
Charlotte duduk di teras depan rumah pada malam yang terasa dingin. Ia menikmati suasana malam yang begitu tenang. Rumah kecil yang ia tempati sekarang terletak cukup jauh dari pusat kota. Berada di bukit pegunungan dengan pemandangan siang hari yang menawan. Charlotte menyukai tempat itu karena ia rasa mampu menjernihkan setiap pikiran kalutnya. Kakek beberapa kali berkunjung. Charlotte diberikan 2 pelayan wanita, 1 perawat, dan juga 5 pengawal hebat diluar rumah.
Suasana malam ini sedikit berbeda untuknya. Ia merasa tenang namun ada setitik kecemasan yang ia rasakan sejak ia bangun tidur sore tadi. Entah apa itu, Charlotte tidak tahu. Satu bulan tinggal disana, ia menjadi lebih gendut. Pipinya mulai berisi, nafsu makannya semakin naik tiap harinya dan perutnya tentu saja membuncit.
Charlotte terus memanjakan diri disana, tidak terbebani dan wajahnya selalu bersinar. Kakek memang pintar dalam menemukan tempat yang bagus.
Ia sudah mendengar tentang hasil tes DNA janinnya. Semua terbukti benar, dan itulah yang ia harapkan. Kakek memberitahunya jika Xavier telah menyesal, selama satu bulan ini pria itu juga sibuk mencari keberadaannya. Charlotte sebenarnya ingin kembali ke kota, tapi untuk saat ini ia urungkan niatnya agar Xavier tidak menemukannya. Ia masih belum bisa bertemu dengan suaminya itu. Ia masih sakit hati tapi tidak menuntut perceraian.
Charlotte memutuskan menghilang untuk sementara waktu. Ia ingin tahu apa usaha yang dilakukan Xavier padanya. Penyesalan seperti apa yang pria itu rasakan. Charlotte sama sekali tidak membenci Xavier, ia hanya kecewa padanya. Walaupun beberapa kali ia disakiti, rasa cinta dalam hatinya tetaplah sama. Charlotte tidak bisa membuang perasaan itu meski mereka saling berjauhan seperti sekarang. Bahkan setiap hari, ia selalu merindukan sosok itu dalam setiap mimpinya.
“Nona, diluar dingin. Ayo masuk Non.” Seorang pelayan menghampiri Charlotte.
“Nanti saja Bi Sum, Aku masih ingin disini. Bi Sum istirahat dulu didalam.” Ucap Charlotte seraya tersenyum manis. Charlotte selalu bersikap ramah pada para pelayan yang menemaninya, ia tidak pernah mengeluh akan kehamilannya. Walaupun terkadang ia merasa capek disekujur tubuhnya. Charlotte bisa menahan semua itu karena ada sosok kecil tumbuh didalam perutnya, membuat Charlotte semakin bersemangat dalam hidup.
“Baiklah Non. Kalau ada apa-apa, panggil saya ya Non.” Ujar Bi Sum.
“Iya Bi. Makasih ya.”
Charlotte mengambil ponsel dikursi sampingnya. Ia membuka beberapa galeri foto. Setiap hari ada saja kiriman foto yang masuk dalam pesannya. Ia membuka satu persatu foto terbaru itu. Bibirnya tertarik keatas membentuk senyuman manis.
Ngidamnya kali ini benar-benar unik. Ia hanya ingin melihat foto seseorang yang selalu ia rindukan. Tapi untuk menemuinya saja ia tidak mau. Charlotte tengah memandangi foto suaminya. Foto yang dikirim oleh Kakek setiap harinya. “Kenapa kau tampak kurus sih. Apa kau tidak dilayani oleh belasan pelayanmu itu? Mereka tidak memberikanmu makan? Aku tahu kau mencariku, tapi jangan lupakan kesehatanmu juga. Awas saja jika kau membuatku menjanda, aku akan bongkar nisanmu hingga kau tidak tenang disana! Hiks!” Sudut mata Charlotte berair. Ia semakin sedih mengingat pria yang saat ini ia rindukan terlihat tidak terawat.
Haruskah ia kembali padanya sekarang? Semakin hari rasa rindu terasa mencekik lehernya untuk bernafas. Ia ingin menemui Xavier, ia merindukannya, ingin bersamanya merawat bayi mereka. Kapan hal itu terwujud? Ia sudah tak sabar menunggu.
^^
“Sudah siap semua?”
Xavier memasuki Markas Mafianya di Kota S. Ia sudah ditunggu Hugo yang terlihat siap 100 % bertempur malam ini. Xavier duduk dikursi besi dan melepas pakaiannya dengan baju anti peluru dan senjata berupa pistol dan belati. Pintol berjenis Glock 20 dengan daya kecepatan sampai 1600 kaki per detik, selalu menjadi senjata utama Xavier dalam menghabisi musuh-musuhnya.
__ADS_1
Xavier tampak garang setelah memakai semua peralatan keamanannya. Ia mendekati Hugo yang berdiri dipintu.
“Mereka sudah terlihat?” tanya Xavier mengecek situasi musuh.
“Dua orang pengintai sudah menemukan tilok mereka di jarak 100 meter. Kita tinggal berangkat kesana sekarang.” Ujar Hugo.
“Oke. Aku akan maju lebih dulu, kau melindungi dari belakang.”
“Siap Brother!”
Xavier berjalan keluar diikuti Hugo berserta belasan anak buahnya. Hugo sudah menyiapkan tentara tambahan di lokasi 20 menit yang lalu. Mereka berjumlah puluhan orang dan bersiap mati demi pimpinan mereka.
Mobil Limousine yang membawa Xavier melaju menuju pelabuhan. Ponsel Xavier bergetar didalam sakunya, ia melihat ada panggilan masuk dari Kakek.
“Ya kek?”
“Kau ingin bertarung? Dimana?”
“Kau yakin sudah mempersiapkan semua? Jangan sampai salah perhitungan Xavi! Kau masih punya tugas mencari istri dan anakmu!” suara Kakek terdengar menakutinya, Xavier hanya tersenyum kecil. Ia tahu, Kakek ingin dia kembali dan berkumpul bersama keluarga kecilnya.
“Ya, aku sudah pastikan semua siap. Aku pasti akan menang.” Jawabnya dengan tegas dan penuh kenyakinan.
“Kakek ingin kau kembali dengan selamat. Jaga diri baik-baik.”
“Tentu. Terima kasih Kek.”
Xavier kembali memasukkan ponselnya di dalam saku setelah penggilan mereka berakhir. Xavier menoleh ke jendela mobil. Bayangan Charlotte tersenyum bahagia menggetarkan hatinya. Ia bertekad akan kembali dengan selamat dan membawa keluarga kecilnya pulang bersamanya.
“Hugo!”
__ADS_1
“Ya Brother?” Hugo menyaut dari tempat duduk depan.
“Kita selesaikan semua malam ini. Michael, akan kuserahkan padamu setelah urusanku selesai dengannya!” titah Xavier.
“Siaap Brotherr! Dengan senang hati aku akan bermain-main dengannya malam ini. Kita akan berpestaa!!!” Xavier tersenyum, ia kembali memusatkan pikirannya pada pertempuran malam ini.
^^
Suasana di pelabuhan terlihat sepi. Sekarang sudah pukul sebelas malam. Kapal-kapal yang biasa merapat disana sengaja Hugo alihkan dipelabuhan lain. Ia tidak ingin pertempuran antar organisasi Mafia itu terendus oleh banyak orang. Ia ingin menjaga baik nama Xavier.
Sunyi… tidak ada suara aktivitas apapun ditempat itu. Kapal yang membawa barang-barang perngiriman juga telah sampai. Biasanya barang-barang itu akan dibongkar besok malamnya. Xavier dan Hugo turun dari mobil. Mereka mendekati pinggir pelabuhan diikuti beberapa pengawal dibelakang mereka. Mereka mengendap-endap menunggu target muncul. Xavier ingin melihat Michael lebih dulu sebelum mulai menyerang. Ia ingin memastikan target tangkapannya telah datang.
Xavier punya 5 orang penembak jitu. Telah diposisikan ditempat paling strategis untuk menyerang. Anak buahnya yang lain tengah bersembunyi, menunggu perintah darinya.
“Buka barangnya.” Perintah Xavier lewat pesan radio ditelinga. Memerintahkan pada awak kapal untuk menurunkan terpal. Xavier ingin musuhnya tahu, jika malam ini akan dilakukan pembongkaran muatan. Itu hanya taktik kecil darinya agar Michael terkecoh dan menunjukkan diri.
Tak sampai 10 menit, segerombolan orang datang dengan berpakaian hitam. Mereka berjalan beriringan mendekati pembongkaran muatan dari atas kapal. Xavier melihat pergerakan mereka dari teropong. Mencari sosok utama yang menjadi incarannya.
“Binggo! Dia datang, nomor dua dari depan. Michael Fero Cossa. Nyawamu tidak akan selamat malam ini!” seringai puas terukir diwajah bengis Xavier.
.
.
.
Setelah nyelesaian Novel ini, Nana bakal hiatus dulu ya....info new novel di IG Nana @Nanayu_95
Boleh tanya2 seputar Novel nana lewat DM ya...Follow juga Instagramnya...
__ADS_1
Jgn lupa dukungannya zeyeng, yuks VOTE yang banyak... See you.. ^-^
Happy reading....