Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 73 (Part 2)


__ADS_3

“Yang aku tahu hanya….. istriku berselingkuh dibelakangku. Segala alasan yang keluar dari bibirmu, tidak akan bisa menepis hal itu. Kau puas sudah mengkhianatiku? Inikah caramu membalas dendam? Kau sudah mendapatkan hatiku sepenuhnya. Tetapi dalam sekejap kau meleburkan semua. Kau puas sekarang?”


Charlotte terkesiap akan semua perkataan Xavier kepadanya. Tidak ada niatanpun untukmembalas dendam perbuatan buruk Xavier selama ini. Justru, Charlotte ingin membuat Xavier bahagia disampingnya. Ia juga tidak ingin Xavier salah paham atas kejadian yang belum tentu benar.


“Aku tidak pernah ingin membalas dendam padamu Xavi. Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu?” lirih Charlotte. Manatap sendu pria yang kini mampu mengoyak hatinya.


“Benarkah? Bukankah itu dari segi pandangmu saja? Tapi kenyataannya kau sudah menghancurkanku dengan cara yang tidak pernah kubayangkan. Kau tahu kelemahanku, dan kau manfaatkan hal itu!”


“Xavi! Aku tahu kau masih marah. Karena itu kau mengatakan hal tidak masuk akal. Jika ini tentang tuduhanmu tentang aku dan Fredy. Kau salah besar! Kami tidak pernah memiliki hubungan kecuali sebatas teman. Dia membantuku menyelesaikan masalah perusahaan! Hanya itu!”


“Membantu? Kau menerima bantuannya tapi tidak dengan bantuanku??! Kau anggap apa aku ini? Orang lain?!” seru Xavier.


“Bukan begitu…”


“Bukan begitu bagaimana? Kau jelas-jelas bersama pria itu di sebuah hotel bukan di kantor! Mataku masih normal Charlotte!!”

__ADS_1


Charlotte hampir kesulitan bernafas beradu bicara dengan Xavier. Kenapa susah sekali memberitahu padanya jika semua tuduhannya tidak benar. Charlotte mengambil nafas perlahan dan membuangnya dengan pelan. Mereka harus bicara tanpa melibatkan emosi masing-masing.


“Kita bicara baik-baik ya. Kau sedang marah. Kita duduk dan bicarakan hal ini dengan kepala dingin. Oke.” Bujuk Charlotte.


“Jangan menyuruhku berkepala dingin jika kau sendiri terus membuatku seperti ini. Kau tidak peduli dengan perasaanku, hatiku dan pikiranku yang selalu tertuju padamu! Kau tidak akan pernah tahu hal itu.”


“Ah, aku juga lupa satu hal. Bukankah kau ingin terbebas dari belenggu pernikahan ini? Agar kau bisa menikahi pria yang mungkin pernah melakukan hubungan intim denganmu sebelum diriku-“


Plak!!


“Kenapa kau marah? Aku menyinggungmu? Perkataanku benar bukan?”


“Kau jahat! Kau tega mengatakan itu padaku!” Dalam sekejap, air mata Charlotte luruh membasahi kedua pipinya. Merasa sakit hati. “Kau pikir kau tahu semua tentang hidupku?” isaknya.


Entah datang darimana, Xavier seketika terdiam ketika melihat Charlotte menangis. Bibir pria itu terkatup rapat. Ia menatap bola mata cokelat itu yang kini telah tergenangi air mata kesedihan. Tubuh Xavier membatu, perasaan bersalah melingkupi hati kecilnya.

__ADS_1


Dug! Dug!


Tangan Charlotte memukul-mukul dada Xavier berulang kali. Menyalurkan rasa sakit atas perkataan pria itu. “Hiks, Bagaimana kau bisa mengatakan itu saat kau sendiri adalah pria pertama untukku.”


Charlotte kembali memukul pundak kokoh Xavier. Kini dengan kedua tangannya.  Xavier hanya diam menerima setiap pukulan lemah wanita itu. Charlotte mendongakkan kepalanya menatap penuh mata dingin yang sudah mencabik-cabik hatinya. “Hiks, Aku tahu aku salah telah membuatmu kecewa karena menolak bantuanmu. Semua kulakukan agar kau tidak terbebani. Aku salah telah menerima bantuan Fredy, tapi aku tidak pernah sekalipun memberikan milikku kepada siapapun selain dirimu! Hanya padamu! Teganya kau mengatakan kata-kata menyakitkan itu, hiks!!” Tubuh lemas Charlotte bersandar didada Xavier dengan isakan tangisnya yang semakin keras. Menumpahkan seluruh rasa sakit hatinya yang sudah terlanjur terluka.


Charlotte tak bisa berdiri teguh. Ia terduduk dilantai dengan isakan tangis yang semakin menguras energinya. Ia tergugu dengan kondisi menyedihkan.


Xavier terdiam sesaat memperhatikan istrinya yang duduk dilantai dengan uraian air mata. Melihat hal itu membuat Xavier menjadi pria yang bodoh. Ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Ucapannya terlalu kejam , ia akui hal itu. Semakin ia berada disamping wanita itu, semakin ia tidak bisa menahan diri. Ia tidak ingin membuat wanita itu terluka walaupun hatinya juga merasakan hal sama. Ia tak ingin berbuat hal keji lagi pada wanita itu. Ia harus pergi.


Kaki Xavier perlahan bergerak menjauh. Derap kakinya menggema dilorong hingga tak terdengar lagi. Xavier benar-benar pergi meninggalkan Charlotte seorang diri.


.


.

__ADS_1


. bOleh koment sepuasnya, silahkan ngejugje mereka, othor aja juga  kesel soalnya.. wkwkwk ^-^


__ADS_2