Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 99


__ADS_3

Tok Tok Tok!


“Permisi Tuan Besar..” Dean masuk kedalam ruang rawat dimana Charlotte telah dipindahkan. Kakek duduk disisi tempat tidur Charlotte, wanita itu terbaring lemah disana dengan mata terpejam. Melihat Dean masuk, Kakek segera menoleh.


Dean masuk diikuti William dibelakangnya. Pengawal Xavier itu berjalan dengan kepala tertunduk.


“Ada apa?” tanya Kakek dengan alis berkerut.


“Tuan, ada yang ingin saya katakan.” William kini yang berbicara.


“Bicaralah.” Ujar Kakek.


“Tuan Besar, lebih baik kita cari ruangan lain. Saya takut Nona Charlotte terganggu.” Saran Dean.


“Ya sudah. Ayo ikut aku.” Kakek berjalan lebih dulu. Dean meminta Dona menjaga Charlotte sementara. Mereka bertiga keluar bersama-sama.


Tak berselang lama, Xavier masuk ke dalam ruangan dimana istrinya dirawat. Ia sudah menyiapkan alasan tepat untuk memberitahu Kakek.


“Selamat datang Tuan.” Dona yang menyadari kedatangan majikannya masuk, langsung berdiri dan menyapanya. Xavier berdeham kecil sebagai balasan, kini pandangannya terarah pada sosok wanita lemah yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Wajah cantik yang selalu ia rindukan kini berubah pucat dengan mata terpejam rapat. Lelap akan tidurnya. Bayangan kejadian di Mansion kembali menghantui Xavier.


Hampir saja ia kehilangan wanita itu. Rencananya telah gagal dan justru rasa penyesalan menghujam di relung hatinya yang terdalam. Ia berkeinginan besar membunuh anak itu, tapi nyawa istrinya justru dipertaruhkan! Bodoh! Kata-kata itu terus terngiang dalam benaknya. Ia akui kesalahannya tidak akan termaafkan!


Xavier duduk disisi Charlotte. Ia genggam tangan istrinya dengan lembut. Menciumnya dengan sayang. Andaikan wanita itu tahu, bagaimana ia terpaksa menyakitinya, rasa sakit yang semakin bertambah dengan dosa-dosa yang ia lakukan. Xavier ikut tersiksa melihat Charlotte kesakitan seperti ini.


Ia melirik perut Charlotte dengan nanar. Awalnya saat ia memikirkan istrinya telah ‘berselingkuh’ (dalam pikirannya saja) rasa ingin menyingkirkan anak itu semakin bertambah setiap harinya. Namun ketika ia berhasil melakukan itu, semua berubah menjadi penyesalan yang amat menyiksanya. Ia takut membayangkan bagaimana jika istrinya meninggalkannya? Bagaimana jika wanita itu tahu dosa besar yang telah ia perbuat? Charlotte pasti akan membencinya!


Tubuh Xavier bergetar, ia tak sanggup membayangkan hidup tanpa wanita itu! Haruskah kali ini ia menyerah? Menerima segala yang dimiliki wanita itu? Termasuk anak dalam perutnya?


Xavier memejamkan mata, menata hatinya untuk semua hal yang akan terjadi pada mereka. Ia tidak ingin kehilangan istrinya, merana seorang diri, ia sudah putuskan akan menerima anak itu!

__ADS_1


“APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?!!”


Xavier menoleh mendengar suara Kakek yang menggelegar memenuhi gendang telinganya. Kakek berjalan mendekat. Wajahnya memerah, matanya terbelalak lebar dan rahangnya mengeras memperlihatkan urat-urat wajahnya. Bibir pria itu terkatup rapat.


“Kek?”


“Bangun kau bajing*n!! Jangan sentuh cucuku! Kau iblis, kau seorang pembunuh!!” Kakek mencengkram kerah pakaian Xavier dan menariknya hingga pria itu terjatuh dilantai. Dean, William maupun Dona memekik pelan melihat sikap kasar Kakek.


“Kek, apa yang-“


“Jangan sebut aku Kakek! AKU TIDAK PUNYA CUCU MENJIJIKAN SEPERTIMU!!” Suara kakek sangat keras. Mungkin mampu membangunkan para pasien disamping ruang rawat itu.


Xavier melirik Charlotte, ia takut wanita itu terbangun akibat emosi tiba-tiba Kakek saat ini. Ia cepat-cepat bangun. “Kita bicara diluar, terserah kakek ingin memarahiku seperti apa.” Bujuk Xavier.


“Cih! Kau pikir aku akan berhenti memarahimu dengan alasan itu! Kau orang yang tidak punya malu!!” seru Kakek semakin menjadi. Kakek kembali menarik kerah pakaian Xavier hingga wajah keduanya saling beradu dengan sangat dekat. Gigi pria itu bergemelatuk, nafasnya memburu akibat emosi yang menguasainya. Xavier bingung, ia tidak mengerti kenapa Kakek bisa semarah ini.


“Xavi! Teganya kau berniat membunuh Charlotte dan anaknya?! Apa kau tidak punya otak, Hahh! Kau sudah keterlaluan!!” Kakek menghempas kasar tubuh Xavier hingga terdorong kebelakang. Mata Xavier terbelalak lebar. Mulutnya menganga sangat terkejut mendengar Kakek telah mengetahui semuanya!


“Kakek tidak bisa memutuskan seperti itu! Aku mencintai Charlotte.”


“Cinta kau bilang?! Itu bukan cinta Xavi! Kau justru menyakitinya! Kau hampir membuat mereka tewas akibat ulah bodohmu itu!” gelegar Kakek murka.


“…. Kau menyuruh William membelikan obat terkutuk itu untuk cicitku? Iblis kau Xavi! Bisa-bisanya kau berpikir dangkal seperti itu! Jika William tidak membelikan obat dosis rendah, dan membeli obat seperti yang kau perintahkan, nyawa Charlotte tidak akan terselamatkan!!” Xavier tertunduk, ia tidak tahu hal itu. Jadi, William mengganti obatnya?


“…. Kau itu bodoh, tol*l! Pria sepertimu tidak pantas hidup didunia ini! Seandainya saja kau tahu arti sebuah kehidupan, kau tidak akan membunuh bayi tak berdosa! Dia anakmu! Darah dagingmu!!” Kakek terus mengumpati Xavier. Ia tidak peduli para bawahannya melihat mereka disana. Kakek sangat kecewa dan marah pada Xavier. Cucu yang ia banggakan, justru melakukan hal paling menjijikkan dimatanya!


“D-dia bukan anakku…” lirih Xavier.


“Kenapa kau berpikir seperti itu?! Kau punya bukti!?” seru Kakek menantang.

__ADS_1


“Di-dia berselingkuh…”


“Kami tidak berselingkuh!!”


Tiba-tiba Fredy masuk kedalam ruangan. Ia berjalan mendekat tanpa keraguan. Xavier terkesiap melihatnya.


“Aku sudah duga kau akan seperti ini Tuan Ferdinant Xavier yang Terhormat? Tindakanmu ini, tidak lebih dari seekor binatang.” Fredy menatap penuh amarah pada Xavier. “Aku sudah cukup diam melihat ulahmu padaku, tapi sekarang tindakanmu tidak bisa dimaafkan!” ujar Fredy.


“Diam kau, aku tidak ingin mendengarmu!” ucap Xavier kembali emosi.


“Kau yang diam bodoh!” sela Fredy, wajahnya seketika memerah. Ia tidak akan lagi tunduk pada pria didepannya ini. “Kau sudah kelewatan! Aku tidak peduli kau menghancurkan bisnisku, tapi menyakiti Charlotte dan bayinya? Bukanlah perilaku manusia.”


“…. Kau bilang anak itu anakku? Boleh aku jujur?” tawar Fredy dengan tatapan menantang. Xavier diam, namun dadanya naik turun menahan emosi dalam dirinya.


“…. Dulu, kami memang saling mencintai.” Fredy melirik sendu pada Charlotte yang terbaring. “Tapi kini, ia hanya mencintai satu pria. Dan itu kau!” Fredy menunjuk tegas wajah Xavier. Ada setitik ketidakrelaan dalam kata-katanya.


“…. Kau pikir saat itu kami tidur bersama? Kau salah! Kami berada dalam satu kamar dengan orang lain! Asal kau tahu, hari itu Charlotte pergi denganku untuk menemui calon investor yang akan membantu perusahaannya bernama Tuan Harfin. Tapi sialnya, pakaianku kotor tanpa disengaja, dan beliau meminjamku pakaiannya. Aku dan Charlotte datang ke kamar bersama Tuan Harfin. Tapi tiba-tiba kau datang dan melihat kami berdua. Kau pergi begitu saja tanpa mau mendengar penjelasanku.”


Xavier terhenyak, ia ingin membalas tapi suaranya tercekat dikerongkongannya. Ia terkejut tentu saja.


“…. Kami tidak pernah melakukan hal yang kau pikirkan. Charlotte benar-benar sedang mengandung anakmu. Ia tidak bersalah! Jika kau masih tidak percaya, aku punya bukti.” Fredy mengangsurkan barang bukti berupa video yang ia pegang pada Xavier. Video berisi rekaman CCTV hotel milik Xavier. Fredy memang telah menyiapkannya sejak masalah itu mencuat. Ia punya firasat buruk akan hal itu. Untuk berjaga-jaga, ia meminta rekaman CCTV pada pihak Hotel sehari setelah kejadian itu. “Kau renungkan sendiri apa yang salah pada dirimu. Dan berhenti membuat Charlotte menderita!” pungkasnya dengan nada ancaman yang serius.


“Siapa kau berani mengaturku! Jika bukan karena kau mencoba menggoda istriku, aku tidak akan bertindak seperti ini! Charlotte istriku, dan aku akan membuatnya bahagia! Pergi kau dari sini!” Xavier hampir menarik kerah pakaian Fredy, sebelum suara lirih wanita mengalihkan perhatiannya.


“Bisakah kalian berhenti..” Charlotte terduduk lemah memandangi mereka. Wanita itu telah bangun dari tidurnya.


.


.

__ADS_1


Nana mau liburan 2 hr ya... See you again...


Happy Reading ^-^


__ADS_2