
Xavier merebahkan Charlotte diatas tempat tidur. Ia lepaskan sepatu kets di kakinya lalu ikatan rambut dikepalanya. Ia duduk disamping wanita itu. Diusapnya wajah Charlotte yang pucat. Rasa bersalah menghantam dirinya. Ada secuil penyesalan dalam hatinya untuk wanita itu.
Apakah ia terlalu keras padanya? Apakah hukumannya ini terlalu berat untuknya? Apa yang harus ia lakukan untuk membuat wanita didepannya ini sadar akan rasa cintanya yang amat besar?
Xavier masih merasa cumburu sampai sekarang. Ia belum bisa menerima perselingkuhan mereka. Rasa sakit atas pengkhianatan istrinya masih terasa hingga sekarang. Jika mengingat hal itu, keinginan menghancurkan pria itu menguasainya.
Ia belum membalaskan dendam pada pria brengs*k itu. Tenaga dan pikirannya terkuras hanya untuk Markas Pusat. Yang bisa ia lakukan hanya memantau keadaan istrinya selama 2 minggu ini. Tentunya lewat William. Hanya ia yang tahu bagaimana ia mengkhawatirkan wanita didepannya ini.
Ceklek…
“Tuan.”
Suara William membuyarkan lamunan Xavier ia bangkit dari tempatnya dan berbalik menghadap salah satu bawahannya. Pandangannya menatap kecewa pada William.
BUK!
Pukulan keras Xavier mengenai wajah pria itu. Membuat William meringis menahan rasa sakit. Pria itu kembali menunduk tak bergeming dari tempatnya.
“Maafkan saya Tuan Muda.”
“Dua kali kau membuatku kecewa Will. Selama dua minggu ini aku menyuruhmu mengawasi istriku! Bukan hanya tingkahnya, tapi juga kondisinya! Apa itu susah untukmu?!” sentak Xavier bagitu menusuk namun tetap menahan emosinya. Bagaimanapun, mereka masih berada dikamar dimana istrinya terbaring lemah.
“Semua salah saya Tuan. Tolong hukum saya.” William tampak menyesal. Ya, ia akui menjaga Nona Muda adalah tugas penting yang diberikan Xavier padanya. Menjaganya untuk tetap aman dari orang lain sekaligus menjaga ksehatan Nona adalah hal paling penting. Sekarang wanita yang ia jaga, kini tak sadarkan diri dan itu semua memang kesalahannya. Ia tak menampik kemarahan Xavier. Karena ia telah lalai menjalankan tugas.
Xavier mendekati William, lalu tangannya dengan kasar menarik kerah pakaian yang dikenakan William. Pria itu hanya menunduk tak berani melawan.
__ADS_1
“Apa selama dua minggu ini laporan yang kau berikan semua bohong? Ternyata keadaan istriku tidak baik-baik saja?” tanya Xavier dengan mata mengkilat tajam, rahang yang telah mengeras.
“Tidak Tuan. Nona memang baik-baik saja selama ini. Tidak ada yang salah dengan Nona. Baru hari ini saya tidak menyadari jika Nona sedang sakit. Ini salah saya Tuan, saya tidak teliti dalam menjaga Nona. Tolong maafkan Saya!” William semakin menundukkan kepalanya merasa bersalah. Ia merasa tidak becus dalam menjaga Nona Mudanya.
“Tuan Muda …” Dean tiba-tiba masuk bersama seseorang dibelakangnya. Pria itu terkejut saat melihat Xavier menarik kerah pakaian William, mereka seperti sedang bertengkar.
Xavier langsung menghempas tubuh William menjauh seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tidak ingin Dean mempertanyakan tindakannya itu.
“Ada apa?” tanyanya dingin.
“Ehm, saya membawa Dokter Sera untuk mengecek kondisi Nona.” Dean mempersilahkan Dokter wanita dibelakangnya. Wanita itu menunduk pada Xavier dan menyapanya.
“Cepat periksa istriku!”
Dokter itu segera mendekati Charlotte yang tengah berbaring dan memeriksa kondisinya. Xavier melirik Dean yang sejak tadi memperhatikan dirinya dan juga William dengan pandangan penuh tanya. Xavier memilih mengacuhkan Dean dan mendekati istrinya.
“Kalau begitu saya permisi Tuan.” Dean pamit pergi, karena ada tugas lain yang harus ia dikerjakan.
“Saya juga permisi Tuan.” William ikut undur diri.
“Hm.” Setelah kedua bawahannya pergi, Xavier mendekati Dokter itu.
“Bagaimana kondisinya?” Xavier bertanya cepat setelah Dokter itu selesai memeriksa keadaan Charlotte. Dokter itu berdiri dihadapan Xavier, berniat menjelaskan kondisi Charlotte.
“Nona hanya kelelahan dan sedikit stress. Tekanan darahnya juga rendah. Saya akan memberikan vitamin dan juga penambah darah.”
__ADS_1
“Untuk kedepannya asupan makanannya harus dijaga, tidak boleh stress berkepanjangan dan selalu rutin meminum vitamin. Kehamilan trimester pertama memang rentan membuat fisik si ibu lemah.” Imbuhnya.
“Kau bilang istriku kenapa?” tanya Xavier memastikan. Sepertinya ia salah dengar.
“Nona hamil muda Tuan. Dan tubuhnya rentan lelah…….”
Deg!
Hamil? Istrinya hamil? Kata-kata itu terus berputar diotaknya. Pandangannya beralih pada istrinya. Ucapan Dokter itu sama sekali tak dihiraukan. Matanya tertuju pada perut rata istrinya yang telah berisi sebuah janin.
Bulu lentik mata yang terpejam itu mulai bergerak. Begitupun dengan tangan dan kakinya. Xavier bergegas mendekat dan duduk disamping Charlotte.
““Char……Charlotte ……. Bangun.” Mata itu mulai membuka. Xavier mengusap lembut wajah Charlotte.
“Bangun Char…” Ia panggil lagi wanita itu.
Usahanya berhasil, istrinya membuka matanya. Wanita itu bangun dengan mata cokelat indahnya. Mata yang mampu menghipnotis Xavier sejak pertama kali ia bertemu dengannya. Xavier menghela nafas lega.
“Akhirnya kau bangun.”
.
.
.
__ADS_1
Jngn lupa Follow Ig othor ya @nanayu_95
See you ^-^