-“
“Jangan berbicara keras diruanganku!!” Tak ingin pria itu sembarangan bicara padanya. Rahangnya mengeras dengan sorot mata emosional.
“Xavier, aku mohon padamu, jangan hukum Charlotte. Kau bisa mengambil semua milikku. Tapi jangan renggut kebahagiannya. Dia sudah cukup menderita!” Pinta Fredy memohon.
“Owh, jadi kau tahu dia menderita? Kau kenal baik dengan istriku ya. Luar biasa!” Xavier bertepuk tangan dengan senyum miring. “…. Bukankah, kau sendiri bagian dari penderitaan itu? Mencampakkannya demi wanita lain? Itu yang kau sebut merenggut kebahagiaan bukan?”
“Aku memang bersalah! Tapi aku tidak punya pilihan lain…”
“Kau memang tidak punya pilihan lain. Karena itu, kau tetap mengejar istriku dan menggodanya. Menjijikkan!”
__ADS_1
“… Sekarang, kau ingin tahu keadaannya? Kuberitahu sedikit. Charlotte hamil saat ini.” Xavier bicara sangat tenang, namun penuh dengan penantian. Ya, penantian melihat reaksi Fredy sekarang.
“Benarkah?? Cha-Charlotte hamil?” Mata Fredy tampak berbinar, raut wajahnya begitu antusias dan bahagia …….? Pria itu senang atas kehadiran calon bayi mereka? Oh sh*ttt!! Xavier mengumpat kasar akan dugaannya itu! Jadi Fredy memang benar ayah dari calon bayi Charlotte! Begitu senangnya pria itu mengetahui wanita itu hamil. Ya, tentu saja senang, dengan alasan anak itu, pria itu pasti berniat mengambil wanitanya. Cara licik yang ampuh membuat Xavier tak bisa berkutik. Hal tak bisa dibiarkan!
“Selamat. Ah maksudku, sampaikan rasa syukurku atas kehamilan Charlotte. Dia pasti sangat senang. Dari dulu dia sangat menyukai anak kecil.” Ujar Fredy. Gerakan tangan dan wajahnya menunjukkan kebahagiaan yang ditafsir salahkan oleh Xavier.
“Bolehkah aku bertemu dengannya? Aku ingin mengucap-“
“DIAM!!”
Xavier berteriak keras hingga membuat mereka yang berada diruangan terkejut. Dada pria itu naik turun diiringi deru nafas yang memburu. “Hugo! Dean! Keluar!” perintah Xavier.
Hugo maupun Dean dibuat bingung melihat Xavier yang dikuasai emosi. Melihat tatapan tajam Xavier, mereka bergidik ngeri. Dengan patuh, kedua pria itu berjalan keluar dari ruangan. Hingga menyisakan Xavier dan Fredy.
“Kau! Apa perlu kuenyahkan nyawamu dari tubuhmu?! Hm?! Berani sekali kau bermain api dibelakangku! Tahukah kau apa yang bisa kulakukan agar bisa melenyapkan sampah sepertimu!” seru Xavier murka.
“Kenapa kau marah? Aku bertanya dengan baik. Jika kau tidak ijinkanku menemui Charlotte, aku akan pergi.” Ucap Fredy.
“Dalam hati, kau pasti menertawakanku bukan? Jawab!!”
“Menertawakanmu? Untuk apa?”
“F*ck you!! Berhenti berpura-pura Bajing*n!! Charlotte hamil dan itu pasti membuatmu senang karena bisa memilikinya! Aku tidak akan membiarkan itu\, brengs*k!!”
“Tentu saja aku senang! Sahabatku akan memiliki anak, siapa yang tidak senang?”
Brak!!
Xavier memukul meja cukup keras, pria itu berdiri lalu menghampiri Fredy. Ia tarik kasar kerah baju pria itu sampai mereka berdiri berhadap-hadapan. Urat-urat bermunculan disetiap kulit tegang pria itu. Semakin besar kebencian pada Fredy semakin kuat pula daya cengkramnya.
“Kau mungkin ayah dari bayi dalam kandungannya, Tapi Charlotte milikku, dan selamanya tetap jadi milikku!” tegas Xavier.
“K-kau bilang apa?” Fredy terperangah, menelaah perkataan Xavier yang mengejutkan.
__ADS_1