Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 67


__ADS_3

Dua hari setelah kedatangan ayahnya, Charlotte memutuskan kembali ke kota kelahirannya di Jakarta. Ia telah bertekad akan mengembalikan kondisi perusahaan Kakeknya seperti semula. Tentunya tanpa bantuan Xavier.


Namun kendati demikian, suaminya tetap ikut pergi bersamanya dengan alasan ‘mengawasi’. Entah dalam artian apa, pria itu kekeh mengintil dengannya. Charlotte berpikir, jika suaminya itu hanya ingin menyindirnya jika ia gagal nantinya. Tapi tak masalah bagi Charlotte, Xavier sudah mengijinkannya menangani masalah perusahaan itu sudah cukup.


Charlotte berniat menginap di rumah orang tuanya. Awalnya Xavier menyarankan untuk tinggal di Mansionnya yang lain, tapi Charlotte menolak dengan alasan agar bisa berkonsultasi dengan ayahnya setiap waktu. Ia butuh Quality Time yang bagus agar masalah dapat tertangani dengan maksimal.


Asal tahu saja, Charlotte kurang lebih sedikit tahu tentang cara menjalankan perusahaan berkat didikan kakeknya dulu. Sejak ia mulai bersekolah di Sekolah Menengah Pertama, Kakek selalu mengajaknya ke perusahaan guna memperkenalkannya dengan berbagai macam pekerjaan kantor, meninjau lokasi proyek bahkan Charlotte juga pernah belajar tentang Manajemen Resiko langsung dari teman bisnis kakeknya. Ketertarikan Charlotte tentang bisnis memang besar. Namun setelah kematian Kakek, Charlotte  dituntut ayahnya untuk fokus belajar.


Bukan Charlotte namanya jika ia menyerah begitu saja dengan ketertarikannya itu. Diam-diam Charlotte mengikuti beberapa seminar bisnis diwaktu luangnya saat masih bersekolah menengah atas. Ia juga mengambil jurusan Bussines Management di kampusnya. Karena ia baru menikah, Charlotte memutuskan untuk menunda jadwal perkuliahan.


Mobil yang membawa Charlotte dan Xavier memasuki halaman rumah keluarga Hasana. Dirumah itu sudah dikelilingi oleh belasan pengawal atas perintah Xavier. Saat mereka tiba, Susanto dan anak istrinya sudah menunggu mereka didepan pintu bersama dengan Dean, Asisten Xavier.


“Selamat datang Tuan Muda.” Sapa Dean setelah berhasil membukakan pintu mobil untuk mereka. Ia menunduk hormat dengan menyunggingkan senyum kecilnya.


“Hem. Sudah selesai semua?” tanya Xavier seraya memasukkan tangan kedalam saku celananya sedangkan tangan lainnya digunakan untuk merangkul pundak Charlotte. Tinggi badan mereka sangat kontras, Xavier lebih mendominasi. Ia mengenakan pakaian casual, kaos hitam lengan panjang dengan celana jins biru dongker serta sepatu sport berwarna dark grey. Kaca mata hitam bertengker di hidungnya menambah daya tariknya sebagai pria sempurna.


Disampingnya, Charlotte memakai dres bercorak bunga selutut dengan tali spaghetti serta sepatu balet warna cream melekat dikaki mungilnya. Rambut gelombangnya sengaja digerai begitu saja. Wajahnya terlihat tak nyaman dengan sikap Xavier yang dengan santainya memeluknya. Didepan keluarga dan Asistennya.


“Sudah Tuan, Anda bisa tinggal dengan tenang disini.” Jawab Dean.


“Selamat datang dirumah kami Xavier menantuku dan…… putriku Charlotte.” Sella, ibu tiri Charlotte datang mendekat,memanggil Charlotte dengan sebutan putrinya diiringi senyum dipaksakan. Bagi Charlotte, wanita itu hanya berpura-pura menjadi ibu yang baik didepan Xavier. Ia sangat hafal betul, sifat buruk ibu tirinya itu.


“Senang bisa melihat kalian datang. Kuharap kalian nyaman tinggal disini.” Ujar Susanto.

__ADS_1


“Iya ayah.” Balas Charlotte.


“Selamat datang Kak Charlotte dan kakak ipar.” Seru Shinta. Charlotte melirik Shinta dibelakang mereka, adik tirinya itu mengulas senyum palsu. Sangat mudah dibaca. Charlotte tidak heran jika ibu dan anak itu masih seperti dulu. Munafik dibelakangnya dan bergerak seperti ular berbisa.


“Sudah selesai saling sapanya? Aku dan istriku ingin istirahat.” Sela Xavier dengan wajah malas. Pria itu seolah tak ingin berlama-lama ditengah keluarga itu. Ia ingin segera merebahkan diri di kasur dengan istrinya yang manis. Seharian penuh pun tidak masalah, ia akan senang dan awet muda. Xavier melirik Charlotte disampingnya. “Kau pasti lelah sayang saat dipesawat. Kau harus tidur.”


Ucapan Xavier membuat ketiga orang itu melongo tak percaya. Mereka sama-sama tertegun melihat sikap Xavier yang begitu manis kepada Charlotte. Seorang wanita yang dulunya buruk rupa kini di istimewakan oleh seorang pria dingin dan menakutkan seperti Xavier. Seperti sebuah keajaiban tapi nyata.


“Aku kesini bukan untuk tidur, Xavi.” Bisik Charlotte kesal tepat ditelinga pria itu.


Mereka hanya butuh waktu satu setengah jam untuk terbang dari Kota S menuju Jakarta. Tapi Xavier malah membesar-besarkannya seolah mereka seharian dalam perjalanan. Pria itu benar-benar berlebihan. Charlotte tak habis pikir dengan perubahan drastis suaminya itu.


“Tapi aku lelah, temani aku. Oke.” Xavier menutup argumen mereka. Ia lalu mengedikkan kepala memberi isyarat pada Dean.


Dean menunjukkan jalan bagi Xavier. Mereka berjalan melewati Susanto dan dua wanita lainnya, seolah rumah itu milik Tuan Muda Xavier Sang Penguasa Terhormat. Ketiganya hanya bisa diam, karena tahu tidak baik menghalangi keinginan Xavier. Banyak rumor menakutkan jika berani melawannya, khususnya acaman bagi nyawa mereka.


^


Dean mengantar Xavier dan Charlotte didepan pintu kayu sebuah kamar dilantai dua. Charlotte tahu, itu adalah kamar miliknya. Ia tidak menyangka suatu saat akan mengajak suaminya untuk tinggal dikamar yang sejak kecil ia tempati. Jujur saja, bukan hanya kamarnya tapi rumah inipun begitu menyimpan banyak memori kebersamaan dengan ibunya. Hanya beberapa tempat saja yang masih sama saat ibunya masih ada. Charlotte bersyukur tentang hal itu.


“Selamat beristirahat Tuan Muda, Nona.” Ucap Dean.


“Hem, pergilah. Buatkan makanan setelah aku bangun nanti.” Perintah Xavier.

__ADS_1


“Siap Tuan. Saya permisi.”


Setelah Dean pergi, Charlotte yang sedari tadi diam terus menahan diri, langsung melepas lingkaran tangan kuat  Xavier dipundaknya. Ia langsung berhadapan dengan pria itu. Wajahnya tampak kesal, “Kenapa kau lakukan itu? Kita bisa istirahat kapan saja. Kau tahu apa tujuanku kemari. Biarkan aku menemui ayah dan mem-“


Tanpa aba-aba, Xavier membekap mulut cerewet Charlotte. Meraih pinggang rampingnya dan mendorongnya ke dinding. Senyum miring tercetak diwajah tampannya. “Aku tahu. Sangat tahu.” Ujarnya santai.


Charlotte melototkan matanya, bibirnya ingin berucap membalas sikap menyebalkan suaminya,namun tak bisa. Tubuhnya dihimpit dengan tubuh besar Xavier.


“Tapi….. Apa yang kurasakan saat ini tidak bisa kutunda. Ini lebih mendesak sayang.” Bisik Xavier pelan, Tangan satunya mulai berulah, memainkan tali spageti dres yang dipakai Charlotte. Senyum nakal terbit dari raut wajah Xavier. Charlotte semakin melebarkan bola matanya. Tubuhnya refleks berusaha melepaskan diri saat dirasa ada sesuatu yang menegang  tengah menempel diperutnya. Sontak membuat Charlotte menunduk melihatnya.


Astaga?!!


Xavier benar-benar sudah gila! Ini masih pukul sepuluh pagi\, masih hangat-hangatnya matahari bersinar diluar sana. Sedangkan disini\, Xavier berbuat hal tak terduga. Charlotte heran\, seberapa besar naf** pria itu? Sekarang\, ia bisa merasakan naiknya bira** Xavier.  Ia bahkan sudah sangat kelelahan menghadapinya. Mereka baru sampai\, tapi dengan semangat Xavier kembali menginginkannya?  Mereka berada di luar kamar! Bagaimana jika ada yang melihat!! Argghhh! Ottokee!!!??


Xavier semakin melebarkan senyumnya melihat kepanikan Charlotte. Ia sangat menyukai ekpresi terkejut wanita itu. Baginya, Charlotte wanita yang manis saat mereka ber-unboxing ria. Xavier tak akan tahan dengan tingkah manisnya itu. Pertahanannya selalu runtuh. Sebelum istrinya menolak, Xavier segera menggendongnya masuk kedalam kamar.


.


.


Yee up lagee... maksih atas VOTE nya ya bestie..... Lope lopeee... ^-^


Yg blm Vote ditunggu yahhh,,, biar othor konsisten update tiap harinya.... See youu ^-^

__ADS_1


__ADS_2