Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 59


__ADS_3

“Hujan…?”


“Kemarilah,” Xavier mengulurkan tangannya meraih Charlotte  agar naik keatas Saung. Tak berselang lama, rintikan air berubah menjadi guyuran deras. Tak hanya itu, angin kencang ikut mengiringi hujan hingga membuat pinggiran saung terkena airnya.


“Bagaimana ini Xavi? Hujannya…”


“Kita disini dulu, tunggu hujannya sedikit reda.” Ujar Xavier.


Charlotte mengangguk setuju, kedua tangannya memeluk erat tubuhnya. Hawa dingin menusuk hingga tulang-tulang ditubuh wanita itu. Ia dan Xavier kini terjebak didalam Saung ditengah derasnya hujan malam ini.


“Pakai ini.” Tanpa diduga, Xavier memakaikan jaket miliknya pada tubuh Charlotte. Lalu tangan pria itu meraih pundaknya mendekatkan tubuh mereka lebih dekat, memeluknya erat. Charlotte mematung, dekapan Xavier begitu hangat. Bahkan dinginnya angin hujan tak mampu menembus kulitnya sekarang.


“K-kau tidak kedinginan?” Charlotte menengadahkan kepalanya keatas. Mimik wajahnya mencemaskan Xavier.


“Jangan khawatir.” Balas Xavier.


Lima menit berlalu..... sepuluh menit… ..sampai satu jam lamanya mereka menunggu. Hujan masih sama, tidak menunjukkan akan reda. Hawa dingin mulai menggerogoti tubuh mereka. Charlotte bisa merasakan, tubuh Xavier mulai gemetar. Ia memberanikan diri melihat pria itu.


Pucat. Wajah Xavier sekarang berubah pucat. Kedua matanya terpejam rapat. Charlotte seketika menyentuh wajah pria itu.


“Astaga, Xavi. Kau kedinginan!” seru Charlotte mulai panik.


“Aku tidak apa-apa. Bagaimana ini, hujannya belum berkurang.” Ucap Xavier justru mencemaskan hal lain.


“Aku akan pergi ke Mansion dan membawakanmu payung.” Charlotte bergegas turun, namun Xavier langsung menghentikannya.


“Jangan bodoh. Kau akan kehujanan. Biar aku saja.” Xavier menawarkan diri. Suaranya mulai terdengar lemah.


“Tidak. Kau tidak lihat dirimu. Wajahmu pucat sekali. Kau kedinginan Xavi...” Ucap Charlotte cemas.


“Aku tidak apa-apa. Tetaplah disini.”


“Ta-tapi..”


“Jangan membantah.” Xavier dengan tatapan tegasnya memperingatkan Charlotte. Ia bersikeras untuk turun. Xavier mencoba menguatkan tubuhnya dan berjalan perlahan.


Air hujan mulai membasahi kepala Xavier lalu seluruh pakaiannya.  “Tetap disini! Mengerti?”, Xavier kembali mengingatkan.


Charlotte menganggukkan kepala. Terpaksa mengikuti perintahnya. Kemudian Xavier mulai berlari dibawah guyuran hujan. Charlotte menatap kepergian Xavier dengan perasaan bersalah. Jika saya ia tidak pergi dari Mansion dan tetap dikamar, mereka tidak akan terjebak hujan disana. Xavier tidak perlu mencarinya dan rela kehujanan demi dirinya.


Dengan perasaan cemas, Charlotte berencana menyusul Xavier. Malam semakin larut, hujan tiada henti. Jika tetap disana, ia akan merepotkan Xavier. Pria itu tidak perlu datang menyusulnya. Apalagi, wajah pucat Xavier terus terbayang-bayang dipikirannya. Bagaimana keadaannya? Ia ingin tahu!


Kaki Charlotte hampir berpijak ditanah basah, sesaat sebelum sebuah cahaya menyorot tempatnya berada. Charlotte menahan silaunya lampu senter seseorang yang datang kepadanya.


“Xavi..?”


Charlotte menepiskan senyum, ketika melihat Xavier berlari kearahnya dengan membawa payung. Pakaian pria itu basah begitupun dengan rambutnya. Xavier tidak langsung mengganti pakaiannya! Pria itu menepati janji, datang untuk menjemputnya.


“Sudah kubilang jangan turun! Kenapa tidak mau dengar!” Xavier malah marah-marah. Nafasnya ngos-ngosan. Charlotte yakin, pria itu secepat kilat untuk menjemputnya. Charlotte mengulum senyum merasa senang.


“Maaf. Aku mencemaskanmu.” Ucap Charlotte.


“Sudah kukatakan aku baik-baik saja.” Xavier mendengus pelan. “Kalau begitu ayo pergi.”

__ADS_1


“Iya.”


Xavier menggenggam tangan Charlotte. Mereka berjalan bersisihan dibawah teduhan payung ditengah derasnya hujan.


^


“Tuan Muda, kenapa bisa basah kuyup seperti ini?” Dona datang menghampiri mereka. Wajahnya sangat khawatir. Melihat seluruh pakaian Tuan Mudanya basah.


“Tidak apa. Jangan khawatir.” Ucap Xavier.


“Dona, bisa kau buatkan air jahe hangat. Dan kotak obat.” Pinta Charlotte.


“Baik Nona.” Dona tidak perlu diperintah dua kali untuk melakukannya. Ia langsung pergi mencari permintaan Charlotte.


“Aku baik-ba.. Haiiciinggggg!!”


Xavier bersin dengan keras. Tangannya mengusap hidung mancungnya, menyembunyikan wajahnya yang berantakan dari Charlotte.


“Sudah diam! Kau tidak baik-baik. Aku bantu kau ke atas.” Charlotte langsung memapah tubuh besar Xavier yang terlihat lemas. Xavier yang sudah tak berdaya untuk berdebat, hanya bisa menurut.


Sesampainya di kamar, Charlotte mendudukkan Xavier di sofa. Dengan tak sabar, ia langsung melepaskan kaos pria itu.


“Aku bisa melakukannya sendiri.”


“Bisa diam tidak? Biar aku saja!” Charlotte melotot dengan sorot matanya yang tegas. Tak ingin Xavier mencegahnya membantu pria itu. Bagaimanapun, Charlotte tidak tega melihatnya kesakitan seperti sekarang. Xavier kedinginan, dan yang perlu ia lakukan adalah melepas semua pakaian basahnya. Dan menyelimutinya dengan pakaian hangat.


“Eumm…” Charlotte tampak berpikir saat hendak melepas celana Xavier. Ia ragu, harus melakukannya atau tidak. Ia malu, tapi,….. jika ia tidak melakukannya, Xavier akan semakin kedinginan.


“Tidak. Aku akan melakukannya.” Charlotte tetap bersikeras. Meneguk ludah dengan susah payah. Sejenak berpikir mencari cara.


Akhirnya, Charlotte pergi ke Walk in closet. Xavier hanya bisa memperhatikannya dari tempatnya duduk. Tubuhnya menggigil, lemas dan tak bertenaga.


Tak butuh waktu lama, Charlotte keluar dengan membawa handuk kering. “Mau apa dengan benda itu?” Xavier terlihat bingung.


“Diam dan lihat saja.”


“Lebih baik kau pergi, berikan itu padaku.” Xavier bangkit dan mencoba mengambil handuk ditangan Charlotte.


“Tidak mau.” Tolak Charlotte menyingkirkan handuk itu dari Xavier.


“Berikan.” Xavier mulai melangkah maju.


“Tidak mau!”


“Charlotte, cepat berikan padaku.” Charlotte terus mundur.


“Tidak mau.”


“Jangan membuatku marah. Atau.. Akhhh!”


Xavier tidak bisa menahan keseimbangannya saat kepalanya tiba-tiba terasa pusing. Ia terjatuh bersama Charlotte diatas tempat tidur. Tubuh besarnya menindih wanita itu.


“Kau sengaja ya!” seru Charlotte.

__ADS_1


“Jangan bercanda.” Sangkal Xavier, karena memang ia tidak bisa menahan tubuhnya yang lemah itu.


Charlotte awalnya kesal, namun sedetik kemudian ia melihat kesempatan bagus. Ide cerdiknya muncul disaat tepat. Dengan gerak gesit, Charlotte langsung melingkarkan handuk itu dipinggang Xavier. Lalu dengan tenaga terakhirnya, ia mendorong tubuh besar Xavier kesamping. Sedetik kemudian,posisi mereka telah berubah. Kini Charlotte yang berada diatas Xavier.


“Kau ini susah diatur ya Tuan Muda.” Ledek Charlotte tersenyum penuh kemenangan.


“Apa yang kau lakukan. Turun!”


“Tidak mau.” Ucap Charlotte seolah menantang. Xavier mendengus kesal. “Sekarang kau diam, biarkan Nona Charlotte yang cantik ini melakukan tugas dengan benar. Oke.”


Charlotte beranjak turun dari tempat tidur. Tanpa malu, ia langsung melepaskan celana Xavier dari dalam handuk dengan mudah. Xavier tertegun melihat ulah Charlotte.


“Selesai.” Ucap Charlotte senang.


“Kau benar-benar wanita tak terduga.” Ujar Xavier tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tapi ia akui, Charlotte wanita yang tangguh dan pintar. Benar-benar tidak bisa diprediksi.


Ting tong…


Charlotte menoleh ke arah pintu kamar. “Itu pasti Dona. Tunggu disini.” Perintahnya pada Xavier.


Charlotte berjalan cepat untuk membukakan pintu.


Ceklek!


Dona berdiri dengan membawa secangkir minuman jahe hangat dan kotak obat. “Nona, saya bawakan permintaan Nona.”


“Oke. Terima kasih ya.” Charlotte mengambil alih barang bawaan Dona. “Kau bisa pergi.”


“Baik Nona. Saya permisi.”


Charlotte membawa masuk semuanya. Dilihatnya, Xavier sudah duduk dipinggir tempat tidur. Ia memegang kepalanya seraya memejamkan mata. Charlotte mengambil tempat disamping pria itu.


“Kepalamu pusing?” Tanyanya.


“Tidak terlalu. Tapi….iisshh”  Xavier mengeluh seraya menekan kepalanya.


“Kau pusing Xavi. Kalau begitu kau harus minum obat. Aku siapkan dulu ya.” Charlotte dengan telaten mencari obat sakit kepala di kotak obat. Lalu menaruhnya ditelapak tangan. “Ini, minum obatnya dulu.”


Xavier mengambil obat itu dan meminumnya dengan air putih diatas nakas.


“Ini, minum juga jahenya dan habiskan. Mumpung masih hangat.” Charlotte menyodorkan cangkir minuman pada Xavier. Membantunya minum.


Xavier menghabiskan semua sesuai perintah Charlotte. Ia sejenak menatap wanita itu. Aura kecantikan bak seorang dewi, tiba-tiba terpancar jelas diwajah Charlotte. Xavier terkesima sesaat. Tanpa sadar bibirnya tertarik keatas. Charlotte yang tidak pernah menunjukkan sisi lembutnya, kini mulai merangsek masuk dan mempengaruhi perasaannya. Ketulusan wanita itu ketika mengkhawatirkannya, benar-benar tak pernah terbayangkan sebelumnya.  Charlotte adalah wanita yang tulus dan baik dimata Xavier. Ia merasa yakin, jika saat ini ia tengah jatuh hati pada wanita yang berhasil mencuri perhatiannya sejak awal mereka bertemu.


.


.


.


.


Happy reading..^-^

__ADS_1


__ADS_2