Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 38


__ADS_3

“Ya hallo?”


Dean berbicara di telepon sambil berjalan menuju mobilnya. Pria itu berniat pulang setelah menyelesaikan permasalahan Tuan Muda Xavier.


Dean secara tiba-tiba menghentikan langkahnya. “Kau bilang siapa?”


Kedua alis Dean bertaut dengan kening berkerut. Tak percaya dengan informasi yang baru saja diberikan anak buahnya. “Oke. Kirimkan semua info padaku. Akan kuberitahu sendiri pada Tuan Muda.”


Dean menutup teleponnya. Dia tampak berpikir keras. Informannya tidak pernah salah dalam mencari informasi  untuk tugas yang diberikan. Tapi kali ini, dia terkejut karena merasakan sebuah kebetulan yang diluar nalar pikirnya. Jika infomasi itu benar, akan sangat sulit bagi Tuan Mudanya menghadapi masalah itu. Dean harus kembali memastikannya.


 


 


^


Dikamar Mandi….


“Apa ini kebohonganmu yang lain?”


Charlotte terdiam. Bibirnya tertutup rapat. Kedua tangannya memegang erat ujung wastafel. Menunduk tak berani menatap sepasang mata tajam yang kini siap mengintimidasinya. Charlotte tidak yakin, rahasianya kali ini bisa dimaafkan oleh Xavier. Dia tidak tahu apakah pria itu mau mendengarkan penjelasannya. Charlotte memejamkan mata, merapatkan bibirnya, bersiap menerima semua kemarahan Xavier kepadanya. Menunggu tindakan pria itu.


Satu detik.. dua detik… satu menit… Tidak ada hal terjadi padanya. Apa yang ditunggu tidak kunjung diterima. Charlotte membuka matanya perlahan untuk mengintip. Dirinya tertegun saat tidak menemukan sosok pria itu disana.


Charlotte turun  dan mencari Xavier di kamar mandi. Nihil. Dirinya segera keluar untuk mencari Xavier didalam kamar.


“Xa-Xavi? Xavi?” Charlotte memanggil nama Xavier,namun tetap tak ada balasan. Diseluruh sudut kamar sudah dicari, tapi tetap tidak ditemukan siapapun disana. Charlotte terduduk di pinggir tempat tidur, kembali mengingat reaksi Xavier saat melihat wajahnya.


“Apa dia marah?” Charlotte menggigit jari-jarinya. Berpikir keras tentang Xavier. Jika melihat raut wajah pria itu tadi, Xavier tampak terkejut dan juga bingung. Mungkin itu normal bagi sebagian orang. Lihat saja dirinya yang buluk dan jelek tapi tiba-tiba berubah mengejutkan menjadi orang lain dalam sekejap.  Xavier pasti kebingungan ketika melihat dirinya sekarang. Atau lebih buruknya lagi, dia tak akan percaya lagi padanya?


“Akhhh!! Bodohnya aku! Kenapa bisa seceroboh ini!” teriak Charlotte gemas pada dirinya sendiri. Bagaimana jadinya jika seluruh orang tahu wajahnya yang sekarang dari mulut Xavier? Bisa-bisa Charlotte dituding sebagai penipu.


Jika dirinya meminta Xavier untuk diam pun, itu lebih tidak masuk akal. Pria berkuasa seperti dia tidak akan menerima permintaan dari seorang wanita biasa seperti dirinya.


Charlotte ingin keluar kamar, tapi melihat dirinya tak memakai pakaian namun selembar handuk, diurungkannya niatnya itu. Apalagi jika Xavier tahu, semakin besar saja kemarahannya padanya bukan. Dengan terpaksa, Charlotte mengambil salah satu kemeja Xavier dan memakainya. Tak ingin membuat pria itu marah lagi, Charlotte tidur dikamar Xavier.


 


 


^^


Tok Tok Tok…..


Suara ketukkan pintu didepan kamar menyadarkan Charlotte dari tidurnya. Dirinya melihat sekeliling, tidak menemukan siapapun. Pagi sudah tiba, dirinya baru teringat jika semalam tidur di kamar Xavier. Melihat situasi dikamar yang senyap Charlotte yakin Xavier tidak ada disana. Laki-laki itu tidak kembali. Charlotte turun dari tempat tidur menuju pintu kamar.

__ADS_1


“Selamat pagi Nona.” Sapa seorang pelayan seraya membungkukkan badannya.


“Pagi, ada apa?” tanya Charlotte.


“Tuan Muda meminta Nona Charlotte turun ke bawah. Orang tua Nona juga sudah menunggu disana.” Jawab pelayan itu.


“A-ayah? Maksudmu ayahku datang?” Mata Charlotte melotot terkejut mendengar kedatangan ayahnya disini.


“Iya Nona. Ada Tuan Besar juga.”


“Untuk apa Ayahku datang?”


“Mohon maaf Nona, Soal itu, saya kurang tahu. Kalau begitu saya permisi nona.”


Pelayan itu pergi meninggalkan Charlotte yang mematung bingung. Bertanya-tanya ada keperluan apa ayahnya datang ke sini? Xavier, apa pria itu yang memintanya kemari? Apa yang sebenarnya direncanakan Xavier?


Charlotte kembali ketakutan. Setelah Xavier tahu wajah aslinya, sekarang apa yang sedang laki-laki itu rencanakan? Charlotte bertanya-tanya dalam hati tujuan Xavier memanggil ayahnya.


Setelah berulang kali berpikir, Charlotte memutuskan menemui ayahnya. Dia kembali ke kamarnya dan  memakai riasan jeleknya. Mereka belum boleh tahu wajah aslinya. Apalagi ibu dan adik tirinya itu. Bisa-bisa mereka memberitahu orang-orang jika dirinya seorang pembohong.


 


 


^


Xavier duduk santai di dekat Kakeknya. Tatapan pria itu terkesan datar. Tak ada ekpresi apapun diwajahnya yang memang disadari Charlotte, lebih dingin dari sebelumnya.


“Selamat pagi semua.” Sapa Charlotte gugup. Jantungnya berdetak cepat.


“Pagi Charlotte. Ayo duduklah.” Ujar Kakek Xavier menunjuk kursi kosong disamping Xavier. Charlotte menurut dan duduk disana. Dia sedikit melirik Xavier, tapi pria itu tetap diam. Xavier sama sekali tak memandangnya barang sedikit saja.


Kakek memulai pembicaraan. “Ada hal penting yang ingin aku katakan pada kalian semua. Khususnya padamu Charlotte.”


“Iy-iya Kek?”


“Kakek meminta orang tuamu datang agar mereka juga tahu tentang masalah ini dan bersama-sama mencari solusinya. Jadi, Kakek sangat berharap kamu jawab dengan jujur pertanyaan Kakek.”


“Baik Kek.” Charlotte kembali melirik Xavier. Tapi tetap saja, Xavier diam duduk tenang ditempatnya. Merasa tak terganggu dengan situasi disana.


‘Sepertinya memang kau yang merencanakan kedatangan mereka.’ Batin Charlotte.


Sebelum mengucapkan sesuatu, Kakek Xavier memejamkan mata seraya menarik nafas. Charlotte menjadi tegang. Apa yang sebenarnya ingin Kakek tanyakan padanya. Mungkinkah Xavier sudah menceritakan kejadiaan kemarin pada Kakek?


“Charlotte, apa benar kemarin kamu melarikan diri bersama seorang pria?”

__ADS_1


DEG!


Benar dugaannya… Xavier sudah memberitahu masalah itu pada Kakek! Charlotte melirik  pria itu. Xavier menoleh sesaat lalu kembali acuh. Sikapnya sontak membuat Charlotte emosi.


‘Teganya kau!?’ geram Charlotte dalam hati.


Mendengar itu, Susanto, ayah Charlotte kaget. Cepat-cepat Susanto memberinya beribu pertanyaan yang semakin memojokkan Charlotte.


“Siapa pria itu Charlotte!! Kenapa kau berani kabur dengan pria lain dibelakang Tuan Muda Xavier!?? Dimana moralmu itu!!” teriak Susanto emosi. Amarahnya meledak disana.


“Yah, bukan begitu, Charlotte bisa jelasin.” Pinta Charlotte, air matanya mulai menganak sungai.


“Jelaskan sekarang!! Bisa-bisanya kamu mempermalukan keluarga kita!!” bentak Susanto hilang kendali.


“Sayang tenang dulu. Biarkan Charlotte menjelaskan. Dia pasti punya alasan. Kita dengarkan dia dulu.” Bujuk Sella, ibu tiri Charlotte seraya melontarkan senyum senang pada Charlotte. Hah, disaat seperti ini wanita ular itu masih bisa menertawakan dirinya, geram Charlotte.


“Kenapa diam, cepat jawab!!” teriak Susanto.


“Yah, aku memang kabur darinya. Tapi aku punya alasan melakukan itu. Aku tidak mau menikahinya Yah. Aku tidak menginginkan pernikahan ini.” Lirih Charlotte.


“Kamu bicara apa hah? Tuan Muda Xavier dan keluarganya sudah sangat baik hati menerimamu menjadi menantu dikeluarga mereka. Bagaimana kamu bisa berpikir tidak menginginkannya. Kamu seharusnya bersyukur. Mereka orang baik, dari keluarga terpandang. Dimana kamu bisa mendapatkan pria sebaik Tuan Muda Xavier? Hah, jawab Ayah?!”


“Tapi aku gak cinta Yah.”


“Cinta bisa muncul jika kalian bersama! Kenapa kamu terlalu memikirkan hal itu! Dan malah kabur dengan pria lain hah??! Apa kamu tidak memikirkan ayah dan Ibumu?”


Charlotte tergugu. Menahan kesedihannya. Dia merasa tak memiliki siapapun disaat semua orang menyalahkannya. Bahkan ayahnya sekalipun tak mau mendengar alasannya.


“Siapa pria itu?” Susanto berdiri dan mendekati Charlotte. Menatap putrinya dengan rahang mengeras.


“Itu tidak penting Ayah.”


“Itu sangat penting Charlotte! Siapa pria itu, apa perlu Ayah datang kerumahnya dan memukulinya!”


Charlotte tetap diam dalam isakkannya. Dia tidak bisa mengatakan jika Fredy terlibat didalam masalah itu.


“Dia Fredy. Calon menantumu yang lain.” Kini Xavier yang angkat bicara. Charlotte menoleh padanya dengan terkejut begitupun dengan lainnya. Charlotte kecewa pada Xavier.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2