Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 108 (Extra Part)


__ADS_3

Kakek dan lainnya duduk dengan wajah tegang di kursi tunggu rumah sakit. Didalam ruangan, cucu menantunya sedang berjuang untuk melahirkan cicit-cicitnya yang sudah tak sabar ia lihat. Berulang kali kaki dan tangan pria tua yang masih gagah itu bergetar menanti detik demi detik kelahiran sang cicit.


“Tuan Besar, mau saya belikan kopi?” Dean beranjak mendekat.


“Tidak perlu Dean. Terima kasih.” Ucap Kakek.


“Tuan Besar, seandainya saja keluarga Nona Muda disini. Pasti akan membuatnya senang.” Lirih Dona. Seraya menatap nanar pintu. Matanya berkaca-kaca, merasa iba.


Sejak Charlotte datang ke kehidupan Tuan Mudanya, wanita itu sama sekali tidak mendapat kasih sayang dan perhatian dari keluarganya. Keserakahan telah menelan hidup-hidup hubungan erat itu hingga tak berbekas. Mengubur semua kenangan indah antara anak dan ayah. Rusak akibat ketamakan sang orang tua tunggal bersama keluarga barunya. Mengingat itu semua, siapa yang tidak kasihan atas kehidupan Nona Mudanya yang begitu baik hati kepada orang lain.


“Aku juga ingin membawa mereka kesini. Terutama ayah Charlotte. Tapi sayang sekali, Xavi melarang mereka datang ke kota ini.” Kakek tertunduk, menghela nafas panjang.


“Hidup yang dijalani Tuan Susanto sekarang sudah berubah. Dia dan keluarganya kini bergantung sepenuhnya kepada Tuan Fredy. Bisnis keluarga Nona Charlotte telah diambil alih oleh Tuan Muda Xavier satu tahun lalu. Tidak ada yang tersisa untuk mereka.” Jelas Dean.


“…. Jika mengingat kembali perlakuan mereka kepada Nona, saya setuju dengan keputusan Tuan Muda Xavier. Mereka pantas mendapatkan balasan itu.” Imbuh Dean.


“Aku dengar Susanto sudah mengakui kesalahannya. Dia berharap bisa memperbaikinya.” Kakek menghela nafas sebentar. “Terutama, kesalahannya pada Charlotte. Ia pernah meminta padaku agar bisa menemui putrinya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku yakin, gadis itu juga sedang merindukan orang tuanya.” Lirih Kakek memandang sayu kedepan. Kasihan sekali cucu menantunya. Hidup memang keras, dan Charlotte pernah merasakan hal itu. Diacuhkan ayahnya, sampai harus dipaksa menerima perjodohan. Seadainya ia mencari cucu sahabatnya itu sejak dulu, pasti sudah ia angkat sebagai keluarganya sendiri. Melimpahkan kasih sayang setara dengan cucu kandungnya.


“Dean, bisa kau membantuku?”


^


Suara tangis bayi pertama pasangan Xavier dan Charlotte terdengar diseluruh ruangan. Suara kencang sang bayi mengalihkan rasa tegang kedua orang tuanya. Xavier menatap bayi yang masih berlumuran darah itu dengan takjub. Sebuah keajaiban tampak didepan mata pada seorang bayi laki-laki yang sehat dengan suara keras seolah sengaja ia pertontonkan. Memperlihatkan jika sang ayahlah yang mewariskan kekuatan itu.


Bayi itu dibawa seorang perawat untuk dibersihkan di sudut ruangan. Kini Dokter dan tenaga medis lainnya kembali berusaha mengeluarkan satu bayi lagi.


Tak berselang lama, sang bayi kedua telah berhasil dikeluarkan. Tangisan bayi kembali terdengar. Seorang bayi perempuan nan cantik, telah terlahir didunia. Menggerakkan tangan dan kaki mungilnya. Menyapa dunia dengan suara tangisannya. Kembali seorang perawat membawanya ikut bersama saudaranya.


“Xavi… anak-anak kita… mereka..” suara lemah Charlotte tercekat ditenggorokan setelah beberapa jam ia habiskan untuk berteriak. Ia memandangi sang buah hati dengan senyum bahagia.


Begitupun dengan Xavier yang masih setia disampingnya. Segera memeluk sang istri seraya memberi kecupan bertubi-tubi di kepala wanita yang ia cintai itu. “Terima kasih sayang. Kamu sangat hebat. Aku semakin mencintaimu…..” Kecupan terakhir ia daratkan di bibir pucat sang istri. Kembali memeluk erat.

__ADS_1


Tak ayal, air mata menetes disudut mata sang Mantan Mafia. Segera ia usap agar sang istri tidak bertanya hal-hal merepotkan. Rasa bahagia terus membuncah dalam dadanya. Xavier begitu bersyukur atas karunia yang baru saja ia dapatkan. Ia sekarang adalah seorang ayah.


^


“Bagaimana keadaanmu sayang?” Kakek duduk di samping Charlotte. Charlotte tersenyum seraya mengangguk. Tersenyum lirih, wajahnya yang menua kini terukir perasaan bahagia. Mendapati Cucu menantu berserta cicit-cicitnya selamat dan dalam kondisi baik. Sudah membuatnya bersyukur.


“Kakek sangat berterima kasih padamu, telah memberikan kebahagiaan tak terkira untuk Xavier. Kakek benar-benar bersyukur dia mendapatkan istri sehebat dirimu Charlotte.” Lirih Kakek seraya menyeka bulir mata yang hampir jatuh dipelupuk.


“Seharusnya aku yang berterima kasih pada Kakek. Jika bukan karena keinginan Kakek untuk menjodohkan kami. Mana mungkin aku bisa bertemu kembali dengan Xavi.” Tutur Charlotte terkekeh pelan.


“Kamu tidak menyesal?”


Charlotte menggeleng pelan. “Sejak awal, aku sudah menerima perjodohan itu. Suka ataupun tidak suka. Walaupun, ada saat dimana aku ingin melarikan diri dari Xavi. Entah kenapa, aku dan dia terus dipertemukan dalam hubungan seperti ini.”


“Pertemuan pertama kami, memang bukan hal yang bisa dianggap normal. Mengingat saat itu, aku sungguh sangat malu Kek.” Gumam Charlotte tertunduk malu teringat akan perilakunya yang sungguh diluar kepalanya.


“Hahaha, kakek tahu cerita itu! Dean yang cerita. Kakek tidak menyangka kalian sudah pernah bertemu sebelumnya. Dunia memang sempit!” Tertawa mengingat sang cucu yang tanpa sengaja di ‘Nodai’ seorang wanita. Ckck.


Charlotte semakin malu, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sedangkan Kakek berdiri dan mendekati Xavier. “Charlotte memberitahuku dongeng lucu. Cocok untuk kuceritakan saat cicit-cicitku dewasa nanti. Haha.” Kembali tertawa puas. Menepuk pelan pundak sang cucu lalu pergi menyusul Dona yang sedang bermain dengan si kembar.


“Apa itu? Dongeng apa??” Xavier tambah penasaran, ia duduk dekat sang istri.


“B-bukan apa-apa!” Charlotte memalingkan wajahnya yang kian merah. Bisa-bisanya Kakek bicara begitu didepan Xavi.


“Jawab dong sayang. Aku ingin tahu. Katakan sayang…” Membujuk sang istri agar mengusir rasa penasaran dalam diri. Memajukan wajah lebih dekat.


“Bukan apa-apa! Sudah lupakan! Jangan tanya-tanya padaku!” seru Charlotte mendorong wajah suaminya menjauh. Namun hal itu sama sekali tak mengubah posisi duduk Xavier. Pria itu justru semakin meringsek maju lalu mendekap hangat tubuh sang istri.


“Baiklah, kalau tidak mau bicara tidak apa-apa. Asal kamu jawab pertanyaanku ini….” Bisik Xavier tepat di telinga Charlotte. Hembusan nafas hangatnya begitu menggelitik di wajah wanita itu. Membuat bulu kuduk berdiri dan darah berdesir hebat. Setiap berdekatan dengan Xavier, tubuh Charlotte seolah tak bernyawa, jiwanya melayang ke awang.


“Kapan kamu selesai nifas sayang?”

__ADS_1


“Hah? Kenapa memangnya?” Dahi Charlotte berkerut mendengarnya.


“Aku… Aku sudah tak sabar ingin …. Ingin ‘itu’ denganmu.” Gumam Xavier mengulum senyum nakal.


“Itu? Itu apa? Jangan bikin bingung deh!”


“Pokoknya ‘itu’ sayang. Kamu pasti paham maksudku.”


“Aku gak paham kamu ngomong apa? Bicara yang jelas!”


“Shit! Aku mau bercinta denganmu! Oh my god!” teriak Xavier frustasi terpaksa mengungkapkan apa yang ia mau. Istrinya benar-benar tak mengerti maksud keinginannya. Ia sangat kesal.


“Apa-apaan itu Xavi! Kau lupa istrimu baru melahirkan! Dasar anak payah! Nafsu saja yang digedein!” sembur Kakek kesal, menggeleng kepala melihat kelakuan cucu satu-satunya. Melihat reaksi Kakek, kedua pasangan suami istri itu hanya bisa tertunduk malu.


“Kakek benar! Kendalikan nafsumu itu. Bikin malu saja.” Gerutu Charlotte pelan.


“Kena amuk lagi… Aku selalu salah dimatamu…..” keluh Xavier menggaruk tengkuk lehernya. “Tapi, jawab dulu sayang.” Masih terus membujuk. Sekarang dengan tatapan memelas. Mata berkaca-kaca, berharap pada sang wanita.


“Jawab apa?”


“Itu yang tadi? Kapan?” bisik Xavier pelan, agar kakek tidak mendengarnya.


“Emang gak bisa ditahan apa?”


“Tidak bisa! Harus segera bertemu sarangnya sayang. Si joni pasti sedih.” Xavier sungguh seperti anak kecil yang sedang minta mainan. Sangat ingin dituruti secepatnya.


“Kita harus konsul ke dokter dulu. Kamu sabar dulu.” Ucap Charlotte membujuk.


“Beneran ya? Nanti langsung tanya ya?” Xavier kembali bersemangat.


“Iya. Sudah sana jangan dekat-dekat!” Mendorong pelan tubuh sang suami.

__ADS_1


“Aku makin cinta kamu deh sayang. Sini cium!” Xavier segera mengecup mesra bibir istrinya. Tersenyum senang karena akan segera mendapatkan keinginannya. Kembali berjalan riang ingin bermain bersama si kembar.


__ADS_2