Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 47


__ADS_3

“Xavi, apa yang kau lakukan? Lepas.” Bisik Charlotte tak habis pikir dengan sikap Xavier yang begitu mengejutkan baginya. Wajah Charlotte sekarang bersemu merah, merasa malu melihat perhatian Xavier kepadanya. Pria itu tanpa ragu memasukkan jarinya yang terluka kedalam mulut tanpa rasa jijik.


“Diam.” Xavier hanya melirik Charlotte. Dirinya langsung berteriak memanggil pelayan. Suaranya yang menggelegar membuat 3 pelayan termasuk Dona ikut masuk dengan terkejut.


“Iya Tuan Muda?” Dona bertanya. Para pelayan dibelakangnya hanya bisa menunduk menunggu perintah. Tak berani ingin tahu apa yang sedang Tuan Muda mereka lakukan. Mereka pikir, Tuan Muda sedang marah dan jika mereka bicara sedikit saja, nyawa mereka taruhannya. Lebih baik diam, dan biarkan Kepala pelayan yang mengurus suasana hati Tuan Mudanya.


“Bawakan kotak P3. Cepat!”


“Apa yang terjadi Tuan, tangan Nona ken-” belum selesai bicara, ucapan Dona langsung dipotong Xavier.


“Jangan banyak bicara! Cepat bawakan padaku!” Xavier tak sabar dan mengambilkan sapu tangannya lalu dibalutkannya ke jari Charlotte yang terluka. Charlotte masih diam, dia mematung. Bingung dengan semua perilaku Xavier padanya.


Dona langsung memerintahkan pelayan dibelakangnya untuk segera mencarikan kotak P3. Agar luka Nona Mudanya cepat diobati. Menyuruh para pelayan ini itu yang bahkan Charlotte sendiri merasa semua itu tak perlu dilakukan. Dirinya hanya luka sedikit. Hanya memakai obat merah dan plester sudah cukup. Namun, hal itu malah membuat semua orang kelabakan karena mencemaskannya.


Fredy hanya bisa melihat semua yang dilakukan Xavier. Perhatian pria itu pada Charlotte tampak mengganggunya. Kedua tangannya terkepal kuat, wajahnya dipenuhi rasa cemburu. Disaat Charlotte terluka dialah orang pertama yang akan mengobatinya dibandingkan keluarganya. Tapi sekarang, dia hanya bisa melihat semua itu tanpa bisa melakukan apapun. Dia geram namun juga merasa tak berguna. Fredy sudah tak tahan lagi dan pergi begitu saja. Xavier sekilas melirik kepergian Fredy dan tersenyum kecil. Rencananya berhasil.


“Sudah. Sudah. Aku baik-baik saja kok.” Charlotte bangkit dan menghentikan para pelayan maupun Xavier yang masih bersikeras mengobati lukanya. Charlotte merasa tak nyaman dengan sikap berlebihan mereka. Dia akhirnya berdiri dari tempat duduknya.


“Duduk. Siapa yang menyuruhmu pergi.” Titah Xavier.


“Aku mau ke kamarku.” Ucap Charlotte bercampur rasa kesal.


“Lukamu belum selesai diobati.”


“Biar seperti ini. Nanti sembuh sendiri.”


Xavier berdecak kesal, dia membuang perban ditangannya ke lantai. Ikut berdiri sejajar dengan Charlotte. “ Diam dan duduk tenang apa susahnya?!”


“Lukaku sudah cukup diobati. Tidak perlu berlebihan. Ini hanya luka kecil.” Ujar Charlotte semakin membuat Xavier mendengus menahan marah.


“Terserah. Dasar keras kepala!”

__ADS_1


Setelah itu, Xavier pergi. Membawa kemarahannya yang tidak bisa tersalurkan. Berargumen dengan Charlotte selalu membuat darahnya mendidih. Xavier memutuskan kembali ke ruang kerjanya.


“Dia itu kenapa, dasar aneh.” Gumam Charlotte tak mengerti dengan sikap Xavier yang tiba-tiba marah kepadanya.


“Nona, Tuan Muda sedang mengkhawatirkan Nona.” Ucap Dona sopan. Dia sendiri bahkan tidak yakin apa yang baru saja dia saksikan. Dan itu benar, Tuan Muda benar-benar mencemaskan Nona Charlotte.


“Khawatir? Dia??” Charlotte tertegun sendiri. Benarkah pria kejam itu mengkhawatirkan dirinya?


^^


Tak terasa hari pernikahan akan dilakukan esok hari. Hubungan Xavier dan Charlotte masih sama seperti sebelumnya. Seperti air dan minyak yang saling bertolak belakang, terutama sikap Charlotte. Wanita itu masih menolak pernikahan walaupun semua keluarga sudah menyiapkan persiapannya.


Dilantai bawah dan halaman utama sudah banyak para pendekor dan pelayan tengah menyiapkan acara untuk besok. Sibuk dengan pekerjaan agar acara berjalan lancar. Dona sibuk memerintah para pelayan maupun  chef di Mansion. Sedangkan Dean, asisten Xavier itu kini sedang memberikan beberapa instruksi kepada puluhan pengawal untuk menjaga keamanan acara besok pagi. Memastikan jika tidak ada satupun awak media yang meliput dan hanya diperuntukkan bagi para tamu undangan dari kedua pihak keluarga saja. Keluarga Charlotte akan datang besok saat acara dilakukan. Sedangkan Kakek datang malam ini setelah terbang dari Singapura.


Disisi lain, ketika semua orang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, Charlotte malah duduk di kursi balkon kamarnya. Membaca sebuah buku dengan memakai celana pendek dan kaos. Rambutnya dikuncir tanpa aturan. Tangannya tak henti mengambil kacang dan memasukkannya kedalam mulutnya yang terbuka. Tidak berminat untuk bergabung ataupun membantu dibawah sana.


Tok tok!


Klik!


“Selamat pagi Nona Muda.” Ada 3 orang yang tidak dikenal berdiri didepannya. Dua wanita dengan membawa beberapa pakaian dan satu pria yang kini tersenyum manis kepadanya. Tangannya yang melambai menyadarkan Charlotte jika dia bukan pria tulen.


“Siapa?”


“Saya Mike Wilson, seorang Designer papan atas. Dengan senyuman menawan seantero jaya. Tercantik sejagat raya. Idaman para Pria. Tapi sayangnya hanya melayani Tuanku Muda Xavier semata.” Celotehnya.


Charlotte menelan ludah susah payah melihat tingkah Mike yang over dosis.  Tidak menyangka ada manusia lebih aneh dari si pria kejam itu. Jika disatukan, mungkin mereka berdua bisa saling melengkapi? Mungkin.


Melihat kediaman Charlotte, Mike kembali bicara. “Saya bertanggungjawab sepenuhnya untuk baju pengantin kalian. Saya pastikan Nona Muda puas dengan pelayanan saya.” Pria itu semakin melebarkan senyum hingga gigi emasnya terlihat jelas menyilaukan mata Charlotte. Charlotte membenarkan kaca matanya yang hampir terjatuh.


“A-ah ya. B-bagus.” Ucap Charlotte tak habis pikir. Bagaimana bisa Xavier mempekerjakan pria didepannya ini untuk urusan baju pernikahan mereka? Tidak adakah manusia yang lebih normal di Mansion ini?

__ADS_1


“Kalian tunggu dibawah saja ya. Urus keperluan Xavi dulu. Oke. Aku bisa nanti saja.” Buru-buru Charlotte meraih pintu agar terhindar dari bencana. Jika pria melambai didepannya itu berhasil masuk kedalam, bisa-bisa Charlotte menjadi gila berhadapan dengannya.


Saat pintu hampir tertutup, tangan Mike segera menahan pintu itu dan berusaha melongok kedalam. Charlotte ingin rasanya menendang kepala itu. “Nona Muda, saya harus memastikan Nona memakai gaun yang terbaik dan nyaman untuk dikenakan besok. Ini perintah langsung dari Tuan Muda.” Alisnya yang tebal naik turun berirama.


“Oh, benarkah? Aku bisa pakai apa saja kok. Jadi kalian tidak perlu repot-repot begini. Oke.” Charlotte masih bernegosisi. Kembali berusaha menutup pintu.


“Nona sama sekali tidak merepotkan. Saya justru sangat senang mendapat kesempatan menyiapkan baju pengantin untuk Nona dan Tuan Muda. Meskipun nantinya hati saya hancur melihat Tuan Muda menikah. Hiks.” Mike terisak. Berusaha tegar didepan Charlotte mencari simpatinya. Disaat-saat sedih seperti itu Mike masih sempat menahan pintu dengan Kaki kanannya. Tak peduli meskipun tulang-tulangnya remuk, Mike tampak gigih.


“Ya. Ya. Ya. Aku tahu. Kalau begitu, kalian pergi dulu ya. Aku sedang sibuk sekarang.” Charlotte menambah tangan satunya mendorong kuat pintu agar tertutup.


“Nona Muda tolong terima saya!!” Charlotte tersentak kaget. Mike tiba-tiba berteriak lantang.


“Saya janji dengan mempertaruhkan nyawa saya. Saya akan membuat Nona dan Tuan Muda bahagia selamanya. Percayalah!”


“Hah? Kau ini bicara apa sih?” Charlotte bingung sendiri. Kenapa sekarang bicaranya melantur begitu?


“Ada apa ini.”


Charlotte dan Mike yang masih berada diantara pintu, khususnya posisi Mike yang hampir terjepit sontak menoleh mendengar suara barington dibelakang mereka. Tubuh tegap Xavier berjalan mendekat.


Mike terkejut dan mencoba menarik tubuhnya, namun tindakannya malah membuat Charlotte melepaskan pintu dan mengakibatkan Mike jatuh kebawah dengan bunyi suara keras. Wajahnya yang berbenturan langsung dengan lantai marmer membuat hidungnya mengeluarkan darah.


“Uwaaaa!! Tuan Muda!!”


.


.


.


Jangan lupa Vote ya.... See you.. ^-^

__ADS_1


__ADS_2